
Kirana merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada Daddy Wijaya, tapi semuanya telah terjadi, meskipun mereka terus menyesali semuanya, tapi waktu tidak akan bisa terulang kembali.
"Dad, bangun Dad, Kirana mohon. Maafin Kirana," ucap Kirana dengan terus menggenggam erat tangan Daddy Wijaya.
"Sayang, Bunda yang sabar ya, sekarang yang hanya bisa kita lakukan hanyalah berdo'a untuk kesembuhan Daddy, kita harus yakin kalau Daddy akan baik-baik saja," ujar Radit dengan memeluk tubuh Kirana.
"Bunda takut Yah, Bunda tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada Daddy," ujar Kirana, sehingga Radit mengeratkan pelukannya serta mengecup kening Kirana dengan perasaan salah yang semakin besar dalam hatinya.
Maafin Radit Dad, semua ini terjadi karena kesalahan Radit, ucap Radit dalam hati dengan tiada henti melafalkan do'a.
Kenzo terus berusaha untuk menenangkan Kevin yang terlihat panik juga, dan Kenzo menyuruh Kevin untuk fokus menyetir, sampai akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit.
Radit bergegas turun untuk langsung meminta tolong kepada Perawat supaya membantu membawa Daddy Wijaya, dan Daddy Wijaya langsung saja dibawa masuk ke dalam ruang IGD supaya segera mendapatkan pertolongan.
Setelah semuanya duduk menunggu di depan ruang IGD, Radit teringat dengan Papa Farhan yang masih berada di Rumah Sakit, sampai akhirnya Radit menelpon Papa Farhan untuk memberitahukan semuanya, dan beberapa saat kemudian Papa Farhan pun datang.
"Radit, apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Tuan Wijaya?" tanya Papa Farhan.
"Daddy sudah mengetahui semuanya Pa, dan Daddy begitu syok sampai akhirnya terkena serangan jantung," jawab Radit.
"Kalian yang sabar ya, semoga saja Tuan Wijaya baik-baik saja," ujar Papa Farhan.
Satu jam kemudian, Dokter yang menangani Daddy Wijaya keluar dari ruang IGD, dan semuanya menghampiri Dokter untuk menanyakan keadaan Daddy Wijaya.
"Dok bagaimana keadaan Tuan Wijaya?" tanya Papa Farhan yang mewakili semuanya.
"Kondisi Tuan wijaya saat ini sudah berhasil melewati masa kritisnya, tapi Tuan Wijaya masih belum sadar dari pingsannya. Sebenarnya Tuan Wijaya sudah harus melakukan pencangkokan jantung supaya beliau bisa benar-benar sembuh, karena penyakit jantungnya sudah cukup parah," jelas Dokter, sehingga membuat semuanya merasa lemas, apalagi Kirana yang langsung menumpahkan tangisannya dalam pelukan Radit.
"Lalu langkah apa yang bisa kita lakukan sebelum kita menemukan pendonor yang cocok untuk beliau?" tanya Papa Farhan.
__ADS_1
"Sebaiknya beliau dipakaikan ring terlebih dahulu saja Dok," jelas Dokter Randi.
"Makasih banyak informasina Dok, lakukan yang terbaik untuk Tuan Wijaya," ujar Dokter Farhan.
"Baik Dok, kalau begitu saya akan kembali ke dalam untuk memantau kondisi beliau," ujar Dokter Randi kemudian masuk kembali ke dalam ruang IGD.
"Sebaiknya sekarang kita berdo'a untuk kesembuhan Tuan Wijaya, dan untuk Kenzo, Radit dan Kirana, mohon maaf Papa rasa kalian tidak akan bisa menemui Tuan Wijaya untuk saat ini, sebaiknya kalian pulang saja dulu, nanti jika Tuan Wijaya menanyakan kalian, baru kalian bisa menemuinya, karena Papa takut kalau kondisi Tuan Wijaya akan semakin parah apabila bertemu dengan kalian, karena emosinya pasti tidak akan stabil. Biar Papa saja dan Kevin yang menunggu beliau di sini," ujar Papa Farhan.
"Tapi Pa, Kirana tidak mau jauh dengan Daddy."
"Sayang, Papa benar, keberadaan kita di sini hanya akan memperburuk keadaan, sebaiknya sekarang kita pulang dulu, Bunda juga pasti cape karena kita baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh," ujar Radit.
"Iya De, Radit benar. Sekarang Daddy sedang sakit, dan Kakak tidak mau kalau kamu sampai ikut sakit juga," ujar Kevin dengan memeluk tubuh Kirana.
"Jadi Kakak sudah tidak marah lagi sama Kirana?" tanya Kirana, karena pertemuan terakhirnya dengan Kevin saat di Sukabumi, Kevin meninggalkan Kirana dengan keadaan marah, bahkan Kevin sampai tidak mau menganggap Kirana sebagai saudaranya lagi.
"Kakak tidak akan bisa marah lama-lama sama Tuan Putri, yang penting Tuan Putri bahagia, Kakak akan selalu mendukung semua itu."
"Kevin sebenarnya masih marah sama kamu sayang, cuma karena ada Abang saja makanya Kevin pura-pura baik, karena takut Abang marahi," celetuk Kenzo.
"Abang jangan memperkeruh suasana deh, nanti Tuan Putri kita bisa salah paham," ujar Kevin, karena semenjak dulu mereka selalu saja berebut perhatian Adik kesayangannya.
Radit tersenyum sekaligus terharu saat melihat tiga saudara yang begitu saling menyayangi, karena dia adalah Anak tunggal jadi tidak merasakan bagaimana rasanya punya saudara.
"Sudah Dit, kamu gak usah merasa terharu seperti itu, sekarang Abang dan Kevin kan saudara kamu juga. Pa, Kevin, kami titip Daddy ya. Yuk sayang kita pulang," ujar Kenzo dengan menggandeng Kirana, karena Kenzo sengaja iseng kepada Radit yang selalu cemburuan.
"Bang, masa Suami Kirana mau ditinggalin," ujar Kirana dengan menarik lembut tangan Radit.
"Pa, Kak Kevin, kami pulang dulu ya, kalau ada perkembangan apa pun tentang Daddy tolong beri kabar kepada kami," ujar Kirana, kemudian mereka bertiga mengucap Salam sebelum pergi.
__ADS_1
Kenzo yang saat ini menggandeng Kirana, dan Kirana yang memegang tangan Radit kembali berpapasan dengan Dokter Ana.
"Selamat sore Tuan muda," ucap Dokter Ana dengan hormat karena sudah tau kalau Kenzo adalah Anak dari pemilik Rumah Sakit, tapi mata Dokter Ana terus saja melihat ke arah tangan Kirana yang memegang tangan Radit karena yang Dokter Ana tau kalau Radit adalah Suami Yolanda.
Kok aku jadi penasaran dengan hubungan mereka bertiga, siapa perempuan yang digandeng Tuan muda Kenzo, apa dia kekasihnya? tapi kenapa tangan perempuan tersebut menggenggam tangan Dokter Radit? batin Dokter Ana, dan jiwa kepo Dokter Ana kini meronta-ronta.
Kenzo yang sudah tau betul sifat kepo Dokter Ana langsung saja angkat suara.
"Gak usah kepo sama urusan orang lain. Yuk sayang kita pulang, kalau di sini terus nanti kita bisa jadi bahan gosip," ujar Kenzo, dan Dokter Ana hanya tersenyum malu mendengar perkataan Kenzo.
"Bang, kok Abang ngomong gitu sama Dokter yang tadi?" tanya Kirana.
"Habisnya dia orangnya nyebelin, masa dia ngira kalau Abang Supir."
"Lho, kok bisa?" tanya Kirana.
"Abang kan waktu itu mau nganterin Yolanda sama Aurora yang sudah diperbolehkan pulang, tapi pas kami ketemu dia, dia malah ngerendahin Abang dan mengira kalau Abang adalah Supir Yolanda. Mungkin karena dia pikir kalau Radit masih Suaminya Yolanda."
"Dokter Ana orangnya memang seperti itu, bahkan dia seorang penjilat. Dulu aja dia pernah ngejar-ngejar Ayah pada saat dia tau kalau Ayah adalah Anak Kepala Rumah Sakit, dan sekarang pasti Dokter Ana mengincar Bang Kenzo tuh karena tau kalau Bang Kenzo adalah Anak pemilik Rumah Sakit."
"Enak aja, Abang kan udah punya Yolanda," ujar Kenzo.
"Terus Ayah digoda kan sama dia?" tanya Kirana dengan tatapan tajam, sehingga Radit salah tingkah.
"Mana mungkin Ayah tergoda sama perempuan seperti dia, sama Yolanda saja yang tinggal satu rumah, Ayah tidak pernah tergoda."
"Kamu saja yang tidak normal," ujar Kenzo kepada Radit.
Kirana yang mendengar Radit dan Kenzo bersitegang berusaha untuk menengahinya.
__ADS_1
"Sudah-sudah gak usah ribut, sekarang pasti ada target baru yang akan Dokter Ana incar," ujar Kirana, sehingga Radit dan Kenzo bertanya secara bersamaan.
"Siapa?"