
Kirana, Radit dan Daddy Wijaya bergegas keluar untuk melihat keributan yang saat ini sedang terjadi, dan ternyata di sana Asep mantan Suami dari Ratih terlihat menggendong Kaisar dengan menodongkan pisau pada leher Kaisar, sehingga membuat Kirana merasa syok.
"Jangan ada yang berani mendekat, karena kalau tidak, maka pisau ini akan aku tusukan pada leher Anak ini," ancam Asep.
Kirana secara perlahan melangkahkan kaki dengan terus digandeng oleh Radit.
"Kang Asep, apa yang sebenarnya Kang Asep mau?" tanya Kirana yang saat ini mencoba untuk mendekati Asep.
"Aku mau balas dendam sama kamu Cantik, karena kamu sudah menjebloskan aku ke dalam penjara."
"Baiklah kalau Kang Asep mau balas dendam, saya akan menerima apa saja yang akan Kang Asep lakukan, tapi tolong lepaskan Anak Saya, karena Kaisar tidak bersalah."
Asep tiba-tiba tertawa melihat wajah Kirana yang menangis dan terlihat rapuh.
"Akhirnya aku bisa melihat kamu menangis juga, padahal biasanya wajah kamu selalu penuh dengan keberanian," ujar Asep.
Kirana saat ini begitu rapuh, karena Kaisar merupakan kelemahannya.
Rahma yang melihat Asep berniat untuk menyakiti Kaisar kini mencoba untuk mendekati Asep juga.
"Bapak, tolong Bapak jangan sakiti Kaisar, lebih baik Bapak sakiti Rahma saja. Tolong lepaskan Kaisar Pak," ujar Rahma dengan menangis, sehingga Kirana memeluknya.
Semuanya kini tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Kaisar, karena saat ini terlalu beresiko untuk mendekati Asep yang membawa pisau, apalagi Asep sudah berdiri di pinggir jalan raya.
"Mundur kalian, kalau tidak, aku tidak akan segan-segan menyakiti Anak ini," teriak Asep.
"Saya berjanji apa pun yang kamu minta pasti akan saya berikan, tapi saya mohon lepaskan Cucu saya," ujar Daddy Wijaya.
__ADS_1
Asep nampak berpikir sebelum akhirnya angkat suara.
"Baiklah kalau begitu aku akan menukar Kaisar dengan kamu cantik, ayo maju ke sini, kita berdua akan menikah, dan akan pergi jauh dari sini," ujar Asep yang saat ini menyuruh Kirana untuk mendekat.
Radit terus berusaha memegang tangan Kirana, sehingga membuat Asep merasa geram.
"Siapa kamu, berani-beraninya kamu memegang tangan calon istriku?" teriak Asep.
"Aku Suaminya, dan aku adalah Ayah kandung Kaisar, jadi aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyakiti Anak dan Istriku," teriak Radit.
Bu Arum yang diam-diam menyelinap lewat pintu samping saat ini sudah berada di belakang Asep untuk mengambil Kaisar, dan semuanya sudah harap-harap cemas ketika melihat Bu Arum yang satu langkah lagi akan mengambil Kaisar.
Ketika Bu Arum berhasil mengambil Kaisar dari gendongan Asep, Asep replek menusukan pisau nya, sehingga perut Bu Arum terkena tusukan pisau tersebut.
Asep yang ketakutan dengan perbuatan yang telah dia lakukan, akhirnya berlari untuk melarikan diri, bahkan Asep sampai tidak melihat mobil yang saat ini melaju di hadapannya, sehingga Asep tertabrak oleh mobil yang ternyata di kendarai oleh Papa Farhan.
Asep yang hanya mengalami luka ringan, langsung saja ditangkap oleh Kevin dan Kenzo, kemudian diserahkan kepada pihak berwajib yang baru saja datang, karena sebelumnya Papi Danu sudah menelpon Polisi.
"Sekar, kamu harus kuat, kita akan segera ke Rumah Sakit," ujar Daddy Wijaya dengan terus menggenggam tangan Bu Arum, begitu juga dengan Mommy Santi yang terus saja menangis.
"Tidak Mas, waktuku sudah tidak banyak lagi. Aku minta maaf jika mempunyai banyak salah kepada kalian."
"Bu, Ibu tidak pernah melakukan kesalahan apa pun, justru Kirana sangat berterimakasih karena Ibu sudah menyelamatkan Kaisar."
"Nak, Kaisar adalah Cucu Ibu, dan semenjak Kaisar dilahirkan ke Dunia ini, Ibu yang sudah merawatnya. Semoga kalian selalu bahagia ya, tapi Ibu memiliki satu permintaan," ujar Bu Arum dengan nafas yang sudah semakin lemah.
"Bu, Ibu jangan banyak bicara dulu, sebentar lagi Ambulance akan datang, dan kita akan segera membawa Ibu ke Rumah Sakit," ujar Radit.
__ADS_1
"Tidak Nak, waktu Ibu sudah tidak banyak lagi, Ibu sudah tidak kuat. Nak, tolong kabulkan permintaan terakhir Ibu, Ibu ingin mendonorkan jantung Ibu kepada Mas Wijaya."
"Tidak Sekar, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, kamu tidak akan pernah meninggalkan kami," ujar Daddy Wijaya dengan menangis.
"Biarkan jantungku selalu menemanimu Mas, meskipun kita tidak bisa bersama, setidaknya bagian dari tubuhku bisa selalu hidup bersamamu," ucap Bu Arum kemudian hilang kesadarannya.
"Sekar," teriak Daddy Wijaya, sebelum akhirnya ikut pingsan juga.
Dokter Farhan kini mengecek nadi Bu Arum yang sudah semakin lemah, dan mereka langsung memasukan Bu Arum dan Daddy Wijaya ke dalam mobil Ambulance yang baru saja tiba.
Papa Farhan menyuruh Supir ambulance untuk membawanya ke Rumah Sakit yang baru saja selesai karena hanya Rumah Sakit tersebut yang jaraknya paling dekat, dan sepanjang perjalanan Papa Farhan terlihat menelpon untuk memberi arahan kepada para Dokter yang masih berada di sana supaya menyiapkan ruang operasi.
"Dad, Bu, bangun, jangan tinggalin Kirana," ujar Kirana yang saat ini terus saja menangis dalam pelukan Radit, karena Kirana, Radit dan juga Mommy Santi menemani Daddy Wijaya dan Bu Arum di dalam ambulance, sedangkan yang lain mengikuti dengan mobil berbeda, kecuali Mama Sarah, Mami Arzeta dan Yolanda yang harus menjaga Kaisar, Rahma dan Aurora, karena Ratih dan Bilal sudah seminggu pulang ke kampung halaman Ratih yang berada di daerah Jawa tengah.
......................
Sesampainya di Rumah Sakit, Papa Farhan dibantu oleh beberapa Dokter yang sudah menunggu mereka di sana untuk langsung membawa Bu Arum dan Daddy Wijaya ke dalam ruang operasi supaya dapat mendapatkan pertolongan.
"Sayang, sekarang sebaiknya Bunda duduk dulu, kasihan bayi kita kalau Bunda terus berdiri," ujar Radit dengan mengajak Kirana untuk duduk.
"Yah, Bunda takut kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Daddy dan Bu Arum."
"Kita sebaiknya terus berdo'a, karena hidup dan mati manusia sudah ditentukan sejak kita berada dalam kandungan, dan kita tidak tau kita akan meninggal dengan cara seperti apa," ujar Radit dengan membawa Kirana ke dalam pelukannya.
Semuanya sudah harap-harap cemas, sampai akhirnya beberapa jam kemudian Papa Farhan keluar dari dalam ruang Operasi.
"Pa, bagaimana kondisi Daddy dan Bu Arum, mereka baik-baik saja kan?" tanya Kirana.
__ADS_1
"Maaf Nak, Bu Arum sudah kehilangan banyak darah, dan kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya, sehingga kami memutuskan untuk mendonorkan jantung Bu Arum kepada Tuan Wijaya sesuai dengan permintaan terakhir Bu Arum," jawab Papa Farhan yang terlihat begitu terpukul karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Bu Arum.
"Bu, kenapa Ibu meninggalkan Kirana," teriak Kirana, kemudian akhirnya pingsan.