Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Jadi bodoh


__ADS_3

Sementara itu, di sebuah apartemen tepatnya apartemen milik Nathan, Tampak dua orang pemuda yang berkali-kali menatap ke arah handphone milik Nathan, berharap Renata menghubungi, balik.


"Kenapa Renata belum juga menghubungi balik sih, Bas?" tanya Dava sembari menggaruk-garuk kepalanya.


'Iya, mana aku tahu? kali aja dia udah tidur. Besok mungkin dia akan menghubungi balik. Sebaiknya kita tidur aja sekarang," sahut Bastian sembari berdiri dari tempat dia duduk.


sebelum melangkah, tiba-tiba handphone Nathan berbunyi. Bastian yang tadinya hendak pergi kembali duduk dan meraih handphone Nathan.


"Siapa, Bas? Renata ya?" tanya Dava antusias.


"Sepertinya bukan, Dav. Ini nomor baru lagi," Bastian menunjuk layar yang masih berkedip-kedip itu.


"Coba aku lihat! sepertinya nomornya tidak asing," ucap Dava dengan alis bertaut berusaha mengingat nomor itu.


"Aku jawab aja ya! mungkin saja itu Renata yang memakai nomor lain,"


"Jangan diangkat!" cegah Dava, dengan suara tinggi, hingga membuat Bastian urung menjawab telepon itu.


"Kenapa, tidak boleh sih?" Bastian mengrenyitkan keningnya.


"Sepertinya itu nomor Nathan! coba kamu cocokkan ke nomor Nathan yang kami simpan di handphonemu," raut wajah Dava terlihat panik.


Bastian sontak meletakkan ponsel Nathan yang sudah berhenti berbunyi itu ke atas meja. Kemudian dia merogoh ponselnya dan langsung mencari nomor baru Nathan.


" Iya, Sob. Itu nomor Nathan. Gawat, berarti dia sudah tahu kalau kita membohonginya. Sebentar lagi dia pasti menghubungi salah satu dari kita," Bastian tidak kalah paniknya dari Dava.


"Kita jawab apa nanti kalau dia bertanya alasan kenapa kita bohong? masa kita bilang karena kita tidak mau dia tahu, kalau Renata ada di London? dia pasti akan marah kan?" lanjut Bastian lagi.


Mereka berdua terjengkit kaget karena sesuai dugaan, salah satu handphone milik kedua pemuda itu berbunyi dan ketika dilihat siapa yang sedang menghubungi, tampak jelas nama Nathan yang tertera di layar ponsel itu.


"Waduh, Nathan menelepon, Sob! ucap Dava sembari melemparkan ponselnya di atas sofa.


"Kenapa kamu lempar? ayo jawablah!" titah Bastian.


"Aku tidak mau! kamu saja yang jawab!" tolak Dava.


"Apaan sih? yang dihubungi kan kamu," tolak Bastian.


Ponsel itu tiba-tiba berhenti berbunyi. Kedua pemuda itu mengembuskan napas lega. Namun, kelegaan mereka hanya sementara, karena sekarang gantian ponsel Bastian yang berbunyi.


"Waduh, kenapa malah menghubungi nomorku sih?" Bastian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Jawablah!" desak Dava.


"Ogah! kamu aja nggak jawab tadi," tolak Bastian.


"Kalau gitu biarkan panggilannya mati sendiri," kedua pemuda itu sama-sama menatap handphone yang masih berkedip-kedip itu sampai mati sendiri.


"Aku mau tidur saja! untuk masalah marahnya Nathan kita pikirkan besok saja," Bastian bangun lagi dari tempat duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu, Dava tampak merenung, seperti ada beban berat yang dia pikirkan. Pemuda itu menghela napas panjang dan akhirnya memilih untuk menyusul Bastian ke dalam kamarnya.


"Bas, Kamu sudah tidur ya?" tanya pemuda itu, setelah dia masuk ke dalam kamar.


"Belum! emangnya kenapa?" Bastian membuka matanya yang sempat terpejam.


"Bisa tidak kamu jangan tidur dulu! kamu temani aku ngobrol. Aku benar-benar tidak bisa tidur,"


Bastian mengrenyitkan keningnya, merasa ada sesuatu yang sedang membebani pikiran sahabatnya itu.


"Kamu kenapa? apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanya Bastian sembari duduk kembali.


Dava tidak langsung menjawab sama sekali. Pria itu mengembuskan napas berat.


"Tidak sih! aku hanya belum ngantuk saja. Kamu temani aku ngobrol ya!"


"Ogah! aku sudah ngantuk, Dav. Kamu ngobrol sendiri aja ya! tuh ada tembok yang nganggur. Kamu ajak dia bicara aja!" tolak Bastian yang kembali merebahkan tubuhnya.


bugh ..

__ADS_1


Bantal mendarat dengan mulus di kepala Bastian.


"Sialan kamu! kamu kira aku sudah gila, sampai ajak tembok bicara?" sungut Dava, membuat Bastian terkekeh.


"Oh ya, Dav, kamu ada rasa nggak sama Nabila?" tanya Bastian yang rasa kantuknya tiba-tiba pergi entah kemana.


"Wah, nggak berani aku Sob. Pengawalnya ngeri. Mana ada tiga orang lagi, aku nggak siap diintimidasi setiap hari sama tiga orang itu," sahut Dava.


"Serius kamu, dia ada tiga pengawal? tapi kenapa kamu harus takut? kan cuma pengawal," Bastian mengrenyitkan keningnya.


Plak ...


Tangan Dava melayang memukul kepala Bastian.


"Sakit bego! kenapa kamu memukul kepalaku?" Bastian mengusap-usap kepalanya.


"Lah, gimana lagi. Otak kamu kok gak nalar sih? 3 pengawal yang aku maksud itu, Om Rehan, Kak Nicholas dan Nathan," Bastian mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.


"Coba kamu bayangkan, jika tuan putri mereka kesal karena sesuatu hal kecil, dan ketiga pengawalnya itu tahu, bisa kena semprot aku tiap hari. Nggak kuat aku, Sob. Lagian, kamu tahu sendiri status dia bagaimana? dia anak siapa dan aku anak siapa. Jomplang banget kan? udah deh mending jangan menabur bibit bunga, di taman yang sudah penuh dengan bunga, rasanya pasti sakit, karena terhimpit oleh bunga-bunga yang mekar lebih dulu itu," ucap Dava ambigu.


"Maksudnya?" Bastian mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Maksudnya jangan memulai hal yang sia-sia. Jika dari awal kita sudah tahu apa yang akan terjadi, ya jangan dimulai. Sama seperti aku yang sudah tahu jelas perbedaanku dengan Nabila, supaya tidak sakit, ya sebaiknya aku mengubur lebih dulu keinginan untuk jatuh cinta padanya," jawab Dava dengan lugas.


"Oh, seperti itu?" Bastian mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.


"Kalian berdua sedang membicarakan apa?" tiba-tiba terdengar suara dari ambang pintu.


Kedua pemuda itu sontak menoleh ke arah datangnya suara. Mata keduanya sontak membesar melihat ada Nathan yang berdiri di ambang pintu sembari bersender dengan tangan yang bersedekap di dada.


"Na-Nathan! bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Dava dengan gugup.


Plak ...


Kini tangan Bastian yang melayang memukul kepala Dava.


"Kamu kok jadi bego? ya jelas dia bisa masuk. Ini kan apartemennya.


"Haish, dia sudah berapa lama sih berdiri di sana? dia dengar gak sih apa yang aku katakan tadi sama Bastian? kok gak kedengaran sih dia datang? macam jailangkung, datang gak diundang, pergi gak diantar," bisik Dava dalam hati.


Nathan tidak memberikan respon sama sekali pada kedua sahabatnya yang sibuk sendiri. Pemuda itu, justru menatap dingin dan tajam pada Bastian dan Nicholas.


"Dav,kayanya posisi kita lagi terancam. Lihat tatapannya, benar-benar kaya memakan kita hidup-hidup nggak sih?" bisik Bastian.


"Iya, Sob! persiapkan dirimu. Kalau dia menyerang kita sama-sama kabur!" Dava balik berbisik.


Sementara itu, Nathan berusaha menahan tawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.


"Kenapa kalian berdua bohong? kalian bilang, handphoneku kemasukan air dan nomornya hilang, tapi kenapa tadi bisa aktif, ketika aku hubungi?" cecar Nathan pura-pura tidak tahu.


Kedua pemuda itu saling silang pandang, memberikan isyarat dengan mata, siapa yang akan memberikan penjelasan pada Nathan.


"Emm, masa sih, Nath? berarti ada yang sudah mengambil dan menggunakannya. Wah, siapa ya dia?" ujar Dava, pura-pura memasang wajah penasarannya.


"Iya, ya! ini pasti salah satu dari perawat di rumah sakit. Aku yakin itu?" Bastian ikut-ikutan menimpali ucapan Dava.


Nathan terlihat menempelkan handphonenya ke telinga, dan tiba-tiba terdengar bunyi dering handphone, yang dari bunyinya adalah nada dering yang digunakan Nathan di handphone lamanya.


"Diambil perawat, tapi kenapa bunyinya bisa ada di sini ya?" Nathan melirik sinis ke arah dua sahabatnya itu.


"Iya, ya? kok bisa sih, Dav?" tanya Bastian dengan wajah bodohnya.


"Entah! aku juga bingung kenapa bisa terdengar di sini," sahut Dava, ikut jadi bodoh.


"Kenapa tadi, kamu nggak non aktifkan lagi sih?" bisik Bastian.


"Ya, mana aku tahu. Kan kita lagi nunggu Renata telepon balik. Kalau kita non aktifkan, dan Renata telepon, gimana coba?" Dava kembali berbisik.


"Kenapa kalian bisik-bisik?" semprot Nathan.

__ADS_1


"Eh, siapa yang bisik-bisik? nggak ada kok!" sangkal Dava.


"Kalian berdua masih aja ya, mau berbohong. Udah jelas itu handphone aku lihat ada di atas meja, dan bunyinya dari sana. Masih aja kalian berbohong. Ren, coba bawa handphonenya ke sini!"


"Ren? Ren siapa?" gumam Bastian dan Dava bersamaan.


"Hai!" Renata muncul sembari melambai-lambaikan tangannya.


"Renata! teriak Bastian dan Dava tanpa sadar menghambur hendak memeluk gadis itu. Beruntungnya dengan sigap Nathan berdiri di depan Renata dan menatap tajam ke arah dua sahabatnya itu.


"Berani kalian berdua memeluknya, habis kalian berdua!" ancam Nathan.


"Ya ela, meluk sedikit aja masa nggak boleh!" Dava menggerutu sembari mundur dan diikuti oleh Bastian.


"Akhirnya kami menemukanmu, Ren!" Dava kembali buka suara.


"Apa kamu bilang? kalian menemukan Renata? aku yang menemukannya bukan kalian," sambar Nathan dengan kesal.


"Eh, iya ya! Dava menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Kenapa kalian berdua merahasiakan kalau Renata datang ke London?"


"Maaf,Nath! hari itu kamu kan baru selesai operasi mata, kami takut kamu khawatir dan nekad keluar mencari Renata sendiri. Kami sudah mencoba mencarinya beberapa hari ini, makanya kami jarang menemuimu," sahut Dava yang sudah kembali ke mode serius.


"Maaf ya, sudah membuat kalian berdua repot?" ucap Renata dengan raut wajah bersalah.


"Tidak apa-apa, Ren. Santai aja! yang penting kamu sudah ketemu," sahut Bastian.


"Oh ya, kenapa kamu bawa Renata ke sini, Nath? dia mau tidur di sini? kalau iya, dia mau tidur dimana? atau jangan-jangan kalian berdua mau tidur di kamar yang sama? please jangan Nath, itu dosa!" Dava kembali buka suara.


bugh


Tangan Nathan melayang meninju pundak sahabatnya itu.


"Siapa yang mau tidur di sini? aku hanya mengantarkan Renata saja, kebetulan__"


"What? kamu mau menginap di sini, Ren?" Dava dengan cepat menyela sebelum Nathan selesai berbicara. "kamu nggak takut kami apa-apain, Ren? apa kamu nggak punya uang lagi, makanya mau tinggal di sini?" lanjut Dava lagi.


Bugh...


lagi-lagi tangan Nathan melayang memberikan pukulan di bahu Dava.


"Siapa yang mau nginap di sini? Renata kebetulan ternyata menyewa unit apartemen di gedung ini. Kebetulan hanya beda 4 unit dari sini. Jadi, aku sekalian ajak dia ke sini," sahut Nathan.


"Astaga, kenapa kamu nggak kasih tahu kami sebelumnya sih, Ren? tahu gitu, kami nggak capek nyari kamu," celetuk Bastian.


Plak ...


kini tangan Dava yang memukau kepala Bastian.


"Kamu kok bego sih? gimana dia mau kasih tahu kamu? handphonenya kan ketinggalan di Indonesia."


"Eh, iya ya!" Bastian nyengir kuda.


Nathan menghela napasnya, berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat dua sahabatnya yang tiba-tiba berubah bodoh.


"Udah ya, aku mau antar Renata ke apartemennya dulu. Setelah itu aku mau langsung pulang," ucap Nathan, sembari meraih tangan Renata.


"Eh, kamu nggak nginap di sini, Nath?" tanya Dava, dengan cepat sebelum sahabatnya itu berlalu pergi.


"Nggak! nanti mama, papa, kakek dan Kak Arsen, khawatir. Jadi, aku akan pulang ke rumah." jawab Nathan.


"Oh, Kenapa kamu tidak membawa Renata sekalian ke rumah kakek Nurdin? di sana kan ada banyak kamar?" celetuk Bastian dengan alis bertaut.


Nathan tidak langsung menjawab. Dia justru menatap tajam ke arah Bastian.


"What? kenapa kamu menatapku seperti itu? aku ada salah ucap ya?" Bastian benar-benar terlihat bingung.


Dava yang mengerti tatapan Nathan segera menyikut pinggang Bastian. "Apa kamu lupa, ada Om Rehan di rumah itu? kamu kan tahu, Renata itu tunangannya kak Nicholas?" bisik Dava dan mulut Bastian seketika membentuk huruf O.

__ADS_1


"Kami pulang dulu!" ucap Nathan, berlalu pergi dengan menggandeng tangan Renata.


Tbc


__ADS_2