
Kirana dan Kaisar saat ini sedang berada di halaman rumah untuk menunggu kepulangan Radit, Kirana begitu bahagia pada saat melihat mobil Radit memasuki halaman, tapi sesaat kemudian senyum yang mengembang pada bibirnya hilang ketika melihat Radit menggandeng Bilal dengan luka pada sekujur tubuhnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Radit dan Bilal.
"Wa'alaikumsalam," jawab Kirana kemudian bergegas membukakan pintu supaya Radit langsung membawa Bilal untuk masuk ke dalam rumah.
"Yah, kenapa Kang Bilal?" tanya Kirana.
"Tadi saat Ayah melewati hutan pinus, Ayah mendengar suara perempuan berteriak meminta tolong. Pada awalnya Ayah ragu untuk berhenti dan mencari asal suara, tapi semakin lama teriakan minta tolong semakin kencang sehingga Ayah tidak tega untuk mengabaikannya. Dan ternyata teriakan minta tolong itu adalah suara Teh Ratih."
"Lalu Teh Ratih nya mana?" tanya Kirana.
Sesaat kemudian Ratih datang dengan membawa kotak P3K yang sebelumnya dia ambil terlebih dahulu dari penginapan.
"Assalamu'alaikum, Neng Putri," ucap Ratih dengan tubuh yang bergetar hebat, sehingga Kirana memanggil Bu Arum untuk menitipkan Kaisar.
"Wa'alaikumsalam, Sebaiknya Teh Ratih duduk dulu," ajak Kirana dengan membantu Ratih untuk duduk.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi Teh?" tanya Kirana, dan Ratih langsung saja memeluk Kirana serta menumpahkan tangisannya.
"Saya takut Neng, Kang Asep ternyata kabur dari Penjara, dan tadi Kang Asep mencegat kami saat pulang dari pasar. Kang Asep juga hampir saja berhasil menodai saya, untung saja Mas Radit keburu datang untuk menolong kami," jawab Ratih.
"Astagfirullah, kok bisa ya Kang Asep sampai kabur? sebaiknya kita harus lebih berhati-hati Teh, karena Kang Asep pasti akan terus membuat kekacauan."
"Iya Neng, bahkan tadi Kang Asep juga mengancam akan datang untuk balas dendam terhadap Neng Putri karena sudah menjebloskan dia ke dalam Penjara."
Radit sudah terlihat gelisah saat mendengar perkataan Ratih, tapi Kirana tetap tenang dan tidak menunjukan rasa takut sedikit pun.
"Sebaiknya kita harus tetap waspada saja, jangan panik jika sampai Kang Asep datang untuk menemui kita. Serahkan semuanya pada yang Maha Kuasa, karena hidup dan mati seseorang sudah di atur oleh Allah SWT," ujar Kirana, dan perkataan Kirana selalu membuat Radit kagum dan semakin jatuh cinta terhadap sosok istrinya.
Radit saat ini sedang mengobati luka pada tubuh Bilal.
__ADS_1
"Sebaiknya luka Kang Bilal jangan dulu terkena air supaya lekas sembuh," ujar Radit.
"Makasih banyak Mas, mungkin nanti saya akan melakukan tayamum saja untuk menggantikan wudhu," ucap Bilal.
Ratih terlihat mengkhawatirkan Bilal, tapi Ratih tidak berani menyentuh Bilal karena mereka belum muhrim.
"Maafin saya ya Kang Bilal, semua ini terjadi karena saya. Saya ingin sekali merawat Kang Bilal, tapi kita belum muhrim," ucap Ratih dengan tertunduk sedih.
"Apa Ratih mau menjadi Muhrim saya saat ini juga?" tanya Bilal, dan Ratih begitu terkejut mendengar pertanyaan Bilal.
"Kalau Ratih bersedia, saya akan meminta bantuan kepada Pak Ustad untuk menikahkan kita walaupun hanya secara siri dulu, supaya saya juga bisa lebih leluasa untuk menjaga Ratih dan Rahma," ujar Bilal dan sebagai jawabannya Ratih hanya tersenyum malu serta menganggukan kepalanya.
"Alhamdulillah, kalau begitu sekarang saya akan mencoba menelpon Guru ngaji saya supaya datang ke sini," ucap Bilal, lalu mengeluarkan handphonenya.
Kirana mengajak Ratih ke kamarnya untuk mengganti pakaian juga mendandaninya, meskipun Ratih berusaha untuk menolaknya karena merasa tidak enak.
Bu Arum juga menyuruh Karyawan penginapan lainnya supaya menyiapkan makanan untuk acara Pernikahan dadakan Ratih dan Bilal.
Dua jam kemudian, Guru mengaji Bilal akhirnya datang bersama beberapa muridnya untuk menjadi Saksi Pernikahan, begitu juga dengan persiapan yang sudah diselesaikan oleh semuanya, sehingga membuat Ratih dan Bilal merasa terharu.
"Sudah kewajiban kita untuk saling menolong Teh, udah jangan nangis, sayang make up nya nanti luntur," ujar Kirana dengan tersenyum.
Rahma begitu bahagia saat mendengar tentang rencana pernikahan Ibunya dan Bilal, karena dari dulu Rahma sudah dekat serta menyukai sosok Bilal yang penyayang.
Tita juga sedang mendandani Rahma supaya terlihat lebih cantik saat menghadiri pernikahan Ibunya.
"Tuh, Rahma teh kalau pake baju ini jadi semakin cantik, makanya Rahma harus nurut sama Bibi," ujar Tita dengan menyisir rambut Rahma.
"Kalau Bibi kapan nikahnya?" tanya Rahma.
"Nanti kalau udah ketemu sama Pahlawan bertopeng," jawab Tita.
__ADS_1
"Lho bukannya semua Putri ingin menikah sama Pangeran berkuda putih ya? kok Bibi malah bilang Pahlawan Bertopeng, kayak di film kartun aja," tanya Rahma yang heran dengan perkataan Tita.
"Kalau Pangeran berkuda Putih kan udah biasa, kalau Pahlawan Bertopeng baru luar biasa," ujar Tita dengan tertawa.
"Ya sudah gimana Bibi aja, yang penting Bibi bahagia," ujar Rahma.
"Eh ni bocah kok udah pinter ngomong ya, dia yang udah besar, apa aku yang udah tua?" ujar Tita dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo Bi, cepetan kita ke rumah Dede Kaisar. Tadi Rahma dengar Pak Ustadz udah datang sama muridnya, siapa tau nanti ada yang naksir sama Bibi," celetuk Rahma dengan nyengir kuda.
"Eh Anak kecil tau apa masalah begituan, lagian Bibi udah diwanti-wanti sama Aa Kevin supaya jangan menerima lelaki lain."
"Om Kevin yang ganteng itu kan? kalau itu nanti Calon Suami Rahma kalau udah besar," ujar Rahma dengan berlari, sehingga Tita mengejarnya.
"Rahma, kamu mau saingan sama Bibi ya?" teriak Tita.
"Kata orang selama janur kuning belum melengking masih milik bersama Bi," teriak Rahma.
"Dasar bocah korban sinetron, dimana-mana juga melengkung bukan melengking," ujar Tita dengan nafas ngos-ngosan.
"Tumben Bibi pinter, Rahma cuma ngetes Bibi aja kok," ujar Rahma, sehingga membuat Tita merasa kesal.
......................
Saat ini Bilal sudah berhadapan dengan Guru mengajinya untuk mengucap ijab kabul pernikahan, sedangkan Ratih disuruh untuk menunggu di dalam kamar sampai Bilal selesai mengucapkan ijab kabul dan setelah nanti para Saksi menyatakan Sah, maka Ratih dan Bilal baru akan dipertemukan.
Bilal kini mengucap ijab kabul dengan suara yang lantang, sehingga suaranya terdengar sampai kamar Kirana, dan Ratih yang mendengarnya merasa terharu sampai menitikkan airmata bahagia.
"Alhamdulillah, Selamat ya Teh, sekarang Teh Ratih dan Kang Bilal sudah resmi menjadi Suami istri. Saya hanya bisa mendo'akan semoga pernikahannya langgeng hingga maut yang memisahkan," ucap Kirana yang di Amini oleh Ratih.
"Makasih banyak ya Neng, do'a yang sama saya ucapkan juga untuk pernikahan Neng Putri," ujar Ratih.
__ADS_1
Kirana kini menggandeng Ratih untuk mempertemukannya dengan Bilal yang saat ini telah Sah menjadi Suaminya secara Agama, dan Bilal merasa takjub melihat kecantikan Ratih, sehingga Bilal tidak mengedipkan matanya.
"Bilal, Ratih, sekarang kalian sudah resmi menjadi Suami istri secara Agama, semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah," nasihat guru Bilal, dan acara pun dilanjutkan dengan pembacaan do'a sekaligus acara syukuran.