
Alvin yang sedang duduk bersantai di balkon rumahnya, tiba-tiba mendengar istrinya berteriak dari dalam kaamar. Alvin menghampiri istrinya yang sejak tadi memanggilnya.
''Ada apa, Canti?'' tanya Alvin.
''Perutku sakit sekali, Mas. Sepertinya mau melahirkan.'' ucapnya.
''Kita langsung ke rumah sakit saja,'' Alvin memapah istrinya keluar dari kamar.
Pak Sanjaya yang sedang duduk sambil membaca koran, melihat Alvin memapah Cantika keluar dari kamar.
''Nak, kamu kenapa?'' tanya Pak Sanjaya.
''Ini Canti sakit perut, Pah. Sepertinya mau melahirkan,'' ucap Alvin.
''Ya sudah ayo kita pergi ke rumah sakit!'' Pak Sanjaya beranjak dari duduknya.
''Pah, tolong minta bibi untuk mengemasi beberapa pakaian untuk cucu papah. Nanti papah berangkatnya sama bibi saja. Biar Alvin duluan,'' pinta Alvin.
''Baiklah,'' Pak Sanjaya langsung pergi ke belakang memanggil pembantu yang ada di rumah itu dan memintanya menyiapkan pakaian bayi yang ada di kamar anaknya.
Alvin dan Cantika sudah berada di dalam mobil. Alvin langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit. Sepanjang jalan Cantika terus merintih.
''Mas, cepat dong! Perutku sakit sekali nih.''
''Sabar, Canti. Ini juga sudah cepat bawa mobilnya,'' ucap Alvin, sambil menatap sekilas ke arah istrinya.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Alvin menghentikan mobilnya di depan rumah sakit. Dia keluar dari mobil, lalu beralih membukakan pintu untuk istrinya. Alvin memapah istrinya memasuki rumah sakit.
Alvin meminta bantuan perawat untuk membantu istrinya.
Setelah mengantar istrinya menuju ke ruang persalinan, Alvin langsung melunasi administrasi. Saat dia kembali, seorang dokter memanggilnya dari depan pintu ruang persalinan.
''Pak Alvin, ini istrinya minta ditemani,'' ucap dokter.
'''Saya ikut masuk?''
''Benar, Pak.''
Alvin menurut, dia masuk ke ruang persalinan. Walaupun yang dikandung istrinya itu bukan anaknya, namun dia merasa kasihan melihat istrinya yang berjuang melahirkan mempertaruhkan nyawanya.
Oek oek
''Selamat ya, Pak, Bu. Anaknya perempuan,'' ucap dokter.
''Terima kasih, Dok.'' ucap Alvin.
Tidak ada alasan untuk Alvin membenci anak yang tak berdosa itu, karena disini yang salah itu ibunya, bukanlah bayi mungil itu. Alvin memperlakukan anak itu dengan baik. Bahkan dia terlihat senang menatap bayi cantik itu.
Pak Sanjaya yang berada di luar, melihat pintu ruang persalinan terbuka, Terlihat seorang dokter keluar dari ruangan itu.
'''Dok, bagaimana persalinan menantu saya?''
__ADS_1
''Alhamdulillah semuanya lancar, Pak.'' jawabnya.
''Syukurlah, saya senang mendengarnya.''
Pak Sanjaya langsung masuk ke dalam untuk melihat cucunya. Kebetulan kedua orang tua Cantika belum ada disana. Mereka masih berada di perjalanan pulang dari luar kota.
.......
Setelah dua hari di rumah sakit, kini Cantika sudah di perbolehkan untuk pulang. Kebetulan saat ini Cantika baru pulang dari rumah sakit.
Saat ini Alvin, Pak Sanjaya, dan juga mertuanya sedang duduk di ruang keluarga sambil mengobrol. Terlihat raut kebahagiaan dari wajah mereka. Cucu yang di tunggu-tunggu akhirnya lahir juga.
''Pak, bagaimana jika kita membuat pesta untuk kelahiran cucu pertama kita,'' ucap Bu Rinda memberikan sarannya.
''Papah juga setuju,'' jawab Pak Dirga.''
''Apa tidak terlalu berlebihan kalau mmbuat pesta? Lagian Cantika juga baru melahikan,'' sahut Alvin menimpali perkataan mertuanya.
''Tidak sekarang, Nak. Tapi nanti nunggu tiga bulan usia cucu mamah.''
''Baiklah, Alvin mneurut saja.''
''Kamu tenang saja, Nak. Biar kita para orangtua yang mengurus semuanya. Kamu fokus saja sama istri dan anakmu,'' ucap Pak Sanjaya kepada anaknya.
''Iya, Pah.'' jawabnya.
__ADS_1
Alvin sudah memikirkan untuk tes DNA, namunĀ dia tidak akan melakukannya dalam waktu dekat ini. Kasihan anak Cantika masih kecil. Mungkin dalam waktu satu bulan ke depan barulah dia melakukan tes DNA. Namun itu juga secara diam-diam.
Alvin melihat ayahnya dan juga mertuanya yang masih asyik mengobrol. Dia berpamitan kepada mereka karena dia akan pergi ke kamar. Kamar yang ditempati oleh istrinya itu bukan di kamar yang biasa dia dan istrinya pakai. Namun istri dan anaknya menempati kamar tamu yang ada di lantai bawah. Alvin juga sedang menyiapkan kamar khusus untuk anaknya, namun kamar itu masih tahap renovasi. Karena Cantika menginginkan kamar anaknya didekorasi layaknya kamar anak-anak. Mulai dari cat dinding dan semua perlengkapan yang ada di kamar itu.