Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Episode.36


__ADS_3

Nirmala membuatkan secangkir kopi untuk mertuanya. Walaupun Pak Sanjaya tidak menyuruhnya, namun Nirmala berinisiatif untuk membuatkannya.


''Pah, ini kopi buatanku, silakan di minum!'' Nirmala menaruh cangkir berisi kopi ke atas meja depan Pak Sanjaya.


''Terima kasih,'' ucapnya.


''Sama-sama, Pah.'' Nirmala kembali ke belakang untuk menaruh nampan.


Nirmala mengecek persediaan bahan makanan di dapur. Ternyata ada beberapa yang sudah habis. Dia berencana untuk belanja ke supermarket. Kebetulan pembantu di rumah itu sedang pulang kampung, jadi Nirmala yang harus mengatur kebutuhan di rumah.


Terlebih dahulu Nirmala pergi ke kamarnya untuk bersiap. Dia juga menghubungi suaminya yang sedang bekerja, dan mengatakan jika dia akan pergi keluar.


Nirmala menghampiri mertuanya yang sedang duduk bersantai. Dia berpamitan kepadanya.


''Pah, Mala pamit keluar dulu ya, mau beli kebutuhan dapur,'' ucap Nirmala dengan ramah.


''Iya, Nak. Hati-hati,'' ucapnya.


''Siap, Pah.'' setelah berpamitan, Nirmala segera pergi. Dia akan meminta sopir untuk mengantarnya ke supermarket terdekat.


Pak Sanjaya menatap kepergian menantunya yang mulai tak terlihat lagi dari pandangan matanya. Setelah dilihat-lihat, Pak Sanjaya menilai jika Nirmala tidak seburuk yang dia kira. Nirmala juga sangat sopan, dan sangat perhatian. Mau mengerjakan pekerjaan rumah dan urusan dapur. Beda sekali dengan Cantika yang hanya mementingkan penampilannya saja dari pada rumah tangganya.


'Semoga saja tidak salah menantu,' batin Pak Sanjaya.


Saat ini Nirmala sudah berada di perjalanan. Namun dia meminta sopirnya untuk menghentikan mobilnya saat berada di taman yang sangat ramai. Dari dalam mobil, Nirmala melihat muda-mudi yang tampak sedang nongkrong dan berfoto di taman itu. Dia jadi punya keinginan untuk datang ke taman itu dengan suaminya. Nirmala sengaja memfoto taman itu, lalu mengirimkan fotonya kepada suaminya.


Nirmala menyuruh sopir untuk kembali mengemudikan mobilnya.


''Pak, jalan!''


''Baik, Non.'' Pak sopir kembali mengemudikan mobilnya menuju ke supermarket.


Nirmala tampak sudah mengambil beberapa bahan pokok yang dia beli, dan memasukkannya ke dalam troli. Dia kembali berkeliling untuk mencari kekurangannya. Saat melewati stand makanan, Nirmala jadi teringat snack kesukaannya. Sudah lama dia tidak membelinya. Nirmala berniat untuk membeli beberapa bungkus snack kesukaannya itu. Namun saat dia akan mengambilnya, tak sengaja dia memegang tangan seseorang yang juga mengambil snack itu. Nirmala buru-buru menjauhkan tangannya, lalu dia menoleh ke samping. Ternyata seseorang yang ada di sampingnya itu adalah Doni.


''Kak Doni, tidak menyangka jika kita akan bertemu disini,'' Nirmala tersenyum menatap Doni yang merupakan sahabatnya. Semenjak Nirmala menikah, mereka sama sekali tidak pernah bertemu lagi.


''Kamu semakin cantik saja, Mala. Penampilan kamu juga berkelas,'' Doni memperhatikan penampilan Nirmala dari atas sampai bawah.


''Alhamdulillah, Don. Oh iya, kamu sekarang kerja dimana?'' tanya Nirmala.

__ADS_1


''Aku sekarang bisnis sendiri, ya hanya bisnis kecil-kecilan sih.''


''Wah bisnis apa tuh?''


''Bisnis online, tapi menjual makanan.''


''Wah Kak Doni memang hebat,'' Nirmala mengacungkan kedua jempolnya.


''Semoga saja suatu saat bisa sesukses suami kamu.''


''Amin, Kak. Kalau begitu aku mau lanjut belanja dulu,'' setelah mengatakan itu Nirmala mendorong troli yang dia bawa, lalu pergi dari hadapan Doni.


Doni masih berdiri di tempatnya sambil memperhatikan Nirmala. Walaupun dia tahu jika Nirmala sudah menjadi istri orang, namun dia masih menyimpan perasaan untuknya. Tidak bisa dengan mudah dia melupakan sosok Nirmala yang sampai saat ini masih dia cintai. Karena memang belum ada wanita sebaik Nirmala yang mampu mengisi hatinya.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memfoto pertemuan mereka. Dia Cantika yang sedang menemani ibunya berbelanja. Cantika tersenyum menatap foto hasil jepretannya.


.......


Alvin yang sedang bekerja, mendengar ada notif pesan masuk di ponselnya. Dia sedikit malas untuk membuka pesan itu, karena itu pesan dari Cantika. Alvin mengira jika Cantika hanya mau mengganggunya dengan mengirimkan pesan. Alvin kembali bekerja, dia mengabaikan pesan itu. Namun beberapa menit kemudian dia mendengar lagi notif pesan masuk di ponselnya, dan pengirimnya masih sama dari Cantika. Karena penasaran, Alvin membuka pesan itu.


*Cantika*


Sekiranya seperti itu isi pesan yang dikirimkan oleh Cantika.


Alvin juga melihat foto yang di kirimkan oleh Cantika. Dia melihat istrinya sedang berbelanja dengan seorang lelaki. Alvin seperti tak asing dengan wajah lelaki itu. Dia seperti pernah melihatnya, namun entah dimana.


''Kamu berani pergi sama lelaki lain, sayang. Awas saja suamimu ini akan memberikan hukuman,'' gumam Alvin.


Alvin menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata baru pukul sepuluh pagi. Niatnya dia akan pulang nanti saja saat jam makan siang. 


Dua jam kemudian.


Alvin membereskan meja kerjanya. Dia bersiap untuk pulang. Dia sengaja tidak memberitahu istrinya bahwa dia akan pulang sekarang. Dia ingin memberikan kejutan.


Hanya menempuh perjalanan selama tiga puluh menit saja, kini Alvin sampai di rumahnya. Alvin mengetuk pintu rumahnya. Ternyata istrinya yang membukakan pintunya.


''Mas, kok jam segini sudah pulang?''


''Ayo ikut!'' Alvin menarik tangan istrinya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Nirmala sedikit mempercepat langkahnya, karena suaminya berjalan cukup cepat. Kini keduanya berada di kamar. Alvin langsung saja menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


''Mas, kok pintunya dikunci?''


''Kamu harus dihukum, Mala. Karena kamu sudah berani pergi dengan lelaki lain,'' ucap Alvin.


''Apa maksud Mas Alvin? Aku tadi memang pergi, tapi bukan dengan lelaki lain. Aku pergi sama sopir, Mas.'' Nirmala menyangkal, karena dia sama sekali tidak melakukan seperti yang dituduhkan oleh suaminya.


Alvin menaruh tasnya di sofa, dia duduk disana lalu mengambil ponselnya dari dalam tas. Nirmala menghampiri suaminya yang sedang duduk.


''Mas, tolong jelaskan! Kenapa kamu bisa mengira jika aku pergi dengan lelaki lain?" Nirmala masih menunggu penjelasan dari suaminya.


Alvin memperlihatkan layar ponselnya kepada Nirmala. Disana terlihat foto Nirmala bersama dengan Doni.


''Oh itu Kak Doni. Tadi tidak sengaja bertemu saat berbelanja. Memangnya siapa yang memfoto aku?''


''Kamu tidak perlu tahu, sayang. Yang pasti suamimu ini tidak suka melihat kamu sedekat itu dengan lelaki lain. Bisa saja laki-laki itu suka sama kamu.''


''Aku dan Kak Doni itu sudah lama berteman, Mas. Tidak mungkin lah seperti yang kamu tuduhkan.''


''Itu bisa saja, sayang. Dan Mas tidak suka melihat kamu bertemu bahkan mengobrol dengannya,'' Alvin menaruh ponselnya ke atas meja. Lalu dia mendekati istrinya yang duduk di sampingnya. Dia membelai rambut panjang istrinya, dan tangan itu mulai turun menyentuh yang lain.


''Mas Alvin mau ngapain?'' Nirmala merasa jika saat ini sedang ada di situasi bahaya.


''Mau memintamu melayaniku,'' Alvin membuka resleting dres yang istrinya kenakan.


Alvin mengarahkan istrinya untuk berpindah ke atas tempat tidur. Nirmala hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Bahkan dia memejamkan kedua matanya karena merasa malu.


''Sayang, buka matamu!''


''Aku malu, Mas.''


''Bukan mata kamu, sayang! Kamu harus terbiasa loh.''


Nirmala menurut, dia membuka kedua matanya.


Alvin menutupi tubuh mereka yang sudah tak berbusana, dengan menggunakan selimut.


Di siang yang terik ini, keduanya melakukan pergumulan panas. Sebenarnya Alvin merasa kasihan saat melihat istrinya yang terlihat kesakitan, karena ini kedua kalinya mereka melakukan itu. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga sedang enak-enaknya, jadi tidak bisa di tunda lagi.

__ADS_1


__ADS_2