
Hari ini Pak Sanjaya sengaja mengadakan acara syukuran kecil-kecilan di rumahnya. Syukuran itu di tunjukan untuk memperingati kehamilan Nirmala. Pak Sanjaya begitu senang karena akhirnya sebentar lagi menimang cucu. Pak Sanjaya hanya mengundang saudara dan tetangga terdekat saja. Tidak ada siapa pun lagi yang di undang ke acara itu.
Terlihat Nirmala dan Alvin yang baru keluar dari kamar. Mereka berdua bergandengan tangan layaknya pengantin baru. Mereka menghampiri tamu yang sudah berdatangan dan mengucapkan terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk datang. Di acara itu hanya saling mengobrol dan makan bersama saja. Tidak ada acara lain lagi. Namun biar pun begitu, Nirmala merasa sangat senang. Karena Pak Sanjaya sudah repot-repot membuatkan acara untuknya.
Nirmala dan Alvin berbaur dengan para tamu yang datang. Nirmala terlihat ramah sekali kepada siapa pun. Itu juga yang membuat orang selalu menilai Nirmala yang mempunyai kepribadian baik dan tidak sombong walaupun sekarang sudah menjadi menantu di keluarga kaya raya.
"Mas, aku mau ambil minum dulu ya," ucap Nirmala kepada suaminya yang sedang mengobrol dengan tamu.
"Iya, sayang." Alvin memperlihatkan senyum manisnya.
Nirmala beranjak dari duduknya, lalu dia pergi mengambil minuman yang terhidang di atas meja. Saat Nirmala baru mengambil minuman itu, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari samping. Sehingga minuman yang Nirmala pegang tumpah ke bajunya. Karena baju yang dia kenakan berwarna putih, jadi terlihat jelas di bajunya.
"Maaf, Nona Mala. Saya tidak sengaja," ucap seorang lelaki tampan yang tak lain adalah keponakan Alvin yang bernama Rey.
"Iya, tidak apa-apa kok," Nirmala memang bukan sosok pendendam. Dia tidak marah sama sekali kepada Rey.
Alvin yang melihat istrinya sedang mengobrol dengan seorang lelaki, dia pergi menghampirinya.
"Sayang, kalian sedang mengobrolkan apa?" tanya Alvin.
"Kita tidak sedang mengobrolkan apa pun kok," kata Nirmala.
Tatapan Alvin tertuju ke pakaian istrinya yang terlihat basah dan ada noda warna dari minuman.
''Sayang, kenapa dengan pakaian kamu?'' tanya Alvin.
''Tadi terkena minuman, Mas.'' jawabnya.
''Maaf, Kak Alvin. Itu salahku yang tadi menabrak istri kakak sehingga pakaiannya basah,'' ucap Rey mengakui kesalahannya.
''Astaga, Rey. Lain kali hati-hati dong.''
__ADS_1
''Tidak apa-apa kok, Mas. Lagian aku bisa ganti pakaian kok,'' ucap Nirmala yang memang tak mau mempermasalahkannya.
''Tapi nanti kita tidak couple lagi dong kalau kamu ganti pakaian.''
''Tidak apa-apa, Mas. Yang penting sama-sama pakai baju.''
''Baiklah, mau mas antar ke kamar tidak?''
''Tidak usah, lebih baik Mas Alvin menemani tamu saja disini.''
''Ya sudah kalau begitu. Jangan lama-lama ya, sayang.''
''Oke, suamiku.'' Nirmala berlalu pergi menuju ke kamarnya. Begitu juga Alvin yang kembali duduk di tempat semula.
Dua jam telah berlalu.
Kini kediaman Pak Sanjaya sudah tampak sepi seperti semula. Alvin melihat istrinya yang tampak sibuk membantu pembantunya untuk membereskan ruang depan bekas acara syukuran.
''Sayang, kamu tidak usah beres-beres. Biar bibi saja yang bereskan semuanya,'' Alvin memegang tangan istrinya agar istrinya menghentikan aktivitasnya.
''Menurutlah dengan suamimu! Ayo kita ke kamar saja,'' Alvin menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya pergi ke kamar.
Sebenarnya Alvin tidak mau jika istrinya terlalu kecapean. Apalagi sekarang sedang hamil muda. Hanya saja terkadang istrinya itu tetap saja membantu pekerjaan rumah biarpun sudah dia larang.
Sesampainya di kamar, Alvin meminta istrinya untuk duduk di atas ranjang sambil menyenderkan kepalanya. Lalu dia juga duduk di pinggiran ranjang. Alvin memegang kaki istrinya dan mulai memijatnya.
''Mas, kenapa memijat aku?''
''Mas hanya ingin membuat kamu nyaman, sayang. pasti kamu kelelahan dan butuh pijatan.''
''Mas memang perhatian sekali sama Mala,'' Nirmala terlihat senang karena suaminya yang begitu perhatian.
__ADS_1
''Kamu segalanya untuk Mas,'' Alvin tampak tersenyum, dia melanjutkan lagi pijatannya.
Lama kelamaan Nirmala merasa mengantuk. Alvin berbicara kepada istrinya yang hendak memejamkan mata.
''Sayang, jangan tidur dulu! Ayo cuci muka, cuci kaki, cuci tangan. Setelah itu baru boleh tidur.''
''Iya deh, aku mengantuk sekali,'' Nirmala tampak menguap dan menutupi mulutnya dengan satu tangannya.
Alvin menemani istrinya ke kamar mandi. Sekarang perhatian dia lebih besar dari biasanya. Alvin sangat menjaga istrinya karena sedang hamil.
.......
.......
Semenjak hamil, Nirmala jadi lebih manja. Bahkan dia juga sering ikut pergi ke kantor bersama dengan suaminya. Dia juga tidak malu memamerkan kemesraannya walaupun di tempat umum. Alvin melihat banyak perubahan di diri istrinya. Yang biasanya pemalu, kini dia lebih berani.
Alvin sedang mengajak istrinya makan siang di sebuah restoran terkenal di ibukota. Kini keduanya sedang mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang.
''Sayang, Mas senang deh karena sekarang kamu tidak mual-mual lagi seperti sebelumnya. Apalagi porsi makan kamu yang bertambah membuat Mas senang. Itu artinya anak kita di dalam sana juga sehat-sehat saja seperti ibunya,'' kata Alvin.
''Memangnya Mas Alvin tidak malu jika nanti aku gendutan?''
''Tidak apa-apa, sayang. Yang penting kamu dan kandungan kamu baik-baik saja.''
Seseorang yang sedang duduk di belakang Alvin menghentikan makannya saat mendengar suara yang menurutnya familiar dari arah belakang. Dia yang tak lain adalah Cantika, menoleh ke belakang. Dia melihat Alvin dan Nirmala yang sedang duduk membelakanginya. Ya, Alvin dan Nirmala tidak berhadap-hadapan, namun mereka bersebelahan. Karena memang Nirmala yang sedang manja, ingin terus berada di samping suaminya.
'Anak, jadi Nirmala sedang hamil. Aku tidak boleh membiarkan mereka terus berbahagia,' batin Cantika sambil tersenyum menyeringai. Dia akan menyusun rencana untuk memisahkan Nirmala dan Alvin, entah bagaimana pun caranya.
Cantika tetap disana walaupun dia sudah selesai makan. Dia akan mendengarkan lagi apa yang akan Alvin dan Nirmala bicarakan.
Tak lama, dia geram saat mendengar kemesraan mereka.
__ADS_1
''Sayang, buka mulutmu! Biar Mas suapin kamu,'' kata Alvin.
Mereka berdua terus berkata mesra sehingga membuat Cantika merasa muak. Cantika beranjak dari duduknya lalu dia pergi dari sana.