
Saat ini Aira dan juga William baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan wajah cemberut Aira. Ke dua orang tua Aira yang melihat pemandangan tersebut hanya bisa tersenyum karena melihat tingkah anaknya tersebut.
''Ayo Nak, kita sarapan dulu,'' ajak Ibu Aira kepada William dengan menyiapkan sarapan untuk mereka.
''Terima kasih banyak, Bu,'' jawab William lalu duduk di samping Aira.
Saat ini William menikmati indahnya sarapan bersama dengan keluarga Aira, William merasa ada sedikit kehangatan saat melihat bagaimana Aira penuh perhatian kepada kedua orang tuanya bahkan William yang melihat pemandangan tersebut pun merasa sangat tersentuh dengan sikap Aira.
William merasa sedih saat dia mendengar apa yang saat ini dia lihat, dia mengingat tentang sikap kedua orang tuanya dan juga semua keluarganya yang tidak pernah memberikan perhatian lebih seperti apa yang dilakukan oleh ke dua orang tua Aira padanya. William hanya terus mendengarkan desakan keluarganya untuk segera memiliki keturunan dan itu benar-benar membuat William sangat merasa sangat jenuh dan lelah dengan apa yang dikatakan oleh keluarga mereka tentang dirinya tapi di sini William di perlakukan selayaknya seorang anak yang di perhatikan. William merasa sangat bahagia akan sikap kedua orang tua Aira.
__ADS_1
''Ayah, setelah ini saya akan mengurus semua persiapan Ayah untuk pergi keluar negeri. Ayah tidak perlu khawatir karena saya akan menyiapkan semuanya dan secepatnya Ayah akan pergi keluar negeri dan mendapatkan perawatan di sana,'' kata William kepada Ayah Aira agar dia tidak merasa khawatir.
''Baiklah Nak, terima kasih banyak karena kamu sudah mau membantu Ayah untuk melakukan semua ini. Ayah tidak tau lagi bagaimana Ayah harus berterima kasih sama kamu,'' jawab Ayah Aira dengan perasaan tidak enak kepada William.
''Tidak perlu sungkan seperti itu, Ayah. Saya ini adalah suami dari Aira dan saya adalah anak Ayah juga jadi apapun yang kalian perlukan saya yang akan menanggung semuanya,'' kata William dengan nada tegasnya dan itu semua membuat kedua orang tua Aira merasa sangat bahagia.
Waktu pun berjalan begitu cepat, saat ini sudah tiba waktunya Ayah Aira untuk melakukan pengobatan di luar negeri, saat ini Aira menatap pergi kearah kedua orang tuanya yang saat ini sudah menaiki pesawat. Aira mata Aira jatuh dengan perasaan sedih karena dia harus melihat kedua orang tuanya pergi jauh darinya. Melihat Aira yang bersedih, William pun langsung memeluk Aira dengan berusaha untuk memberikan ketenangan kepada Aira tapi Aira langsung menolak dan melepaskan tangan William yang memeluk dirinya bahkan Aira langsung pergi tanpa memperdulikan William yang saat ini sedang mengejarnya.
Aira tampak membawa barang-barangnya untuk kembali ke rumah William. Aira harus bertahan selama satu bulan sampai dia bisa membuktikan bahwa dia tidak hamil tapi saat Aira masuk ke dalam rumahnya dia melihat Callista yang saat ini sedang duduk di ruang tamu dengan santainya.
__ADS_1
''Eh, madu ku datang. Selamat datang kembali di rumah suami ku, Aira,'' sapa Callista dengan menghampiri Aira yang saat ini berdiri di hadapannya.
''Aku pikir kamu tidak akan kembali tapi ternyata aku salah. Kau masih memiliki muka untuk kembali ke rumah ini dan membawa barang-barang kampungan mu itu. Kau pasti berfikir kembali untuk meninggalkan William karena dia memiliki harta yang banyak jadi karena kamu tidak mendapatkan apapun jadi kamu kembali. Benar bukan?''
Aira mengambil nafas dalam lalu membuangnya pelan.
''Kau salah, Callista. Aku datang ke sini karena William yang terus memaksa ku, aku sudah menolaknya tapi William mungkin sangat menyayangi aku sehingga dia tidak bisa jauh dari ku,'' jawab Aira dengan memprovokasi Callista.
''Omong kosong! Aku lah wanita yang di cintai oleh William bukan kau!''
__ADS_1
''Oh ya, jika benar kamu wanita yang dia cintai mengapa aku orang pertama yang dia sentuh atau jangan-jangan William hanya menganggap kamu sebagai istri di atas kertas? Wah, sungguh kasihan,'' kata Aira dengan wajah puasnya saat dia melihat raut wajah Callista yang sangat marah padanya.