
Kenzo berusaha menolong Papi Danu dengan memapah tubuhnya sampai mobil.
"Pi, sebaiknya Kenzo antar Papi pulang saja, tidak mungkin Papi menyetir dengan keadaan kaki yang keseleo."
"Apa tidak merepotkan kamu Nak, bukannya tadi kamu bilang masih ada urusan?" tanya Papi Danu.
"Kenzo sudah menelpon Kevin supaya bisa menghandle semuanya Pi."
"Wijaya beruntung karena bisa memiliki tiga orang Anak, jadi ada dua Putranya yang bisa meneruskan Perusahaan. Sedangkan Papi dulu harus berjuang supaya bisa memiliki Yolanda, meskipun Yolanda tidak mau meneruskan bisnis keluarga Prakoso," ucap Papi Danu dengan tertunduk sedih.
"Papi bisa menganggap Kenzo sebagai Putra Papi juga," karena sebentar lagi Kenzo akan menikahi Yolanda, lanjut Kenzo dalam hati.
"Makasih ya Nak, kamu ternyata Anak yang baik, padahal dulu Papi sudah mengira jika kamu sombong dan angkuh, karena setiap bertemu kamu selalu tidak mau mengalah apabila kita berdebat tentang bisnis," ujar Papi Danu.
"Jika dalam urusan bisnis kita harus profesional Pi," ujar Kenzo.
"Benar Nak, kalau kita terlalu lembek, lawan akan meremehkan kita. Ternyata kita berdua nyambung juga ya dalam mengobrol, sekarang Papi merasa mempunyai seorang Putra," ujar Papi Danu dengan terkekeh, kemudian memeluk tubuh Kenzo.
Apa Papi Danu masih akan bersikap seperti ini apabila mengetahui kesalahan yang telah aku dan Yolanda perbuat? ucap Kenzo dalam hati.
Papi Danu kemudian menelpon Supirnya untuk mengambil mobil di tempat Pak Toni, dan Papi Danu juga sudah menitipkan kuncinya pada tukang Parkir di tempat tersebut sebelum akhirnya Kenzo mengantarkan Papi Danu untuk pulang.
Sepanjang perjalanan Papi Danu dan Kenzo terus berbincang dengan seru, saking asyiknya mereka berdua sampai tidak menyadari kalau sudah sampai di kediaman Prakoso.
"Saking asyiknya mengobrol tidak terasa kalau ternyata kita sudah sampai rumah," ujar Papi Danu ketika mobil Kenzo berhenti di halaman rumahnya.
"Iya Pi, ternyata Papi orangnya humoris juga ya," ujar Kenzo, kemudian turun dari mobil dan membantu Papi Danu untuk berjalan masuk ke dalam rumah.
Kenzo dan aku sangat cocok dan nyambung dalam mengobrol, apalagi kami mempunyai profesi yang sama sebagai Pengusaha, berbeda dengan Radit, karena selama dia menikah dengan Yolanda kami tidak pernah mengobrol sama sekali. Seandainya saja yang menjadi Menantuku adalah Kenzo, aku pasti akan merasa sangat bahagia, ucap Papi Danu dalam hati.
Mereka berdua mengucapkan Salam pada saat masuk ke dalam rumah, dan ternyata di sana terlihat Yolanda dan Mami Arzeta sedang mengajak main Aurora.
Mami Arzeta dan Yolanda menatap heran kepada Papi Danu dan Kenzo yang terlihat sangat akrab, padahal selama ini Papi Danu tidak pernah akrab dengan satu orang pun.
__ADS_1
"Pi, kok bisa Papi pulang sama Bang Kenzo?" tanya Yolanda.
"Tadi kami berdua habis main golf, dan kaki Papi keseleo karena terperosok ke dalam lubang, jadi Kenzo nganterin Papi pulang."
Kenzo kini meminta minyak urut kepada Yolanda untuk memijit kaki Papi Danu yang keseleo.
"Abang emangnya bisa ngurut gitu? sebaiknya kita panggil tukang urut saja," ujar Yolanda yang merasa tidak yakin kepada Kenzo.
"Yolanda tenang saja, insyaallah Abang bisa. Papi tahan sedikit ya, ini pasti akan terasa sakit, karena Kenzo sekarang akan mulai memijit kaki Papi."
Secara perlahan Kenzo memijit kaki Papi Danu yang keseleo, dan Papi Danu berteriak kesakitan, sampai akhirnya terdengar suara gemerutuk tulang yang berbunyi.
"Lho, kok bisa kaki Papi tidak merasa sakit lagi," gumam Papi Danu.
"Alhamdulillah kalau begitu," ujar Kenzo, kemudian duduk di samping Papi Danu, dan mengambil jus yang saat ini telah dihidangkan oleh Yolanda.
"Mkasih banyak ya Nak, ternyata kamu hebat dalam segala bidang. Seandainya Yolanda belum menikah, Papi pasti bakalan jodohin Yolanda sama kamu," ujar Papi Danu, sehingga Kenzo tersedak minuman.
Yolanda yang terlihat panik secara replek menepuk punggung kenzo.
"Makasih ya sayang," ujar Kenzo yang keceplosan, sehingga Papi Danu makin bertanya-tanya.
"Kenapa kamu memanggil Yolanda dengan panggilan sayang?" tanya Papi Danu, dan Kenzo bingung harus menjawab pertanyaan Papi Danu seperti apa.
Apa ini sudah saatnya aku berbicara jujur kepada Papi Danu tentang hubunganku dengan Yolanda, ucap Kenzo dalam hati, tapi Yolanda terlihat menggelengkan kepalanya, karena saat ini Yolanda masih belum siap menghadapi semuanya.
"Maaf Pi, Kenzo pikir Yolanda itu Kirana Adik Kenzo, karena kalau Kenzo tersedak, Kirana selalu melakukan hal yang sama dengan yang Yolanda lakukan barusan."
"Oh, seperti itu, Papi kira kalian mempunyai hubungan spesial, soalnya Papi melihat kalian sangat dekat," ujar Papi Danu sehingga membuat Yolanda dan Kenzo menjadi salah tingkah.
Yolanda memang spesial di hati Kenzo, karena dia adalah Ibu dari Anak Kenzo, batin Kenzo
......................
__ADS_1
Saat ini di kediaman Bu Arum telah selesai di adakan syukuran pernikahan dadakan antara Ratih dan Bilal, dan keduanya begitu bahagia, karena akhirnya Ratih bisa merawat luka-luka Bilal tanpa takut melakukan dosa apabila bersentuhan fisik.
Rahma juga terlihat bahagia karena akhirnya dia mempunyai sosok Ayah sambung yang begitu menyayanginya, berbeda dengan Asep yang notabene nya adalah Ayah kandung Rahma, tapi Asep tidak pernah memperdulikan Anak kandungnya sendiri.
"Mulai sekarang Rahma tidurnya sama Bi Tita ya," ujar Tita kepada Rahma.
"Kenapa Bi, biasanya kan Rahma tidur sama Ibu?" tanya Rahma yang masih belum mengerti perkataan Tita.
"Sekarang Ibu kan sudah menikah sama Ayah Bilal, dan Rahma juga sebentar lagi masuk Sekolah, jadi Rahma sudah besar, masa sudah besar masih tidur sama Orangtua, nanti Rahma diledekin lho sama Temen-temen Rahma di Sekolah," ujar Tita.
Rahma nampak berpikir dan setelah itu Rahma menyetujui usul Tita.
"Itu baru namanya Anak pintar. Ya sudah kalau begitu sekarang Bibi antar Rahma gosok gigi dulu sebelum tidur ya," ujar Tita.
"Tita makasih banyak ya," ucap Ratih.
"Iya sama-sama Teh. Ya sudah sekarang kita gosok gigi ya," ujar Tita dengan mengajak Rahma menuju kamar mandi.
Ratih dan Bilal kemudian masuk ke dalam kamar mereka, dan Ratih kini membantu menggandeng tubuh Bilal yang masih terasa sakit.
Ratih dan Bilal merasa terkejut pada saat memasuki kamar Ratih, karena ternyata kamar tersebut telah dihias seperti kamar pengantin, sehingga membuat Ratih merasa terharu.
"Kamarnya bagus ya," ucap Bilal.
"Iya Kang, Neng Putri baik banget sama kita," ujar Ratih.
Ratih kini membantu Bilal untuk duduk di atas ranjang, namun Ratih yang memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil tertarik oleh Bilal, sehingga Ratih terjatuh di atas tubuh Bilal.
Mereka berdua saling berpandangan dengan debaran jantung yang kencang pada keduanya.
Cup
Bilal kini mendaratkan sebuah kecupan pada bibir Ratih sehingga membuat Ratih diam mematung.
__ADS_1
"Terimakasih ya, karena Ratih sudah mau menjadi istri Akang. Maaf jika malam ini Akang belum bisa memberikan nafkah batin untuk Ratih," ucap Bilal, sehingga Ratih tersipu malu.