
Setelah melakukan operasi pencangkokan jantung, Daddy Wijaya mengalami koma, bahkan saat ini sudah satu minggu lamanya Daddy Wijaya masih belum sadarkan diri juga.
"Bagaimana keadaannya Suami saya Dok?" tanya Mommy Santi kepada Dokter Farhan yang saat ini sedang memeriksa kondisi Daddy Wijaya.
"Pencangkokan jantungnya sudah berhasil, dan kita tinggal menunggu Tuan sadar dari koma nya saja, karena kasus seperti ini banyak terjadi Nyonya," Jawab Papa Farhan.
"Dad, bangun, kenapa Daddy belum sadar juga," ujar Mommy Santi dengan menggenggam erat tangan Daddy Wijaya.
"Yang sabar ya Nyonya, semoga saja Tuan bisa segera sadar."
"Dok, apa kita perlu memindahkan Daddy ke Rumah Sakit yang berada di Jakarta?" tanya Mommy Santi.
"Tidak perlu Nyonya, karena peralatan medis di sini juga sudah lengkap, apalagi udara di sini masih bagus, dan Rumah Sakitnya masih belum di buka, jadi kita bisa fokus untuk mengobati Tuan," jawab Dokter Farhan.
......................
Di alam bawah sadar Daddy Wijaya, saat ini Daddy Wijaya terus saja mengikuti sosok mendiang Bu Arum, yang berjalan menjauhinya.
"Sekar, tunggu," teriak Daddy Wijaya, sampai akhirnya Bu Arum berhenti di sebuah taman yang banyak dengan hamparan bunga yang indah.
"Mas Wijaya, sebaiknya sekarang Mas Wijaya pulang, di sini bukan tempat Mas Wijaya," ujar Bu Arum.
"Tapi aku ingin selalu bersamamu, aku ingin kita hidup bersama," ujar Daddy Wijaya.
"Mungkin kita tidak ditakdirkan hidup bersama Mas, apalagi sekarang kita sudah berbeda alam," ujar Bu Arum.
"Apa maksud kamu Sekar?"
"Nama Mas Wijaya akan selalu aku simpan di dalam hatiku, dan Aku akan selalu menemani Mas Wijaya dalam detak jantung Mas Wijaya. Pulanglah Mas, semuanya sudah menunggumu."
"Kenapa kamu tidak mau ikut denganku Sekar?" tanya Daddy Wijaya.
"Sekarang rumahku di sini, semoga saja suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali. Selamat tinggal Mas, semoga kalian selalu bahagia," ujar Bu Arum, kemudian Cahaya terang yang menyilaukan kini menerpa tubuh Daddy Wijaya.
__ADS_1
Mommy Santi terkejut ketika melihat tangan Daddy Wijaya yang secara perlahan mulai bergerak.
"Dok, tangan Suami saya bergerak," ujar Mommy Santi.
Bukan hanya tangan Daddy Wijaya saja yang sekarang mulai bergerak, tapi matanya secara perlahan mulai terbuka.
"Alhamdulillah Nyonya, Tuan Wijaya sudah sadar," ucap Papa Farhan.
"Farhan, apa yang sudah terjadi padaku? sekarang aku berada di mana?" tanya Daddy Wijaya dengan lirih.
"Besan jangan banyak pikiran dulu, sekarang kita berada di Rumah Sakit," jawab Papa Farhan.
"Alhamdulillah Daddy akhirnya sadar juga. Mommy takut Daddy kenapa-napa," ujar Mommy Santi dengan menangis dan memeluk tubuh Daddy Wijaya.
"Mana Sekar Mom? apa dia baik-baik saja? tadi Daddy mimpi bertemu dengan Sekar," tanya Daddy Wijaya.
Mommy Santi mau pun Dokter Farhan bingung untuk menjawab pertanyaan Daddy Wijaya, karena saat ini kondisi Daddy Wijaya masih belum stabil.
"Daddy jangan banyak pikiran dulu ya, Daddy harus sembuh dulu, nanti kami pasti akan menceritakan semuanya," ujar Mommy Santi.
"Alhamdulillah akhirnya Daddy sadar juga," ucap semua yang berada di sana.
"Iya, Alhamdulillah sayang, pengorbanan Bu Arum tidak sia-sia karena sekarang Daddy sudah bisa sembuh dari penyakit jantungnya," ujar Radit.
Acara Tahlil pun kini berjalan dengan lancar, dan rencananya, besok keluarga Papi Danu akan pulang ke Jakarta karena sudah satu minggu ini Papi Danu mempercayakan perusahaan kepada Asistennya, sedangkan Kevin dan Kenzo sudah satu minggu ini bergantian pulang pergi ke Jakarta untuk mengecek perusahaan.
Setelah acara Tahlil selesai, semuanya kini menuju Rumah Sakit untuk melihat keadaan Daddy Wijaya, kecuali Mama Sarah dan Yolanda yang harus menjaga Aurora dan Kaisar.
Setelah semuanya sampai di Rumah Sakit, satu persatu mereka menghampiri Daddy Wijaya untuk melihatnya. Kirana memilih menjadi orang terakhir yang menghampiri Daddy Wijaya, karena Kirana terus saja terbayang wajah Bu Arum.
Ketika yang lain sudah menyalami Daddy Wijaya, Kirana terlihat diam mematung dengan menatap wajah Ayahnya tersebut.
"Bunda baik-baik saja kan?" tanya Radit.
__ADS_1
Kirana menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kaki untuk menghampiri Daddy Wijaya, dan Radit yang takut Kirana kembali pingsan terus memegangi tubuh Kirana.
Daddy Wijaya sudah terlihat merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan Putri kesayangannya, dan Kirana langsung saja berhambur ke dalam pelukan Daddy Wijaya.
Pelukan ini terasa hangat seperti pelukan Bu Arum, mungkin karena sekarang bagian tubuh Bu Arum ada pada tubuh Daddy, ucap Kirana dalam hati, dan Kirana langsung saja menumpahkan airmatanya karena sudah tidak kuasa untuk menahannya lagi.
"Kenapa Tuan Putri menangis?" tanya Daddy Wijaya dengan mengusap lembut rambut Kirana.
"Kirana sangat bahagia karena akhirnya Daddy sudah sadar dari koma."
Daddy Wijaya kini mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan Daddy Wijaya merasa heran karena tidak melihat keberadaan Bu Arum.
"Apa Sekar tidak ikut ke sini?" tanya Daddy Wijaya, dan semuanya terlihat diam karena bingung harus menjawab pertanyaan Daddy Wijaya.
"Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dari Daddy?" tanya Daddy Wijaya yang mulai curiga.
Kirana akhirnya mencoba untuk mengatakan semuanya secara perlahan kepada Daddy Wijaya.
"Kami tidak bermaksud untuk menyembunyikan apa pun dari Daddy, tapi Kirana mohon Daddy jangan terkejut mendengar semua ini."
"Iya Nak, Daddy akan berusaha untuk tenang."
"Daddy masih ingat kan dengan kejadian terakhir yang kita alami sebelum Daddy koma?" tanya Kirana, dan Daddy Wijaya kini berusaha untuk mengingatnya.
"Saat itu Kaisar diculik dan Sekar mencoba menyelamatkannya, tapi Sekar_" ucapan Daddy Wijaya langsung terputus dan matanya kini memerah mengingat Bu Arum yang tertusuk pisau oleh Asep.
"Dimana Sekar sekarang? tidak mungkin kan Sekar meninggalkan kita semua?" tanya Daddy Wijaya yang sudah mulai terlihat panik.
"Istighfar Dad, ikhlaskan semuanya. Bu Arum sudah mengorbankan dirinya untuk Kaisar dan Daddy, dan sekarang jantung Bu Arum sudah berada dalam tubuh Daddy, karena itu yang menjadi permintaan terakhirnya," ujar Kirana.
"Sekar, kenapa kamu melakukan semua itu?"
"Bu Arum sangat mencintai Daddy hingga nafas terakhirnya, dan Daddy harus menjaga peninggalan Bu Arum dengan baik, supaya pengorbanan Bu Arum tidak sia-sia," ujar Kirana dengan memeluk tubuh Daddy Wijaya yang terlihat syok.
__ADS_1
Sekar Arum, terimakasih banyak atas cinta tulus yang selama ini telah kamu berikan kepada kami, terimakasih atas semua pengorbanan yang telah kamu lakukan, dan aku berjanji akan menjaga jantung hatiku ini sampai nafas terakhirku, ucap Daddy Wijaya dalam hati dengan menitikkan airmata.