Kesucian Yang Ternoda

Kesucian Yang Ternoda
Bab 76 ( Akhir dari kesombongan )


__ADS_3

Dokter Ana merasa geram terhadap orang yang bertabrakan dengannya, sehingga Dokter Ana yang memang selalu bersikap sombong, langsung saja memarahi orang tersebut.


"Kalau jalan tuh pake mata, gak lihat apa aku jadi jatuh gara-gara kamu, kamu tau gak kalau aku adalah Dokter di Rumah Sakit ini," ujar Dokter Ana dengan sombongnya.


"Maaf Nona, saya tidak sengaja, bukannya Anda yang tadi sudah berlari sampai akhirnya menabrak saya?" ujar perempuan paruh baya yang bertabrakan dengan Ana.


"Kamu tidak tau ya kalau Aku adalah Calon Menantu dari Pemilik Rumah Sakit ini? kamu pasti pernah mendengar keluarga Wijaya kan? dan Aku pasti akan menikah dengan salah satu Tuan muda dari keluarga Wijaya," ujar Ana dengan tersenyum licik.


"Maaf Nona, sebaiknya kalau Anda berbicara terhadap seseorang yang lebih tua, berbicaralah dengan sopan."


"Memangnya siapa kamu, berani menceramahiku? orangtuaku sendiri saja tidak pernah menegurku," tanya Ana dengan sikap sombongnya.


"Beliau adalah Ibu kandung saya," jawab Kevin dengan lantang, sehingga mata Ana membulat sempurna dan jantung Ana rasanya mau copot saat mendengar perkataan Kevin.


"A_apa, jadi dia adalah Nyonya Wijaya?" tanya Ana dengan suara tergagap, dan rasanya Ana ingin sekali menggali lubang untuk dia bersembunyi karena malu.


Kamu bodoh sekali Ana, kamu sudah bersikap sombong terhadap Nyonya Wijaya, sudah pasti sekarang aku tidak akan mendapatkan Kenzo atau pun Kevin, karena Nyonya Wijaya pasti tidak akan merestuinya, mungkin juga aku akan berakhir dengan dipecat dari rumah sakit ini, ucap Ana dalam hati dengan tubuh yang sudah terasa lemas.


"Benar, Beliau adalah Pemilik Rumah Sakit ini, dan saya tidak pernah menyangka jika seorang Dokter yang berpendidikan seperti Anda bisa berbicara kasar terhadap orang yang lebih tua," ujar Kevin dengan tersenyum mengejek.


"Maaf Nyonya, Saya tidak tau kalau Anda adalah Pemilik Rumah Sakit ini," ujar Ana dengan tertunduk malu.


"Seharusnya terhadap siapa pun itu Anda harus bersikap hormat Nona, terlebih lagi kepada orang yang lebih tua. Oh iya Kak, apa Kakak kenal dengan Dokter ini, soalnya tadi dia bilang mau menikah dengan salah satu Tuan muda dari keluarga Wijaya, kalau dia calon istri Abang tidak mungkin karena Abang sudah mempunyai calon istri, berarti dia calon istri Kakak dong?" tanya Mommy Santi.


"Kakak tidak kenal sama dia Mom, mungkin dia hanya mengaku-ngaku sebagai istri Kakak saja. Mommy tau sendiri kan kalau selama ini banyak yang mengaku-ngaku sebagai calon istri Kakak? dan mungkin dia adalah salah satunya," jawab Kevin, sehingga membuat Dokter Ana semakin merasa malu.

__ADS_1


"Bagus deh kalau bukan Calon Istri Kakak, soalnya Mommy tidak akan pernah merestui Anak-anak Mommy menikahi perempuan yang sombong," ujar Mommy Santi kemudian mengajak Kevin menuju ruang IGD, dan meninggalkan Dokter Ana yang masih terlihat syok.


Setelah jauh dari Dokter Ana, Kevin kembali angkat suara.


"Mom, dia adalah Dokter yang Kakak ceritakan di telpon tadi, Kakak juga gak suka dengan perempuan seperti itu, makanya Kakak minta ditemenin supaya dia gak gangguin Kakak terus."


"Bagus deh kalau Kakak gak suka perempuan seperti dia, Mommy juga gak suka orang sombong, apalagi sampai ngejar-ngejar lelaki, kayak gak punya harga diri saja."


"Iya Mom, lagian Kakak juga sudah mempunyai seseorang untuk Kakak jadikan Istri. Gak apa-apa kan kalau Calon Istri Kakak bukan berasal dari kalangan orang kaya dan dia juga tidak berpendidikan serta Anak Yatim Piatu?" tanya Kevin dengan malu-malu.


"Sejak kapan Anak Mommy tau-tau udah punya Calon Istri? siapa nama perempuan yang sudah mencuri hati Kakak?" Mommy Santi kini balik bertanya.


"Sejak Kakak berangkat ke Sukabumi Mom, dia bernama Tita, dan dia adalah Karyawan di Penginapan milik Kirana," jawab Kevin.


"Makasih banyak ya Mom atas dukungannya," ujar Kevin.


"Sudah seharusnya sebagai orangtua Mommy mendukung semua Anak-anaknya selama itu tentang kebaikan. Terus kapan Kakak akan memperkenalkan Tita dengan keluarga Wijaya?" tanya Mommy Santi.


"Nanti setelah masalah Bang Kenzo dan Kirana selesai Mom. Kasihan juga mereka karena belum mendapatkan restu dari Daddy," jawab Kevin.


"Iya Nak, Mommy juga kasihan sama mereka. Daddy pasti masih kecewa terhadap Radit, begitu juga dengan Abang. Semoga saja Daddy segera membuka mata hatinya, apalagi saat ini sudah ada Kaisar dan Aurora yang mengharapkan kedua orangtuanya bersatu.


......................


Saat ini Kirana masih terlihat melamun semenjak kepulangannya dari Rumah Sakit.

__ADS_1


"Sayang, Ayah tau kalau Bunda sedang tidak baik-baik saja, dan Ayah meminta maaf atas semua itu," ujar Radit dengan memeluk tubuh Kirana dari belakang.


Kirana kini membalikan tubuhnya kemudian menatap lekat wajah Radit.


"Kenapa Ayah meminta maaf terus sama Bunda? yang membuat kesalahan bukan hanya Ayah saja, tetapi kita berdua." Walaupun sebenarnya Bunda takut kalau Daddy akan berusaha untuk memisahkan kita, ucap Kirana dalam hati.


"Ayah sangat tau tentang perasaan Bunda saat ini, apa pun yang terjadi kita harus menghadapi semuanya bersama ya," ujar Radit dengan mengeratkan pelukannya.


Kirana saat ini hanya bisa menumpahkan semuanya lewat tangisan, padahal dia baru saja bertemu dengan Daddy Wijaya setelah dua tahun lamanya tidak berjumpa, tapi ternyata pertemuannya dengan Daddy Wijaya tidak seperti yang dia harapkan.


"Yah, Bunda takut kalau Daddy menyuruh kita untuk berpisah," ujar Kirana.


"Kenapa Bunda bisa berpikiran seperti itu?" tanya Radit.


"Bunda tau betul sikap Daddy, dulu juga saat Daddy mengetahui tentang Bunda yang telah hamil di luar nikah, Daddy sangat murka bahkan tega menyuruh Bunda untuk menggugurkan darah daging Bunda sendiri, meskipun pada akhirnya Daddy menyadari kesalahannya, tapi itu semua juga karena Ayah telah bisa menyadarkan Daddy."


"Iya, Bunda betul, apalagi sekarang Daddy pasti semakin kecewa karena orang yang telah membuatnya sadar ternyata adalah orang yang selama ini telah menghancurkan hidup Putrinya," ujar Radit dengan mengembuskan nafas secara kasar.


"Seandainya Daddy sampai menyuruh kita untuk benar-benar berpisah, kita harus bagaimana Yah? Bunda dan Kaisar pasti tidak akan sanggup untuk berpisah dengan Ayah," ujar Kirana dengan mengeratkan pelukannya.


"Ayah juga tidak akan sanggup jika harus kembali berpisah dengan kalian, tapi jika memang untuk sekarang Daddy menginginkan kita berpisah, sebaiknya kita menurutinya terlebih dahulu."


"Apa maksud Ayah kita harus menyerah?" tanya Kirana.


"Bukan sayang, tapi mengingat kondisi Daddy saat ini yang tidak akan sanggup menerima kabar buruk lagi, kita harus mengalah dulu. Namun, secara perlahan kita berusaha untuk meyakinkan Daddy juga, dan suatu saat nanti Ayah yakin kalau Daddy pasti akan merestui Pernikahan kita."

__ADS_1


__ADS_2