
Semakin lama perut Nirmala semakin membesar. Alvin begitu menjaga istrinya itu. Dia sama sekali tak membiarkan istrinya kelelahan.
Nirmala memsuki kamar mandi sambil bersenandung. Entah kenapa dia merasa bahagia sekali. Mungkin suasana hatinya yang sedang membaik.
''Aaaa .... '' Nirmala menjerit karena terpeleset. Untung saja tangannya berpegangan pada gagang pintu. Namun tetap saja dia merasakan jika perutnya begitu sakit.
Teriakan Nirmala terdengar dari luar. Sela yang sedang menjaga Arga, berlari kecil memasuki kamar Nirmala.
''Non Mala kenapa?'' Sela tampak menatap sekitarnya mencari keberadaan Nirmala.
''Tolong,'' ucap Nirmala dari arah kamar mandi.
Sela pergi ke kamar mandi dan mendapati Nirmala yang sedang mengeluh kesakitan. Dia membantunya memapah hingga keluar dari kamar.
Terlihat Pak Sanjaya menghampiri mereka.
''Sel, ada apa dengan Mala?'' tanya Pak Sanjaya.
''Saya tadi melihatnya sedang mengeluh sakit perut, Tuan.'' jawabnya.
''Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja,'' ucapnya.
Pak Sanjaya berlari keluar rumah untuk memanggil sopirnya agar menyiapkan mobil. Setelah itu membantu Sela memapah Nirmala.
Di perjalanan Pak Sanjaya juga menghubungi Alvin dan mengatakan jika saat ini Nirmala sedang berada di perjalanan menuju ke rumah sakit. Alvin juga bergegas untuk pergi untuk menyusul.
Sesampainya di rumah sakit, ternyata Nirmala di sarankan untuk melahirkan sekarang juga. Padahal sesuai prediksi dari dokter itu sekitar dua minggu lagi. Namun karena kejadian tadi yang membuatnya harus melahirkan lebih cepat.
Pak Sanjaya dan Sela sedang duduk di depan ruang persalinan. Baru saja Nirmala dibawa masuk dan akan langsung di tangani oleh dokter.
Beberapa menit kemudian, terlihat Alvin yang baru sampai di rumah sakit. Dia langsung pergi menuju ke ruang persalinan. Karena tadi ayahnya menghubunginya dan mengatakan jika saat ini Nirmala sudah berada di ruang persalinan.
''Pah, bagaimana keadaan Mala?'' tanya Alvin yang baru muncul.
__ADS_1
''Istrimu sedang di tangani oleh dokter, Nak.'' ucap Pak Sanjaya.
Di tengah-tengah obrolan mereka terlihat pintu ruang persalinan terbuka. Terlihat seorang dokter keluar dari dalam.
''Dok, apa menantu saya belum di tangani?"" tanya Pak Sanjaya.
''Belum, Pak. Ibu Nirmala menunggu suaminya. Dia ingin melahirkan di dampingi oleh suaminya.''
''Dok, saya suaminya. Saya mau menemani istri saya,'' Alvin mendekati dokter yang masih berdiri di depan pintu. Kini ke duanya masuk ke dalam ruang persalinan.
Alvin dan yang lainnya merasa lega karena Nirmala melahirkan dengan normal. Baik ibu atau pun anaknya dalam keadaan sehat. Anak ke dua Alvin dan Nirmala berjenis kelamin perempuan. Pantas saja saat hamil Nirmala sangat manja, ternyata karena memang anaknya perempuan.
.....
.....
.....
Alvin sudah berjanji pada diri sendiri agar dia bisa menjadi imam yang lebih baik lagi bagi keluarganya.
Nirmala mencoba menjauhkan tangan suaminya yang terus memegang tangannya. Dia malu karena suaminya bertingkah mesra di tempat umum. Belum juga sampai ke rumah namun suaminya masih sempat-sempatnya menciumi punggung tangannya.
''Sayang, kenapa kamu menjauhkan tanganmu?'' tanya Alvin.
''Malu loh di dalam mobil ini bukan hanya kita berdua saja.''
''Suamimu memang tak tahu tempat,'' ucap Pak Sanjaya yang memperhatikan ke duanya dari pantulan kaca mobil.
"Namanya juga sedang bahagia jadi dunia serasa milik berdua," ucap Alvin.
Sela yang sedang memangku Arga hanya senyum-senyum saja. Dia juga ikut bahagia melihat kebahagiaan majikannya.
Tak lama, mereka sampai juga di kediaman Pak Sanjaya. Alvin membantu istrinya turun dari mobil. Dia mengantar istrinya hingga sampai ke kamar.
__ADS_1
Untung saja Arga menurut, dia tidak rewel walaupun hari ini tidak di temani main oleh ibunya.
Alvin menutup pintu kamarnya. Dia menghampiri isytrinya yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan bayi mungil cantik yang sedang tidur.
''Mas, kok pintunya kamu tutup? Nanti ada yang mau masuk loh.''
''Biarkan saja Mas tutup. Mas ingin berduaan sama kamu disini.''
''Kita tidak bisa berduaan, Mas. Lihatlah ada anak kita nih,'' ucapnya sambil menunjuk anaknya yang sedang tidur.
''Tidak apa-apa, anak kita belum mengerti apa pun inih, jadi tidak mungkin tahu kalau ayahnya sedikit mencolek ibunya.''
''Mas Alvin ada-ada saja. Lagian jangan main colek-colekan, Mala baru melahirkan.''
''Ah puasa panjang lagi deh, padahal Mas ingin program anak ke tiga loh.''
Ke dua mata Nirmala membulat tak percaya mendengar suaminya mengatakan itu. Dia baru juga melahirkan namun suaminya sudah merencanakan untuk memiliki anak lagi.
''Enak saja, memangnya Mala ini mesin. Anak ke dua kita juga baru lahir loh.''
''Mas cuma becanda, sayang.'' Alvin mengacak gemas pucuk kepala istrinya.
''Oh iya, kita mau kasih nama siapa untuk putri cantik kita?'' Nirmala bertanya kepada suaminya.
''Bagaimana jika kita kasih nama Kamila Dewi Sanjaya,'' ucap Alvin.
''Wah bagus juga nama itu. Nanti kita panggil dia Mila saja ya.''
''Iya, sayang.'' Alvin memeluk istrinya yang duduk di sampingnya. Dia bertingkah manja. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman di pipi istrinya.
Sesekali Nirmala juga mengusap pelan wajah suaminya sambil memperhatikan betapa tampannya suaminya itu.
'Semoga ke depannya kita akan terus seperti ini, Mas. Hidup bahagia bersama dengan keluarga kecil kita. Mala senang memilikimu sebagai suami Mala,' batin Nirmala sambil memejamkan ke dua matanya. Dia menghirup aroma tubuh suaminya yang membuatnya merasa tenang.
__ADS_1