Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Ancaman Renata


__ADS_3

"Nath,aku pulang dulu ya!" Nathan menganggukkan kepalanya mengiyakan ketika Renata, pamit.


Renata mengayun kakinya, melangkah. Namun belum lima langkah, gadis itu kembali memutar tubuhnya, menoleh ke arah Nathan.


"Oh ya, Nath. Hari Sabtu nanti kan acara perpisahan sekolah kita, kamu datang kan?" tanya Renata dengan pupil mata yang penuh harap.


"Aku tidak tahu. Apa acara itu sangat penting? karena bagiku tidak ada gunanya perpisahan, karena selama ini juga aku tidak merasakan kebersamaan dengan teman sekelas," jawab Nathan apa adanya.


"Itu sebenarnya kamu aja yang menciptakan jarak. Coba kalau kamu ramah, dan tuh wajah dimanisin dikit, pasti kamu akan banyak teman," ucap Renata santai.


"Bagaimana dengan kamu? apa keramahanmu membuat kamu punya banyak teman?" Nathan membalikkan kata-kata Renata.


Renata terdiam, tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Nathan, karena memang dirinya yang ramah, tidak memiliki teman. Semuanya bersikap baik padanya, kalau ada maunya. Karena merindukan sosok temanlah, membuat dia menjadi seperti orang bodoh yang mau aja menuruti kemauan orang, berharap orang-orang yang ada di sekitarnya mau berteman dengannya. Ternyata pemikirannya salah, semua orang justru pergi setelah berhasil mendapatkan apa yang mereka mau dari Renata.


"Kamu tidak bisa jawab ya? asal kamu tahu, bagiku tidak ada gunanya punya segudang teman di saat senang, tapi begitu kita mendapat kesusahan, gudang itu tiba-tiba jadi kosong. Bagiku, lebih baik punya sedikit teman, tapi begitu kita butuh, yang sedikit ini punya segudang cara untuk membantu dan selalu ada untuk kita," tutur Nathan, diplomatis.


Renata semakin terdiam mendengar ucapan Nathan yang menurutnya sangatlah bijaksana.


Gadis itu kemudian mengembuskan napas dengan sekali hentakan dan menyunggingkan senyumnya pada Nathan.


"Nathan, asal kamu tahu, aku menyesal dekat denganmu baru-baru ini," ujar Renata, ambigu.


"Menyesal?" Nathan mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Iya. Aku menyesal kenapa aku bukan dari dulu. Semakin mengenalmu, bukan kamu yang belajar, tapi justru aku yang dapat banyak pelajaran dari kamu. Aku belajar darimu,kalau ternyata pintar saja tidak cukup, tapi di atas kepintaran ada sesuatu yang harus kita miliki yaitu 'bijak'. Aku juga belajar, bagaimana untuk tetap tidak putus asa, di saat banyak orang yang memandang rendah kita. Aku sangat berterima kasih padamu soal itu," tutur Renata tulus.


"Keadaan! Keadaan dan pengalamanlah yang membuatku bisa seperti itu. Satu hal yang aku yakini, Tuhan memberikan bakat pada setiap manusia itu, pasti ada gunanya, tergantung kita mau menguburnya atau mengembangkannya. Semuanya ada di tangan kita. Jika kita memilih untuk menguburnya, pastinya kita tidak akan dapat apa-apa, tapi kalau kita memilih untuk mengembangkannya, pastilah kita akan mendapat hasilnya," tutur Nathan, tersenyum tipis.


"Ya, kamu benar!" ucap Renata. " Oh ya, tadi kau benar-benar seri bertanya, apa kamu akan hadir di acara perpisahan atau tidak? aku sih berharap kamu hadir," Renata mengulangi pertanyaannya di awal.


"Kenapa aku harus hadir?"alis Nathan bertaut.


"Karena aku nanti tidak ada temannya, padahal sebagai seorang remaja, aku ingin merasakan bagaimana rasanya perpisahan SMA, seperti yang aku tonton di film-film. Kamu hadir ya samaku, please!" Renata menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya sembari memasang puppy eyes, yang tertutup dengan kaca mata tebalnya.


Nathan tidak langsung menjawab. Pemuda itu terlihat seperti berpikir, bersedia atau tidak.


"Baiklah, aku akan datang!" pungkas Nathan akhirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Renata baru saja hendak masuk ke dalam mobilnya, tapi tiba-tiba ada yang menarik rambutnya dari belakang.


"Aw, sakit!" pekik Renata sembari memegang Rambutnya. Kemudian wanita itu berbalik dan melihat si pelaku yang tidak lain adalah Tania


"Lepaskan Tania!"


"Tidak akan! dasar perempuan sialan! beraninya kami menghancurkan masa depanku!" ucap Tania dengan sorot mata penuh kebencian.

__ADS_1


Supir pribadi Renata yang melihat apa yang menimpa nona mudanya sontak langsung keluar dari dalam mobil.


"Non Tania, lepaskan Non Renata!" titah supir itu, sembari mendekat.


"Berhenti di situ, Pak! kalau bapak mendekat jangan salahkan aku, menarik rambut Renata sampai kulit-kulitnya terkelupas," ancam Tania.


"Jangan Non! kasihan Non Renata!" mohon supir itu.


"Tidak akan!" tolak Tania, dengan raut wajah bengis.


"Awww!" tiba-tiba gantian Tania yang berteriak kesakitan.


"Kamu lepaskan rambutnya, atau kubuat tanganmu ini patah?" ternyata Nathan yang melihat apa yang terjadi, langsung mendekat dari arah belakang dan mencengkram pergelangan tangan Tania dengan kencang.


"I-iya, aku lepaskan!" cengkraman Tania di rambut Renata, berangsur-angsur melonggar dan akhirnya terlepas. Setelah terlepas dengan sempurna, Nathan juga melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Tania.


Tania, masih terlihat meringis kesakitan sembari memijat-mijat pergelangan tangannya yang memerah.


"Aww!" Tania tiba-tiba kembali menjerit kesakitan. Kali ini bukan karena ulah Nathan, melainkan Renata yang membalas menarik rambut mantan sahabatnya itu.


"Kamu benar-benar tidak tahu terima kasih ya! aku masih baik padamu. Aku masih membuatmu lulus walaupun dengan nilai minimal. Coba kalau aku tega, dan memberikan semua jawaban yang salah, bisa dipastikan kamu tidak akan lulus sama sekali. Kalau aku mau, aku juga bisa menyebarkan video apa yang kamu lakukan dengan Roby. Tapi, karena apa yang kamu lakukan kali ini, aku tidak akan baik lagi padamu, aku akan menyebarkannya segera! dan kalau boleh, aku akan meminta papaku memecat papamu dari perusahaan," ucap Renata sembari melepaskan tangannya dari kepala Tania.


"Renata, please jangan lakukan itu! aku minta maaf! kasihani aku kali ini aja! kalau kamu melakukannya, masa depanku akan benar-benar hancur," mohon Tania, yang seketika takut dengan ancaman Renata.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2