Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Episode.60


__ADS_3

Empat bulan kemudian.


Semakin lama Alvin dan Nirmala semakin mesra saja. Bahkan kini Nirmala lebih percaya diri dengan badannya yang agak gemuk dari pada sebelumnya. Sebenarnya dia ingin diet, namun Alvin melarangnya. Apalagi Nirmala masih menyusui, jadi tak baik jika diet. Setidaknya dia butuh asupan yang bergizi agar tetap sehat. Karena kondisi seorang ibu yang menyusui bisa berpengaruh ke anaknya.


Nirmala tampak cekatan melayani suaminya. Dia sedang mengancingkan satu persatu kancing kemeja suaminya. Tak lupa, dia juga membantu suaminya untuk memakai dasi.


''Nah sudah beres, kita tinggal sarapan,'' ucap Nirmala


''Sayang, sepertinya hari ini Mas akan pulang telat, karena ada pertemuan dengan klien di sore hari,'' ucap Alvin sambil merapikan jas yang baru dia pakai.


''Tidak apa-apa, Mas. Yang penting kamu terus kabari Mala.''


''Siap, sayang. Kalau itu sih sudah pasti,'' Alvin merengkuh pinggang istrinya, lalu mengajaknya keluar.


Sesampainya di ruang makan pun Nirmala melayani suaminya dengan baik. Dia mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.


''Sayang, Mas senang deh punya istri sepertimu. Kamu pintar di dapur, sumur, kasur. Ah rasanya Mas ingin di rumah saja.''


''Mas jangan bicara seperti itu ih, Mala malu kalau ada yang mendengar.''


''Tidak apa-apa, sayang. Lagian tidak ada yang berani menguping dan bergosip di rumah ini.''


Setelah selesai sarapan, Alvin langsung berpamitan kepada istrinya. Dia akan langsung pergi ke kantor. Tak lupa dia juga menemui anaknya sebelum pergi.


Nirmala mengantar suaminya sampai ke depan rumah. Dia belum masuk ke rumah jika belum melihat mobil suaminya keluar dari halaman rumah.


Nirmala yang baru melangkah masuk, tak sengaja mendengar suara ponsel miliknya berdering. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja ruang keluarga. Ternyata itu Pak Sanjaya yang memanggilnya melalui panggilan video call.


''Tumben papah VC,'' gumam Nirmala, lalu dia mulai menggeser tombol hijau dan memposisikan layar ponselnya di depan wajah.


''Hallo, Pah. Tumben VC ke Mala.''


''Iya, Nak. Papah cuma mau lihat cucu papah. Dimana dia?''


''Ada di kamar, Pah. Tadi baru di mandikan.''


''Papah mau lihat dong, Nak.''


''Sebentar, Pah.'' Nirmala segera pergi menuju ke kamar anaknya. Dia melihat anaknya yang sudah rapi dan wangi.


Nirmala mengarahkan layar ponselnya ke Arga, agar Pak Sanjaya bisa melihat cucu kesayangannya itu.


''Hai cucu kakek, makin tampan saja nih. Kakek kangen selai sama kamu, Nak.'' ucap Pak Sanjaya sambil memperhatikan cucu kesayangannya.


''Papah pulang kapan dari luar kota?'' tanya Nirmala.


''Satu minggu lagi, Nak. Oh iya, kamu mau di belikan oleh-oleh apa?''


''Terserah papah saja deh.''


''Baiklah, nanti papah belikan oleh-oleh makanan ringan saja.''


Pak Sanjaya masih mengajak Arga mengobrol. Walaupun Arga masih kecil dan belum mengerti apa pun, namun tampak mencari-cari sumber suara Pak Sanjaya. Arga mengira jika suara kakeknya itu dari dekatnya. Namun saat melihat kanak kirinya tak ada kakeknya. Nirmala gemas melihat tingkah anaknya.


Hampir tiga puluh menit Pak Sanjýaya video call untuk melihat keadaan cucunya. Kini Pak Sanjaya sudah menyudahi panggilan video call itu.


.....

__ADS_1


.....


Tepat pukul tujuh malam Alvin baru pulang kerja. Tadi saat bertemu dengan klien cukup lama. Dia juga mengobrol dengan kliennya, jadi sampai lupa waktu.


Nirmala bergegas pergi ke depan rumah saat mendengar suara mobil berhenti. Dia bisa menebak jika yang datang itu suaminya.


Nirmala berlari menghampiri suaminya yang baru turun dari mobil. Dia juga memeluknya dengan erat.


''Aduh senangnya, pulang kerja di sambut dengan pelukan dari istri tercinta,'' Alvin mengacak gemas pucuk kepala istrinya.


''Mas, kamu bawakan oleh-oleh apa?''


''Mas tidak bawa apa pun, sayang. Memangnya kamu mau apa?''


''Mala mau bakso, tapi besok saja deh belinya.''


''Kenapa tidak pesan lewat online saja, sayang.''


''Benar juga, sejak tadi Mala tidak kepikiran ke situ.''


''Nanti biar Mas pesankan. Ayo masuk!'' Alvin merengkuh pinggang istrinya. Mereka berjalan berdampingan memasuki rumah.


Semenjak berat badan Nirmala bertambah, Alvin jadi suka memegang pinggang. Karena menurutnya pinggang istrinya tampak berisi dan enak jika di pegang.


Alvin dan Nirmala melewati Sela yang sedang menjaga Arga. Sela itu nama baby sister yang selama ini membantu Nirmala mengurus Arga. Alvin menyapa anaknya dan mengajaknya berbicara. Setelah itu dia pergi ke kamar. Tentu Nirmala juga ikut bersamanya. Karena Nirmala akan melayani semua keperluannya.


''Sayang, sebentar lagi ulang tahu perusahaan loh. Niatnya Mas mau mengadakan pesta,'' ucap Alvin sambil melepas jas yang dia pakai.


''Mau dimana tempatnya?''


''Entah, mungkin Mas akan membuat pesta di hotel saja.''


''Kamu tenang saja, sayang. Mau artis luar negeri pun akan Mas undang jika kamu yang meminta.''


''Ah tidak deh, kasihan nanti Mas harus bayar mahal.''


Nirmala mencarikan pakaian ganti untuk suaminya. Namun dia terkejut saat merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


''Lepaskan dulu, Mas. Mala lagi cari pakaian untukmu nih.''


''Mas kangen sama tubuhmu, sayang.''


''Oh jadi Mas cuma kangen sama tubuhku saja, kalau sama orangnya tidak.''


''Kangen dong, sayang. Mas selalu kangen semua yang ada pada dirimu.''


Nirmala menutup kembali lemari pakaian itu setelah dia mendapatkan pakaian pilihannya.


Alvin mengambil pakaian yang sedang di pegang oleh istrinya lalu menaruhnya ke atas kasur. Lalu dia kembali mendekati istrinya dan menggendongnya dengan posisi tubuh mereka yang saling berhadap-hadapan. Alvin mendudukkan istrinya di atas meja rias.


''Mas, kenapa Mala di dudukkan disini sih? Nanti kosmetik punya Mala pada jatuh loh,'' Nirmala tampak menjaga jarak agar tak menyenggol kosmetik yang tertata rapi di belakangnya.


''Kalau kamu diam pasti tidak akan jatuh, sayang.''


Nirmala merasa jika suaminya akan melakukan hal aneh. Benar saja, kini suaminya mendekatkan wajahnya.


''Mas, kamu mau ngapain?'' Nirmala merasakan deru napas suaminya yang begitu hangat di kulitnya.

__ADS_1


''Bagaimana jika sekarang kita --- '' dengan sengaja Alvin mencubit pinggang istrinya, dan dia juga mengedipkan sebelah matanya.


Nirmala tahu apa keinginan suaminya. Dia mengalungkan ke dua tangannya di leher suaminya.


Alvin langsung menyambar bibir istrinya. Lalu dia kembali menggendong istrinya, namun tanpa melepaskan pangutannya. Alvin merebahkan istrinya ke atas kasur. Saat hendak membuka kancing baju istrinya, tiba-tiba tak jadi saat, mendengar ketukan pintu dari luar.


''Siapa sih, mengganggu saja,'' gumam Alvin.


''Coba lihat, Mas.'' pinta Nirmala.


Dengan malas Alvin turun dari atas kasur. Dia membuka pintu kamar. Terlihat ayahnya berdiri disana.


''Kejutan,'' ucap Pak Sanjaya tampak heboh.


Namun Alvin sama sekali tak terkejut.


Pak Sanjaya melihat ekspresi anaknya tampak biasa saja.


''Vin, kok kamu diam saja? Memangnya kamu tidak suka kalau papah pulang?''


''Bukan seperti itu, Pah. Tapi papah menggangguku.''


''Memangnya kamu sedang ngapain?"


Alvin yang hendak menjawab tak jadi karena istrinya yang muncul di belakangnya.


''Papah kok pulang sekarang? Saat telepon Mala katanya satu minggu lagi pulangnya.''


''Hehe maaf, Nak. Papah ingin kasih kejutan ke kalian. Oh iya, kalian lagi ngapain sih di kamar? Baru jam segini loh.''


''Tidak ngapa-ngapain kok, Pah.'' ucap Nirmala.


Pak Sanjaya melihat ada tanda merah di leher Nirmala.


''Sepertinya kalian sedang program anak ke dua. Kalau begitu lanjutkan, papah ke bawah dulu,'' setelah mengatakan itu Pak Sanjaya bergegas pergi dari sana.


Alvin dan Nirmala saling tatap. Padahal mereka belum menjelaskan apa pun, namun Pak Sanjaya sudah tahu apa yang akan mereka lakukan tadi.


''Mas, kamu yang kasih tahu papah?''


''Bukan, sayang. Mungkin tadi papah lihat leher kamu jadinya tahu kita lagi ngapain.''


''Memangnya ada apa dengan leherku?''


''Lihat saja di cermin.''


Nirmala segera bercermin di depan meja rias. Ke dua matanya terbelalak saat melihat tanda merah di lehernya. lalu dia menatap tajam suaminya yang sedang tersenyum ke arahnya.


''Ishh Mas Alvin gimana sih. Mala kan pernah bilang jangan bikin tanda di leher. Mala Malu loh kalau pergi keluar rumah.''


''Maaf, sayang. Mas khilaf. Habisnya Mas gemas sekali sama kamu.''


''Baiklah, tidak apa-apa. Tapi jangan ulangi lagi ya. Mas boleh bikin tanda dimana pun tapi jangan di leher.''


''Siap, sayangku. Jadi, apa sekarang kita akan melanjutkan yang tadi?''


''Kita keluar saja yuk! Mala penasaran papah bawa oleh-oleh atau tidak.''

__ADS_1


Alvin sedikit menghela napasnya, mungkin dia memang harus menunda untuk melakukannya.


__ADS_2