
Aira langsung melepas pelukan William yang memeluk dirinya.
''Apa maksud mu dengan mengatakan bahwa aku adalah wanita yang pertama kamu sentuh, bukankah kau memiliki istri selain diriku?'' tanya Aira dengan ingin memperjelas tentang ucapan William padanya.
William langsung menundukkan kepalanya dengan raut wajah sedihnya, kini mungkin sudah saatnya dia menceritakan tentang apa yang selama ini dia rasakan kepada Callista.
''Aku tidak pernah menyentuh Callista,'' jawab William dengan nada pelan.
''Apah!'' Aira tampak terkejut dengan penuturan William yang mengatakan bahwa dia tidak pernah menyentuh Callista.
''Kenapa kau tidak menyentuh dia, bukankah dia wanita yang kau cintai?''
__ADS_1
''Aira, aku tidak bisa mengatakannya sekarang tapi aku sama sekali tidak pernah mencintai Callista. Sudahlah aku tidak mau lagi membahas tentang masalah itu sekarang aku mau kau kembali padaku, Aira. Aku mohon, bagaimana jika nanti kau hamil dan aku tidak akan menceraikan kamu karena aku takut bahwa saat ini benih ku mulai tumbuh di perut mu,'' kata William dengan memegang perut Aira.
Aira langsung menepis tangan William yang memegang perutnya, Aira benar-benar tidak terpikirkan bahwa dia lupa untuk meminum obat pencegah kehamilan.
''Tidak, aku tidak akan hamil,'' jawab Aira dengan menolak apa yang dikatakan oleh William.
''Bagaimana kau bisa se yakin itu padahal kau tau sendiri bahwa aku tidak menggunakan pengaman apapun dan aku juga yakin bahwa kau juga tidak meminum pil pencegah kehamilan. Benar bukan?''
''Aku akan meminumnya sekarang,'' kata Aira dengan terburu-buru untuk membeli obat pencegah kehamilan ke apotek tapi William lebih dulu mencegah Aira agar dia tidak pergi.
''Tidak! Kau pasti akan kembali menyiksa ku dan kembali memaksaku bukan?''
__ADS_1
''Tidak Aira, tidak. Aku tidak akan melakukan itu semua, aku berjanji tidak akan memaksa kamu lagi. Aku ingin kamu berada di sisi ku,'' jawab William dengan perasaan tulus kepada Aira bahwa dia tidak akan menyakiti Aira.
Aira terdiam sejenak saat mendengar bahwa William tidak akan menyakiti dirinya lagi.
''Baiklah, mari kita buat perjanjian Mas. Aku akan kembali padamu dan tinggal bersama dengan kamu di rumah itu, bukankah tadi kau bilang bahwa kau takut jika nanti aku hamil. Aku akan berada di sana selama satu bulan dan jika selama satu bulan itu aku tidak hamil maka kau harus bersiap untuk menceraikan aku. Bagaimana, apakah kamu setuju?'' tanya Aira dengan meminta pendapat William tentang kesepakatan ini.
''Tidak! Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, Aira!'' William tampak menolak keras dengan apa yang dikatakan oleh Aira.
''Terserah kau Mas, jika kau tidak setuju maka aku akan segera melakukan gugatan cerai padamu dan aku tidak akan pernah kembali untuk bersama dengan kamu, aku juga tidak peduli jika nanti aku benar-benar hamil karena aku akan merawat anak ini sendiri,'' ucap Aira dengan menggertak William agar dia mau menyetujui permintaannya tersebut.
Karena tidak memiliki pilihan lain akhirnya William pun menyetujui permintaan Aira.
__ADS_1
''Baiklah, aku setuju. Asalkan dengan satu syarat jika kau benar-benar hamil maka kau tidak akan pernah meminta berpisah dari ku kecuali aku yang menceraikan kamu,'' jawab William dengan membalikkan menggertak Aira.
''Aku setuju,'' jawab Aira tanpa ragu dan akhirnya mereka berdua pun kembali melakukan sebuah perjanjian di atas kertas hitam putih.