Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Meminta Nathan untuk pulang


__ADS_3

Sementara itu Nathan jauh di benua Eropa, baru saja bangun dari tidurnya. Pemuda itu, melirik ke arah jam di atas nakas yang ternyata sudah hampir menunjukkan pukul 8


pagi. Dia yang biasanya bisa bangun cepat, setahun belakangan ini sudah tidak bisa, karena dia mengalami insomnia semenjak membuat keputusan untuk melupakan Renata. Apa dia bisa melupakan gadis itu? jawabannya 'tidak'.


Sebelum Nathan turun dari atas ranjang, pria itu lebih dulu melakukan perenggangan otot untuk beberapa saat, lalu beranjak turun.


Nathan sekarang sudah memimpin perusahaan kakeknya, dan kedua sahabatnya Bastian dan Dava juga ikut bekerja bersamanya. Bagaimana dengan melukis? tentu saja Nathan tetap melakoninya, karena dia tidak bisa lepas dari dunia seni melukis itu. Galeri milik Nurdin juga sudah resmi menjadi miliknya Sedangkan untuk Nabila, Nurdin juga sudah menyiapkan sebuah butik untuk dikelola cucu perempuannya itu, bila kuliahnya sudah selesai.


Nathan baru saja hendak melangkah menuju kamar mandi, tapi dia mengurungkannya karena tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Siapa pagi-pagi gini nelpon? itu pasti Dava," tebak Nathan dalam hati. Ya,Dava kini sudah menjadi asisten pribadi Nathan di kantor, sedangkan Bastian menjadi kepala keuangan.


Nathan mengrenyitkan keningnya, begitu melihat nama siapa yang sedang menghubunginya. Dugaannya ternyata salah. Bukan Dava yang menghubunginya, melainkan Nicholas. Sudah cukup lama juga Nathan tidak bertemu dengan Nicholas. Terakhir kalinya, 4 bulan yang lalu, ketika menghadiri pemakaman Nurdin kakek mereka.


Ya, Nurdin sudah meninggal dunia 4 bulan yang lalu, karena sudah tidak kuat menahan sakit yang sudah lama menggerogotinya.


"Ada apa Kak Nicholas menghubungiku? apa ada sesuatu yang terjadi pada mama?" batin Nathan, seraya menekan tombol jawab.


"Halo, Kak!" sapa Nathan.


"Apa kabar kamu di sana?"


"Aku baik! Kakak sendiri?" tanya Nathan balik.


"Sama seperti kamu!" jawab Nicholas, singkat padat dan jelas. "Kamu ada di mana sekarang? kamu di kantor ya?" Nicholas kembali bertanya.


"Iya, Kak," sahut Nathan, berbohong. Pria itu tidak mau Nicholas tahu kalau dia baru saja bangun. Kenapa? karena nanti akan menimbulkan tanda tanya pada pria di sebrang sana, kenapa dia bisa bangun kesiangan.


"Oh, apakah kamu sibuk?"

__ADS_1


"Tidak terlalu! emangnya ada apa, Kak? apa ada sesuatu yang terjadi? Nathan mengrenyitkan keningnya, walaupun Nicholas tidak bisa melihat keryitannya.


"Aku cuma mau memintamu untuk pulang ke Indonesia minggu depan. Kamu bisa kan?"


"Untuk apa, Kak?"


"Aku mau mengadakan pesta pertunangan dengan Renata. Aku mau mempublikasikan pertunangan kami yang selama ini masih tertutup. Kamu bisa hadir kan?"


Nathan tidak langsung menjawab. Perasaan pria itu sekarang kembali terasa sakit seperti ada yang sedang mencubitnya keras.


"Nathan, apa kamu mendengarku?" suara Nicholas dari sebrang sana, seketika mengagetkan Nathan.


"I-iya, Kak. Aku mendengar, Kakak!" sahut Nathan dengan cepat.


"Jadi, bagaimana dengan yang aku katakan tadi? kamu bisa kan datang ke acara peresmian pertunanganku dan Renata? Di acara itu juga akan ditentukan acara pernikahan kami, karena memang sudah saatnya kami menikah,"


"Aku tidak mau tahu. Kamu harus tetap datang. Kalau kamu tidak datang, itu berarti kamu belum ikhlas merelakan Renata untukku," Nicholas mulai memaksa.


"Tapi, Kak. Sepertinya tidak harus seperti itu caranya membuktikan aku ikhlas atau tidak. Aku benar-benar sudah ikhlas, Kak." sahut Nathan menyakinkan Nicholas.


"Kalau kamu sudah ikhlas, ya, itu berarti, kamu pasti tidak keberatan kan untuk pulang ke. Indonesia? ingat kamu lama tidak pulang ke Indonesia. Apa kamu tidak merindukan Indonesia? apa kamu tidak merindukan keluargamu di sini?" ucap Nicholas.


" Tapi, Kak?


"Tidak ada tapi-tapi! kalau nanti kamu tidak datang ke acara itu, itu berarti dugaanku benar. Kamu benar-benar belum ikhlas melepaskan Renata untukku. Tapi, kalau kamu datang, aku akan lebih lega dan percaya akan keikhlasanmu. Sehingga kedepannya aku bisa menjalani hubungan yang lebih serius dengan Renata dengan perasaan yang bebas dari rasa bersalah. Aku tutup teleponnya ya! Aku tunggu kedatanganmu!" tanpa menunggu jawaban dari Nathan, Nicholas sudah memutuskan panggilan secara sepihak.


Nathan meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula dengan perasaan yang campur aduk, antara memenuhi permintaan Nicholas atau tidak.


"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? apakah aku harus memenuhi permintaan Kak Nicholas? tapi kalau aku pulang dan menghadiri acara itu, aku takut, kalau aku tidak bisa menahan diri dan membawa kabur Renata dari tempat itu," Nathan membatin sembari mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Nathan seketika membatalkan niatnya yang sebelumnya ingin masuk ke kamar mandi. Pria itu justru berjalan ke arah balkon dan berdiri menatap ke depan.


"Arghhh! kenapa harus seperti ini sih? kenapa aku harus dihadapkan dengan pilihan yang berat seperti ini?" Nathan terlihat sudah mulai frustasi.


Cukup lama Nathan berdiri menatap ke depan dengan pikiran yang berkecamuk. Pria menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kembali ke udara dengan sedikit berat. Kemudian, pria itu memejamkan matanya untuk sekilas, kemudian di membukanya kembali.


"Baiklah! aku akan pulang! Aku pasti kuat menahan perasaanku. Bukannya aku yang menginginkan Renata bisa hidup bersama dengan kak Nicholas? jadi, aku harus siap menanggung konsekuensinya," pungkas Nathan, akhirnya memutuskan


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Renata membuka pintu ruangan papanya dengan cukup keras dan langsung main masuk tanpa mengucapkan salam sama sekali.


"Renata! kenapa kamu main masuk begitu saja? apa kamu tahu, kalau itu sangat tidak sopan!" bentak Rajendra.


"Kenapa, Papa memutuskan semua tentang hidupku? apa aku tidak punya hak lagi untuk hidupku sendiri?" Renata melontarkan protesnya. Gadis itu sama sekali tidak peduli dengan bentakan papanya.


"Karena hanya Papa yang tahu apa yang terbaik untukmu!" sahut Rajendra yang sudah langsung mengerti ke arah mana pembicaraan Renata.


"Terbaik untukku atau terbaik untuk Papa?" sindir Renata, tersenyum sinis. "aku sama sekali tidak merasa kalau apa yang papa putuskan secara sepihak itu, baik untukku, Pa. Semuanya papa lakukan hanya untuk keuntungan papa sendiri. Tanpa papa sadari, Papa sudah menjadikan Putri sendiri sebagai alat pertukaran bisnis. Papa egois. Yang ada di pikiran Papa itu hanya perusahaan, kekayaan, itu saja. Papa tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku!" Renata kini terlihat sangat emosional. Air mata dari matanya sudah membasahi pipinya.


"Renata! maafkan Papa! tapi kali ini papa sudah tidak ada jalan lain lagi. Perusahaan kita sudah bergantung sepenuhnya pada perusahaan Nicholas. Kalau kamu tidak mau melanjutkan perjodohan ini, kita akan benar-benar akan bangkrut, Nak. Kalau papa tidak masalah hidup susah,tapi bagaimana dengan mamamu? papa benar- benar tidak tega melihat mamamu menderita, Nak. Papa mohon, supaya kali ini kamu nurut sama papa. Kalau kamu meminta papa untuk berlutut memohon padamu, akan papa lakukan," suara Rajendra kini terdengar memelas.


Renata, seketika bergeming tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Baiklah, Pa!" pungkas Renata, akhirnya. Tidak mungkin dia tega membiarkan papanya berlutut memohon padanya.


Tbc


Rajendra

__ADS_1


__ADS_2