
Nathan kini telah dipindahkan ke ruang perawat pasca operasi transplantasi kornea mata telah selesai dilakukan. Namun, perban di mata pemuda itu belum juga dibuka. Rencananya hari ini dijadwalkan akan segera dibuka untuk memastikan apakah operasi itu mengalami penolakan atau berhasil dengan sempurna.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu, tak terkecuali Nathan, terlihat was-was. Jantung mereka berdetak tidak karuan, merasa tidak tenang sebelum tahu tingkat keberhasilannya operasi itu.
"Apakah kamu sudah siap, Tuan Nathan?" tanya dokter dengan lembut.
"Siap, Dok!" sahut Nathan dengan tegas.
"Apa kamu siap menerima apapun hasilnya nanti?" kembali dokter itu bertanya.
"Iya, Dok. Aku siap apapun hasilnya nanti!" ujar Nathan,mantap.
"Baiklah! kalau begitu, kamu tolong rileks dulu! setelah kamu merasa tenang, baru perbannya kami buka,"
Nathan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke luar. "Aku sudah tenang, Dok," Nathan kembali buka suara.
"Ok, kalau begitu aku buka ya!" Dokter itu mulai membuka lilitan perban yang menutup mata Nathan dengan sangat hati-hati. Setelah sampai di lapisan terakhir, perasaan semua orang semakin tidak karuan.
"Sudah selesai! sekarang coba kamu buka mata kamu dengan perlahan," titah dokter itu.
Nathan melakukan sesuai perintah dokter. Ketika matanya baru terbuka sedikit, dia sudah merasakan bisa melihat secercah cahaya, tidak gelap seperti sebelum operasi.
Sekarang mata Nathan sudah sepenuhnya terbuka dengan lebar. Pria itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru yang sepertinya masih sangat buram.
"Bagaimana, Nak? apa kamu bisa melihat mama?" tanya Naura yang sama sekali tidak sabar.
"Kenapa masih buram, Dok?"tanya Nathan, panik.
"Coba kamu pejamkan matamu sebentar, lalu buka lagi dengan perlahan,"
Nathan melakukan seperti yang diminta dokter. Samar-samar penglihatan Nathan mulai berfungsi. Raut wajah Naura yang semula masih buram, berangsur-angsur mulai terlihat jelas.
"Aku sudah bisa melihat. Aku bisa melihat wajahmu, Ma!" sorak Nathan diiringi dengan seulas senyuman.
Air mata haru dan bahagia langsung menetes dari mata Naura, mendengar ucapan Nathan.
"Selamat, Nak. Selamat!" ucap Naura, sembari memeluk putranya itu.
"Maaf, bisa aku periksa lagi sebentar?" dokter kembali buka suara.
__ADS_1
Naura segera menyingkir dan memberikan kesempatan untuk dokter melakukan tugasnya.
"Baiklah, selamat Tuan Nathan, operasimu untuk sekarang bisa dikatakan berhasil. Namun, aku sarankan agar untuk beberapa hari ke depan, dijaga dengan baik. Jangan ditekan dan jangan diusap. Selain itu, hindari melakukan aktivitas berat dan maksimalkan untuk berbaring biasanya selama 5-7 hari. Nanti aku akan memberikan obat tetes mata. Kamu bisa menggunakannya, sesuai dengan anjuran dokter. Jangan mengendarai kendaraan bermotor, dan makanlah makanan yang bergizi serta satu lagi, jangan merokok!
"Baik,Dok. Kalau untuk merokok, tenang saja. Aku tidak perokok," sahut Nathan. Terlihat jelas kalau pemuda itu sangat bahagia sekarang.
"Syukurlah! kalau begitu aku pamit keluar dulu, karena masih harus menangani pasien lain. Besok, aku kan melakukan pemeriksaan lagi,"
"Baik, Dok. Sekali lagi terima kasih!" Dokter itu menganggukkan kepalanya, kemudian berlalu pergi.
Selepas dokter itu pergi, Nathan langsung mendapat ucapan selamat dari orang-orang yang berada di tempat itu. Namun saat dia melihat Nabila adik perempuannya, pria itu langsung mengrenyitkan keningnya, karena tidak melihat keberadaan Nicholas.
"Bil, kamu kok bisa ada di sini? apa kamu datang sendiri?"
"Kenapa aku tidak bisa ada di sini. Aku tentu saja khawatir dan ingin bertemu dengan kakakku yang pergi nggak bilang-bilang," Nabila mengerucutkan bibirnya. "Aku kemarin datang ke sini berdua dengan Kak Nicholas, tapi entah kenapa Kak Nicholas tiba-tiba pulang lagi ke Indonesia," lanjut Nabila lagi.
"Yang mendonorkan kornea mata, bukan Kak Nicholas kan?" tanya Nathan, was-was.
"Bukan, Nath! Yang jelas, dia kemarin datang ke sini bukan untuk menjadi pendonor. Papa memintanya untuk pulang ke Indonesia, karena ada banyak pekerjaan yang harus dia lakukan. Tapi, kamu tenang saja, dia selalu bertanya bagaimana keadaanmu sekarang. Nanti, papa juga akan menghubunginya dan membagikan kabar gembira ini," Rehan buka suara, menjelaskan.
"Nathan, selamat ya!" tiba-tiba sebuah suara yang selama ini dirindukan oleh Nathan terdengar dari belakang Bastian dan Dava.
"K-Kak, Arsen?" mata Nathan mulai berkaca-kaca.p
Arsen melangkah mendekati Nathan dan langsung memeluk adik bungsunya itu. Arsen melerai pelukannya dan menatap mata Nathan dalam-dalam. Pria itu seketika tidak bisa menahan tangisnya, seakan tidak kuat untuk melihat mata yang dipakai oleh Nathan. Dia kembali memeluk Nathan dengan erat.
"Kak Arsen, bagaimana Kakak bisa berada di sini? siapa yang memberitahukan Kakak kalau aku ada di London?" tanya Nathan setelah Arsen kembali melerai pelukannya.
"Tidak perlu kamu tahu dari mana aku tahu kamu ada di London. Yang jelas, aku bahagia bisa melihat kamu lagi," sahut Arsen.
Nathan kembali mengedarkan pandangannya, seperti sedang mencari sosok seseorang.
"Apa, Kakak datang sendiri?" tanyanya. Entah kenapa dia berharap Angga kakak sulungnya ikut datang, walaupun cukup mustahil, mengingat kalau kakak sulungnya itu sangat membencinya.
"Iya, aku datang sendiri. Kak Angga tidak ikut karena sibuk dengan pekerjaannya," sahut Arsen, seperti mengerti maksud pertanyaan Nathan.
"Oh, seperti itu?" ucap Nathan. Ada nada kecewa yang terselip di dalam ucapan pemuda itu.
"Oh ya, aku mau tahu siapa sebenarnya yang berbaik hati mau memberikan kornea matanya untukku? bisakah kalian beritahukan ke aku sekarang?" tanya Nathan.
__ADS_1
Semua yang berada di ruangan itu saling silang pandang dan wajah mereka berubah sedih. Khususnya Naura. Wanita setengah baya itu bahkan sampai memalingkan wajahnya agar tidak menangis. Ya, Sejujurnya mereka semua sudah tahu dari Arsen, siapa si pendonor itu, tapi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan mereka sepakat untuk tidak memberitahukan untuk sementara pada Nathan, menunggu mata Nathan benar-benar pulih.
Mereka takut kalau nantinya Nathan akan banyak menangis, sehingga bisa mengganggu kornea matanya yang baru.
"Kenapa tidak ada yang mau jawab?" Nathan kembali bersuara.
"Emm, yang jelas dia orang baik, Nak. Sekarang kamu istirahat dulu. Ingat kata dokter tadi, kamu harus banyak berbaring agar penyembuhan matamu maksimal. Sekarang, kamu baring dulu ya!" Naura mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tapi, Ma. Aku benar-benar ingin tahu," Nathan terlihat kekeh dengan pendiriannya.
"Mama janji, kamu akan tahu secepatnya. Untuk sekarang, tolong kamu dengarkan kata-kata mama dulu. Kamu harus sabar untuk beberapa hari ini." bujuk Naura.
"Tapi kenapa harus menunggu beberapa hari lagi? kenapa tidak sekarang saja? apa orang itu aku kenal, sehingga kalian semua takut kalau aku tahu, aku jadi sedih dan menangis?" tebak Nathan yang membuat semuanya terdiam.
"Tapi, justru kalau kalian seperti ini, membuat aku semakin penasaran dan ingin tahu. Tolong kasih tahu aku, siapa si pendonor itu?" Nathan kembali mendesak.
"Sayang, please dengarkan mama kali ini. Kalau kamu sayang sama Mama, kamu harus dengar kata-kata mama untuk bersabar beberapa hari ini," mohon Naura dengan wajah sendu.
"Baiklah, aku akan sabar," pungkas Nathan akhirnya mengalah, karena tidak tega melihat wajah mamanya yang memelas.
"Maaf,Nak! mama tidak bisa memberitahukanmu sekarang. Bukan karena mama tidak ingin, tapi ini semua demi kebaikanmu," ucap Naura yang hanya berani dia ucapkan di dalam hatinya saja.
Flashback On
"A- Arsen!" gumam Naura di sela-sela rasa kagetnya.
"Hai, Tante!" sapa Arsen dengan menerbitkan seulas senyum di bibirnya.
"Ba-bagaimana kamu ... Jangan bilang kalau si pendonor adalah ...." Naura menggantung ucapannya, karena merasa tidak sanggup mendengar kalau si pendonor adalah orang yang ada dalam pikirannya sekarang.
"Iya, Tan. Apa yang Tante pikiran benar. Yang mendonorkan kornea matanya adalah Kak Angga," sahut Arsen dengan mata yang berair.
"Ja-jangan bilang kalau Angga sudah ...." Kembali Naura menggantung ucapannya karena tidak sanggup mengeluarkan kata yang hendak dia ucapkan.
"Ya, seperti itulah, Tan. Kak Angga sudah tidak ada,"ucap Arsen berusaha untuk tegar.
Tbc
Selamat buat yang berhasil menebak kalau si pendonor adalah Angga. Tapi, kenapa bisa Angga? bukannya dia sangat membenci Nathan?.🤔
__ADS_1