Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Episode.42


__ADS_3

Alvin keluar dari vila. Dia berniat untuk mengikuti tetangga sebelah yang terlihat sangat mencurigakan.


Saat ini Alvin sudah berada di dalam mobil. Dia mengikuti mobil tetangganya yang berada di depannya. Sekitar satu jam perjalanan, Alvin melihat mobil itu berhenti di depan penginapan. Alvin melihat ketiga orang keluar dari mobil. Namun anehnya seorang wanita di tarik oleh dua orang itu. Alvin turun dari mobil, lalu menghampiri mereka. Takutnya mereka itu orang jahat yang berniat untuk mencelakakan wanita yang mereka tarik dengan kasar.


''Hei, tunggu!'' ucap Alvin dari arah belakang mereka.


Mereka bertiga menoleh ke belakang. Nirmala merasa senang saat melihat suaminya datang. Dia mencoba melepaskan tangannya yang di cekal oleh Cantika dan Leo.


''Nirmala, ini benaran kamu, sayang,'' Alvin berniat mendekati mereka, namun Leo menghalanginya.


''Jangan mendekat, atau kami akan menghabisinya,'' ucap Leo mengancam Alvin.


''Lepaskan istri saya!'' pinta Alvin. Dia mendekati Leo dan langsung memukulnya. Sekarang di antara keduanya terjadi perkelahian.


Nirmala tidak bisa berteriak minta tolong, karena mulutnya di lakban oleh mereka.


Untung saja Alvin berhasil memenangkan perkelahian itu. Dia membuat Leo tak berdaya untuk melawanya lagi.


Melihat Leo yang tak bisa melawan lagi, Cantika pergi dari sana. Alvin hendak mengejarnya, namun tak jadi karena dia lebih mementingkan keselamatan istrinya.


''Canti, awas kau,'' Alvin hendak melangkah pergi mengejar Cantika, namun tak jadi. Dia berbalik arah dan mendekati istrinya. Alvin melepaskan tali yang mengikat di tangan istrinya. Lalu dia juga membuka lakban yang menutupi mulut istrinya.


''Mas, aku takut sekali,'' Nirmala langsung saja memeluk suaminya detik itu juga.


Alvin merasakan tubuh istrinya yang tampak gemetar. Dia mengira jika istrinya pasti trauma dengan kejadian penculikan ini.


''Sayang, kamu tenang saja ya. Mas sudah disini kok.''


''Tapi aku takut jika Cantika kembali menculikku. Dia dendam kepadaku dan mengira jika aku merebut Mas Alvin darinya.''


''Tidak ada yang merebut, sayang. Kamu jangan dengarkan perkataan dia ya,'' ucap Alvin, sambil melepaskan pelukannya.


''Ayo kita pulang!'' pinta Nirmala.


''Sekarang sudah malam, sayang. Lebih baik kita kembali ke vila saja. Besok pagi baru kita pulang.''


''Tapi aku takut jika di culik lagi.''


''Kamu tenang saja, sayang. Mas akan menjaga kamu dan tak membiarkan orang lain untuk menculikmu lagi, apalagi dia Cantika.''


Alvin menggandeng tangan istrinya. Mereka pergi ke mobil.


Sepanjang perjalanan, Nirmala terus memegang satu tangan suaminya. Alvin mengusap tangan istrinya dan meyakinkannya jika dia akan baik-baik saja.


Sesampainya di vila, Nirmala terus menempel kepada suaminya. Alvin tak mempermasalahkan itu. Dia malah merasa senang melihat istrinya yang terus menempel kepadanya. Hingga sampai di kamar pun, Nirmala masih memegang tangan suaminya.


"Sayang, lepaskan dulu ya tangan Mas. Kebelet nih, mau ke toilet," ucap Alvin.


"Aku ikut, Mas."

__ADS_1


''Cuma sebentar kok, sayang. Kamu tunggu disini ya. Lagian pintu kamar juga sudah Mas kunci.''


''Tidak mau, aku mau ikut,'' Nirmala bersikeras untuk ikut.


''Baiklah, ayo sayang!'' Alvin melangkah memasuki kamar mandi, begitu juga dengan Nirmala.


Beberapa menit kemudian keduanya keluar dari kamar mandi.


''Sayang, kamu lapar tidak? Kalau lapar biar Mas masakan buat kamu.''


''Boleh, memangnya Mas Alvin bisa memasak?''


''Bisa dong, sayang. Mas akan memasak nasi goreng spesial untuk kamu.''


Alvin mengajak istrinya keluar dari kamar. Mereka pergi ke dapur. Alvin menarik kursi yang ada di ruang makan. Dia menyuruh istrinya duduk disana. Sedangkan dia pergi ke dapur untuk memasak.


Nirmala merasa aneh karena hanya dalam hitungan menit, suaminya sudah membawa nasi goreng ke hadapannya.


''Mas, kamu masak apaan sih? Kok cepat sekali?'' tanya Nirmala.


''Hehe maaf, sayang. Mas hanya berpura-pura bisa masak. Padahal ini nasi goreng pesan tadi dan Mas hangatkan kembali.''


''Ih Mas Alvin membohongiku,'' Nirmala memukul lengan suaminya.


''Pasti kamu berharap jika suamimu ini bisa memasak ya, biar setiap hari kamu tidak usah memasak untuk Mas.''


''Sudah bisa Mas tebak. Ayo kita makan sama-sama,'' Alvin duduk di samping istrinya Dia mengambil sendok dan mulai melahap nasi goreng itu. Sengaja dia makan sepiring berdua agar terlihat lebih romantis.


.......


........


Pak Sanjaya yang baru pulang dari kantor, melihat mobil anaknya berhenti di halaman rumah. Kebetulan selama Alvin pergi, Pak Sanjaya sendiri yang menggantikan mengurus pekerjaan Alvin di kantor.


Pak Sanjaya melihat anak dan menantunya keluar dari mobil, lalu menghampirinya.


''Kalian kok sudah pulang?'' tanya Pak Sanjaya.


''Iya, Pah. Kita sengaja mempercepat kepulangan kita karena kemarin Mala mengalami insiden penculikan,'' ucap Alvin.


''Siapa yang menculik Mala?''


''Cantika yang menculiknya,'' jawab Alvin.


''Papah tidak menyangka jika Cantika bisa berbuat seperti itu. Tapi kamu tidak apa-apa kan, Nak?'' Pak Sanjaya bertanya kepada Nirmala.


''Mala tidak apa-apa kok, Pah. Hanya sedikit trauma saja. Jadi Mala minta untuk pulang lebih cepat.''


''Syukurlah jika kamu tidak apa-apa. Vin, ajak Mala masuk ke dalam!'' pinta Pak Sanjaya.

__ADS_1


''Iya, Pah.'' Alvin menggandeng tangan istrinya, lalu mereka melangkah memasuki rumah. Sedangkan Pak Sanjaya berjalan di belakang mereka.


Alvin dan Nirmala langsung pergi ke kamar. Mereka akan membersihkan diri sekalian istirahat.


Sejak tadi Nirmala hanya rebahan saja di atas kasur, dan itu membuatnya bosan. Nirmala melihat pintu yang menuju balkon terbuka. Dia beranjak dari duduknya, lalu pergi ke balkon. Nirmala melihat suaminya sedang duduk bersantai sendirian.


''Mas, aku kok tidak melihat kamu keluar?''


''Kamu yang terlalu fokus memainkan ponsel, sayang. Jadi tidak melihat suamimu yang tampan ini keluar dari kamar.''


“Wah suami tampan. Mas Alvin pintar sekali memuji diri sendiri.''


''Tapi memang benar kan kalau Mas ini tampan.''


''Iya sih, Mas Alvin memang tampan kok.''


Nirmala masih terus mengobrol dengan suaminya. Alvin merasa senang karena rasa trauma pada diri istrinya sepertinya mulai berkurang. Buktinya istrinya sudah tidak terus memegang tangannya dan dekat-dekat dengannya.


''Mas, kepalaku kok mendadak pusing ya,'' ucap Nirmala disela-sela obrolannya.


''Kamu sakit, sayang?'' Alvin memegang kening istrinya namun tidak terasa panas.''


''Aku juga tidak tahu.''


''Kita masuk saja yuk! Kamu tiduran saja biar pusingnya mereda,'' Alvin memegang tangan istrinya. Dia menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya masuk ke kamar.


Alvin mengarahkan istrinya untuk tiduran di tas kasur. Lalu dia kembali menutup pintu yang menuju balkon.


''Sayang, kamu mau teh hangat atau air putih mungkin, biar Mas ambilkan.''


''Teh hangat saja deh. Maaf ya aku merepotkan.''


''Tidak kok, sayang. Kamu sama sekali tidak merepotkan.''


Alvin mengusap sebentar pipi istrinya, lalu dia keluar dari kamar.


Alvin sudah kembali ke kamar dengan membawa teh hangat untuk istrinya.


''Sayang, ini di minum dulu ya,'' Alvin mengarahkan istrinya untuk meminum teh itu.


''Terima kasih ya, mas.''


''Sama-sama, sayang. Sekarang kamu istirahat ya. Tadi Mas sudah meminta bibi untuk membuatkan bubur untuk kamu.''


''Kok bubur sih? Aku tidak sakit, jadi tidak perlu makan bubur.''


''Menurut saja, sayang. Biar kamu cepat pulih juga.''


''Baiklah.''

__ADS_1


__ADS_2