Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Episode.48


__ADS_3

Keinginan Nirmala saat hamil tak bisa lagi di stop. Setiap harinya ada saja keinginan yang harus terpenuhi. Seperti saat ini, dia sedang duduk sendirian di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya. Sejak tadi dia meneguk ludahnya sendiri karena ingin makan cilok goreng seperti yang ada di layar ponselnya. Dia tidak ingin membuatnya, namun inginnya membeli.


Tidak ada yang bisa Nirmala suruh, karena pembantu di rumah itu sedang izin keluar. Dan suaminya juga sedang berada di kantor. Terpaksa Nirmala harus pergi sendiri untuk mencari penjual cilok goreng.


Saat ini Nirmala sedang berada di perjalanan untuk membeli makanan yang dia inginkan. Dia pergi dengan di antar oleh sopirnya. Sudah hampir tiga puluh menit di perjalanan, namun dia tak juga menemukan penjual cilok goreng itu.


''Non, kita turun dimana?'' tanya pak sopir karena sejak tadi majikannya tidak memberi penjelasan, melainkan hanya memintanya muter-muter keliling.


''Cari penjual cilok goreng, Pak. Kebetulan saya sedang ingin membelinya,'' ucap Nirmala.


''Kebetulan saya tahu tampatnya dan itu lumayan jauh dari sini. Mungkin sekitar dua puluh menit dengan mengendarai mobil.


''Tidak apa-apa, Pak. Antar saya kesana sekarag juga,'' pinta Nirmala.


''Baik, Non.'' sekarang Nirmala bisa bernapas lega, tinggal menunggu sampai saja ke tempat yang di maksud oleh sopirnya.


Akhirnya mereka sampai juga di depan penjual cilok goreng. Penjualnya kali ini bukan kaleng-kelang karena jualannya juga di sebuah ruko, dan yang di jual itu ada beberapa menu. Dengan antusias Nirmala langsung memesan apa yang dia inginkan. Dia juga memesankan untuk sopirnya.


Hampir tiga puluh menit mereka disana, karena Nirmala menginginkaan makan di tempat sambil menikmati suasana baru di tempat yang baru dia kunjungi.


Saat ini Nirmala sedang berda di perjalanan pulang. Tiba-tiba sopirnya mengatakan jika ingin singgah sebentar.


''Non, maaf sepertinya kita singgah sebentar di depan. Saya kebelet nih sudah tidak tahan,'' ucap Pak sopir.


''Iya, Pak. Tidak apa-apa,'' kata Nirmala.


Nirmala masih berada di dalam mobil, sedangkan sopirnya sudah turun dari mobil. Nirmala menatap ke samping kiri. Tiba-tiba kedua matanya berbinar saat melihat ada penjual rujak di pinggir jalan. Namun yang jualan itu ada di seberang jalan. Nirmala turun dari atas mobil. Dia hendak pergi ke seberang jalan.

__ADS_1


Nirmala sudah membeli rujak buah keinginannya. Dia ingin kembali menyeberang, namun sejak tadi banyak kendaraan yang berlalu lalang. Sehingga dia harus menundanya. Saat jalanan sudah sepi, Nirmala langsung menyeberang. Namun karena tak memperhatikan kanan kiri, dia terserempet oleh sebuah mobil mewah. Nirmala pingsan di tempatnya. Beberapa orang yang sedang melintas menghampirinya.


Pak sopir yang sudah kembali, tidak melihat keberadaan Nirmala di dalam mobil.


''Kemana perginya Non Mala?'' gumam Pak sopir. Lalu keluar dari mobil dan menatap sekitar. Lalu tatapannya tertuju ke seberang jalan yang banyak orang berkumpul.


Sesampainya di seberang jalan, pak sopir mendekati kerumunan itu.


''Maaf, ada apa ya?'' tanya pak sopir kepada seorang wanita yang sedang berdiri disana.


''Tadi ada wanita muda yang tertabrak mobil. Wanita itu sedang hamil,'' ucapnya.


Tentu pak sopir sangat cemas saat mendengar wanita hamil. Pak sopir masuk ke kerumunan itu. Melihat seorang wanita hamil yang sedang pingsan. Wanita itu tak lain adalah Nirmala.


''Non Mala, aduh kenapa sampai seperti ini?'' pak sopir cemas melihat Nirmala yang tengah pingsan.


''Apa? Tertabrak mobil? Maaf sebelumnya, tolong bantu saya untuk menjaga sebentar majikan saya ini. Saya akan mengambil mobil yang ada di seberang jalan.''


''Baik, pak.'' jawabnya.


Pak sopir langsung menyeberang untuk mengambil mobil.


Saat ini Pak sopir sedang berada di perjalanan untuk membawa Nirmala menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, langsung menyuruh dokter untuk segera menangani Nirmala. Pak sopir juga sudah menghubungi Alvin dan mengatakan jika sekarang istrinya berada di rumah sakit. Alvin yang merasa khawatir, dia langsung saja pergi ke rumah sakit. Bahkan menunda beberapa pertemuan penting hari ini.


''Pak, bagaimana keadaana istriku?'' tanya Alvin yang baru datang.


''Masih di dalam, sedang di tangani oleh dokter,'' ucap pak sopir, lalu beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Alvin merasa cemas. Beberapa kali dia menatap ruangan di hadapannya yang bertuliskan ruang UGD. Setelah cukup lama menunggu, Alvin melihat pintu ruangan itu terbuka.


''Dok, bagaimana keadaan istri saya?'' tanya Alvin yang merasa sangat cemas.


''Maaf, anak yang ada di dalam kandungan istri bapak tidak bisa di selamatkan. Kami juga sudah membantu membersihkan semuanya.


Mendengar itu tentu Alvin sangat kecewa. Alvin langsung saja masuk ke ruangan itu. Dia mendekati istrinya yang sedang berbaring dan masih tak sadarkan diri.


'Kenapa kamu tak bisa menjaga anak kita, Mala.' batin Alvin. Jujur dia sedikit kecewa kepada istrinya.


Alvin tak pernah membayangkan kejadian ini akan terjadi. Bahkan dia sudah sangat berharap kehadiran anak pertamanya itu.


Terlihat Nirmala yang baru membuka ke dua matanya. Dia menatap suaminya yang sedang berdiri di samping ranjang pasien tempatnya berbaring.


''Mas, kita ada dimana?" Nirmala tampak menatap langit-langit rumah sakit.


''Kita di rumah sakit,'' jawabnya.


''Kenapa bisa disini? Aku kenapa?''


''Apa kamu tidak mengingat kejadian yang kamu alami tadi?''


Nirmala mencoba untuk mengingat-ingat. Sekarang dia mengingat bahwa tadi dirinya terserempet mobil.


''Iya aku ingat tadi aku terserempet mobil saat hendak menyeberang jalan. Oh iya, bagaimana anak kita? Dia baik-baik saja kan di dalam sana?'' ucap Nirmala sambil mengusap perutnya. Namun ada yang sedikit aneh, perutnya tidak terlihat buncit seperti sebelumnya. ''Ada apa dengan perutku? Kenapa rata?'' Nirmala menatap suaminya meminta penjelasan.


''Anak kita tidak bisa di selamatkan,'' ucap Alvin dengan lesu.

__ADS_1


Nirmala terkejut sekaligus sedih saat mendengar penuturan suaminya. Dia tak percaya jika akan kehilangan anaknya secepat ini. Rasanya tak rela, apalagi dia sudah sangat mengharapkan anak itu hadir.


__ADS_2