
Daddy Wijaya dan Bu Arum akhirnya melepaskan pelukan mereka ketika mendengar suara pintu kamar Kirana yang terbuka.
"Dad, Bu, kalian baik-baik saja kan? kenapa mata Ibu dan Daddy terlihat bengkak seperti orang yang habis menangis?" tanya Kirana dengan menatap heran Daddy Wijaya dan Bu Arum.
"Daddy dan Bu Arum terbawa suasana setelah membicarakan masa-masa sulit kamu sayang. Daddy merasa berdosa karena telah mengusir Tuan Putri dari rumah," jawab Daddy Wijaya.
"Sudahlah Dad, kita lupakan semua masalalu dan membuka lembaran baru," ujar Kirana kemudian duduk di antara Bu Arum dan Daddy Wijaya, Kirana bahkan meminta Radit untuk memotret kebersamaan mereka bertiga sebagai kenang-kenangan.
Mereka bertiga terlihat bahagia seperti sebuah keluarga, tapi Radit merasakan kejanggalan antara Bu Arum dan Daddy Wijaya yang terus saja saling mencuri pandang.
"Dad, yuk Kirana antar ke kamar Daddy, sebaiknya Daddy banyak istirahat supaya lekas sembuh," ujar Kirana dengan menggandeng tubuh Daddy Wijaya untuk masuk ke kamar tamu yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Bu Arum, bahkan kedua kamar tersebut mempunyai dua pintu yang menuju balkon, sehingga Daddy Wijaya sudah merencanakan sesuatu supaya bisa meneruskan pembicaraannya dengan Bu Arum.
"Dad, Kirana juga mau tidur siang dulu ya. Selamat istirahat," ucap Kirana kemudian keluar dari kamar Daddy Wijaya.
Kirana dan Radit saat ini sudah berada di dalam kamar mereka, dan sebelumnya Radit sudah menidurkan Kaisar di dalam Box tempat tidurnya karena Kaisar yang kelelahan langsung tertidur saat Radit menggendongnya.
"Sayang, kenapa ya Ayah merasakan sesuatu yang aneh dengan Daddy dan Bu Arum," ujar Radit yang saat ini sedang tiduran di atas paha Kirana.
"Memangnya keanehan apa yang Ayah lihat?" tanya Kirana dengan mengelus serta memijit kepala Radit.
"Bunda lihat saja ekspresi Bu Arum dan Daddy saat pertama kali bertemu, bahkan mereka terlihat mencuri pandang."
"Awalnya Bunda kira kalau itu hanya perasaan Bunda saja, tapi Bunda juga merasa aneh dengan tatapan antara Bu Arum dan Daddy, mereka seperti sudah saling mengenal. Semoga saja itu hanya pikiran kita saja Yah," ujar Kirana, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Radit karena merasa kecapean, sampai akhirnya mereka ikut menyusul Kaisar menuju alam mimpi.
......................
__ADS_1
Daddy Wijaya saat ini berniat melihat pemandangan dari balkon, sehingga Daddy Wijaya membuka pintu yang menuju balkon, dan ternyata Bu Arum juga melakukan hal yang sama, sehingga mata mereka kini saling berpandangan.
"Mas Wijaya"
"Sekar"
Ucap Bu Arum dan Daddy Wijaya secara bersamaan, kemudian Bu Arum hendak masuk kembali ke dalam kamarnya, tapi Daddy Wijaya mencegahnya dengan memegang pergelangan tangan Bu Arum.
"Tunggu Sekar, aku sangat merindukanmu," ucap Daddy Wijaya, kemudian memeluk tubuh Bu Arum dari belakang.
"Maaf Mas, jangan seperti ini, tidak enak kalau sampai ada orang yang melihatnya, kita juga bukan muhrim," ujar Bu Arum dengan menahan sesak dalam dadanya, karena Bu Arum sadar betul kalau Daddy Wijaya bukan lagi kekasihnya, apalagi Daddy Wijaya saat ini sudah memiliki keluarga.
"Biarkan seperti ini sebentar saja Sekar. Wangi tubuhmu masih sama seperti dulu, aku merindukanmu Sekar, aku sangat merindukanmu," ucap Daddy Wijaya.
Daddy Wijaya dengan berat hati melepaskan pelukannya terhadap Bu Arum, kemudian Daddy Wijaya mengusap rambutnya secara kasar.
"Maaf Sekar, aku tidak bisa menahan semuanya," ucap Daddy Wijaya kemudian duduk di atas kursi yang berada di balkon, begitu juga dengan Bu Arum, dan akhirnya saat ini mereka berdua duduk dengan saling berhadapan.
"Bagaimana kabar Santi Mas?" tanya Bu Arum.
"Alhamdulillah baik, lalu bagaimana kabarmu saat ini Sekar, apa kamu baik-baik saja?" tanya Daddy Wijaya dengan menatap lekat wajah Bu Arum yang masih terlihat cantik di usia nya yang sudah tidak muda lagi.
"Aku merasa sangat baik setelah bertemu dengan Kirana, karena Kirana adalah Lentera yang menerangi hidupku, sehingga aku merasa tidak kesepian lagi dengan kehadiran Kirana, apalagi ditambah Kaisar dan juga Radit," jawab Bu Arum.
"Tapi sayangnya aku harus memisahkan Radit dan Kirana untuk sementara waktu," ujar Daddy Wijaya.
__ADS_1
"Kenapa seperti itu Mas?" tanya Bu Arum yang merasa heran.
"Aku akan mengirim Radit ke luar negeri untuk melanjutkan Kuliah S2 nya di Universitas paling bagus, supaya aku juga bisa menguji kesetiaan cinta Radit kepada Kirana, karena aku belum sepenuhnya bisa menerima semua yang telah Radit lakukan kepada Kirana, karena kejadian itu telah membuat aku harus berpisah dengan Putri yang sangat aku sayangi."
"Mas seharusnya tidak melakukan semua itu, sekarang apa yang sebenarnya Mas Wijaya inginkan? Mas ingin melihat Kirana bahagia atau menderita?" tanya Bu Arum.
"Tentu saja aku ingin melihat Kirana bahagia," jawab Daddy Wijaya.
"Dan Mas pasti tau betul kalau kebahagiaan Kirana adalah Radit, apalagi saat ini Kaisar membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya. Kesetiaan cinta mereka tidak perlu kamu uji lagi Mas, sudah cukup mereka tersiksa karena dua tahun hidup berpisah. Mas pasti tau sendiri kalau selama Radit menikah dengan Yolanda hanya Kirana yang Radit cintai."
Daddy Wijaya termenung memikirkan perkataan Bu Arum yang ada benarnya juga.
"Tapi aku sudah terlanjur kecewa kepada Radit."
Bu Arum tersenyum kecut mendengar perkataan Daddy Wijaya.
"Apa Mas sadar dengan yang Mas Wijaya ucapkan? bahkan dulu Mas juga telah melakukan hal yang sama kepadaku," ujar Bu Arum sehingga membuat Daddy Wijaya merasa tertampar dan malu.
"Maafkan aku Sekar, aku akan melakukan apa pun untuk menebus semua kesalahan yang telah aku perbuat di masalalu. Sekarang kamu katakan apa yang bisa aku lakukan untukmu supaya kamu memaafkan semua kesalahanku? tanya Daddy Wijaya dengan menggenggam erat tangan Bu Arum.
"Setiap kejadian pasti ada hikmah yang tersembunyi, karena Kirana telah hamil di luar nikah, akhirnya Mas mengusir Kirana, dan secara kebetulan aku bisa bertemu dengan Kirana. Sebenarnya semua itu bukan kebetulan, tapi itu adalah takdir untuk kita Mas, karena akhirnya setelah puluhan tahun lamanya kita berdua bisa bertemu kembali," ujar Bu Arum.
"Iya kamu benar Sekar, di balik musibah ternyata selalu ada hikmah yang tersembunyi," ujar Daddy Wijaya.
"Kalau begitu aku meminta sama Mas supaya tidak memisahkan Radit dan Kirana, aku sendiri pernah merasakan bagaimana rasanya harus berpisah dengan lelaki yang sangat aku cintai, dan aku tidak ingin Putriku merasakan hal yang sama denganku Mas, karena meskipun Kirana tidak terlahir dari rahimku, tapi bagiku Kirana adalah Putri kandungku, pengganti mendiang Anak kita."
__ADS_1