
Sementara itu, Nicholas sedang dalam perjalanan mengantarkan Anisa pulang, karena mereka baru saja selesai makan malam.
Suasana terlihat hening karena sibuk dengan pemikiran masing-masing. Nicholas yang fokus melihat ke jalan, dan Anisa yang malu dengan sikapnya tadi ketika berada di restoran.
Flashback On
"Pak, aku ke toilet dulu ya!" ucap Anisa ketika mereka baru saja selesai dengan makan malam mereka.
"Sudah berapa kali aku katakan,jangan panggil aku, Pak kalau tidak dalam urusan pekerjaan, dan kalau kita hanya berdua saja. Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk mengganti panggilan,"protes Nicholas.
"Iya, iya. Nanti aku akan pikiran, panggilan apa yang cocok ke kamu. Sekarang aku mau ke toilet dulu," ucap Anisa sembari beranjak pergi meninggalkan Nicholas.
Nicholas hanya bisa berdecak, sembari menggeleng-gelengkan kepala, melihat ke arah mana Anisa pergi.
"Hai, Kamu Nicholas kan?" tiba-tiba ada dua orang wanita menyapa Nicholas. Ke empat wanita itu terlihat sangat bahagia, karena bisa melihat pria yang dulu sangat mereka idolakan di sirkuit balap.
"Iya, kalian siapa? apa aku mengenal kalian?" Nicholas mengrenyitkan keningnya.
"Kamu mungkin tidak mengenal kami, karena begitu banyaknya wanita yang mengidolakan kamu dulu, termasuk kami berdua, boleh duduk di sini?" tanpa menunggu persetujuan Nicholas, ke dua wanita itu langsung duduk di dekat Nicholas dan salah satunya duduk di tempat Anisa.
"Kamu kok sendirian? kami boleh menemani kamu kan?" goda salah satu dari wanita itu dengan nada genit.
"Bukan hanya untuk menemani makan,menemani dalam hal lain juga, aku tidak akan menolak," timpal yang satu lagi tidak kalah genit.
"Tapi, Maaf! bukannya aku belum mengizinkan kalian berdua untuk duduk?"nada bicara Nicholas terdengar tidak suka.
"Emm,maaf deh! kami cuma ingin berbaik hati menemanimu, bukannya kalau ada teman itu lebih asyik?" ucap wanita yang duduk di tempat duduk Anisa dan ditanggapi dengan kekehan ringan dari wanita lainnya. Sepertinya kedua wanita itu tidak merasa tersinggung sama sekali dengan sikap sinis Nicholas.
"Siapa bilang aku sendiri? aku bersama dengan calon istriku dan tempat yang kamu duduki itu, adalah tempat duduknya. Tolong menyingkir dari sana!" tatapan Nicholas sungguh sangat tajam sekarang.
"Heh, calon istri? sepertinya Pak Nicholas bercanda,"
"Siapa yang bercanda, aku ini calon istrinya! menyingkir dari tempat dudukku!" celetuk Anisa yang baru saja kembali dari toilet.
Tampak bibir gadis itu mengulas senyum sinis.
Kedua wanita yang tadi berniat menggoda Nicholas sontak menoleh ke arah Anisa. Mereka berdua menatap Anisa mulai dari atas sampai ke bawah.
"Tuan Nicholas, jadi ini calon istri anda?" tanya salah satu wanita itu sembari menatap sinis ke arah Anisa.
"Iya, dia calon istriku dan kursi yang kamu duduki itu adalah tempat duduk dia sebelumnya. Jadi, kalau kamu masih punya malu, segera menyingkir dari sana!" titah Nicholas, tegas dan ekspresi dingin.
Namun, wanita itu sama sekali tidak mengindahkan, perintah Nicholas. Justru wanita itu tersenyum sinis menatap Anisa.
"Tuan Nicholas, dia memang cantik sih, tapi tidak seksi sama sekali! lihatlah, bagusan juga bodyku," ucap Wanita itu dengan bangga.
__ADS_1
"Siapa bilang bodyku tidak bagus. Bodymu itu sama sekali tidak ada tandingannya dengan bentuk tubuhku. Hanya saja, tidak diobral, karena yang diobral itu pasti harganya murah. Sedangkan aku, hanya Nicholas yang melihatnya dan dia benar-benar kagum melihatnya, iya kan, Sayang!" ucap Anisa tiba-tiba sembari merangkul leher Nicholas dari belakang.
"Haish, sejak kapan aku lihat bentuk tubuhnya? dia benar-benar buat pikiranku traveling," bisik Nicholas dalam hati.
"Sayang, kok diam saja? benar kan yang aku katakan?" desak Anisa lagi. Entah apa tujuan wanita itu, berani berbicara vul*gar seperti itu. Yang pasti dia tiba-tiba merasa tidak senang ada wanita yang berniat menggoda Nicholas.
"I-iya! kamu sangat seksi sekali, Sayang! aku sangat suka. Bau tubuhmu, lekuk tubuhmu, semuanya aku suka,"ucap Nicholas, sembari mengecup punggung tangan Anisa yang ada di lehernya. Pria itu memutuskan untuk mengikuti permainan Anisa.
"Heh, kok jadi merembes ke arah sana? dasar mesum. Kalau tidak sedang bersandiwara, sudah aku pukul kepalamu," umpat Anisa.
"Cih,aku sama sekali tidak percaya. Kalian berdua pasti berbohong kan?" ucap wanita itu lagi.
"Oh, kamu belum juga percaya, mau lihat buktinya!" Anisa nekad mengangkat wajah Nicholas agar melihat ke atas dan gadis itu tanpa sadar mengecup bibir Nicholas. Mata Nicholas membesar, benar-benar kaget dengan reaksi Anisa.
Awalnya, niat Anisa hanya sekilas saja, tapi karena kaget, dengan tingkah sendiri, Anisa seakan tidak memiliki tenaga untuk menjauhkan bibirnya dari bibir Nicholas.
Di saat bibir mereka saling bersentuhan, mata Anisa dan Nicholas yang sama-sama membesar, saling menatap sama lain dan cukup lama. Setelah rasa kagetnya mereda, Anisa pun menjauhkan bibirnya dari bibir Nicholas.
Kedua wanita tadi, kini merasa jengah dan dengan rasa dongkol langsung berlalu pergi.
Sementara itu, Anisa menjadi salah tingkah, hingga sampai menggigit bibirnya.
"Ma-maaf, tadi aku tidak sengaja!" ucap Anisa, gugup.
"Emm, tidak apa-apa! sahut Nicholas sembari berusaha meredam debaran jantungnya. Walaupun hanya menempel, tapi rasa manis bibir sudah sedikit terasa baginya. Kalau mengikuti Naluri dan bukan berada di tempat umum, mungkin Nicholas sudah melu*mat bibir Anisa tadi.
Namun, tiba-tiba Nicholas berbalik lagi, hingga membuat kepala Anisa terbentur ke dada bidang Anisa.
"Ouch!" Anisa mengusap-usap kepalanya.
"Ma-maaf!" ucap Nicholas gugup dan tanpa sadar ikut mengusap kepala Anisa. Nicholas dan Anisa kembali saling silang pandang untuk sepersekian detik. Begitu tersadar, Nicholas sontak melepaskan tangannya dari kepala Anisa.
"Sial, kenapa aku jadi salah tingkah begini sih?" jantung ini juga kenapa tidak bisa diajak kompromi!" Nicholas menggerutu di dalam hati.
"Ka-kamu sebenarnya mau ke mana sih? bukannya kita mau pulang?" tanya Anisa yang tidak kalah gugupnya dari Nicholas.
"Ma-makanan kita belum dibayar," sahut Nicholas.
"Oh, begitu!" Anisa memutar tubuhnya hendak pergi.
"Hei, kamu mau kemana?" cegah Nicholas sebelum Anisa jauh.
"Mau bayar," sahut Anisa singkat.
"Biar aku saja, kamu tunggu di sini!" Nicholas melangkah, melewati tubuh Anisa dan berjalan menuju kasir.
__ADS_1
"Haish, sialan! seharusnya aku tidak harus ke kasir kan? aku bisa saja panggil pelayan buat memberikan total yang harus aku bayar dan membayarnya langsung. Kenapa aku jadi bodoh seperti ini?" Nicholas merutuki kebodohannya.
Sementara itu, Anisa yang masih berdiri di tempatnya, sibuk mengetuk-ngetuk kepalanya.
"Dasar bodoh! kenapa aku bisa bertingkah memalukan seperti itu sih? dia ilfeel gak ya, melihatku," rutuk Anisa dalam hati.
Flashback end
Nicholas menepikan mobil di depan sebuah rumah yang cukup sederhana tapi asri. Rumah itu tidak lain adalah rumah Anisa yang tinggal bersama kedua orangtuanya.
"Emm, terima kasih sudah mengantarkanku pulang," ucap Anisa basa-basi.
"Oh, tidak masalah! kan emang sudah seharusnya aku mengantarkanmu pulang," sahut Nicholas yang sudah berhasil menyingkirkan rasa gugupnya.
"Kalau begitu, aku keluar ya!" ucap Anisa sembari bersiap-siap membuka pintu mobil.
"Eh, tunggu dulu!" cegah Nicholas tiba-tiba.
"Ada apa?" Anisa menoleh ke arah Nicholas dengan alis bertaut.
"Jangan lupa! hari Sabtu aku, papa dan mama akan datang melamar ke sini," ucap Nicholas, mengingatkan. Anisa tidak menjawab sama sekali, tapi gadis itu, hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Ya udah, hanya itu saja kan?" Nicholas mengangguk, mengiyakan.
"Aku keluar ya! love you!" ucap Anisa tanpa sadar sembari membuka pintu mobil.
"Tunggu dulu! kamu bilang apa tadi?" cegah Nicholas sembari menyentuh puny Anisa.
"Emangnya aku bilang apa?" tanya Anisa gugup.
"Kamu tadi bilang,Love you kan?" Nicholas mengrenyitkan keningnya.
"Sial! kok dia bisa dengar, bukannya aku bilangnya dalam hati ya?" batin Anisa.
"Oh, ti-tidak ada. Kamu salah dengar kali. Aku tadi bilang, see you bukan love you!" sangkal Anisa, berharap Nicholas percaya.
"See you ... love you! bukannya itu sangat jauh? sepertinya aku belum kehilangan fungsi telinga deh," Nicholas benar tidak percaya bantahan Anisa. Dia benar-benar percaya dengan apa yang di dengarnya tadi.
"Aku bilang kamu salah dengar ya salah dengar! tidak mungkin aku bilang love you, padamu!" Anisa mencoba untuk emosi agar Nicholas bisa percaya kata-katanya.
"Udah ah! aku mau keluar dan masuk ke dalam!" tanpa menunggu jawaban dari Nicholas, Anisa turun dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, Nicholas masih terpaku, karena masih memikirkan benar tidaknya pendengarannya.
"Dia benar-benar bilang Love you kan? tidak mungkin aku salah dengar. Atau mungkin saja sih aku salah dengar," pungkas pria ii sembari menjalankan kembali mobilnya.
Sementara itu, Anisa ternyata mengintip dari balik jendela, menatap mobil Nicholas sampai menghilang dari pandangan.
__ADS_1
"Bodoh! kok bisa sih aku keceplosan!" rutuk Anisa sembari melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Tbc