
Radit mencoba untuk menenangkan Kirana yang saat ini masih terlihat emosi.
"Bunda istighfar ya, Ayah tau kalau Dokter Ana memang sudah keterlaluan, dan semua itu pantas untuk dia dapatkan."
"Astagfirullah, maaf ya Yah, kalau Bunda sudah membuat Ayah malu dengan semua yang telah Bunda lakukan."
"Tidak sayang, sesekali orang seperti Dokter Ana memang pantas diberikan pelajaran," ujar Radit dengan memeluk tubuh Kirana.
Kirana dan Radit akhirnya masuk ke dalam kamar perawatan Daddy Wijaya setelah sebelumnya mengetuk pintu serta mengucapkan Salam. Di sana sudah terlihat Mommy Santi, Kevin dan juga Papa Farhan yang sedang menunggu Daddy Wijaya.
Setelah Kirana dan Radit menyalami semuanya, kini Kirana dan Radit menghampiri Daddy Wijaya dengan langkah yang gemetar dan merasa takut jika sampai Daddy Wijaya meminta mereka untuk berpisah, sehingga Radit dan Kirana terus saja berpegangan tangan.
"Dad, maafin Kirana," ujar Kirana yang tiba-tiba memeluk tubuh Daddy Wijaya, sampai akhirnya Kirana melepaskan pegangan tangannya terhadap Radit. Entah kenapa seketika perasaan Radit terasa hampa, sehingga Radit hanya diam mematung melihat Kirana yang saat ini sedang menumpahkan tangisannya dalam pelukan Daddy Wijaya.
"Sayang, seharusnya Daddy yang meminta maaf kepada Tuan Putri karena perlakuan Daddy yang sudah egois, tapi Kirana harus tau kalau Daddy sangat sayang kepada Kirana, dan Daddy ingin yang terbaik untuk Kirana."
"Kirana tau semua itu Dad, tapi Kirana malah membalas kasih sayang Daddy dengan memberikan Aib untuk keluarga Wijaya."
"Sudahlah Nak, kita lupakan masalalu dan membuka lembaran baru, karena saat ini sudah ada Kaisar di antara kalian berdua, dan Daddy ingin kalian menikah secara Negara supaya status Kaisar sebagai Pangeran kecil dari keluarga Wijaya bisa segera tercatat, kasihan juga Kaisar belum memiliki Akta kelahiran," ujar Daddy Wijaya, sehingga membuat semuanya merasa bahagia.
"Radit, Daddy tau kalau kamu adalah lelaki yang baik, dan impian Daddy sekarang sudah terwujud karena kamu sudah jadi Menantu Daddy, meskipun Daddy sangat kecewa karena kalian harus bersatu setelah melakukan sebuah kesalahan fatal."
"Makasih banyak Dad, Radit berjanji akan menjaga serta membahagiakan Kirana dan Kaisar dalam seumur hidup Radit."
"Daddy percaya itu, tapi sebelum kamu melakukan semua itu, ada hal yang harus kamu lakukan setelah nanti resepsi pernikahan kalian digelar."
__ADS_1
Degg
Jantung Radit dan Kirana rasanya berhenti berdetak, mereka sudah takut jika Daddy Wijaya akan meminta sebuah permintaan yang nantinya akan sulit untuk mereka lakukan.
"Apa itu Dad? insyaallah Radit akan berusaha untuk melakukan semuanya."
"Daddy ingin kamu melanjutkan kuliah S2 di Universitas terbaik yang berada di luar negeri, karena suatu saat nanti kamu yang akan menggantikan Papa kamu menjadi Kepala Rumah Sakit ini. Kamu tau kalau tadinya Daddy berharap Kirana yang akan menjadi penerus keluarga Wijaya untuk mengelola Rumah Sakit ini, tapi untuk sekarang semua itu tidak mungkin terjadi, jadi Daddy berharap kamu yang akan menggantikan Kirana menjadi generasi penerus dari keluarga Wijaya."
Hati Kirana dan Radit sama-sama sakit mendengar perkataan Daddy Wijaya, akhirnya yang mereka takutkan ternyata terjadi juga, meskipun mereka berdua tau kalau semua itu Daddy Wijaya lakukan demi masa depan Radit dan Kirana.
"Ke_kenapa harus di luar negeri Dad? kenapa tidak di Indonesia saja?" tanya Kirana dengan airmata yang sudah menetes pada pipinya, karena Kirana sudah tidak dapat membendungnya lagi.
"Radit harus lebih hebat dari Papanya, dan Daddy yakin kalau Radit melanjutkan kuliah di luar negeri, ilmu yang Radit dapatkan akan lebih banyak. Radit, apa kamu keberatan dengan permintaan Daddy?"
"Baik Dad, Radit akan melanjutkan kuliah Radit di luar negeri demi masa depan kami, dan Radit akan berusaha melakukan semuanya dengan baik," jawab Radit dengan menahan sesak dalam dadanya, karena Radit harus menerima kenyataan kalau dirinya harus berpisah dengan Kirana dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan.
Kamar perawatan Daddy Wijaya seketika menjadi hening, karena semuanya larut dengan pikiran mereka masing-masing. Meskipun semua yang berada di sana merasa kasihan terhadap Radit dan Kirana, tapi tidak ada satu orang pun yang dapat menentang keinginan Daddy Wijaya, sampai akhirnya Kirana angkat bicara.
"Maaf semuanya, apa bisa Kirana berbicara berdua saja dengan Suami Kirana?"
"Silahkan Nak," jawab Daddy Wijaya, karena yang lain tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Kirana.
Kirana kini mengajak Radit untuk keluar dari kamar perawatan Daddy Wijaya, dan Radit memutuskan untuk membawa Kirana ke dalam ruang kerjanya, supaya mereka berdua bisa lebih leluasa untuk berbicara.
Sesampainya di dalam ruang kerja Radit, Kirana akhirnya memeluk Radit dan menumpahkan tangisannya dalam pelukan Radit.
__ADS_1
"Yah, kenapa Ayah menyetujui permintaan Daddy tanpa meminta dulu persetujuan kepada Bunda?" tanya Kirana dengan airmata yang terus membanjiri pipinya.
"Bunda, maafin Ayah, sebelum kita datang ke sini, Ayah sudah bilang kan kalau Ayah akan menyanggupi permintaan Daddy, karena tidak mungkin Ayah berani menolaknya, apalagi saat ini kondisi kesehatan Daddy sedang tidak baik."
"Meskipun kita harus berpisah?" tanya Kirana.
"Kita berpisah hanya untuk sementara sayang, semua ini Daddy lakukan demi masa depan kita juga, dan Ayah berjanji kalau Ayah akan menyelesaikan kuliah S2 Ayah secepatnya."
"Tapi Bunda tidak bisa jauh dari Ayah."
"Ayah juga tidak akan bisa berpisah jauh dari Bunda dan Kaisar." Mungkin ini adalah harga yang harus Ayah bayar karena telah menghancurkan masa depan Bunda, karena Daddy Wijaya pernah bilang kalau Bunda ingin sekali kuliah di Universitas terbaik yang berada di luar negeri, dan Daddy Wijaya berusaha untuk mewujudkan cita-cita Bunda lewat Ayah, lanjut Radit dalam hati.
"Sekarang kita harus bagaimana Yah?" tanya Kirana yang masih belum bisa menerima permintaan Daddy Wijaya, karena Kirana tidak ingin berpisah dengan Radit.
"Sayang, mungkin untuk sementara kita harus berpisah dulu demi masa depan kita nantinya, karena Ayah yakin kalau Daddy melakukan semua ini untuk kita juga. Seharusnya kita bersyukur karena Daddy sudah mau merestui hubungan kita, bahkan kita akan segera menikah secara Negara."
"Sebentar lagi kita pasti akan merasa bahagia karena semua orang akan mengetahui tentang pernikahan kita, lalu setelah itu, kita akan merasakan sakitnya perpisahan karena nanti kita harus terpisah oleh jarak dan waktu, dan semua perpisahan pasti akan selalu menyakitkan, apa itu yang Ayah mau?" tanya Kirana dengan menatap lekat wajah Radit.
"Seandainya bisa, Ayah juga ingin menolak keinginan Daddy, tapi Ayah takut kalau Daddy akan semakin murka terhadap kita, Bunda pasti lebih tau sifat Daddy bukan?" jawab Radit.
Kirana akhirnya pasrah dengan keputusan yang telah Radit ambil, meskipun semua itu akan berat untuk mereka jalani.
"Meskipun ini berat untuk kita, Bunda akan ikhlas menerima semuanya. Ayah harus tau kalau Bunda dan Kaisar akan selalu menunggu Ayah sampai kita bisa berkumpul kembali, tapi Bunda memiliki satu permintaan."
"Apa itu?" tanya Radit yang penasaran dengan permintaan Kirana.
__ADS_1