
Sementara itu, jauh di belahan bumi lain, tepatnya di benua Eropa, tampak Nathan sedang fokus menyelesaikan tugas kampusnya bersama dengan dua sahabatnya Bastian dan Dava. Ya, tanpa disangka-sangka kedua sahabatnya itu ternyata melanjutkan kuliah ke London, dan di kampus yang sama dengan Nathan.
"Nathan, ponsel kamu bunyi tuh!" ucap Bastian, karena melihat Nathan yang sepertinya tidak peduli dengan ponselnya.
Nathan melirik ke arah ponselnya dan meletakkan kembali ketika tahu siapa yang menghubunginya.
"Kenapa tidak diangkat?" Bastian mengrenyitkan keningnya, tapi seperti biasa Nathan tidak menjawab sama sekali.
"Coba aku tebak, kalau Nathan ogah menjawab telepon, aku bisa pastikan kalau itu pasti panggilan dari Jeslyn," Dava buka suara. Jeslyn adalah gadis asli Inggris dan sangat menyukai Nathan. Tapi, Nathan sama sekali tidak pernah menanggapi gadis itu.
Nathan mengangkat wajahnya sekilas menatap Dava, dan kembali fokus ke bukunya.
"Kenapa sih kamu nggak mau, memanfaatkan situasi? Jelas-jelas Jeslyn menyukaimu. Kamu bisa memanfaatkan dia biar gak jomblo, di negara ini mumpung tidak ada Renata. Kamu tenang saja, kami tidak akan bocor pada Renata nantinya," Dava mencoba mempengaruhi Nathan.
Lagi-lagi Nathan tidak memberikan jawaban, tapi pria itu cukup menatap Dava dengan tatapan yang sangat tajam, dan itu sudah cukup membuat Dava mengerti.
"Iya, iya maaf!" Dava terkekeh. " Tapi, aku benar-benar salut padamu, Bro. Kamu sudah sukses, kamu sudah memiliki apartemen sendiri, walaupun kami yang menikmati fasilitasnya. Kamu juga sudah memiliki galeri sendiri Walla belum sebesar milik kakek Nurdin. Kamu juga bahkan sudah sering dipercaya kakek Nurdin untuk mewakilinya di perusahaan. Kamu benar-benar beruntung, bro, bisa kenal dengan kakek sebaik itu." lanjut Dava kembali, jujur mengagumi kesuksesan Nathan di usia mudanya
"Tapi, yang membuat aku bingung kenapa kamu tidak pulang ke Indonesia dan menunjukkan kesuksesanmu pada papanya Renata?" Bastian menimpali ucapan Dava.
"Perusahaan kakek Nurdin bukan milikku. Aku diminta untuk membantunya, menunggu cucu kandungnya ditemukan. Itu semua hak cucunya itu, bukan hakku. Dan mengenai kenapa aku belum pulang, itu karena aku masih harus menyelesaikan kuliahku dan apa yang kumiliki belum sebanding dengan perusahaan papanya Renata," akhirnya Nathan mulai buka suara.
"Tapi, Bro bagaimana kalau sampai kakek Nurdin meninggal dunia, cucunya itu belum ditemukan? entah kenapa aku yakin kalau semua hartanya akan diwariskan padamu," Bastian berucap dengan nada yang sangat yakin.
"Dan aku tidak berharap akan hal itu. Seandainya cucu beliau belum ditemukan sampai kakek Nurdin meninggal, aku tidak akan meributkan harta beliau. Bila diminta untuk mengelola sementara tidak apa-apa, dan bila cucunya itu datang dan meminta haknya, dengan senang hati akan aku serahkan," ucap Nathan dengan tegas dan lugas.
"Sudahlah, mari kita selesaikan tugasnya biar kita cepat lulus dan Nathan bisa pulang untuk bertemu Sayang Renata," goda Dava yang langsung mendapat lemparan bantal di wajahnya dari Nathan.
Mereka bertiga kembali serius berkutat dengan tumpukan tugas mereka. Di saat sedang fokus ponsel Nathan kembali berbunyi dan masih dari orang yang sama.
__ADS_1
"Jawab saja,Nath, kasihan dia!" ucap Bastian.
"Kalau begitu kamu saja yang jawab!" Nathan memberikan ponselnya ke tangan Bastian.
"Lah kok jadi aku?"
"Kan kamu yang kasihan, jadi kamu aja yang jawab," sahut Nathan cuek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nurdin meraih ponselnya yang dia letakkan di atas nakas dekat ranjangnya, karena berbunyi pertanda ada yang sedang menghubunginya. Sudah seminggu pria tua itu dirawat di rumah sakit, karena penyakit gula yang dia idap. Namun, entah kenapa pria itu melarang siapapun memberitahukan kepada Naura tentang kondisinya sekarang.
"Naura? ada apa dia menghubungiku?" batin Nurdin. Kemudian pra itu berdeham berkali-kali, berusaha untuk bersikap normal sebelum menjawab panggilan putri satu-satunya itu.
"Halo, Nak!" sapa Nurdin memperdengarkan suara semangatnya.
"Itu tidak benar sama sekali! siapa yang bilang papa sakit? papa segar bugar begini kok dibilang sakit," Nurdin masih berusaha untuk menyangkal.
"Sudah aku bilang, papa jangan berbohong lagi! aku tadi telepon ke asisten papa, aku paksa dia buat ngaku karena perasaanku benar-benar tidak enak. Dia bilang, kalau papa ternyata sudah dirawat di rumah sakit selama seminggu. Papa masih mau bohong lagi?" nada suara Naura terdengar sangat kesal.
"Haish! bisa-bisanya si Tom, ngaku, dasar nggak bisa dipercaya!" umpat Nurdin kesal, yang tentunya hanya dalam hati.
"Maaf, Nak! papa hanya tidak mau membuatmu khawatir. Tapi, kamu tenang saja, papa juga sudah mulai sembuh dan kemungkinan besok sudah bisa pulang ke rumah," Nurdin kembali berbohong.
"Papa tidak bohong kan?" bisa dipastikan kalau alis Naura di sebrang sana pasti lagi bertaut tajam.
"Tidak, Nak. Papa sama sekali tidak bohong," Nurdin berusaha menyakinkan.
"Oh begitu? tapi walaupun seperti itu, besok aku dan mas Rehan akan berangkat ke London. Aku akan merawat papa sampai benar-benar sembuh,"
__ADS_1
"Tidak, tidak usah! nanti akan merepotkan kamu," larang Nurdin dengan cepat.
"Tidak! kali ini aku akan tetap ke London. Aku tidak mau mendengar larangan papa lagi seperti sebelum-sebelumnya. Aku juga kangen ke makam mama," Naura tetap kekeuh.
"Tapi, Nak ...." raut wajah Nurdin sudah mulai terlihat panik.
"Tidak ada tapi-tapi, Pa! setiap aku mau ke London, Papa selalu larang. Papa selalu meminta untuk bertemu di Paris lah, di Canada lah, dengan alasan kalau papa mau liburan ke tempat itu. Sebenarnya papa merahasiakan sesuatu ya dariku?"
Nurdin mulai terlihat panik dan tidak tahu mau memberikan jawaban apa lagi pada putrinya yang mulai curiga.
"Kenapa, Papa diam?" Naura kembali bertanya, membuat Nurdin semakin bingung.
"Emm, pa-pa tidak merahasiakan sesuatu kok, Nak," Nurdin akhirnya buka suara, walaupun terdengar gugup.
"Oh, seperti itu? kalau begitu papa jangan larang aku lagi, untuk datang ke London. Besok aku tetap akan ke London sekalipun papa melarangku," pungkas Naura, tegas tak terbantahkan.
"Baiklah, kalau begitu! papa tunggu di sini!" ucap Nurdin pasrah.
Panggilan akhirnya terputus setelah Naura mengakhirinya. Sementara itu, Nurdin terlihat mengisap wajahnya yang sudah keriput. Pria itu benar-benar pasrah sekarang.
"Bagaimana ini? selama Naura ada di London, kemana Nathan akan kusembunyikan? tidak mungkin kan kalau aku tiba-tiba mengusirnya dari rumah sementara dia tidak punya salah apa-apa? tapi, kalau dia ada di rumah, Mereka berdua pasti akan bertemu, padahal waktunya sama sekali belum tepat. Arghhh, apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Nurdin dilema.
Mata Nurdin kembali membesar Ketika pria tua itu mengingat sesuatu.
"Astaga, bagaimana ini? kalau Naura datang, berarti aku harus meminta pada asisten rumah tangga agar mengeluarkan kembali photo-photo Naura yang kuminta disembunyikan dulu dan memasangnya kembali di tempat semula. Bagaimana ini ya Tuhan?"
Tbc
"
__ADS_1