Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Bab 78 ( Firasat Buruk )


__ADS_3

Keesokan paginya Kevin langsung menelpon Kirana untuk menyuruhnya supaya datang ke Rumah Sakit.


📞"Assalamu'alaikum Kak, bagaimana keadaan Daddy, Daddy baik baik saja kan?" tanya Kirana saat mengangkat telpon dari Kevin. Perasaaan Kirana merasa tidak enak sejak semalam, karena Kirana terus saja memikirkan kondisi sang Ayah.


📞"Wa'alaikumsalam De. Daddy baik-baik saja sayang, bahkan sekarang kondisi Daddy semakin membaik. Oh iya, Kirana dan Radit bisa datang ke Rumah Sakit kan? Daddy katanya ingin sekali bertemu dengan Tuan Putri."


📞"Alhamdulillah kalau kondisi Daddy sudah semakin membaik, Kakak gak salah dengar kan kalau Daddy meminta Radit untuk ikut ke Rumah Sakit juga?" tanya Kirana yang masih tidak percaya dengan permintaan Daddy Wijaya.


📞"Masa Kakak bohong sih De, semoga saja Daddy sudah bisa merestui hubungan kalian berdua ya," ujar Kevin yang di Amini oleh Kirana, kemudian sambungan telpon pun terputus.


Apa mungkin Daddy akan semudah itu merestui hubungan kami? kenapa hatiku rasanya tidak enak seperti ini, semoga saja semuanya akan baik-baik saja, dan Daddy benar-benar merestui kami tanpa meminta persyaratan apa pun, ucap Kirana dalam hati.


Sesaat kemudian Radit yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi memeluk tubuh Kirana dari belakang.


"Sayang, kenapa Bunda melamun terus?" tanya Radit dengan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kirana.


"Yah, barusan Kak Kevin telpon, katanya Daddy menyuruh kita untuk datang ke Rumah Sakit," jawab Kirana.


"Harusnya Bunda seneng dong karena Daddy mau menemui kita," ujar Radit.


"Entah kenapa hati Bunda rasanya gak enak Yah, Bunda mempunyai firasat buruk. Bunda takut Daddy mempunyai sebuah permintaan sebagai syaratnya, karena Bunda tau betul sifat Daddy yang tidak akan mudah memaafkan begitu saja."


"Kita jangan berburuk sangka dulu sayang, semoga saja Daddy memang sudah benar-benar merestui hubungan kita, tapi jika Daddy mempunyai sebuah permintaan, Ayah akan berusaha untuk mengabulkannya supaya bisa menebus semua kesalahan yang telah Ayah perbuat. Ya sudah kalau begitu sekarang kita siap-siap dulu. Bunda mandi dulu gih," ujar Radit, tapi entah kenapa langkah Kirana terasa berat untuk lepas dari pelukan Radit, sehingga Kirana terus saja memegangi tangan Suaminya tersebut.

__ADS_1


"Bunda kenapa sih pegangin tangan Ayah terus, sekarang masih pagi lho," ujar Radit dengan terkekeh.


Kirana sampai menghela nafas panjang supaya hatinya bisa sedikit lebih tenang, kemudian Kirana melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Radit sebenarnya hanya berusaha untuk bersikap baik-baik saja di depan Kirana supaya Kirana tidak terlalu khawatir, karena pada kenyataannya perasaan Radit juga mengalami hal yang sama, dan setelah Kirana masuk ke dalam kamar mandi Radit sampai meneteskan airmata karena dia juga merasa takut jika harus berpisah dengan Kirana dan juga Kaisar.


Ayah juga sebenarnya takut jika harus berpisah dengan kalian, tapi suatu kesalahan sudah pasti akan mendapatkan sebuah hukuman, dan mungkin sebentar lagi Ayah akan menerima hukuman itu, ucap Radit dalam hati.


Satu jam kemudian, Kirana dan Radit sudah siap untuk berangkat, Kirana juga sudah memompa beberapa botol Asi untuk stok.


"Ma, maaf ya Kirana sudah merepotkan Mama karena kami tidak bisa membawa Kaisar," ucap Kirana kepada Mama Sarah.


"Sayang, kenapa Kirana berkata seperti itu? Kaisar itu kan Cucu Mama, malah Mama seneng karena gak kesepian lagi. Kaisar juga Anaknya gak rewel, semalam saja Kaisar tidur sama Mama, gak sampai nyariin kalian. Ya sudah sekarang kalian berangkat saja, pokoknya jangan terlalu mengkhawatirkan Kaisar," ujar Mama Sarah.


Sepanjang perjalanan, Kirana terus saja memegang tangan Radit, dan saat ini Kirana menyandarkan kepalanya pada bahu Radit, sehingga sesekali Radit mencium kening Kirana serta mengelus kepalanya.


Saat ini Radit dan Kirana telah sampai di Parkiran Rumah Sakit Wijaya Grup, tapi Kirana dan Radit sama-sama enggan turun dari mobil, dan setelah beberapa kali mengembuskan nafasnya secara kasar, Radit akhirnya angkat suara.


"Sayang, apa pun yang terjadi, kita harus bisa menghadapinya, kita tidak akan selamanya bisa lari dari masalah, karena masalah bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi. Sekarang kita baca Basmalah dulu ya sebelum menemui Daddy, semoga semuanya baik-baik saja," ujar Radit yang di Amini oleh Kirana.


Dengan langkah berat pada keduanya, mereka akhirnya melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah sakit.


Semua mata kini menatap Radit yang menggandeng Kirana, karena semuanya tau kalau Radit adalah Suami dari Yolanda, tapi baik Radit atau pun Kirana tidak memperdulikan tatapan tajam dari semua orang, sampai akhirnya langkah mereka terhenti oleh Dokter kepo dan sombong yang bernama Ana.

__ADS_1


"Dokter Radit, Saya tidak pernah menyangka ya jika Dokter Radit sudah mengkhianati Dokter Yolanda dengan perempuan gak jelas seperti dia," ujar Dokter Ana dengan tatapan sinis terhadap Kirana.


Dokter Ana mengira jika Kirana adalah seorang perempuan murahan, karena saat itu Dokter Ana melihat Kenzo yang juga menggandeng Kirana.


"Jaga mulut Anda Dokter Ana, sepertinya Anda belum tau kalau perempuan yang berada di samping Saya adalah Istri saya, karena saya dan Yolanda sudah bercerai," ujar Radit.


"Oh, jadi dia seorang Pelakor ya, pantas saja mau digandeng oleh banyak lelaki," sindir Dokter Ana.


Kirana yang saat ini sedang tidak baik-baik saja akhirnya merasa terpancing emosi oleh Dokter Ana, sampai akhirnya Kirana menampar keras pipi Dokter Ana.


Plak


Satu tamparan keras kini mendarat pada pipi Dokter Ana, dan Dokter Ana yang tidak terima berusaha untuk membalas tamparan Kirana, tapi Kirana memegang pergelangan tangan Dokter Ana ketika hendak melayangkan sebuah tamparan juga kepadanya.


"Jangan bicara sembarangan kalau Anda tidak tau apa-apa, dan jangan menganggap rendah oranglain karena Anda sendiri lebih rendah dari Saya," tegas Kirana.


"Apa maksud kamu berbicara seperti itu?" tanya Dokter Ana.


"Apa Anda tau siapa Tuan Puteri keluarga Wijaya, sekaligus Adik kesayangan dua Tuan muda keluarga Wijaya yang saat ini sedang Anda kejar-kejar?" tanya Kirana, dan Dokter Ana tidak menjawab pertanyaan Kirana karena memang dia tidak tau, sebab wajah Kirana selalu ditutupi jika masuk dalam berita, supaya saingan bisnis keluarga Wijaya tidak ada yang mengenalinya dan berbuat jahat kepada Kirana.


"Perkenalkan Nama Saya Kirana Putri Wijaya, Anak dari Pemilik Rumah Sakit tempat Anda bekerja," jelas Kirana dengan menghempaskan tangan Dokter Ana, kemudian menggandeng Radit, dan meninggalkan Dokter Ana yang saat ini terlihat syok setelah mendengar perkataan Kirana.


"Tidak mungkin, tidak mungkin dia Anak dari Tuan Wijaya. Sekarang aku akan benar-benar dipecat dari Rumah Sakit ini karena sudah berani mengusik Tuan Putri kesayangan keluarga Wijaya," gumam Dokter Ana, kemudian menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas, sampai akhirnya Dokter Ana pun pingsan.

__ADS_1


__ADS_2