Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Episode.61


__ADS_3

Alvin dan Nirmala sedang melihat pakaian seragam keluarganya yang baru saja di ambil dari butik. Kebetulan mereka memesannya dan langsung di jahit oleh pihak butik sediri. Hanya dalam hitungan hari pakaian pesanan mereka sudah jadi. Bukan gaun, jas atau pun sejenisnya. Namun pakaian seragam yang mereka buat itu pakaian batik dengan motif yang sama.


''Sayang, kamu suka tidak sama dres motif batik ini?'' Alvin sedang memegang dres milik istrinya.


''Suka, Mas. Bagus kok warnanya. Mala senang deh karena kita bisa seragaman seperti ini satu keluarga. Ini pertama kalinya untuk Mala.''


''Iya, sayang. Mas juga senang. Lain kali kalau mau ada acara, kita bikin seragam seperti ini lagi yuk!''


''Mala setuju,'' ucapnya sambil tersenyum menatap suaminya. Rasa senang Nirmala itu bukan hanya sekedar rasa senang biasa. Tapi dengan berseragam seperti itu, dia jadi merasa punya keluarga. Walaupun itu anak,suami dan mertua saja. Karena selama ini Nirmala sama sekali tidak pernah seragaman seperti ini. Nirmala senang sudah di pertemukan dengan Alvin, sehingga dia merasa mempunyai keluarga.


''Sekarang kamu simpan dulu pakaian kita,'' ucap Alvin kepada istrinya.


''Memangnya Mas Alvin tidak mau coba pakai?''


''Tidak usah, sayang. Tadi juga kita sudah cobain saat di butik.''


''Benar juga sih, ya sudah Mala mau ke kamar sebentar ya.''


''Iya, sayang.''


Beberapa menit setelah kepergian istrinya, Alvin melihat Sela keluar dari kamar dengan menggendong Arga. Alvin memanggil Sela meminta untuk menghampirinya.


''Ada apa, Tuan?'' kini Sela berdiri tak jauh dari Alvin yang sedang duduk.


''Saya hanya ingin bersama anak saya,'' Alvin beranjak dari duduknya. Dia mengambil anaknya dari gendongan Sela. Sedangkan Sela pergi ke belakang untuk melakukan pekerjaan lain.


Nirmala sudah kembali menghampiri suaminya. Dia melihat suaminya yang sedang memangku anaknya.


''Hai jagoan kecil mamah,'' Nirmala duduk di sebelah suaminya, lalu dia mencium kedua pipi anaknya dengan gemas.


''Hai juga mamah cantikku,'' ucap Alvin sambil menirukan suara anak kecil.


''Wah terima kasih loh, Mala yang gendutan seperti ini di panggil mamah cantik.''


''Kamu itu memang cantik, sayang.''


Alvin dan Nirmala masih terus mengobrol. Mereka terlihat sekali seperti keluarga harmonis.

__ADS_1


.....


.....


Alvin dan keluarganya sudah terlihat rapi dengan menggunakan pakaian batik. Si kecil Arga juga tak kalah tampan dari ayahnya. Walaupun masih kecil namun pesona ketampanannya sudah terlihat.


Nirmala tampak tak percaya diri menggunakan pakaian yang agak tertutup. Biasanya jika pergi ke pesta dia menggunakan dres yang tak berlengan. Tapi karena sekarang agak gemukan jadi mau tidak mau harus menggunakan pakaian yang agak tertutup.


''Mas, aku jelek ya pakai dres lengan panjang ini,'' Nirmala tampak memutar badannya di hadapan suaminya.


''Kamu cantik kok, sayang. Pakaian apa pun kalau kamu yang pakai pasti tetap cantik.''


''Ah Mas Alvin jangan bohong deh. Bisa saja Mas Alvin saja yang bilang cantik, sedangkan orang lain tidak.''


''Jadi kamu ingin di pandang cantik oleh orang lain, bukan ingin di pandang cantik oleh suamimu sendiri?''


''Bukan seperti itu, Mas. Tapi kan setidaknya Mala tidak ingin berpenampilan yang terlihat kuno.''


''Kamu tidak kuno kok, sayang. Kamu tenang saja, kalau wanita cantik memakai apa pun akan terlihat cantik.''


''Baiklah, sekarang Mala jadi lebih percaya diri berpenampilan seperti ini.''


''Iya, Mas.'' Nirmala menyambar tas bahu miiliknya yang ada di atas kursi. Lalu dia mengikuti suaminya yang sudah melangkah duluan keluar dari kamar.


Mereka pergi menggunakan satu mobil. Kebetulan Alvin yang mengemudikan mobilnya. Hotel yang akan mereka tuju tak jauh dari kantor Alvin. Jadi tak perlu waktu lama untuk mereka sampai. Hanya sekitar perjalanan tiga puluh menit atau lebih mereka sudah sampai.


Sesampainya di depan hotel, Alvin langsung memarkirkan mobilnya. Mereka keluar bersamaan dari dalam mobil. Pak Sanjaya menawarkan diri untuk menggendong cucunya. Membiarkan Alvin dan Nirmala berjalan berdua sambil bergandengan tangan.


Kini mereka sudah sampai di ballroom hotel tempat acara pesta. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh beberapa karyawan yang kebetulan sudah hadir. Alvin dan Nirmala menyapa beberapa tamu yang sudah hadir. Bukan hanya karyawan kantor saja yang Alvin undang, namun rekan bisnis dari perusahaan lain juga dia undang.


Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Alvin dari arah belakang.


''Selamat pagi, Pak Alvin.'' ucap orang tersebut yang tak lain rekan bisnis Alvin.


Alvin dan Nirmala menoleh ke sumber suara. Alvin melihat rekan bisnisnya yang bernama Devano. Namun yang membuatnya heran, wanita yang datang bersama Devano itu adalah Renita. Nirmala sejak tadi sudah menatap Renita dengan tatapan tak suka.


''Ngapaian kamu disini, Renita?'' tanya Nirmala.

__ADS_1


Devano tak menyangka jika istrinya Alvin sudah mengenal Renita.


''Kalian sudah saling kenal?'' tanyaa Devano.


''Dia itu pernah berniat merusak rumah tangga saya,'' ucap Nirmala dengan sinis.


''Benarkah?'' Devano terkejut mendengar itu.


''Pak Devano kok bisa datang bersama Renita? Padahal saya tidak mengundang Renita loh,'' kini giliran Alvin yang bertanya.


''Dia sekretaris saya, jadi saya ajak datang ke pesta ini,'' jawabnya.


''Alvin, Mala, saya minta maaf ya kalau sebelumnya pernah mengganggu hubungan kalian. Sekarang saya sadar jika yang saya lakukan itu salah. Oh iya, sekalian saya mau memberikan ini untuk kalian,'' Renita menyodorkan sesuatu yang sedang dia pegang kepada Alvin.


Alvin melihat sebuah undangan pernikahan yang tadi diberikan oleh Renita.


''Jadi kamu mau menikah?'' tanya Alvin.


''Benar, Vin, Kalian datang ya,'' Renita tersenyum menatap Alvin dan Nirmala.


''Kami pasti akan datang kok,'' ucap Nirmala.


Sekarang Nirmala bisa bernapas lega karena ternyata kedatangan Renita ke pesta bukan karena ingin bertemu suaminya. Dia juga senang karena Renita akan menikah. Itu berarti Renita tidak akan lagi mengganggu keluarga mereka. Nirmala juga meminta maaf kepada Renita karena tadi dia bersikap seolah tak suka melihat kedatangannya.


Setelah melihat banyak tamu yang datang, Alvin langsung saja maju ke depan untuk memberikan sambutan.


''Selamat pagi menjelang siang, semua tamu undangan. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktunya hadir dalam acara ulang tahun perusahaan saya. Tanpa kalian, saya tidak akan bisa seperti ini. Terima kasih juga untuk kinerja kalian selama ini yang sudah sangat baik,'' ucap Alvin.


Mereka bertepuk tangan mendengar perkataan Alvin.


Kini Alvin kembali berucap, '' Saya juga berterima kasih untuk istri saya tercinta, karena sudah mendampingi saya sehingga saya bisa lebih sukses dari sebelumnya,'' Alvin berucap sambil tersenyum menatap istrinya.''


Alvin juga mengatakan kepada semuanya untuk jangan sungkan menikmati hidangan yang tersedia.


Setelah selesai mengatakan sepatah dua patah kata, kini Alvin kembali menghampiri istrinya.


''Mas, kenapa tadi pakai sebut namaku juga? Jadi terlihat sekali suami sayang istri.''

__ADS_1


''Harus dong, sayang. Mas harus menunjukan kepada semua orang, jika di balik kesuksesan Mas ini ada seorang istri yang begitu sabar mendampingi.''


''Ah jadi makin cinta deh,'' Nirmala bergelayut manja di lengan suaminya.


__ADS_2