Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Episode.58


__ADS_3

Saat ini Alvin dan Nirmala sedang bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun dari rekan bisnis Alvin. Mereka berdua terlihat serasi dengan mengenakan pakaian dengan warna senada. Perut buncit Nirmala sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.


''Sayang, sudah selesai belum?'' Alvin menatap istrinya yang sedang berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya.


''Sudah, Mas. Tapi Mala kok tidak percaya diri ya.''


''Kamu sudah cantik kok, harus percaya diri dong.''


''Mala tidak percaya diri dengan perut Mala yang besar. Pasti nanti wanita di pesta itu langsing-langsing lebih cantik dari Mala.''


''Tidak ada yang lebih cantik dari kamu, sayang.''


''Baiklah, kalau menurut Mas Alvin sudah cantik, berarti kita langsung pergi saja.''


Alvin mendekati istrinya, dia memegang tangan istrinya lalu menggandengnya. Mereka berdua segera pergi.


''Mas, kadonya sudah kamu siapkan belum?''


''Sudah, sayang. Kadonya ada di mobil kok.''


Mereka hendak berpamitan kepada Pak Sanjaya. Namun ternyata Pak Sanjaya sedang tidak berada di rumah. Jadi mereka hanya berpesan kepada pembantunya.


Saat ini Keduanya sudah sampai di tempat acara. Terlihat begitu indah pesta yang di adakan di pinggir danau ini. Nirmala merasa senang berada disana. Apalagi suasananya sangat cocok untuknya.


''Mas, kamu suka tidak berada di tempat seindah ini?''


''Suka sekali, sayang. Nanti kalau kamu ulang tahun, kita bikin pesta di pinggir danau juga yuk.''


''Tidak mau, Mala ingin pesta di pinggir pantai.''


''Wah sepertinya itu lebih seru, sayang.''


Alvin mengajak istrinya untuk menyapa pemilik pesta dan memberinya selamat. Dia juga mengajak istrinya untuk menyapa beberapa rekan bisnisnya yang juga datang disana.


Nirmala tampak bosan duduk di dekat suaminya yang asyik mengobrol dengan rekan bisnisnya. Sedangkan Nirmala mau mengobrol pun bingung karena dia tak mengerti bisnis. Jadi lebih baik diam saja dari pada berbicara tapi malah nanti salah ucap. Namun yang pasti Nirmala harus menjaga nama baik suaminya di depan mereka. Jadi sebisa mungkin dia bersikap yang sopan dan terkesan elegan.


''Mas, Mala mau ambil minum dulu ya,'' ucap Nirmala kepada suaminya.


''Mas antar ayo!''


''Tidak usah, Mas. Kamu kan sedang mengobrol,'' Nirmala merasa tak enak.


''Tidak apa-apa, sayang. Yang terpenting itu kamu,'' ucap Alvin.


Alvin berpamitan kepada rekan bisnisnya, jika dia akan pergi sebentar menemani istrinya.

__ADS_1


Sekarang Alvin tidak bisa membiarkan istrinya sendirian. Istrinya harus selalu ada di dalam jangkauannya. Dia tidak mau kejadian yang telah lalu terulang lagi.


Cukup puas mereka berada di pesta itu. Apalagi Nirmala yang sejak tadi mengambil foto. Dia sangat menyukai suasana di pesta itu.


''Mas, kita pulang yuk!''


''Katanya kamu suka berada disini, kok minta pulang cepat?''


''Aku lelah, ingin istirahat.''


''Baiklah, sayangku. Ayo kita pamitan dulu sama yang punya pesta.''


Saat ini Alvin dan Nirmala berada di perjalanan pulang. Mereka saling mengobrol, namun tak lama hanya Alvin saja yang terus mengoceh sendirian. Sedangkan Nirmala tampak tak bersuara. Alvin menoleh ke samping menatap istrinya. Ternyata istrinya sudah tertidur. Pantas saja sejak tadi dia berbicara tidak ada sahutan.


''Kasihan sekali bumilku kecapean,'' Alvin mengusap pelan perut istrinya.


Sesampainya di rumah pun, Nirmala masih terlelap dalam tidurnya. Alvin tak tega jika membangunkannya. Jadi dia memutuskan untuk menggendong Nirmala sampai ke dalam rumah.


Alvin sudah sampai di kamar. Dia membaringkan istrinya ke atas kasur.


''Tidur yang nyenyak ya, sayang. Mas mau mandi dulu,'' Alvin mengusap pelan wajah cantik istrinya, lalu dia berlalu pergi menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya.


Nirmala terbangun dari tidurnya. Dia menatap sekelilingnya, ternyata dia sudah berada di dalam kamar. Lalu tatapannya beralih ke arah kamar mandi. Dia mendengar gemercik air. Sepertinya suaminya sedang mandi.


Tak lama, Alvin keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja untuk menutupi tubuh polosnya. Dia melihat istrinya yang sedang duduk di atas ranjang.


''Iya nih, Mas. Ayo kita keluar!''


''Mau kemana, sayang? Katanya kamu lelah ingin istirahat, kok sekarang minta keluar.''


''Mala ingin makan di restoran, Mas. Lagian sudah tidur jadi sudah tidak lelah lagi.''


''Baiklah, istri cantikku. Kamu mau mandi dulu tidak?''


''Tidak usah, Mala mau cuci muka saja sama ganti pakaian.''


Beberapa menit kemudian, kini keduanya sudah bersiap untuk pergi. Nirmala meminta untuk pergi ke restoran langganan mereka yang biasa mereka datangi.


Sesampainya di restoran, ternyata suasana di restoran tak terlalu ramai. Jadi Nirmala bebas mau duduk dimana.


Dengan tidak sabaran Nirmala mengambil daftar menu yang ada di atas meja. Dia tampak memilih beberapa menu yang hendak dia pesan. Dia memanggil pelayan dan tak lama ada seorang pelayan wanita yang menghampiri mereka. Nirmala mulai menyebutkan menu yang akan dia pesan.


''Mas, kamu mau pesan apa?'' Nirmala bertanya kepada suaminya.


''Nasi sama ayam bakar saja, sayang. minumnya sama seperti kamu.''

__ADS_1


Pelayan itu mulai mencacat pesanan Alvin, lalu segera pergi dari sana.


Nirmala menatap kanan kirinya. Kedua matanya berbinar saat melihat seorang lelaki botak yang sedang asyik makan sendirian. Lalu senyum mengembang di sudut bibirnya.


''Sayang, kamu tersenyum ke siapa?'' Alvin menatap ke arah pandang istrinya. Ternyata istrinya sedang memperhatikan lelaki botak yang sedang asyik makan.


''Mas, sepertinya Mala ngidam deh.''


''Ngidam apa? Kamu mau apa, sayang? Biar Mas turuti semua kemauan kamu.''


''Mas lihat tuh lelaki botak itu. Mala ingin Mas Alvin mengusap kepalanya. Ih menggemaskan sekali deh,'' Nirmala tampak membayangkan sambil senyum-senyum sendiri.


''Astaga, yang benar saja? Nanti Mas kena marah loh.''


''Jadi mas Alvin tidak mau menuruti kemauan Mala. Baiklah kalau begitu Mala tidak mau berbicara sama Mas Alvin,'' Nirmala memperlihatkan ekspresi merajuk.


''Bukan seperti itu, sayang. Baiklah, Mas akan mengusap kepala botak itu,'' dengan ragu-ragu Alvin beranjak dari duduknya. Dia mendekati lelaki berkepala botak yang sedang duduk tak jauh dari tempat mereka duduk.


''Permisi, Mas. Saya mau mengusap kepalanya sebentar. Istri saya sedang mengidam,'' ucap Alvin. Tanpa menunggu persetujuan dia langsung mendaratkan tangannya di atas kepala botak itu.


Tentu lelaki itu murka. Dia beranjak dari duduknya lalu menampar wajah Alvin.


''Apa-apaan ini, jangan macam-macam ya sama saya,'' tatapannya terlihat menajam menahan amarah.


''Maaf, Pak. Tapi saya terpaksa melakukan itu karena istri saya sedang mengidam.''


''Bilang dong dari tadi?''


''Maaf, Pak. Tapi tadi saya juga sudah bilang.''


''Kapan? Saya tidak mendengarnya?''


''Benar, Pak. Tadi saya sudah bilang.''


''Saya tidak mendengarnya.''


Nirmala tertawa melihat suaminya di marahi oleh lelaki botak itu. Baginya suaminya terlihat lucu.


Alvin meminta maaf kepada lelaki itu, karena dia sudah lancang memegang kepalanya. Lalu dia kembali menghampiri istrinya.


Alvin melihat istrinya yang masih tertawa.


''Sayang, kamu kok bahagia sekali melihat penderitaan suamimu?''


''Mas Alvin lucu loh tadi, bikin Mala ingin terus tertawa.''

__ADS_1


Alvin hanya diam, dia tak mau berkomentar apa pun kepada istrinya, karena takut jika istrinya tersinggung.


__ADS_2