Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Siapa bilang dia tidak punya kekasih?


__ADS_3

Renata berjalan memasuki sebuah restoran tempat dia berjanji makan siang dengan Anisa.


Awalnya gadis itu ingin makan siang bersama dengan Nathan, tapi pria yang sudah berganti status jadi tunangannya itu, mengatakan kalau tiba-tiba dia ada urusan pekerjaan yang penting yang harus dia selesaikan. Ya, walaupun Nathan ada di Indonesia, tapi dia tetap memantau perusahaannya yang ada di London. Akhirnya, Renata menghubungi Anisa dan meminta sahabatnya itu untuk menemaninya makan siang.


Renata mengedarkan tatapannya untuk mencari keberadaan Anisa yang katanya sudah menunggu di tempat. Alangkah kagetnya dia melihat sahabatnya itu sedang adu mulut dengan beberapa pria dan wanita. Sepertinya orang-orang itu sedang membully Anisa.


Renata dengan geram melangkah menghampiri meja di mana Anisa duduk.


"Hei, gadis miskin! kenapa kamu diam saja dari tadi, hah? kamu nggak berani jawab ya? kamu takut kalau semua orang di sini tahu kalau kamu itu miskin tapi belagu makan di restoran mahal seperti ini? laki-laki hidung belang mana yang bisa kamu gaet?" sesuai dengan dugaan Renata. Anisa benar-benar sedang dibully eh sekelompok orang itu.


Anisa tampak tersenyum sinis dan menatap wanita yang baru saja melontarkan kata-kata penghinaan padanya. "Apa kamu sedang membicarakan diri sendiri?" sindir Anisa, santai.


Brakkk


wanita itu tiba-tiba menggebrak meja dengan keras, merasa tersindir dengan serangan balik Anisa.


"Berani-beraninya mengataiku! kamu kira kamu siapa, hah? kamu itu hanya orang miskin yang tidak tahu diri. Asal kamu tahu, mulut yang kotor itu bisa aku beli. Bukan hanya mulutmu, mulut orang tuamu juga sekaligus," kembali wanita berpenampilan seksi itu melontarkan kata hinaan pada Anisa.


"Mulut siapa yang kotor? mulut Anisa atau mulutmu?" cetus Renata yang sudah berdiri di dekat meja Anisa. Tatapan wanita itu terlihat sangat tajam, seperti belati yang siap menghujam jantung.


Sekelompok orang itu sontak menatap ke arah Renata. Wanita yang menghina Anisa sontak mengrenyitkan keningnya, menatap Renata dari atas hingga ke bawah.


"Siapa kamu? jangan ikut campur urusan orang!" ucap wanita itu dengan raut wajah bengis.


"Anisa itu sahabatku, jadi siapapun yang menghinanya, aku akan tetap ada untuk mendukung,"


"Hahahahaha! jangan sok jadi pahlawan deh! dia itu tidak pantas untuk dibela,"


"Jadi, siapa yang pantas untuk dibela? kamu? begitu yang kamu mau? apa kamu yang mulutnya kotor pantas untuk dibela? justru kamu itu lebih tidak pantas untuk dibela! cantik di muka sama sekali tidak ada guna kalau memiliki hati yang jelek," sindir Renata sarkas.


"Brengsek! kamu butuh dihajar rupanya," wanita itu mengangkat tangannya hendak menampar wajah Renata. Namun sebelum itu terjadi, Anisa sudah berdiri dan menangkap tangan wanita itu, lalu menghempaskan dengan keras.


"Arghh, kalian semua kenapa diam saja? pegang tangan dua wanita ja* lang ini!" titah wanita yang ternyata adalah Sarah itu. Dia begitu dendam karena sejak perdebatan mereka satu tahun yang lalu, dia diberhentikan dari perusahaan, karena suka semena-mena. Pemecatannya juga ternyata banyak didukung oleh yang satu divisi dengannya karena sudah jengah dengan sikap arogan wanita itu.


Beberapa wanita hendak melangkah untuk melakukan hal yang diminta oleh Sarah, tapi Anisa menahan langkah mereka dengan hanya sorot mata yang sangat tajam.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu diam saja sih? dia sudah menghinaku, seharusnya kamu bela aku," Sarah menggelendot manja di lengan seorang pria yang dari tadi menatap Anisa dengan tatapan kagum.


"Siapa yang menghinamu? justru kamu yang lebih dulu menghinanya," jawaban pria itu sontak membuat mata Sarah membesar terkesiap kaget dengan ucapan kekasihnya yang memang usianya berada 3 tahun dibawahnya.


"Sayang, aku nggak salah dengar kan? kenapa kamu jadi membela dia?" Sarah menatap pria itu dengan berang.


Pria itu tidak menjawab pertanyaan Sarah, tapi dia justru tersenyum manis menatap Anisa. Sementara itu, Anisa merasa jengah melihat senyum pria itu.


"Hai, Anisa! kamu pasti belum lupa kan denganku?"


Semua yang ada di tempat itu tak terkecuali Renata kaget ketika mengetahui kalau pria itu mengenal Anisa.


"Sob, dia Anisa mantan pacarmu dulu?" seseorang menyeletuk dan langsung memperhatikan wajah Anisa dengan seksama. Bukan hanya dia, ada beberapa lagi yang langsung memperhatikan wajah Anisa dengan teliti.


"Iya, dia Anisa. Kenapa kamu bisa cantik begini? bukannya dulu kamu buluk dan kusam?" seru yang lain.


"Maaf, aku sama sekali tidak mengenal kalian semua. Aku benar-benar sudah melupakan kalian, semenjak kalian semua menghinaku setelah kalian berhasil memanfaatkanku. Jadi, tolong kalian pergi dari sini. Jangan ganggu makan siangku dengan sahabatku," sahut Anisa dengan sinis, sembari kemb duduk.


"Wah, tidak mungkin kamu bisa melupakanku! bukannya aku ini cinta pertamamu? kata orang akan sulit untuk melupakan cinta pertama, bukankah begitu?" ucap pria yang ternyata mantan pacar Anisa waktu SMA itu dengan penuh percaya diri.


"Jangan sentuh aku! aku muak denganmu! pergi kamu sana!" pria itu mendorong tubuh Sarah hingga hampir terjatuh.


"Sialan! brengsek! beraninya kamu menggoda kekasihku!" bukannya marah pada Pria itu justru Sarah menghambur hendak menyerang Anisa. Beruntungnya, pria itu dengan sigap segera mencegah tindakan Sarah.


"Berani kamu menyentuhnya, aku tidak akan segan-segan mengambil semua yang aku berikan padamu!" ancam pria itu dengan sorot mata yang membunuh.


Sarah seketika ciut dan terdiam di tempatnya.


"Sekarang kamu pergi dari sini dan mulai sekarang kita tidak memiliki hubungan lagi, pergi!" usir pria itu.


"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu, aku tidak mau!" tolak Sarah, yang tetap kekeuh berdiri di tempatnya.


"Aku bilang pergi ya pergi!" bentak pria itu lagi, hingga membuat Sarah takut dan akhirnya beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


"Anisa tenang saja, dia sudah pergi. Aku janji aku akan melindungimu," ucap pria itu, sembari tersenyum manis ke arah Anisa.

__ADS_1


"Oh, terima kasih! kalau begitu, bisa tidak kalian semua meninggalkan kami? kami benar-benar mau makan siang," ucap Anisa, tidak merasa tersanjung dengan sikap manis mantan kekasihnya itu.


"Apakah begini caramu berterima kasih pada Rian? bukannya tadi kamu lihat kalau dia membelamu hingga sampai memutuskan hubungan dengan pacarnya? sombong sekali kamu!" celetuk seseorang yang merupakan sahabat pria yang ternyata bernama Rian itu.


"Apa aku pernah memintanya untuk membelaku? apa aku juga yang memintanya untuk putus dengan Mbak Sarah? tidak kan? jadi aku tidak harus merasa bersalah akan hal itu. Dan satu lagi, bukankah tadi aku sudah mengucapkan terima kasih? apa itu masih kurang?" ucap Anisa, sengit.


"Sudah, sudah jangan berdebat di sini!" Rian langsung menyela perdebatan temannya dengan Anisa.


Kemudian, pria itu kembali menatap ke arah Anisa dan tersenyum menggoda.


"Anisa, bisakah aku duduk di sini bersama kalian berdua? tenang saja kalian berdua bisa makan apa saja, karena ini restoranku," ujar Rian dengan nada sombongnya.


"Oh, ini restorannya? pantas saja dari tadi tidak ada satupun pelayan yang datang ke sini untuk menghentikan perdebatan," batin Renata.


"Maaf, aku masih bisa bayar. Terima kasih buat tawarannya. Tapi, sekali lagi, aku minta maaf, aku benar-benar hanya ingin makan berdua dengan sahabatku,"


Rian terlihat mengepalkan tangannya, karena penolakan Anisa, padahal dari tadi dirinya sudah berusaha untuk berbicara dengan lembut.


"Kenapa kamu jadi sombong begini? kamu jangan karena penampilan kamu yang berubah seperti ini, jadi sok ya. Aku tahu kalau kamu masih miskin dan kamu ini bisa seperti ini karena uang yang kamu dapatkan dari om-om. Lagian aku tahu, kalau kamu masih mencintaiku, buktinya sampai sekarang kamu sama sekali belum punya kekasih kan? beruntung orang kaya sepertiku masih mau berbaik hati padamu,dan mau menjadikanmu pacar,"Rian mulai menunjukkan sikap aslinya.


"Siapa bilang dia mendapatkan uang dari Om-om? tidak sama sekali. Dia memperolehnya dari kerja keras . Oh ya,satu lagi,siapa bilang dia tidak punya kekasih?". Renata yang dari tadi diam, akhirnya buka suara. "Asal kamu tahu, pacar Anisa bahkan lebih dari segalanya darimu. Sudah tampan, baik, dan satu lagi, dia pewaris dari perusahaan besar. Kamu tahu sunshine group kan? putranya adalah kekasih Anisa," lanjut Renata lagi.


"Haish, kenapa Renata ngomong seperti itu sih? Pak Nicholas kan tidak benaran pacarku," Anisa menggerutu di dalam hati.


"Hahahaha! semua mantan teman Anisa tertawa mengejek.


"Maksud kamu, Nicholas Reyfansyah Sanjaya? Hahaha sangat tidak mungkin. Jangan mimpi deh!" ledek Rian.


"Apanya yang tidak mungkin? Anisa memang wanitaku! jadi siapa yang mengganggunya, harus siap berhadapan denganku," tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki.


Semua yang ada di sana sontak melihat ke arah datangnya suara dan mereka terkesiap kaget melihat sosok yang baru muncul itu.


"Ni-Nicholas!" gumam semuanya, hampir bersamaan.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2