
Nicholas menepikan motor besarnya setelah pria itu tiba di depan rumahnya. Setelah turun dari atas motor pria itu langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Keadaan rumah tampak sepi, dan cahaya lampu juga terlihat remang-remang karena yang menyala bukanlah lampu utama. Pria itu melihat ke atas dan langsung berlari naik. Bukannya lari menuju kamarnya, tapi pria itu malah menuju kamar kedua orangtuanya.
Tok tok tok
Nicholas menggedor-gedor pintu kamar kedua orang tuanya itu. Namun tampak tidak ada tanda-tanda kalau akan ada yang membukan pintu untuknya.
Tok tok tok
Nicholas kembali menggedor-gedor pintu yang terlihat sangat kokoh itu.
"Ma, buka pintunya! ini aku Nicho!" teriak Nicholas dari luar.
Pintu yang membatasi dirinya dengan kedua orangtuanya itu akhirnya dibuka dari dalam. Tampak Naura muncul dengan wajah kantuknya, disusul oleh Rehan dari belakang Naura.
"Nicholas? kenapa kamu bisa ada di sini? bukannya kamu ...." belum sempat Naura selesai berbicara, Nicholas sudah menghambur memeluk wanita yang sudah memberikan kasih sayang seperti layaknya seorang ibu kandung untuknya.
"Kamu kenapa, Nicho? datang-datang kenapa langsung peluk mama?" Naura mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Ma, mama tidak akan pernah meninggalkanku kan? mama akan tetap menyayangiku sampai kapanpun kan?" bukannya menjawab pertanyaan Naura, Nicholas justru membuat Naura semakin bingung. Bukan hanya Naura, Rehan yang melihat tingkah putra sulungnya itu juga terlihat mengreyitkan keningnya.
"Kamu kenapa sih, Nak? siapa yang akan meninggalkanmu? tentu saja mama tidak akan pernah berhenti menyayangimu. Walaupun kamu buka lahir dari rahim mama, tapi kamu itu tetap anak mama," sahut Naura sembari mengelus-elus pundak Nicholas.
Nicholas semakin mengeratkan pelukannya dan mulai meneteskan air mata, hingga membuat Naura dan Rehan saling pandang, semakin bingung.
"Nicho, tolong lepaskan pelukanmu dulu! mama mau tanya kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?" Naura berusaha melepaskan pelukan Nicholas.
"Jangan lepaskan, Ma! biarkan aku memeluk mama sebentar lagi!" pinta Nicholas.
"Nicho, jangan buat mama dan papa kebingungan! jelaskan kenapa kamu bisa seperti ini?" Rehan buka suara dengan nada yang sangat tegas.
Nicholas menyeka air matanya dan melerai pelukannya. "Tidak ada apa-apa, Pa, Ma. Tadi, aku hanya bermimpi buruk. Dalam mimpiku, mama pergi meninggalkan kita dan menemukan kebahagiaan lain," ucap Nicholas berbohong. Pria itu akhirnya memutuskan untuk memenuhi permintaan Nathan agar tidak memberitahukan kenyataan kalau Nathan adalah anak kandung Naura, demi kesehatan wanita setengah baya itu.
__ADS_1
"Ya, ampun! itu hanya mimpi Nak. Biasanya kalau mimpi seperti itu, artinya kebalikannya.Jadi, kamu nggak perlu khawatir ya?" Naura tersenyum lembut sembari membelai punggung Nicholas.
"Tapi bagaimana seandainya mama bisa mengingat kembali masa lalu mama?apa mama akan tetap ada buat kami?" tanya Nicholas dengan sangat hati-hati. Pertanyaan Nicholas tentu saja menimbulkan kecurigaan pada Rehan papanya.
"Buat apa mama kembali lagi mengingat masa lalu, sementara masa kini mama sudah sangat bahagia? mama tidak pernah berniat untuk mengingat masa lalu mama,Nicho," jawab Naura tegas, entah itu benar-benar dari hatinya atau hanya sebatas kata-kata hanya dirinyalah yang tahu.
"Apa mama benar-benar bahagia? apa di hati mama tidak ada beban sama sekali, ketika tidak mengingat masa lalu mama sedikitpun?" ucap Nicholas, memastikan.
"Nicho, sepertinya pertanyaan kamu sudah mulai lari kemana-mana. Sebaiknya kamu tidur sekarang. Ini sudah sama larut,mama dan papa sudah ngantuk," Rehan akhirnya buka suara, berusaha menghentikan Nicholas.
"Tapi, Pa ...."
"Tidak ada tapi,tapi. Sekarang kamu masuk ke kamar kamu, dan tidur! mungkin mimpi burukmu tadi sudah terlalu mempengaruhimu." Rehan dengan cepat memotong ucapan Nicholas, sebelum putranya itu meneruskan protesannya.
"Mama, tidak mau mengingat masa lalu mama lagi, Nicho! buat apa mengingat masa lalu yang menyakitkan itu? lebih baik mama mengingat masa-masa sekarang dan fokus ke depan," celetuk Naura tiba-tiba.
"Tapi, bagaimana kalau dulu mama pernah memiliki seorang anak? apa mama tidak mau mencari anak itu? apa mama ingin benar- benar melupakannya?" Nicholas mulai terlihat emosional.
"Nicho! kamu masuk ke kamar sekarang! berhenti bicara yang aneh-aneh!" Rehan juga mulai terlihat emosional. Sementara itu, Naura tercenung mendengar ucapan Nathan
"Pa,aku __"
"Papa bilang,masuk ke kamar kamu sekarang juga!" Rehan menekan kata 'sekarang juga' di dalam ucapannya. Sorot mata pria setengah baya itu juga terlihat jelas kalau sekarang, dia sudah tidak bisa dibantah.
"Baiklah, aku akan masuk ke kamar," selamat malam, Ma, Pa!" pungkas Nicholas, sembari berlalu meninggalkan kedua orangtuanya.
"Selamat malam!" desis Naura lirih.
"Sayang, ayo kita tidur lagi! kamu jangan memikirkan ucapan Nicholas tadi. Dia hanya dipengaruhi rasa takut akan kehilangan kamu saja, akibat mimpi buruknya itu," bujuk Rehan, pada Naura yang masih terdiam.
"Iya, Pa. Mungkin gara-gara itu. Ayo kita kembali tidur,Pa!" Naura terlihat sudah kembali tersenyum, membuat Rehan merasa lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Rehan mengayunkan kakinya melangkah menuju kamar Nicholas, setelah melihat Naura yang sudah terlelap tidur. Sungguh pria setengah baya itu, benar-benar sangat penasaran, kenapa putranya bisa sampai bertanya seperti itu.
Rehan memutar tugas pintu kamar Nicholas dan mendorong pelan. Ternyata putranya itu tidak mengunci kamarnya dari dalam.
"Nicho, apa kamu sudah tidur?" tanya Rehan sembari menepuk pelan pundak Nicholas yang sedang tengkurap.
Merasa ada yang memanggil dan menepuk pundaknya, Nicholas berbalik dan melihat ke arah Rehan papanya.
"Kenapa, Pa? bukannya papa bilang kalau papa sudah mengantuk? kenapa tidak langsung tidur?" ucap Nicholas dengan nada kesal.
Rehan mengembuskan napasnya dengan berat, dan duduk di tepi ranjang milik Nicholas.
"Papa hanya ingin meng-cut omongan kamu. Kalau tidak,kamu pasti akan terus bertanya pada mamamu. Entah apa yang akan terjadi pada mamamu nanti, jika papa membiarkanmu terus bicara," ujar Rehan, berharap putranya itu bisa mengerti maksudnya.
Nicholas menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali, membuang rasa kesalnya.
"Terima kasih sudah mencegahku, Pa!" ucap Nicholas akhirnya.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? papa tidak yakin, kamu tadi bermimpi buruk. Papa justru yakin, kalau kamu bahkan belum sempat tidur, dugaan papa benar kan?" tukas. Rehan dengan tatapan menuntut.
Nicholas bergeming dan menatap kosong ke depan. Pria itu benar-benar terlihat tidak bersemangat.
"Nicho? apa kamu mendengar papa?". Rehan kembali bertanya.
"Nathan ternyata benar-benar anak kandung mama,Pa!" jawab Nicholas tanpa basa-basi lagi.
Rehan terlihat sudah tidak terlalu kaget, karena sebenarnya dia sudah sangat yakin kalau pemuda berusia 18 tahun itu adalah anak kandung istrinya.
"Kenapa jadi Papa yang diam? apa Papa tidak kaget dan khawatir kalau mama akan meninggalkan kita nanti?" tanya Nicholas dengan kening berkerut.
" Papa sudah yakin dari awal, Nak. Tapi Papa berusaha untuk menepis keyakinan itu sebelum ada buktinya. Untuk masalah mama akan meninggalkan kita, aku yakin kalau itu tidak akan terjadi. Yang Papa khawatirkan justru kondisi mamamu nanti, jika tahu kenyataannya dari Nathan. Mamamu bisa-bisa berusaha mengambil kembali masa lalunya. Kamu tahu sendiri kan apa yang terjadi kalau mamamu memaksa ingatannya?" tutur Rehan, lirih.
"Nathan justru memohon agar tidak memberitahukan mama kebenaran ini, Pa. Dia bilang, dia rela dan ikhlas memanggil mama dengan sebutan Tante, yang penting mama baik-baik saja. Tapi, aku sungguh merasa buruk, Pa. Aku merasa ini sangat tidak adil buat Nathan. Sudah belasan tahun dia hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Wanita yang dia anggap ibu kandungnya, sedikitpun tidak pernah memberikan kasih sayang itu, sementara aku ... aku yang bukan anak kandung mama, justru merasakan itu. Sampai kapan, Pa? Sampai kapan Nathan harus hidup memanggil mama kandungnya dengan sebutan Tante? apa papa bisa membayangkan bagaimana rasanya memanggil mama sendiri dengan sebutan Tante?"
__ADS_1
Rehan bergeming, tidak bisa membantah ucapan Nicholas yang memang benar adanya.
Tbc.