
Alvin terusik dari tidurnya karena dia mendengar suara dari arah kamar mandi. Alvin menatap ke sumber suara. Dia mendengar istrinya yang sedang mual-mual.
''Sayang, kamu kenapa?'' Alvin beranjak dari atas tempat tidur. Dia pergi menghampiri istrinya.
Alvin sudah berada di dekat istrinya. Dia memegang tengkuk istrinya dan memijatnya pelan.
''Mas, tiba-tiba aku merasakan mual.''
''Memangnya kamu habis memakan apa, sayang?''
''Aku tidak makan apa-apa kok, Mas. Aku juga tidak tahu kenapa merasa mual sekali.''
''Nanti kita periksa ke dokter ya. Mas takut kamu kenapa-napa.''
''Aku tidak apa-apa kok, Mas. Mungkin hanya masuk angin saja. Nanti setelah minum obat, pasti sembuh.''
''Jangan minum obat sembarangan, sayang. Nanti kita tetap pergi periksa, tidak ada penolakan.''
''Baiklah, aku nurut saja sama Mas Alvin.''
Alvin memapah istrinya keluar dari kamar mandi. Dia menyuruh istrinya untuk berbaring di atas tempat tidur.
''Mas keluar dulu ya mau ambilkan minum. Oh iya kamu mau makan apa biar tidak mual lagi?''
''Aku mau buah apel saja, tapi yang sudah di kupas ya.''
''Kamu belum makan apa pun loh, jangan makan buah dulu. Nanti sakit perut loh.''
''Tapi aku tidak mau apa pun, Mas. Aku maunya buah apel.''
''Baiklah, sebentar ya Mas ambilkan dulu.''
''Terima kasih, Mas.''
''Sama-sama, sayang.'' Alvin berlalu pergi keluar dari kamar.
Sesampainya di dapur, Alvin meminta pembantunya untuk menyiapkan teh manis hangat dan juga buah apel yang sudah di potong. Sedangkan dia memilih duduk menunggu.
''Ini buah sama tehnya, Tuan.'' ucapnya sambil menaruh nampan di meja depan Alvin.
''Terima kasih, Bi.'' Alvin langsung saja membawa nampan itu, lalu dia pergi ke kamarnya.
Alvin membuka pintu kamar dengan satu tangan. Sedangkan tangan satunya memegang nampan yang dia bawa.
''Sayang, ini Mas bawakan buah apel permintaan kamu,'' ucap Alvin, sambil menutup kembali pintu kamarnya.
''Mana? Aku ingin sekali,'' NIrmala tampak menelan ludahnya sendiri.
''Sabar dong, sayang.''
Alvin menaruh nampan yang dia bawa ke atas nakas.
Nirmala langsung menyambar piring yang ada di atas nampan. Dia langsung memakan buah apel yang sudah di potong-potong kecil itu dengan lahap.
Alvin hanya memperhatikan istrinya. Dia senang melihat istrinya yang tampak menikmati buah apel dan tidak mual lagi.
__ADS_1
"Pagi-pagi makan buah, aneh sekali, sayang. Tidak biasanya kamu makan buah di pagi hari."
"Sedang ingin, Mas."
Nirmala sudah menghabiskan buah potong yang ada di dalam piring. Dia melirik suaminya yang duduk di pinggir ranjang.
''Mas, aku mau lagi dong buahnya,'' ucap Nirmala.
''Sayang, perut kamu masih kosong loh. Jangan terlalu banyak memakan buah. Lagian buah apelnya juga sudah habis.''
''Yang benar saja? Memangnya di kulkas sudah tidak ada?''
''Tidak ada, sayang. Kita kan belum belanja lagi.''
''Ya sudah, ayo kita belanja! Aku ingin buah apel lagi yang banyak. Sekalian nanti beli yang lain juga.''
''Baiklah, kita akan keluar sekarang. Nanti sekalian periksa kesehatan kamu. Mas khawatir jika kamu sakit.''
''Iya, Mas. Aku mandi dulu ya,'' Nirmala turun dari atas tempat tidur. Dia berlalu pergi menuju ke kamar mandi.
Alvin berinisiatif untuk mencarikan pakaian untuk istrinya. Dia mengambilkan pakaian lengan panjang untuk istrinya.
Beberapa menit kemudian, Nirmala keluar dari kamar mandi. Sekarang giliran Alvin yang membersihkan dirinya.
Nirmala mendekati tempat tidur. Dia melihat ada pakaian miliknya disana.
''Mas Alvin perhatian sekali sih sama aku,'' gumam Nirmala yang tampak senang.
Nirmala langsung mengenakan pakaian yang sudah di pilihkan oleh suaminya. Setelah mengenakan pakaian, dia sedikit memoleskan make up di wajahnya. Kali ini Nirmala tampak berbeda dari biasanya. Make up yang dia kenakan cukup mencolok. Sedangkan biasanya dia hanya memakai make up natural saja.
Alvin menatap sekitar, namun dia tidak melihat pakaian ganti untuknya. Tidak seperti biasanya istrinya melupakan untuk menyiapkan pakaian ganti untuknya.
''Sayang, kamu belum menyiapkan pakaian untuk Mas?'' tanya Alvin.
''Belum, Mas. Maaf ya aku lupa,'' Nirmala menoleh ke belakang, menatap suaminya. Dia memperlihatkan deretan gigi putihnya.
''Tidak apa-apa sih, Mas bisa ambil sendiri,'' Alvin mendekati lemari yang ada di kamar itu. Dia mengambil pakaian untuk dia kenakan.
Nirmala yang sudah selesai memakai make up, dia beranjak dari duduknya. Dia menghampiri suaminya yang sedang berpakaian.
''Biar aku bantu,'' Nirmala mengancingkan satu persatu kancing kemeja suaminya.
Setelah melihat suaminya berpakaian lengkap, Raisa menyuruh suaminya untuk duduk di kursi depan meja rias.
''Mas Alvin duduk dulu ya. Biar Mala bikin penampilan mas makin tampan,'' Nirmala menatap pantulan wajah suaminya dari cermin.
''Memangnya suamimu ini mau di apakan, sayang?''
''Tdak usah banyak tanya. Nanti juga tahu sendiri,'' Nirmala mengambil krim wajah yang ada di atas meja rias. Dia sedikit menaruhnya ke tangan, lalu mengoleskan ke wajah suaminya.
Alvin tampak tak nyaman memakai krim segala. Selama ini dia tidak pernah memakai krim seperti itu. Paling hanya pencuci muka saja.
''Sayang, jangan bilang kamu mau bedakin wajah Mas juga,'' Alvin menaruh curiga kepada istrinya. Apalagi sikap istrinya di pagi ini terlihat berbeda dari biasanya.
''Tidak, Mas. Aku hanya mau memakaikan krim wajah saja kok.''
__ADS_1
Nirmala sudah selesai mengoleskan krim ke wajah suaminya. Sejenak dia menatap wajah suaminya, dan sepertinya ada yang kurang. Nirmala menyambar lipstik warna pink muda, dengan merk terkenal yang biasa di pakai oleh artis-artis Korea.
Alvin menjauhkan wajahnya saat istrinya hendak memakaikan lipstik di bibirnya.
''Sayang, jangan aneh deh. Suamimu ini laki-laki bukan perempuan, jadi ngapain pakai lipstik segala?''
''Ini lagi hits loh. Mas Alvin tahu kan artis-artis korea itu selalu tampil keren. Aku ingin Mas Alvin juga dandan ala artis korea.''
''Tapi nanti di ketawain orang loh kalau pakai lipstik.''
''Tidak akan, Mas. Percaya saja sama istrimu.''
''Baiklah,'' Alvin hanya pasrah saja dengan istrinya.
Alvin menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Ternyata lumayan juga jika memakai make up. Wajahnya terlihat lebih bersinar dan terlihat seperti aktor korea.
Alvin dan Nirmala keluar dari kamar dengan beergandengan tangan. Mereka akan langsung pergi ke rumah sakit untuk periksa keadaan NIrmala. Sekalian nanti mereka akan mampir ke toko buah untuk membeli buah yang Nirmala inginkan.
''Sayang, kita sarapan dulu yuk!'' ajak Alvin.
''Tidak mau, Mas. Aku maunya makan di luar saja.''
''Baiklah, kalau begiru kita langsung pergi saja,.''
Alvin dan Nirmala menghampiri Pak Sanjaya yang sedang duduk sambil membaca koran.
''Pah, kita mau pergi dulu ya. Papah kalau mau sarapan duluan saja. Kebetulan Mala katanya ingin sarapan di luar,'' ucap Alvin.
''Memangnya kalian mau sarapan dimana? Jam segini belum ada restoran yang buka loh.''
''Ya gimana nanti, Pah.''
''Kalian hati-hati ya,'' ucap Pak Sanjaya.
''Siap,'' ucapp Alvin sambil mengacungkan satu jempolnya.
Alvin dan Nirmala sudah berada di dalam mobil. Alvin segera mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah.
Di tengah perjalanan, Nirmala menyuruh suaminya untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan, karena Nirmala melihat ada penjual kupat tahu di pinggir jalan.
''Mas, stop!'' pinta Nirmala.
Spontan Alvin menghentikan mobilnya.
''Kenapa, sayang?''
''Aku ingin beli kupat tahu. Ayo kita sarapan kupat tahu!'' ajaknya.
''Kamu yakin kita makan di pinggir jalan. Kalau makanannya tidak sehat nanti bagaimana?''
''Mala yakin kupat tahu itu sehat kok. Ayolah! Mala ingin sekali nih.''
''Baiklah jika itu mau kamu, sayang.''
Alvin melihat banyak keanehan di pagi ini. Mulai dari istrinya yang mual-mual. Lalu istrinya yang tiba-tiba memakan buah di pagi hari. Istrinya juga terlihat lebih sensitif dan keinginannya itu harus selalu terpenuhi.
__ADS_1