Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Episode.53


__ADS_3

Lagi-lagi Nirmala mendapat kiriman foto dari nomor yang tidak dia kenal. Orang itu kembali mengirim foto Alvin bersama seorang wanita yang tak lain adalah Renita. Terlihat jika mereka sedang berduaan di sebuah restoran. Si pemilik nomor asing itu juga mengirimkan alamat restoran dimana Alvin berada. Kali ini Nirmala tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Dia harus pergi kesana sekarang juga.


Ternyata saat Nirmala sampai di restoran, suaminya dan juga Renita baru saja keluar dari restoran sehingga mereka berpapasan.


''Mas Alvin, coba jelaskan kepadaku, kenapa kamu bertemu dengan dia?" Nirmala bertanya sambil melirik ke arah Renita.


''Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.''


''Memangnya apa yang aku pikirkan?''


''Sayang, tadi itu Mas cuma mengajak Renita berbicara empat mata. Mas bilang kepadanya agar dia menjaga jarak dengan kita karena Mas takut jika kamu cemburu lagi,'' Alvin terpaksa berbicara bohong kepada istrinya. Itu semua demi kebaikan mereka. Lagian istrinya pasti akan marah jika tahu sebenarnya apa tujuan Alvin menemui Renita.


Nirmala masih tak percaya dengan apa yang suaminya katakan.


Dengan sengaja Renita menjatuhkan tas yang dia pakai. Nirmala melihat ada sesuatu yang keluar dari tas itu. Dia berjongkok dan dengan cepat mengambilnya. Betapa terkejutnya saat melihat foto suaminya dan juga Renita yang berada di atas ranjang yang sama.


Nirmala menatap suaminya dengan tatapan tajam.


''Jadi ini alasan kalian bertemu? Aku kira kamu tidak akan pernah mengkhianatiku, Mas. Tapi apa ini? Jelas-jelas ini bukti yang kuat jika kalian itu memiliki hubungan,'' Nirmala tak bisa lagi membendung air matanya yang keluar begitu saja. Sangat sakit mengetahui fakta yang mengejutkan seperti ini.


''Sayang, se ... '' Alvin tak melanjutkan perkataannya karena istrinya menyerobot.


''Cukup! Aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun dari Mas Alvin,'' dengan berurai air mata, Nirmala berlari dari sana. Hatinya hancur berkeping-keping seolah tak sanggup lagi untuk bertahan.


Alvin menatap tajam Renita yang sedang tersenyum ke arahnya. Dia tahu jika Renita sengaja menjatuhkan tasnya agar Nirmala melihat foto itu. Sebenarnya tadi Renita datang untuk memperlihatkan foto itu kepada Alvin. Hanya saja Alvin tak percaya, karena dia tak mengingat kejadian malam itu. Lagian dia tidak mungkin melakukan hal-hal aneh kepada Renita. Tapi di foto itu, jelas-jelas dia sedang tidur di atas kasur dengan Renita. Sedangkan seingatnya, dia saat itu terbangun dari atas sofa. Alvin yakin jika Renita telah menjebaknya.


Alvin juga semakin yakin jika Renita datang lagi ke kehidupannya itu hanya karena untuk merusak keharmonisan rumah tangganya.


Alvin langsung pergi dari sana. Dia ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Alvin segera mengemudikan mobilnya mengejar istrinya yang berlari entah kemana. Alvin menatap kanan kirinya, namun dia tak melihat keberadaan istrinya. Ini aneh sekali, istrinya hanya berjalan kaki, namun tak bisa dia kejar. Alvin terus mengemudikan mobilnya dan hendak menyusuri jalan raya untuk mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


Sebenarnya Nirmala tadi bersembunyi di belakang mobil orang, sehingga suaminya tak melihatnya. Nirmala bernapas lega saat melihat mobil suaminya sudah melaju dari sana. Sekarang dia ingin pulang. Biarkan suaminya kelimpungan mencarinya. Lagian siapa juga yang salah. Lagi-lagi suaminya menyakiti hatinya.


Dengan menaiki taxi, Nirmala kini sudah sampai di rumah. Untung saja suaminya belum sampai. Nirmala segera pergi ke kamar untuk berkemas. Mungkin sebaiknya dia pergi untuk menenangkan diri. Sebelum pergi dia menulis surat di selembar kertas dan menaruhnya di atas nakas. Dengan menaruh vas bunga di atas kertas itu, agar kertasnya tidak jatuh jika terkena angin.


'Selamat tinggal, Mas. Mungkin ini yang terbaik untuk kita sekarang. Aku hanya wanita polos yang benar-benar tulus jika mencintai. Namun ketulusanku kini telah kau nodai. Aku tak kuat, aku tak sanggup lagi. Maafkan aku, Mas.' batin Nirmala sambil menatap kamar yang selama ini menjadi tempat ternyaman untuk dia dan suaminya.


Nirmala menatap kanan kirinya sambil melangkah keluar dari kamar. Dia takut jika saja ada yang melihatnya pergi. Tapi untung saja kondisi rumah sedang sepi sehingga dia bisa pergi begitu saja. Taxi online yang dia pesan sudah ada di depan gerbang masuk rumah. Dia langsung saja masuk ke taxi dan meminta sopirnya untuk segera mengemudikan mobilnya.


Entah kemana tujuan Nirmala sekarang, namun yang pasti dia harus pergi sejauh mungkin. Bila perlu dia pergi saja dari kota ini. Nirmala teringat dengan sahabatnya yang bernama Doni. Di perjalanan dia menghubunginya dan meminta pertolongan. Doni menyuruhnya untuk datang ke kontrakannya.


Nirmala menyuruh sopir taxi untuk menghentikan mobilnya di dekat gang kecil. Dia membayar lalu segera turun. Dia melihat Doni yang sedang berdiri di depan gang kecil itu. Sepertinya Doni sedang menunggunya.


''Maaf ya, Kak. Aku sudah merepotkan kakak,'' ucap Nirmala yang merasa tak enak.


''Kamu tidak merepotkan kok, Mala. Ayo kita ke kontrakanku dulu. Kita bicara disana saja.''


''Baik, Kak.''


Kini keduanya sudah duduk berhadap-hadapan. Nirmala meneguk air putih yang tadi di ambilkan oleh Doni.


''Aku mau pergi dari kota ini. Namun aku tak tahu kemana arah tujuanku. Kamu tahu sendiri kan kalau aku ini anak yatim piatu?''


''Kenapa pergi? Lalu bagaimana dengan suami kamu?''


''Aku berniat menjauh darinya.''


Doni tahu pasti sahabatnya ini sedang ada masalah berat dan mungkin saja sudah lelah untuk melaluinya. Membiarkan Nirmala pergi mungkin lebih baik. Namun dia tak mau jika sampai Nirmala pergi ke tempat yang salah.


''Baiklah, aku akan membantumu. Bagaimana jika kamu pergi ke kampung halamanku saja yang di Jawa tengah. Nanti kamu sementara menginap di rumah orang tuaku.''

__ADS_1


''Aku takut merepotkan jika tinggal menumpang.''


''Kamu tenang saja, orang tuaku sangat baik. Mereka juga pasti setuju jika kamu tinggal disana. Apalagi kamu itu sahabatku.''


Nirmala tampak berpikir, mungkin dengan menerima tawaran Doni, itu yang terbaik untuknya.


''Baiklah, aku mau.''


Doni senang karena Nirmala menurut dengannya. Lagian jika Nirmala berada di rumah orang tuanya, dia akan lebih tenang.


.....


.....


Setelah berkendara mengelilingi ibukota, Alvin tidak juga menemukan Nirmala. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang.


Alvin memasuki rumah dengan tergesa-gesa. Pak Sanjaya yang melihat itu langsung bertanya kepada anaknya.


''Vin, ngapain kamu tergesa-gesa seperti itu?'' tanya Pak Sanjaya.


Spontan Alvin menghentikan langkahnya. Dia menoleh menatap ayahnya.


''Pah, apa Nirmala sudah pulang?''


''Memangnya dimana istrimu? Sejak tadi papah tidak melihatnya keluar atau pun masuk ke rumah.''


''Tadi dia salah paham denganku, Pah. Aku ingin menjelaskan semuanya kepadanya. Aku ke kamar dulu, Pah. Mungkin saja Nirmala sudah ada di kamar,'' Alvin kembali mempercepat langkahnya menuju ke kamar.


Sesampainya di kamar, Alvin tak melihat keberadaan istrinya. Lalu tatapannya tertuju ke selembar kertas yang ada di bawah vas bunga. Dia mengambil selembar kertas putih itu dan membaca tulisan yang tertulis disana.

__ADS_1


Kedua matanya membulat setelah membaca isi surat itu.


'Sayang, kenapa kamu pergi? Sebenarnya kemana kamu? Maafkan Mas yang selalu menyakiti hatimu,'' Alvin mengacak rambutnya dengan kasar. Dia tak bisa begitu saja kehilangan sosok wanita yang amat sangat dia cintai. Sungguh, bukan perpisahan yang dia inginkan. Dia mencintai istrinya dan ingin terus bersama dengannya.


__ADS_2