Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Sudah jatuh, tertimpa tangga lagi


__ADS_3

Renata sontak berlari turun ke bawah begitu mendengar teriakkan papanya yang memanggilnya.


"Ada apa sih ,Pa? kenapa teriak sekencang itu?" tanya Renata begitu sudah berada di bawah, tepatnya di tempat Rajendra berada. Ternyata bukan hanya Renata yang datang, tapi juga Lina mamanya Renata.


"Kamu duduk dulu! ada sesuatu yang ingin papa tanyakan," terlihat aura yang sangat dingin, pada ucapan Rajendra. Bukan hanya pada ucapannya, tapi juga terlukis jelas di wajah pria setengah baya itu.


Renata sedikit bergidik takut, karena tidak biasanya papanya bersikap seperti itu padanya. Namun, Renata berusaha bersikap biasa dan berpikir positif. Gadis itu akhirnya duduk persis di depan sang papa disusul oleh Lina yang mengambil tempat di samping Rajendra suaminya.


"Renata, kamu jawab jujur. Siapa laki-laki yang d dimaksudkan oleh Tania, yang sekarang dekat denganmu?" tanya Rajendra to the point, tanpa basa-basi.


Mata Renata sontak sedikit membesar, terkesiap kaget karena tidak pernah menyangka kalau papanya bisa bertanya seperti itu..


"Tidak ada Pa!" jawab Renata, lugas.


"Kamu jangan coba membohongi papa, Renata!" Rajendra menatap Renata dengan sangat tajam dan mengintimidasi.


"Renata tidak bohong, Pa. Aku hanya berteman dengannya sama seperti pada teman yang lainnya," sahut Renata dengan sedikit berbohong.


"Dari wajahmu, Papa tahu kalau kamu mencoba untuk berbohong. Papa rasa, kamu menempatkan laki-laki itu sedikit berbeda dengan teman-temanmu yang lain, apa dugaan papa benar?" alis Rajendra, bertaut.


Tenggorokan Renata seperti tercekat, sulit untuk menjawab. Apalagi melihat betapa tajamnya tatapan papanya itu.


"Emm, sebenarnya memang sedikit berbeda, tapi, itu karena dia lah yang menolongku lepas dari jebakan Roby dan Tania, Pa. Kalau bukan karena dia, aku mungkin sudah berada di bawah perangkap Roby dan Tania sekarang," ujar Renata, jujur sembari menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Apa dia anak orang kaya? kata Tania, dia bukan anak orang kaya, dan juga sangat bodoh, benar demikian?" Rajendra terlihat seperti sedang menguliti putrinya itu.


"Pa, kenapa sih, yang pertama kali papa tanya selalu kekayaan seseorang? apa tolak ukur dalam bergaul dengan seseorang bagi papa, dilihat dari kaya dan miskinnya seseorang?" bukan Renata yang berbicara melainkan Lina istrinya.


"Aku hanya ingin yang terbaik buat putri kita. Aku tidak mau dia berhubungan dengan orang yang bisa dipastikan akan jadi benalu nantinya," jawab Rajendra.


"Yang terbaik menurut papa belum tentu terbaik buatku. Lagian, Nathan bukan orang yang ingin menjadi seorang benalu. Bahkan karena tidak ingin dianggap jadi benalu dia rela meninggalkan keluarganya sendiri," kali ini Renata yang buka suara. Gadis itu merasa kalau dia mendapat dukungan dari mamanya.


"Oh, jadi nama laki-laki itu Nathan? aku pernah mendengar nama itu disebut oleh wali kelasmu,saat papa bertanya siapa siswa yang sering berbuat ulah. Jadi, kamu berteman dengan seorang pria yang selalu mengalah di sekolah?" Rajendra mulai berang.


Renata kembali tersentak kaget. Gadis itu merutuki kebodohannya sendiri yang tidak sengaja menyebut nama Nathan.


"Pa, sebenarnya dia berbuat ulah hanya untuk menarik perhatian keluarganya. Dia itu sebenarnya sangat baik. Selama mengenal dia dengan baik, aku merasa dihargai sebagai seorang perempuan. Dia selalu menjaga tangan dan matanya. Please Pah, jangan menilai seseorang itu hanya dari ucapan seseorang. Coba Papa mengenalnya, aku yakin pandangan papa akan berubah," ucap Renata.


"Untuk itu, kita cukup berterima kasih saja. Kasih dia sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih, yang penting jangan sampai menjalin hubungan. Bagaimanapun kita harus tetap berhati-hati pada orang lain. Bisa jadi, dia berusaha menyingkirkan orang lain, dan berpura-pura menjadi penolong agar kita percaya padanya. Karena kita sudah percaya, dia jadinya leluasa untuk masuk ke ruang lingkup keluarga kita dan memanfaatkan kebaikan kita," pungkas Rajendra sembari berdiri dari tempat duduknya dan berlalu pergi.


"Pa, stop su udjon pada__" Renata menggantung ucapannya, karena papanya kembali berbalik dan menatapnya sangat tajam bak pisau belati yang siap menghujam jantung.


"Sekali papa bilang tidak boleh ya tidak boleh!" ucap Rajendra sekali lagi dengan tegas, lalu melanjutkan langkahnya kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Tania melajukan mobilnya dengan hati yang sangat dongkol. Bisa dipastikan kalau nanti dirinya akan mendapat murka lagi dari kedua orangtuanya karena tidak berhasil membujuk Rajendra untuk tidak memecat sang papa.

__ADS_1


"Brengsek! semua ini gara-gara Nathan yang menggagalkan semua rencanaku dan Roby. Ini juga gara-gara Renata yang belagu itu. Sudah jelek, tidak tahu diri lagi," Tania mengumpat sembari mencengkram dan memukul kemudi mobil.


"Sebaiknya aku menghubungi Roby sekarang. Jalan satu-satunya biar hidupku aman, ya aku harus mau menikah muda dengannya. Aku tidak mau hidup miskin dengan kedua orangtuaku. Walaupun Roby bukan konglomerat, setidaknya hidup keluarganya tidaklah miskin," batin Tania sembari meraih ponselnya dari dashboard mobil.


Tania langsung mencari nomor Roby dan menghubungi pria yang selama ini menjadi kekasih sekaligus partnernya melakukan perbuatan terlarang yang memabukkan itu.


"Halo, ada apa?" terdengar suara Roby dari ujung telepon. Dari suara pemuda itu tersirat rasa malas dan dingin. Bahkan pemuda itu menghilangkan panggilan beb pada Tania.


"Beb, aku sudah memutuskan, kita memang harus menikah. Kita sudah lulus, tidak ada salahnya kan menikah, walaupun memang kita harus menikah muda," cerocos Tania.


"Menikah? apa kamu gila? no aku tidak mau menikah denganmu. Kamu itu hanya partner untuk enak-enak saja,aku tidak pernah berpikir untuk menikah dengan perempuan seperti kamu," tolak Roby dengan tegas.


"Beb, apa maksudmu? emangnya, aku perempuan seperti apa?" ucap Tania sembari menepikan mobilnya.


"Dengar ya, Tania, sebejat-bejatnya laki-laki, mereka pasti akan mencari seorang istri yang merupakan perempuan baik-baik. Sedangkan kamu ... kamu itu tidak masuk kriteria sebagai perempuan baik-baik. Lagian aku tidak mau mengorbankan masa mudaku, hanya karena ingin menikahmu. Aku juga tidak mau cepat mati, karena aku yakin kalau Keluargamu nantinya pasti akan jadi benalu padaku. Jangan kira, aku tidak tahu kalau papamu sudah dipecat dan masuk daftar hitam," ucap Roby panjang lebar dengan sarkastik.


"ROBY!" bentak Tania dengan nada tinggi. " Bagaimana bisa kamu tega berkata seperti itu setelah apa yang kamu lakukan selama ini. Ingat, aku sudah tidak gadis lagi, itu karena kamu. Kamu jangan jadi lepas tanggung jawab seperti ini!" lanjut Tania lagi.


"Kamu kira aku peduli? itu juga mau kamu kan? Kalau kamu tidak menggodaku, aku tidak mungkin melakukannya. Ingat, buaya mana yang menolak bangkai, kamu kasih ya aku terima. Jadi, tolong jangan bersikap seakan-akan aku yang memaksamu. Sudah ya, mulai sekarang kita putus! aku tidak mau punya hubungan lagi denganmu!"


"Ro__" Tania berhenti bicara karena panggilan sudah diputuskan secara sepihak oleh Roby.


"Brengsek! Kurang ajar!Bajingan! Arghhhh!". Tania kembali memukul-mukul kemudi mobilnya. Nasib perempuan itu sekarang bisa dikatakan, 'sudah jatuh tertimpa tangga dan digigit anjing lagi', lengkap sudah.

__ADS_1


Tb


__ADS_2