Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Episode.59


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Tinggal menghitung hari lagi Nirmala melahirkan. Selama beberapa bulan ini Alvin sangat menjaga istrinya. Bahkan dia banyak meluangkan waktunya di rumah dari pada di kantor. Dia hanya ke kantor jika ada pekerjaan penting saja. Selebihnya dia selalu bekerja di rumah. Alvin ingin selalu menjaga istrinya dengan baik.


Nirmala membuka pintu ruang kerja suaminya. Dia membawa nampan berisi secangkir kopi. Kebetulan tadi dia sengaja membuatkan kopi itu untuk suaminya.


''Mas, ini Mala buatkan kopi,'' Nirmala menaruh cangkir itu ke atas meja.


Alvin menatap istrinya sambil tersenyum.


''Terima kasih istriku.''


''Sama-sama, Mas.''


Nirmala masih berdiri di tempatnya. Dia ingin berbicara kepada suaminya namun sedikit ragu.


Alvin melihat itu, istrinya yang masih berdiri saja disana.


''Sayang, kamu kenapa? Kamu mau sesuatu? Nanti biar mas buatkan atau belikan.''


''Tidak, Mas. Mala tidak menginginkan sesuatu. Tapi Mala hanya ingin berbicara saja sama Mas Alvin.''


''Kamu mau bicara apa, sayang?''


Nirmala menarik kursi yang ada di hadapan suaminya, lalu dia duduk disana.


''Perut Mala sekarang sudah sangat besar, begitu juga dengan badan bahkan jari-jari tangan juga sudah tidak secantik dulu. Jika setelah melahirkan nanti berat badan Mala ini tidak turun, apa Mas Alvin masih cinta sama Mala?'' Nirmala bertanya seperti itu karena dia takut jika suaminya berpaling darinya.


''Sayang, Mas itu sangat mencintai kamu. Mas menerima kamu bagaimana pun keadaan kamu. Jangan berpikiran yang macam-macam ya. Sampai kapan pun Mas tidak akan pernah berpaling darimu.''


Nirmala senang mendengar jawaban suaminya. Semoga saja suaminya tidak akan pernah tergoda oleh wanita lain yang lebih cantik dan sexy darinya.


''Terima kasih, Mas. Mala hanya takut jika rasa cinta Mas Alvin ke Mala berkurang karena Mala gendutan.''


''Rasa cinta Mas ke kamu akan selalu bertambah, sayang. Kamu jangan memikirkan yang tidak-tidak ya.''


''Iya, Mas.''


Sekarang Nirmala merasa sedikit lega. Dia kembali keluar dari ruangan itu karena takut mengganggu suaminya bekerja.


Baru juga menutup pintu ruang kerja, Nirmala merasakan perutnya sangat sakit.


''Aww aduh ... Mas Alvin, tolong Mala,'' ucapnya dengan sedikit mengeraskan suaranya agar suaminya mendengarnya. Nirmala memegangi perutnya yang sakit.


Spontan Alvin mematikan laptopnya. Dia pergi keluar untuk melihat istrinya.

__ADS_1


''Sayang, kamu kenapa?''


''Perut Mala sakit sekali, Mas. Sepertinya Mala mau melahirkan deh.''


''Kita langsung ke rumah sakit ya, sayang.'' lalu Alvin berteriak memanggil ayahnya dan juga pembantunya. Alvin meminta pembantunya untuk menyiapkan keperluan yang akan dibawa ke rumah sakit. Lalu dia memapah istrinya keluar dari rumah.


Alvin akan langsung pergi bersama ayah dan sopirnya, sedangkan pembantunya nanti di antar oleh sopir.


Alvin duduk di jok belakang bersama istrinya, sedangkan Pak Sanjaya yang mengemudikan mobilnya.


''Pah, bisa lebih cepat sedikit tidak. Ini Mala kasihan kesakitan,'' ucap Alvin yang kini sedang memeluk istrinya.


''Ini juga sudah cepat, Nak. Kamu bersabarlah,'' ucap Pak Sanjaya tanpa mengalihkan arah pandangnya. Pak Sanjaya tetap fokus mengemudi.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Alvin membantu memapah istrinya turun dari mobil hingga sampai masuk ke rumah sakit.


Alvin langsung mengurus administrasi istrinya dan meminta dokter untuk melakukan pelayan terbaik di rumah sakit. Alvin rela membayar berapa pun asal istrinya di tangani dengan cepat.


Kini Nirmala sudah di bawa ke ruang persalinan. Alvin dan ayahnya menunggu di depan ruangan itu. Alvin melihat seorang dokter keluar dari ruang persalinan.


''Pak Alvin, maaf istrinya minta di temani,'' ucapnya.


''Di temani?"'


''Iya, Pak. Mari ikut sama saya,'' pintanya.


Nirmala meraih tangan suaminya dan menggenggam dengan satu tangannya.


''Sayang, kamu yang kuat ya. Mas yakin kamu pasti bisa,'' Alvin mencoba menguatkan istrinya dengan memberikan semangat.


''Iya. Mas.''


Nirmala mulai mengejan sesuai arahan dokter. Tak lama mereka mendengar tangisan bayi yang begitu nyaring.


Oek oek


Nirmala dan Alvin merasa senang karena buah hati mereka sudah lahir. Beberapa kali Alvin mendaratkan ciumannya di kening istrinya yang sedikit berkeringat. Bahkan dia mengabaikan tatapan dokter dan perawat yang senyum-senyum melihat tingkahnya. Alvin merasa kasihan kepada istrinya, karena sudah berjuang untuk melahirkan anak mereka.


''Terima kasih, sayang. Akhirnya kamu menjadi istri yang sempurna.''


''Sama-sama, Mas. Mala senang karena bisa menjadi seorang ibu.''


Dokter meminta Alvin untuk keluar dari ruangan itu karena akan melakukan tindakan lanjutan untuk Nirmala dan juga akan membersihkan bayi mungil itu.


Pak Sanjaya melihat Alvin yang baru keluar dari ruang persalinan.

__ADS_1


''Vin, bagaimana anak dan istrimu?''


''Ke duanya selamat dan baik-baik saja, Pah.''


Pak Sanjaya berucap syukur saat tahu bahwa anak dan istrinya baik-baik saja.


Tak lama seorang perawat keluar dari ruangan itu dan menanyai Alvin mau mengadzankan anaknya atau tidak. Alvin langsung masuk ke dalam ruangan itu untuk mengadzankan anaknya. Begitu juga dengan Pak Sanjaya yang ikut masuk ke dalam.


.....


.....


Akhirnya kini Nirmala sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Nanti Alvin juga akan langsung mencari baby sister yang sudah sangat berpengalaman untuk membantu istrinya mengurus anaknya yang baru lahir. Terasa sedih habis melahirkan namun tidak ada sosok seorang ibu di sisi Nirmala. Jika saja dia mempunyai ibu, pasti akan ada yang membantu mengurus anaknya. Tapi dia hanyalah anak yatim piatu yang tak tahu siapa orang tuanya.


Alvin, Nirmala, dan Pak Sanjaya baru sampai di rumah. Kebetulan Bi Marni juga ikut bersama mereka. Bi Marni di tugaskan oleh Alvin untuk membantu mengurus Nirmala dan anaknya.


Alvin membantu istrinya melangkah pelan-pelan memasuki rumah. Dia langsung mengarahkan istrinya untuk memasuki kamar khusus yang nantinya akan menjadi kamar anaknya. Bayi mungil tampan itu juga dibawa ke kamar yang sama.


Kamar itu sudah terlihat lengkap. Bukan hanya banyak mainan saja, namun kamar itu juga sudah di dekorasi seperti layaknya kamar anak laki-laki pada umumnya.


''Sayang, kamu istirahat dulu ya. Nanti baby sister yang akan membantu kamu, hari ini akan datang kok.''


''Terima kasih, Mas. Mala memang tidak mengerti cara mengurus bayi yang baru lahir. Jika terus merepotkan bibi juga Mala tak enak. Karena tugas bibi di rumah ini juga banyak.''


''Iya, sayang. sama-sama. Mas mau ke belakang dulu ya mau minta bibi untuk siapkan makan untuk kamu. Kamu harus minum obat loh biar cepat pulih.''


''Iya, Mas.''


Setelah kepergian suaminya, Nirmala menatap anaknya yang sedang berbaring di sebelahnya. Bayi mungil itu sangatlah tampan. Persis seperti Alvin. Bahkan tidak ada kemiripan dengannya. Lebih dominan ke Alvin.


Alvin sudah kembali ke kamar anaknya. Dia melihat istrinya yang sedang menatap anaknya.


''Sayang, dia tampan ya seperti Mas.''


''Benar, dia sangat tampan. Tapi kenapa harus mirip sama Mas Alvin? Tidak ada bagian tubuhnya yang mirip aku. Padahal aku yang sudah mengandungnya sembilan bulan dan sudah berjuang mengeluarkannya.''


''Dia mirip sama kamu kok, sayang. Lihatlah dia tidur seperti kamu yang tukang tidur.''


''Itu bukan kesamaan, Mas. Ada-ada saja deh.''


''Sayang, kita mau kasih nama siapa untuk anak tampan ini?''


''Belum tahu, Mas.''


''Bagaimana jika kita kasih nama Argantara Putra Sanjaya.''

__ADS_1


''Wah bagus juga, Mas. Mala setuju dengan nama itu.''


__ADS_2