Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Kecurigaan Naura


__ADS_3

"Ma, aku mau kita mengangkat Nathan sebagai anak kita sendiri. Kasian dia hidup sendiri dan tidak dianggap, bagaimana?" ucap Rehan, dengan sangat hati-hati. Menurutnya hanya dengan cara itulah, Nathan bisa memanggil istrinya itu, mama.


Naura, Nicholas dan Nabila terkesiap kaget, mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Rehan. Namun kekagetan Nicholas hanya bertahan sebentar, berganti dengan senyum di bibirnya.


"Serius, Pa?" tanya Naura memastikan. Tampak jelas ada tanda-tanda kalau wanita itu sangat suka dengan usul Rehan suaminya.


"Iya, Ma. Aku serius. Bagaimana?"


"Kalau aku sih setuju aja. Aku sebenarnya sudah ingin mengatakan hal ini padamu, tapi aku takut kamu tidak setuju," wajah Naura benar-benar berbinar sekarang.


"Aku setuju!" bukan Naura yang menjawab,melainkan Nicholas. Pria itu terlihat sangat semangat saat mengucapkannya.


"Kalau mama sih juga setuju, setuju saja,". Naura menimpali ucapan Nicholas.


"Nabila tidak setuju!" celetuk Nabila sembari meletakkan sendok dan garpunya dengan keras.


Tiga orang dewasa yang ada di tempat itu seketika terkesiap kaget dan saling silang pandang.


"Kenapa kamu tidak setuju?" tanya Nicholas.


"Pokoknya Nabila tidak setuju!" Nabila berdiri dari tempat duduknya dan berlalu pergi.


"Sepertinya putri kita sudah mulai mengenal yang namanya jatuh cinta, Pa. Dan dia jatuh cinta pada Nathan," ucap Naura, sembari tersenyum. " Bagaimana kalau kita batal mengangkat Nathan anak, tapi kita ganti dengan mengikat benang merah pada mereka berdua. Jadi kelak mereka bisa berjodoh," Naura memberikan saran.


"Tidak boleh!" pekik Rehan dan Nicholas secara bersamaan hingga membuat Naura terjengkit kaget.


"Kenapa kalian berdua bisa bersamaan bilang tidak boleh?" Naura mengrenyitkan keningnya.


"Eh, ya karena kami sama-sama tidak setuju," jawab Nicholas, gugup.


"Iya, benar!" Rehan mengiyakan.


"Tapi kenapa reaksi kalian sampai berlebihan seperti itu?" Naura masih menyelidik, curiga.


"Sudahlah, Sayang. Tidak peduli bagaimana reaksi kami berdua, yang jelas kami tidak mau kalau Nathan dan Nabila dijodohkan,"


"Apa alasannya? mereka berdua kan tidak memiliki hubungan darah," sahut Naura, merasa ucapan Rehan tidak masuk akal.


"Karena itu sama saja kita egois memaksakan kehendak kita pada Nathan. Yang suka kan Nabila bukan Nathan. Lagian, Papa yakin kalau perasaan Nabila hanya perasaan sementara saja. Apa kamu mau, Nathan menerima perjodohan hanya karena ingin balas budi? itu sama saja kamu membuat Nathan merasa terkekang karena ikatan yang mama buat. Bagaimana nanti seandainya, Nathan jatuh cinta pada wanita lain, tapi hanya gara-gara ikatan yang mama buat, dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya? apa kamu mau, putrimu hidup dengan pria yang tidak mencintainya?" ucap Rehan panjang lebar tanpa jeda, berusaha memberikan pengertian pada Naura sang istri.


"Nggak mau sih!" jawab Naura yang membenarkan ucapan suaminya. "Tapi, bagaimana memberikan penjelasan pada Nabila? papa tahu sendiri kalau putrimu itu sangat keras kepala. Dia akan terus uring-uringan kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya," lanjut wanita itu kembali.


"Mulai sekarang kia harus membiasakan dia, untuk mengerti kalau tidak semua hal yang diinginkan itu harus dia dapatkan," ucap Rehan tegas.


"Benar kata Papa, Ma. Kalau kita terlalu memenuhi apapun yang dia minta, dia akan tumbuh menjadi pribadi yang egois," Nicholas menimpali ucapan Papanya.


"Jadi bagaimana sekarang?" Naura menghela napasnya dengan berat.

__ADS_1


"Untuk masalah Nabila, biar aku yang bicara padanya. Aku jamin dia pasti akan mengerti," pungkas Rehan sembari beranjak pergi.


"Aku ikut, Pa!" seru Naura sembari berdiri dari kursinya.


"Tidak usah, Ma! biar aku sendiri aja. Mama di sini aja, ya!" pinta Rehan, seketika panik.


"Kenapa aku tidak boleh ikut?" kembali Naura mengrenyitkan keningnya.


"Tidak apa-apa! cuma biar aku lebih leluasa bicara aja dan dia mendengar. Kalau mama ikut, yang ada dia akan menangis dan bersikap manja lagi. Jadinya, kamu pasti akan luluh dan lebih memilih untuk memenuhi kemauannya. Biarkan kali ini, aku tangani putri kita," ucap Rehan memberikan alasan yang masuk akal.


"Papa benar, Ma! Lebih baik sekarang, Mam temani Nicholas ngobrol aja," Nicholas buka suara, paham kalau sang papa butuh pertolongannya untuk menahan mamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nabila, kamu ada di dalam,Nak?" Rehan membuka pintu kamar Nabila yang sama sekali tidak terkunci dari dalam.


Rehan menunggu jawaban, tapi tidak ada sama sekali. "Papa masuk ya!" ucap Rehan sembari masuk ke dalam kamar putrinya itu. Pria setengah baya itu, tidak lupa untuk menutup pintu kembali.


"Nabila, kamu kenapa?" tanya Rehan basa-basi sembari mengelus kepala Nabila yang sedang tengkurap.


"Papa, Jahat! Papa tidak mengerti sama sekali sama perasaan Nabila," pekik Nabila mulai melayangkan protesannya.


"Sayang, apa kamu suka sama Nathan?" tanya Rehan hati-hati.


"Tuh, Papa tahu. Tapi kenapa Papa mau mengangkat kak Nathan jadi anak?" Nabila mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa tidak bisa? karena aku masih SMP ya? tapi kan sebentar lagi aku akan SMA, Pa. Dan lagi cuma pacaran ini, gak minta dinikahkan,"


"Selain karena kamu masih di usia pendidikan, papa yakin kalau yang kamu rasakan hanya cinta monyet, dan Nathan tidak akan pernah mau berpacaran denganmu,"


"Kenapa? Nabila kan cantik. Lagian dari mana Papa tahu kalau Kak Nathan tidak mau berpacaran denganku?" bibir Nabila semakin mengerucut ke depan.


"Karena kamu itu adiknya,sama seperti Nicholas ke kamu," ucap Rehan, ambigu.


"Bedalah,Pa. Kak Nicholas emang kakak kandungku tapi kalau Kak Nathan kan nggak."


"Sama, Sayang. Bedanya, kamu dan Kak Nicholas anak-anak papa, sedangkan kamu dan Kak Nathan sama-sama anak mama. Kamu dan Kak Nathan lahir dari rahim yang sama, Sayang," ucap Rehan, memutuskan untuk berterus terang, takut kalau perasaan putri satu-satunya itu semakin dalam.


Nabila tercenung untuk beberapa saat, berusaha untuk mencerna ucapan papanya. Namun detik berikutnya, gadis remaja itu tertawa keras, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hahaha, Papa nih ternyata suka ngelawak. Pa, udahlah, Papa itu Gak cocok jadi pelawak, cocoknya jadi pengusaha. Jadi jangan maruk mau ambil dua-duanya," ujar Nabila di sela-sela tawanya.


"Papa tidak lagi bercanda, Sayang. Nathan memang benar-benar, kakakmu,"


Tawa Nabila sontak berhenti kembali dan gadii remaja itu langsung mengamati ekspresi wajah papanya. Gadis remaja itu, benar-benar melihat adanya keseriusan di wajah pria pertama yang dia lihat di dunia ini.


"Pa, please jangan bercanda! ini sama sekali tidak lucu," protes Nabila dengan nada ketus.Gadis remaja itu masih tetap tidak percaya dengan ucapan sang papa.

__ADS_1


"Sekali lagi papa tekankan, kalau papa sama sekali tidak bercanda, Nabila!"


" Tapi, kenapa bisa?" desis Nabila lirih.


Akhirnya, Rehan pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan alasan kenapa harus dirahasiakan dari Naura, demi kebaikan istrinya itu. Rehan juga tidak lupa mengatakan alasannya kenapa akhirnya dirinya memutuskan untuk mengangkat Nathan sebagai anak.


Mulut Nabila, terbuka karena benar-benar kaget dengan apa yang baru saja dia dengar. Ingin rasanya dia tidak percaya, tapi papanya sudah benar-benar meyakinkannya.


"Bagaimana? apa kamu sekarang sudah setuju dengan usul Papa? lagian papa yakin kalau Sebenarnya kamu hanya sekedar suka pada Nathan, karena paras kakakmu itu yang tampan, bukan sepenuhnya dari hati kan?" tukas Rehan tepat pada sasaran.


Nabila tidak langsung menjawab. Gadis remaja itu terlihat seperti memikirkan sesuatu. Setelah diam beberapa saat, Nabila akhirnya menghela napasnya dengan sekali hentakan dan menerbitkan seulas senyum manis di bibirnya.


"Iya, Pa. Aku setuju! Lagian punya dua orang kakak laki-laki yang tampan, tidak buruk juga. Aku bisa memamerkan mereka pada teman-temanku nanti," ucap Nabila yang kini sudah kembali ceria.


"Tapi, ingat, jangan sampai mama kamu tahu, yang sebenarnya. Kamu bisa jaga rahasia kan?" Rehan kembali mengingatkan.


"Siap! Papa tenang saja, rahasia aman terkendali!" ucap Nabila dengan ekspresi menggemaskannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ma, Nabila sekarang sudah setuju dengan usul Papa," celetuk Nabila yang muncul bersama dengan Rehan.


"Hah,kok bisa secepat itu setujunya? papa pakai cara apa sih?" Naura mengrenyitkan keningnya, benar-benar penasaran, dengan cara suaminya bisa membuat putri mereka yang keras kepala, secepat itu bisa setuju.


"Itu karena Nabila menyadari kalau Nabila belum pantas untuk memikirkan pacar -pacaran. Lagian, Nabila pikir-pikir, bisa punya dua orang kakak laki-laki yang tampan tidaklah buruk," ucap Nabila, berusaha menghentikan kecurigaan sang mama.


"Oh, seperti itu?"Naura menganggukkan kepalanya dan Ketiga orang lain di tempat itu, menghela napas lega.


"Sekarang sebaiknya papa dan Nicholas, pergi menemui Nathan untuk membicarakan rencana ini," Rehan kembali buka suara.


"Mama ikut!"


"Tidak usah! lagi-lagi Rehan dan Nicholas memekik bersamaan.


"Kenapa tidak boleh?" Naura kembali, curiga.


"Ya, karena ...." Nicholas menatap Rehan


papanya meminta pertolongan. Karena bagaimanapun, untuk saat ini mamanya itu tidak boleh ikut untuk membicarakan masalah ini dengan Nathan.


"Ya, menurut Papa, biarlah pembicaraan ini dibicarakan oleh para pria saja," Rehan memberikan alasan seadanya.


"Kenapa harus seperti itu? bukannya dia akan jadi anakku juga? kenapa aku tidak bisa ikut bicara dengan dia? lagian, jika kalian berdua yang bicara dengannya, belum tentu dia mau terima. Bisa jadi, kalau aku yang bicara, dia akan setuju. Tingkah kalian berdua benar-benar mencurigakan? apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?" alis Naura naik ke atas, menatap suami dan anaknya, dengan tatapan menyelidik.


Tbc


Maaf ya,guys kalau aku hanya bisa up satu bab saja beberapa hari ini. Itu karena aku benar-benar sedang sibuk beberapa hari ini, dan akan berlangsung sampai hari Rabu. Dikarenakan di rumahku akan ada acara hari Rabu. Setelah hari itu, kalau tidak capek, aku akan usahakan up dua atau tiga bab sehari. Terima kasih buat pengertiannya 🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2