
Nirmala melihat suaminya yang hendak memasuki kamar mandi.
''Mas, kamu mau mandi?''
''Iya, sayang. Nanti setelah Mas selesai mandi, kita pergi cari sarapan di luar yuk!''
''Boleh, Mas. Sekarang Mala mau pergi ke depan dulu ya. Mala mau melihat-lihat di sekitar vila.'
''Hati-hati, sayang.''
''Siap, Mas.''
Nirmala keluar dari kamar. Dia akan pergi ke depan untuk menghirup udara segar di pagi hari.
Nirmala yang berada di depan vila, dia mendengar suara teriakan dari arah samping. Saat dia menoleh, dia melihat seorang wanita yang sedang di tarik oleh lelaki. Nirmala berniat untuk menyelamatkan wanita itu. Dia pergi ke vila yang ada di samping vila milik suaminya.
Nirmala berjalan mengendap-endap mendekati vila itu. Dia membuka pelahan pintu masuk vila yang kebetulan tidak terkunci. Anehnya saat dia masuk ke dalam, dia tidak mendengar lagi teriakan wanita. Nirmala menatap kanan kirinya, melihat sekitarnya. Ternyata sofa yang ada di ruang depan saja di tutup menggunakan kain putih. Sepertinya itu vila yang tidak di tempati. Namun anehnya, suara siapa yang dia dengar tadi.
Nirmala berbalik arah dan hendak keluar. Takutnya yang tadi dia lihat itu hal gaib. Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba saja ada yang membekap mulutnya dari arah belakang.
''Emmm ... '' Nirmala mencoba melepaskan diri, namun sangat sulit. Orang yang membekapnya, membawanya masuk ke salah satu kamar yang ada di vila itu. Tubuh Nirmala di lempar ke atas kasur.
Nirmala menoleh menatap siapa orang yang sudah menariknya. Ternyata dia lelaki muda yang kemungkinan seusia dengan suaminya. Namun yang membuat Nirmala terkejut, wanita yang bersama laki-laki itu dalah Cantika, yang merupakan mantan istri Alvin.
''Cantika, apa maksud semua ini? Kenapa kalian begitu kasar sama saya?'' Nirmala tak mengerti kenapa Cantika dan teman lelakinya berani melakukan itu kepada dirinya.
''Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang, wanita rendahan. Karena kamu sudah merebut suamiku,'' Cantika mendekati Nirmala, dia memegang rambut panjang itu dan menariknya.
''Aww ... '' Nirmala mengaduh sakit. Dia memegangi rambutnya yang di tarik oleh Cantika.
Cantika mendorong Nirmala sehingga Nirmala kembali terjatuh ke atas kasur.
Cantika mengajak teman lelakinya untuk keluar dari kamar itu. Tak lupa dia mengunci pintu kamar.
Di vila sebelah, Alvin sudah selesai mandi. Bahkan dia sudah selesai berganti pakaian. Alvin keluar dari kamar karena ingin menghampiri istrinya. Dia mencari istrinya ke depan vila, namun tak menemukannya. Alvin memutuskan untuk kembali masuk ke vila. Dia sedikit berteriak memanggil istrinya.
''Mala sayang, kamu dimana?'' Alvin menatap sekitarnya memanggil istrinya. Namun ternyata tidak ada sahutan. Alvin memutuskan untuk mencari istrinya ke semua ruangan yang ada di vila itu, namun dia tidak juga menemukan istrinya.
Alvin panik, dia keluar dari vila karena hendak mencari keberadaan istrinya di sekitar vila.
__ADS_1
Setelah berkeliling cukup lama, Alvin belum juga menemukan istrinya. Bahkan Alvin sudah bertanya ke orang-orang yang berpapasan dengannya. Namun dari mereka tidak ada yang melihat keberadaan Nirmala.
Setelah cukup lama mencari, akhirnya Alvin memutuskan untuk kembali ke vila. Sekarang entah kemana lagi dia akan mencari keberadaan istrinya. Tidak mungkin istrinya hilang begitu saja. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan istrinya.
Alvin mencoba untuk menghubungi nomor istrinya, namun dia mendengar dering ponsel istrinya dari arah ruang depan.
'Sayang, sebenarnya kamu kemana?' Alvin mengacak rambutnya dengan kasar.
.......
.......
Sudah hampir malam, namun Alvin belum juga menemukan keberadaan istrinya. Dia sangat khawatir takut terjadi hal buruk dengan istrinya. Alvin yang sedang duduk, dia mendengar ponsel miliknya berdering. Alvin menatap ponselnya yang ada di atas meja. Ternyata yang menelepon itu ayahnya. Alvin menekan tombol hijau, lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.
''Hallo, Pah.'' ucap Alvin.
''Hallo, Nak. Bagaimana bulan madu kalian? Apakah lancar?''
Sejenak Alvin diam, tidak mungkin dia mengatakan jika istrinya hilang entah kemana.
''Nak, kenapa diam?''
''Eh iya, Pah. Lancar kok, kami baik-baik saja disini.''
''Syukurlah, papah senang mendengarnya, Nak. Oh iya dimana istrimu? Papah mau bicara sebentar sama dia,'' ucap Pak Sanjaya.
''Mala ada di kaar mandi, Pah. Sepertinya dia akan lama.''
''Kalau begitu lain waktu saja papah bicara sama dia, Nak.
''Maaf ya, Pah.''
''Tidak apa-apa kok, Nak.''
Hanya sebentar mereka berteleponan. Karena Pak Sanjaya hanya ingin bertanya kabar anak dan menantunya yang sedang berbulan madu.
Setelah selesai berteleponan dengan ayahnya, Alvin memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar, dia tampak mondar-mandir. Perasaannya sangatlah tak tenang. Alvin membuka horden kamarnya. Dia melihat ada cahaya terang dari ruangan persis di depan kamarnya. Ruangan itu berada di vila sebelah.
''Sepertinya ada orang. Tapi tadi sore kata tetangga depan, di vila itu tidak berpenghuni. Ini sangat aneh sekali,'' gumam Alvin.
__ADS_1
Alvin terus memperhatikan vila di samping. Dia penasaran dengan vila itu. Karena rasa penasarannya, dia memutuskan untuk mengeceknya.
Alvin sudah berada di depan vila itu. Dia mengetuk pintu. Beberapa kali dia mengetuk, namun tidak ada sahutan dari dalam.
Tok tok
''Saya tahu jika di dalam ada orang. Tolong keluar sebentar. Mungkin kita bisa bertegur sapa sesama tetangga,'' ucap Alvin dari depan vila.
Tak lama, Alvin melihat seorang lelaki membuka pintu.
''Ada apa ya?''
''Anda penghuni baru vila ini ya?'' tanya Alvin.
''Benar, memangnya kenapa?''
''Tidak kok, saya hanya mau menyapa Anda. Tapi jika Anda merasa terganggu, saya minta maaf.''
''Saya memang terganggu.''
Alvin merasa jika tetangga barunya ini tak suka dengan kehadirannya. Mungkin saja dia sudah mengganggu waktu istirahatnya.
''Kalau begitu saya permisi. Maaf karena saya sudah mengganggu waktunya,'' setelah mengatakan itu, Alvin segera pergi dari sana.
Hanya beberapa langkah saja, Alvin sampai di vila yang dia tinggali. Alvin langsung pergi ke kamarnya. Dia memperhatikan vila sebelahnya dari jedela kamarnya. Sampai sekarang dia masih penasaran, kenapa tetangga barunya bersikap seperti itu. Biasanya jika bertamu ke rumah seseorang, pasti tuan rumah akan menyambutnya dengan ramah, sekali pun itu orang asing. Tapi ini pertama kalinya ada orang yang terang-terangan merasa terganggu dengan kedatangan Alvin. Padahal Alvin tidak berbuat rusuh.
Lelaki tadi yang bernama Leo, langsung menghampiri Cantika. Leo mengetuk pintu kamar yang di tempati oleh Cantika. Hanya dalam hitungan detik, Cantika langsung membuka pintu kamar itu.
''Ada apa?'' tanya Cantika.
''Gawat, sepertinya Alvin curiga dengan tempat ini. Tadi dia datang, tapi untung saja saya bilang kalau kedatangannya itu mengganggu. Jadi dia langsung pergi.''
''Malam ini juga kita harus pergi tinggalkan vila ini. Kita harus pindah ke tempat yang baru. Cepat kamu urus Nirmala!'' pinta Cantika.
''Baik, saya akan laksanakan,'' Leo berlalu pergi dari hadapan Cantika.
Alvin yang berada di kamarnya, dia melihat tetangga sebelah keluar dari vila. Namun mereka bertiga. Karena saat ini malam hari, jadi Alvin kurang jelas melihat wajah-wajah mereka.
''Sepertinya mereka terburu-buru. Sebenarnya mau kemana?'' gumam Alvin, yang merasa ada hal aneh. Baru juga dia datang kesana untuk berkenalan, tapi kini tetangga sebelah vila pergi terburu-buru.
__ADS_1