Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Bab 83 ( Bertemu kembali dengan cinta pertama )


__ADS_3

Kirana, Radit, Kaisar dan Daddy Wijaya sudah terlihat bersiap untuk berangkat ke Sukabumi, dan kedua Nenek Kaisar terlihat menangis melepas kepergian Cucu kesayangan mereka.


"Sayang, kalian baik-baik di sana ya, Mommy pasti akan merindukan kalian," ujar Mommy Santi dengan bergantian memeluk Kirana dan Kaisar.


"Kaisar sayang jangan nakal ya, Nenek pasti akan sangat merindukan Kaisar," ujar Mama Sarah dengan terus memeluk dan mencium Kaisar.


"Mama kapan saja bisa datang ke Sukabumi kalau kangen sama Kaisar, Kirana sama Kaisar juga pasti bakalan sering main ke Jakarta," ujar Radit dengan memeluk tubuh Ibunya yang masih terlihat menangis.


"Sayang, tolong jaga Daddy ya, maaf kalau Mommy belum bisa ikut," ujar Mommy Santi kepada Kirana.


"Mommy tenang saja, kondisi Daddy pasti akan lebih baik lagi jika tinggal di Sukabumi, karena udara di sana masih sangat sejuk tanpa polusi udara," ujar Kirana.


Radit kini telah duduk di samping kemudi, dengan Daddy Wijaya yang duduk di sebelahnya, sedangkan Kirana dan Kaisar duduk di kursi penumpang.


Semuanya kini melambaikan tangan melepas kepergian Kirana dan keluarga.


"Mom, Abang juga harus mengantar Yolanda dan Princess Aurora pulang, mungpung sekarang Papi Danu sedang tidak ada di rumah," ujar Kenzo.


Yolanda pun kini berpamitan dengan semuanya, begitu juga dengan Papa Farhan dan Mama Sarah.


"Rumah sekarang sepi lagi ya Kak," ujar Mommy Santi yang merasa kesepian.


"Iya ya Mom, meskipun Mommy punya tiga Anak, tapi kalau sudah menikah, Mommy dan Daddy akan kembali ke awal lagi, yaitu hanya tinggal berdua," ujar Kevin.


"Kalau begitu nanti Kakak ajak Tita tinggal di sini saja setelah kalian menikah, Tita kan Anak Yatim Piatu, jadi udah gak punya orangtua," ujar Mommy Santi, sehingga membuat Kevin menjadi salah tingkah.


......................

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, perasaan Daddy Wijaya sudah berdebar-debar karena beliau yakin kalau perempuan yang selama ini tinggal dengan Kirana adalah Sekar Arum yaitu cinta pertamanya.


"Nak, apa Bu Arum tau kalau kita mau pulang ke Sukabumi?" tanya Daddy Wijaya.


"Belum Dad, Kirana sengaja mau ngasih kejutan kepada Bu Arum," jawab Kirana.


Syukurlah kalau Kirana tidak memberitahukan kedatangan kami kepada Sekar Arum, karena aku yakin kalau Sekar Arum mengetahuinya, dia pasti akan menghindar untuk bertemu denganku, ucap Daddy Wijaya dalam hati.


Tiga jam perjalanan telah Kirana dan keluarga tempuh, dan saat ini mobil Radit telah memasuki halaman.


Bu Arum yang mendengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya, langsung saja berlari karena beliau yakin kalau itu adalah Kirana dan keluarga.


Senyuman Bu Arum kini mengembang ketika melihat Kirana, Kaisar dan Radit turun dari dalam mobil, sedangkan Daddy Wijaya saat ini sedang mencoba untuk menetralkan debaran jantungnya karena akhirnya bisa melihat kembali sosok cinta pertamanya yang telah puluhan tahun hilang tanpa jejak.


Mata Daddy Wijaya memerah karena menahan tangis, ada rasa bahagia sekaligus luka yang saat ini beliau rasakan, apalagi ketika mendengar cerita Kirana kalau Bu Arum pernah hamil dan melahirkan, tetapi Bayi nya meninggal dunia, dan Daddy Wijaya yakin kalau itu adalah buah cinta mereka hasil dari kesalahan fatal yang telah mereka lakukan di masalalu.


Bu Arum kini menghampiri Kirana yang sedang menggendong Kaisar, sedangkan Radit membukakan pintu mobil untuk Daddy Wijaya.


Daddy Wijaya melangkahkan kaki dengan gemetar saat menuruni mobil, dan senyum pada bibir Bu Arum lenyap seketika pada saat melihat sosok lelaki di masalalunya kini telah berdiri di hadapannya.


Bu Arum dan Daddy Wijaya sama-sama menahan kerinduan yang mendalam, ingin rasanya mereka saling berpelukan untuk menumpahkan semuanya, tapi semua itu tidak mungkin mereka lakukan, karena saat ini mereka bukanlah siapa-siapa.


"Bu, perkenalkan ini Daddy Wijaya, Ayah kandung Kirana," ujar Kirana kepada Bu Arum.


"Dad, kenalin, ini adalah Bu Arum, beliau adalah Dewi penolong Kirana yang sangat berjasa untuk hidup Kirana. Bu Arum juga sudah Kirana anggap sebagai Ibu kandung Kirana sendiri," ujar Kirana kepada Daddy Wijaya.


Daddy Wijaya dan Bu Arum saat ini hendak berjabat tangan, tapi tangan mereka saat ini sama-sama bergetar, sehingga membuat hati Radit dan Kirana bertanya-tanya dengan ekspresi yang ditunjukan oleh keduanya.

__ADS_1


"Sekar Arum"


"Wijaya Kusuma"


Ucap Bu Arum dan Daddy Wijaya secara bersamaan, dan mereka berdua kembali teringat dengan kenangan berpuluh-puluh tahun silam ketika mereka berdua pertama kali bertemu dan berkenalan.


"Yuk Dad, kita masuk," ajak Kirana dengan menggandeng tubuh Daddy Wijaya dan Bu Arum untuk masuk, sedangkan Radit menggendong Kaisar.


Kirana menatap heran tangan Daddy Wijaya dan Bu Arum yang terlihat enggan untuk saling melepaskan.


"Kok Kirana merasa Bu Arum dan Daddy seperti orang yang sudah lama kenal ya," celetuk Kirana.


"Kenapa Tuan Putri bisa berbicara seperti itu?" tanya Daddy Wijaya.


"Daddy lihat saja tangan Daddy dan Bu Arum yang terus saja berpegangan," jawab Kirana, sehingga Daddy Wijaya dan Bu Arum sama-sama melepas pegangan tangan mereka.


Semuanya sudah duduk di ruang tamu, tapi sesaat kemudian Kirana pamit untuk mengganti baju ke dalam kamarnya, begitu juga dengan Radit yang ikut menyusul, sehingga saat ini hanya ada Kaisar, Daddy Wijaya dan Bu Arum di ruang tamu.


Hanya ada keheningan di antara Bu Arum dan Daddy Wijaya, namun sesaat kemudian Daddy Wijaya tiba-tiba memeluk tubuh Bu Arum dan menumpahkan tangisannya yang sudah tidak dapat dibendung lagi, begitu juga dengan Bu Arum yang ikut menangis.


"Sekar, kenapa kamu tega meninggalkanku? kamu tau kalau selama ini aku selalu mencari keberadaanmu? kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu hamil? kenapa kamu harus menanggung aib dan juga penderitaan sendirian?" ujar Daddy Wijaya yang memberondong pertanyaan kepada Bu Arum.


"Aku terlalu takut untuk melakukan semua itu Mas, kamu sudah menjadi Suami Santi yang tidak lain adalah sahabat karibku sendiri, dan aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian," jawab Bu Arum.


"Aku sudah sangat berdosa kepadamu Sekar, aku sudah membuat kesalahan yang sangat besar kepadamu, tapi kamu masih mau menjaga serta melindungi Anakku. Terimakasih Sekar, hatimu sungguh mulia."


"Aku melakukan semua itu karena aku tidak mau apa yang aku alami di masa lalu terulang kembali oleh Kirana. Cukup aku yang menderita Mas, jangan sampai Kirana mengalami penderitaan seperti yang telah aku alami, karena sakit rasanya harus kehilangan orang yang kita sayang, apalagi itu adalah Anak kandung kita sendiri."

__ADS_1


"Maafkan Aku Sekar, maaf," hanya kata itu yang terus terucap dari bibir Daddy Wijaya.


__ADS_2