Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Bab 91 ( Selamat jalan Bu Arum )


__ADS_3

Semuanya begitu terkejut melihat Kirana yang pingsan, untung saja Radit terus memegang tubuh Kirana, jadi ketika Kirana jatuh pingsan, Radit langsung menangkapnya.


"Radit, sebaiknya kamu bawa pulang Kirana, kasihan saat ini kondisinya sedang tidak baik, apalagi Kirana sedang hamil muda, jadi kesehatannya harus benar-benar di jaga, biar Bang Kenzo yang mengantar kalian pulang."


"Iya Mom, kalau begitu Abang pulang sekarang untuk mempersiapkan pemakaman Bu Arum juga. Papi mau ikut Kenzo pulang sekarang atau mau menunggu di sini?" tanya Kenzo kepada Papi Danu.


"Papi nanti ikut mobil Ambulance saja supaya bisa mendampingi Sekar," jawab Papi Danu yang merasa terpukul juga dengan kematian Bu Arum, karena bagaimanapun juga, Bu Arum mempunyai tempat tersendiri dalam hatinya.


Kenzo akhirnya membantu Radit menggendong tubuh Kirana untuk membawanya pulang.


"Tita sama Kevin temenin Mommy di sini saja ya," ujar Mommy Santi dengan memeluk tubuh Tita yang saat ini terlihat menangis.


"Kenapa atuh kalau orang baik teh selalu cepat meninggalnya," ujar Tita dengan terisak.


"Mungkin sudah jalannya Sekar meninggal dengan cara seperti ini," ujar Mommy Santi.


"Maaf Ibu Mommy, yang meninggal itu namanya Bu Arum bukan Sekar," ujar Tita yang belum mengetahui nama Bu Arum yang sebenarnya.


"Nama Arum itu adalah nama belakangnya, sedangkan Sekar nama depannya," ujar Mommy Santi.


"Jadi Bu Arum sama Sekar itu orang sama gitu maksudnya?" tanya Tita yang masih belum mengerti.


"Iya benar Tita, Maksud Mommy, nama asli Bu Arum itu Sekar Arum," ujar Kevin, dan Kevin kembali angkat suara ketika melihat Tita yang hendak berbicara lagi.


"Udah kamu gak usah protes dan gak usah ngomong lagi, terus kamu panggil Mommy gak usah pake Ibu, cukup Mommy aja."


"Tapi kalau Tita manggilnya Mommy aja, berarti Tita tidak sopan, masa Tita hanya memanggil nama saja sama yang lebih tua."


"Mommy itu bukan nama, tapi Mommy itu bahasa inggris dan Artinya Ibu juga," jelas Kevin dengan menahan kesal kepada Tita.


"Maaf atuh A, da Tita teh gak tau."


"Stop, gak usah ngomong lagi, kalau kamu ngomong terus aku bisa gila."


"Kenapa atuh Aa Kevin teh bisa gila kalau Tita ngomong terus?"

__ADS_1


Kevin yang kesal terhadap Tita, langsung saja mengambil lakban yang kebetulan berada di sampingnya, kemudian menutup mulut Tita menggunakan lakban tersebut.


"Udah diem, kalau kamu ngomong terus, aku bakalan minta Dokter buat jahit mulut kamu. Kamu ngerti?" tanya Kevin, dan Tita hanya menganggukan kepalanya saja sebagai jawaban.


"Kak, udah lepasin lakban nya, kasihan Tita kalau mulutnya ditutup pake lakban," ujar Mommy Santi.


"Habisnya Kevin kesel Mom, kita lagi berduka ini malah bikin orang kesel aja, kalau gak cinta udah Kevin masukin karung biar di buang ke laut sekalian."


......................


Sesampainya di rumah, Kirana langsung saja di bawa ke dalam kamarnya supaya bisa istirahat.


"Nak, apa yang sebenarnya sudah terjadi, kenapa Kirana bisa sampai pingsan?" tanya Mama Sarah.


"Sebenarnya Bu Arum sudah meninggal dunia Bu," jawab Radit.


"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ucap Mama Sarah, Yolanda, dan Mami Arzeta.


"Pantas saja Kirana sampai pingsan, selama ini Bu Arum sudah sangat berjasa dalam hidup Kirana," ujar Mama Sarah yang tidak kuasa menahan tangisnya.


"Iya Nak, Radit temani saja Kirana, Kaisar biar Mama yang jagain. Tadi juga Kaisar mau minum susu formula yang Radit kasih untuk mengganti Asi, apalagi saat ini Kirana sedang hamil muda jadi sudah tidak bisa menyusui lagi."


Radit kembali masuk ke dalam kamar supaya bisa terus mendampingi Kirana yang begitu terpukul dengan kepergian Bu Arum, sedangkan Kenzo di bantu Karyawan Penginapan untuk mengurus semua persiapan kedatangan jenazah Bu Arum.


Radit terus mengusap lembut kepala Kirana, sampai akhirnya Radit ikut tertidur dengan memeluk tubuh istrinya.


Beberapa jam kemudian, terdengar suara sirine ambulance masuk ke halaman rumah Bu Arum, dan Kirana secara perlahan membuka matanya, dan langsung terbangun dengan menyebut nama Bu Arum, sehingga Radit ikut terbangun juga.


"Yah, Bunda hanya mimpi kan? Bu Arum tidak kenapa-kenapa kan Yah?" tanya Kirana.


"Sayang, Bunda yang ikhlas ya, supaya Bu Arum tenang di alam sana," ujar Radit dengan memeluk tubuh Kirana yang kembali menangisi kepergian Bu Arum.


"Kenapa Ibu pergi begitu cepat, padahal Kirana belum bisa membalas semua jasa Ibu. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Kaisar."


"Sayang, Bunda jangan seperti ini terus, kasihan bayi kita kalau Bunda terus saja menangis, kasihan juga Bu Arum pasti akan merasa berat jika kita terus menangisi kepergiannya."

__ADS_1


Kirana yang baru ingat kalau dirinya saat ini tengah hamil, kini mengusap lembut perutnya.


"Maafin Bunda ya Nak karena sudah melupakan kamu."


"Sekarang sebaiknya kita Shalat Ashar dulu, kemudian kirim do'a untuk mendiang Bu Arum, dan mungkin besok jenazah baru bisa dimakamkan karena sekarang sudah sore, belum lagi saat ini masih turun hujan," ujar Radit dengan membantu Kirana untuk membersihkan diri.


Setelah Radit dan Kirana melaksanakan Shalat Ashar berjamaah, Kirana digandeng oleh Radit untuk melihat Jenazah Bu Arum yang sudah terbujur kaku di tengah rumahnya.


"Bu, maafin Kirana Bu," ucap Kirana dengan terus menitikkan airmata.


Kirana dilarang memegang jenazah karena saat ini dia tengah hamil.


"Nak, sebaiknya Kirana jangan pegang jenazah Bu Arum ya, orangtua dulu bilang pamali kalau perempuan hamil pegang jenazah," jelas Mama Sarah.


Radit kini mengajak Kirana untuk duduk dan membaca surat Yasin untuk mengirim do'a kepada Bu Arum, dan Kaisar yang saat ini berada dalam pangkuan Mama Sarah, terus saja melambaikan tangannya kepada Jenazah Bu Arum.


"Dadah Nenek," ucap Kaisar yang sudah mulai belajar bicara, sehingga membuat Kirana menahan perih dalam hatinya.


"Mungkin Bu Arum berpamitan sama kita, dan Kaisar sepertinya bisa melihatnya karena Kaisar masih kecil," ujar Mama Sarah dengan mencium pipi Kaisar.


Sepanjang malam, di rumah Bu Arum banyak pelayat berdatangan dan bergantian membacakan Surat Yasin untuk mendiang Bu Arum yang terkenal baik semasa hidupnya, sehingga membuat semua orang merasa kehilangan.


Ratih dan Bilal yang langsung pulang ketika mendengar kabar meninggalnya Bu Arum, begitu terpukul, apalagi yang menyebabkan beliau meninggal adalah mantan Suami Ratih, sehingga Ratih terus saja meminta maaf kepada Kirana.


"Neng Putri, saya benar-benar minta maaf, karena semua ini berawal dari Neng Putri dan Bu Arum yang sudah menolong saya," ucap Ratih.


"Semuanya sudah takdir Teh, kita tidak pernah tau kapan ajal akan menjemput," ujar Kirana dan Ratih yang saat ini tengah berpelukan.


......................


Keesokan paginya, semuanya mengantar Jenazah Bu Arum menuju peristirahatan terakhirnya, kecuali Mama Sarah dan Yolanda yang harus menjaga Aurora dan Kaisar.


Kirana sudah dilarang untuk ikut ke makam, tapi Kirana memaksa karena ingin mengantarkan Bu Arum menuju peristirahatan terakhirnya juga, sehingga Radit terus mendampingi istrinya tersebut karena takut Kirana sampai kenapa-napa.


Isak tangis mewarnai pemakaman Bu Arum, dan Kirana mengucapkan selamat tinggal ketika Bilal mengumandangkan Adzan, kemudian liang lahat pun mulai di tutup.

__ADS_1


Selamat jalan Bu, terimakasih atas kebaikan Ibu selama ini. Semoga Ibu tenang di alam sana, ucap Kirana dalam hati.


__ADS_2