
Tiga bulan kemudian.
Sampai saat ini Alvin belum juga menemukan Nirmala. Terpaksa dia menghentikan pencariannya lewat orang suruhan, karena tidak juga membuahkan hasil.
Pak Sanjaya merasa kasihan melihat anaknya yang akhir-akhir ini tampak menyibukkan diri dengan pekerjaan. Sebenarnya itu salah satu alasan agar Alvin lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dari pada di rumah. Dia sengaja melakukan itu agar tidak terus mengingat Nirmala.
Sejak kepergian istrinya itu, Alvin langsung meminta Renita pergi dari kehidupannya dan jangan sampai muncul lagi di hadapannya. Dia juga mengancamnya jika Renita kembali berani mendekati keluarganya.
Saat ini tepat pukul tujuh malam Alvin baru pulang dari kantor. Dia memang sering pulang malam karena sengaja lembur.
''Nak, kamu baru pulang?''
Pak Sanjaya menatap anaknya yang baru saja mendudukkan diri di hadapannya.
''Iya nih, Pah. Oh iya, besok Alvin mau ke luar kota. Ya tempat yang akan Alvin datangi itu sebuah pedesaan yang masih asri. Niatnya Alvin mau membujuk warga di desa itu agar lahannya mau di jual kepada Alvin,'' ucapnya.
''Memangnya harus kamu sendiri yang terjun langsung? Kenapa tidak meminta asistenmu saja atau karyawan lain?''
''Alvin ingin terjun langsung ke lokasi, Pah. Sekalian saja liburan. Biasanya kalau udara di desa itu masih bagus.''
Sejenak Pak Sanjaya diam. Mungkin dengan mengizinkan Alvin pergi, itu yang terbaik. Mungkin saja Alvin mempunyai niat lain juga dengan rencana kepergiannya.
''Baiklah, papah izinkan kamu pergi, Nak. Tapi ingat ya, kamu harus bisa jaga kesehatan,'' pinta Pak Sanjaya.
''Baik, Pah. Alvin pasti akan selalu ingat jika menyangkut pekerjaan.''
''Syukurlah, tapi kamu jangan lama-lama ya. Begitu urusan pekerjaan selesai, kamu langsung saja pulang,'' pinta Pak Sanjaya.
''Baik, Pah.''
''Kamu mau pergi kapan, Nak?''
''Mungkin besok, Pah.'' jawabnya.
''Secepat itukah?''
"Ini rencana proyek penting jadi jika di kerjakan lebih cepat itu lebih baik," ucap Alvin.
"Papah hanya mau berpesan agar kamu selalu berhati-hati, Nak."
"Papah tenang saja, Alvin bisa menjaga diri kok."
.....
.....
Alvin sudah sampai di sebuah pedesaan yang terlihat sangat asri. Butuh perjuangan untuk sampai disana, karena jalannya yang rusak. Alvin tampak menatap sekitar. Dia melihat ada pemukiman warga. Alvin meninggalkan mobilnya di pinggir jalan, lalu dia mendekati salah satu rumah warga. Kebetulan dia melihat seseorang yang sedang berdiri di depan rumah.
''Permisi, bolehkah saya bertanya?''
''Silakan!'' ucapnya ramah.
''Apa di sekitar sini ada penginapan?''
__ADS_1
''Maaf. tapi di kampung seperti ini tidak ada penginapan.''
''Mungkin ada rumah yang bisa saya sewa sementara, Pak. Saya ingin tinggal di kampung ini untuk beberapa hari ke depan.''
''Kalau boleh tahu mas ini siapa ya? Apa tujuan datang ke kampung ini? Kebetulan saya ini RT disini,'' ucapnya.
''Nama saya Alvin, dari Jakarta. Saya mau menawarkan kerja sama yang tentunya menguntungkan kita semua.''
''Kerja sama dalam bentuk apa itu?"'
Alvin tampak menjelaskan kerja sama yang ingin dia jalin. Pak RT mengerti dengan apa yang Alvin jelaskan. Pak RT juga mengajak Alvin ke rumahnya agar mereka bisa mengobrol lebih nyaman.
Alvin senang karena kedatangannya di terima di kampung itu. Dia juga di tawarkan Pak RT untuk mengontrak sebuah rumah yang kebetulan penghuninya sedang bekerja di luar negeri. Alvin menerima tawaran itu. Untuk beberapa hari ke depan dia bisa tinggal disana sekaligus menikmati suasana pedesaan yang begitu sejuk.
Alvin sudah membereskan semua barang bawaannya. Sekarang tinggal berkeliling kampung. Kedatangan Alvin di kampung itu tentu menjadi pusat perhatian. Apalagi para wanita di kampung tampak terpesona dengan melihat ketampanan wajah Alvin.
Alvin melihat seorang wanita hamil yang mirip dengan Nirmala ada di depan rumah paling ujung. Dia mencoba menghampiri wanita itu. Namun saat dia sampai di depan rumah itu, wanita itu sudah masuk ke dalam rumah. Alvin mencoba mengetuk pintu, namun tidak ada yang membukakan.
'Apa tadi hanya halusinasi saja,' batin Alvin. Dia memutuskan untuk pergi dari sana.
Sebenarnya yang Alvin lihat memang benar Nirmala. Nirmala tahu jika tadi ada lelaki yang mirip Alvin menatapnya dari kejauhan, jadi dia memutuskan untuk masuk ke dalam. Dia bersembunyi dan sengaja tak membukakan pintu saat Alvin mengetuk pintu rumah itu. Nirmala memang sedang sendirian, karena keluarga Doni sedang pergi ke rumah saudaranya di desa sebelah.
Nirmala masuk ke dalam kamar. Dia menutup rapat pintu kamarnya.
''Kenapa Mas Alvin ada di kampung ini? Apa dia mencariku? Ah aku tidak boleh terlalu percaya diri. Bisa saja yang aku lihat itu hanya seseorang yang mirip dengan Mas Alvin,' batin Nirmala.
Nirmala juga mengusap perutnya yang sudah tampak membuncit. Ya, bulan madu yang dia lakukan bersama Alvin kini membuahkan hasil. Kini dia sedang mengandung anak dari Alvin. Doni juga sudah tahu menyangkut kehamilan Nirmala. Doni sedikit kecewa karena tidak ada kesempatan untuknya memiliki Nirmala. Namun dia tetap pada tujuan awalnya yaitu menolong Nirmala. Mungkin untuk selamanya mereka memang hanya di takdirkan hanya untuk bersahabat.
Alvin kembali ke kontrakan yang dia tinggali. Namun sebelum itu dia pergi dulu ke rumah Pak RT. Karena ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.
Alvin mengetuk pintu rumah Pak RT. Tak lama, pintu itu terbuka juga.
''Eh Mas Alvin, ada apa lagi? Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu? Mari masuk!''
''Tidak usah, saya hanya sebentar kok. Begini,'' Alvin menghentikan ucapannya. Dia mengambil ponselnya dan membuka galeri. Dia memperlihatkan foto pernikahannya bersama Nirmala kepada Pak RT. ''Apa bapak tahu wanita ini?'' tanya Alvin.
''Oh dia itu mirip sama wanita hamil yang tinggal di rumah keluarga Doni.''
''Apa rumah yang paling ujung?''
''Benar, Mas. Mas Alvin mengenal wanita itu? Dia datang-datang hamil loh, banyak warga yang berpikiran buruk kepadanya. Mereka mengira jika wanita itu pacarnya Doni.''
''Dia istri saya yang selama ini saya cari.''
''Istri?"'
''Benar, dia Nirmala istri saya.''
''Harus di jaga loh istrinya, Mas. Apalagi banyak pemuda di kampung ini yang terang-terangan mengungkapkan cinta sama Neng Mala. Mereka tidak peduli degan status Neng Mala, namun mereka tahunya Neng Mala itu belum menikah, jadi banyak yang mengejarnya.''
''Benarkah?''
''Benar, Mas.''
__ADS_1
''Terima kasih infonya, Pak. Saya permisi dulu.''
''Tidak mau masuk dulu, Mas?''
''Tidak usah, Pak. Ini sudah sore, jadi saya akan langsung beristirahat,'' Alvin berpamitan kepada Pak RT, lalu dia pergi dari sana.
.....
.....
Malam harinya, Alvin mendatangi rumah paling ujung dimana Nirmala tinggal. Kedatangannya di sambut ramah oleh orang tua Doni.
''Maaf, tapi cari siapa ya?''
''Saya ingin bertemu Nirmala, Bu.'' ucap Alvin.
''Tapi kenapa ya mencari Nirmala? Ada urusan apa sama dia?'' Bu Nuning memang tak menerima sembarang tamu. Apalagi memang tak jarang pemuda yang datang kesana ingin menemui Nirmala. Hanya saja Nirmala selalu tak mau jika ada lelaki yang berniat menemuinya.
''Saya suaminya Nirmala,'' ucapnya.
''Suami?''
''Benar, ini saya punya foto pernikahan kami,'' Alvin memperlihatkan layar ponselnya kepada Bu Nuning.
Bu Nuning percaya jika lelaki yang berdiri di hadapannya ini suami Nirmala. Karena memang ada bukti berupa foto.
''Mari masuk!''
Alvin mengikuti Bu Nuning masuk ke dalam rumah.
Bu Nuning memanggil Nirmala yang berada di kamar.
Dengan langkah pelan, Nirmala menghampiri suaminya. Setelah sekian lama menahan rindu, akhirnya dia bisa juga bertemu dengan ayah dari anak yang dia kandung.
''Mas Alvin,'' ucapnya memanggil.
Alvin menoleh ke samping, melihat sosok wanita cantik yang selama ini di rindukan.
''Sayang, akhirnya kita bertemu,'' Alvin beranjak dari duduknya. Dia mendekati Nirmala lalu memeluknya.
Bu Nuning tersenyum melihat keduanya yang tampak sedang menyalurkan kerinduan melalui pelukan. Bu Nuning pergi ke belakang untuk membuatkan Alvin minum. Setelah mengantar minum, Bu Nuning membiarkan mereka berbicara berdua.
“Untuk apa Mas Alvin datang kesini?”
“Mas berniat membangun proyek disini. Sayang, kamu kembali ya sama Mas. Setelah kepergianmu, Mas sudah mencarimu ke luar kota. Bahkan meminta bantuan orang untuk mencarimu. Tapi Mas tidak menemukanmu. Dan sekarang akhirnya kita di pertemukan lagi, sayang. Itu berarti kita memang di takdirkan bersama.”
“Lalu bagaimana dengan Renita?”
“Mas dan Renita itu tidak mempunyai hubungan apa pun, sayang. Mas juga sudah meminta dia menjauh dari kehidupan keluarga kita. Mas mohon, kembalilah!” Alvin memegang ke dua tangan istrinya.
Nirmala tampak berpikir, jika saja dia tidak hamil, mungkin dia tidak akan semudah ini kembali dengan Alvin. Jadi sekarang dia memutuskan untuk kembali kepada Alvin demi anak yang dia kandung. Dia tidak mau jika anaknya lahir tanpa ayah.
“Baiklah, aku kasih kesempatan terakhir untuk Mas Alvin. Jika Mas Alvin berani bermain api, tidak akan ada lagi kesempatan dariku?”
__ADS_1
“Terima kasih, sayang. Mas janji akan selalu setia,” Alvin memeluk istrinya dengan perasaan bahagia.