
Hari ini Kenzo berniat untuk berlatih golf supaya bisa mengambil hati Papi Danu. Sesampainya di tempat latihan, Kenzo bertemu dengan instruktur yang direkomendasikan oleh Mami Arzeta.
"Selamat pagi Tuan muda keluarga Wijaya, selamat datang di tempat kami," ucap Pak Toni.
"Selamat pagi juga Pak. Anda jangan sungkan, panggil saja saya Kenzo."
"Saya tidak enak kalau harus memanggil Tuan muda dengan sebutan Nama saja," ujar Pak Toni.
"Di mata Tuhan kita sama Pak, yang berbeda hanyalah keimanannya, jadi Bapak tidak perlu merasa tidak enak," ujar Kenzo dengan merangkul bahu Pak Toni.
"Kalau begitu, mari ikut saya ke tempat latihan," ajak Pak Toni.
Pak Toni kini mengajarkan Kenzo dasar-dasar dalam bermain golf, dan Kenzo mendengarkannya secara seksama, sampai akhirnya terdengar suara bariton yang mengejutkan Kenzo.
"Sepertinya Dunia ini sangat sempit, sehingga kemana pun aku pergi selalu saja bertemu dengan kamu Anak muda," ujar Papi Danu.
Kenapa Papi Danu bisa berada di sini juga, padahal aku baru saja mau berlatih, kalau begini caranya aku bisa mempermalukan diriku sendiri, ucap Kenzo dalam hati, sehingga memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.
Sebaiknya sekarang aku pergi saja dari sini. Lebih baik aku menemui Yolanda dan Aurora, mungpung Papi Danu sedang berada di sini, batin Kenzo.
"Pak Toni, saya sekarang ada keperluan mendadak, nanti kapan-kapan kalau sedang tidak sibuk, saya pasti akan ke sini lagi," ujar Kenzo dengan menjabat tangan Pak Toni untuk berpamitan, tapi tidak Kenzo sangka Papi Danu malah mengajaknya untuk bermain golf.
"Kenapa kamu terburu-buru? sebaiknya kita bermain golf dulu, aku juga ingin tau kehebatan yang Putra Mahkota keluarga Wijaya miliki," ujar Papi Danu.
Kenzo sebenarnya ingin sekali menolak ajakan Papi Danu, tapi dia merasa tidak enak, sehingga Kenzo terpaksa menerima ajakan Papi Danu.
Kenzo dan Papi Danu saat ini telah berada di lapangan, dan mereka berdua sudah memegang stik golf.
"Sudah berapa lama kamu bermain golf?" tanya Papi Danu.
__ADS_1
"Baru hari ini Pi, jadi mohon bimbingannya," ujar Kenzo yang tidak mungkin berbohong, karena Kenzo pasti akan ketahuan.
"Aku pikir kamu sudah pandai bermain, kalau begitu aku akan memperlihatkan permainan yang sebenarnya kepadamu," ujar Papi Danu kemudian memulai permainannya.
Kenzo sampai menelan saliva nya ketika melihat kehebatan yang dimiliki oleh Papi Danu dalam bermain golf.
Prok..prok..prok.
Kenzo bertepuk tangan melihat permainan yang ditunjukan oleh Papi Danu.
"Woow, ternyata Papi sangat hebat, saya tidak menyangka di usia Anda yang sudah tidak muda lagi, Anda masih mahir dalam bermain golf," puji Kenzo.
"Aku sudah belajar bermain golf sejak masih muda, bahkan Ayah kamu selalu aku kalahkan, tapi aku kalah oleh dia dalam percintaan, karena perempuan yang aku cintai lebih memilih Wijaya dibandingkan denganku, sehingga itulah yang menjadi awal permusuhan kami," ujar Papi Danu.
Kenzo mengernyitkan dahinya ketika mendengar perkataan Papi Danu.
"Bukan Mommy kamu Nak, tapi perempuan yang kami cintai bernama Sekar Arum," jawab Papi Danu.
Apa Sekar Arum yang dimaksud adalah perempuan yang pernah aku temukan fotonya di laci meja Daddy? batin Kenzo kini bertanya-tanya.
"Lalu dimana sekarang perempuan yang bernama Sekar Arum?" tanya Kenzo yang merasa penasaran.
"Dia hilang tanpa jejak pada saat Ayahmu memutuskan untuk menikahi Ibumu karena perjodohan. Aku sudah berusaha untuk mencari Sekar Arum dan berniat untuk menikahinya, karena dia adalah cinta pertama untukku." jawab Papi Danu.
"Jadi sebelum menikah dengan Mommy, Daddy pernah berpacaran dengan perempuan yang bernama Sekar Arum?" tanya Kenzo.
"Iya benar, bahkan mereka berpacaran sampai tiga tahun. Aku selalu berusaha untuk merebut Sekar Arum dari Wijaya, tapi rasa cinta yang mereka miliki terlalu besar sehingga tidak bisa dipisahkan. Namun, sepertinya takdir berkata lain, karena mereka berdua ternyata tidak berjodoh, dan yang tersisa sampai saat ini hanyalah permusuhan di antara Aku dan Ayahmu, padahal dulu kami adalah Sahabat karib," jelas Papi Danu.
"Jadi seperti itu masalahnya kenapa Daddy dan Papi bisa menjadi musuh bebuyutan sampai sekarang?" tanya Kenzo.
__ADS_1
"Iya Nak, kamu benar. Perasaan cinta yang kami miliki terhadap satu wanita yang sama, telah membuat persahabatan kami berdua menjadi hancur," jawab Papi Danu dengan tertunduk sedih.
"Saya sangat menyayangkan, kenapa bisa sebuah hubungan persahabatan hancur hanya karena seorang perempuan, bahkan akhirnya perempuan yang kalian cintai tidak dapat kalian miliki. Atas nama Daddy saya meminta maaf jika Daddy pernah melakukan kesalahan kepada Papi," ucap Kenzo.
Papi Danu nampak termenung, dalam hati Papi Danu mau pun Daddy Wijaya sama-sama masih memiliki rasa sayang sebagai teman, tapi keduanya terlalu egois untuk mengakui semua itu.
Papi Danu terlihat menghela nafas panjang, karena sebenarnya Papi Danu sangat merindukan sahabat yang dulu selalu mengisi hari-harinya.
Apa mungkin semua itu masih bisa diperbaiki? apa Wijaya juga masih menganggap aku sebagai sahabatnya? ucap Papi Danu dalam hati.
"Kenzo berharap Papi dan Daddy bisa saling memaafkan. Tuhan saja maha pemaaf, apalagi kita sebagai Ummat_Nya. Dosa hukumnya apabila kita membawa dendam sampai mati Pi."
"Mungkin kami berdua terlalu egois, makanya di antara kami tidak ada yang mau mengalah. Sudahlah kita jangan membicarakan semua itu lagi, sekarang giliran kamu yang memukul bola," ujar Papi Danu.
Kenzo memegang stik golf dengan tangan yang bergetar, apalagi Papi Danu terus saja memperhatikannya, sampai akhirnya Papi Danu membantu memegang stik yang dipegang oleh Kenzo, lalu memberikan arahan kepada Kenzo, sehingga Kenzo berhasil memukul bola dengan baik.
Kenzo yang terlalu senang tidak sadar sehingga langsung memeluk tubuh Papi Danu, dan Papi Danu kini meneteskan airmata karena kembali teringat masalalunya dengan Daddy Wijaya.
"Maaf Pi, saking senangnya Kenzo sampai memeluk Papi," ujar Kenzo yang baru menyadari semuanya.
"Tidak apa-apa Nak, kamu persis dengan Wijaya saat Papi pertama kali mengajarkannya bermain golf, karena ketika berhasil memukul bola, Wijaya juga langsung memeluk Papi," ujar Papi Danu dengan tersenyum ketika mengingat kenangannya bersama Daddy Wijaya.
Aku harus bisa mendamaikan Daddy dan Papi Danu, semoga dengan kehadiran Aurora mereka bisa segera berdamai, ucap Kenzo dalam hati.
Kenzo dan Papi Danu bermain golf cukup lama, dan setelah mereka berdua merasa lelah, permainan pun dihentikan.
"Untuk seorang pemula, Permainan kamu cukup bagus Nak. Kapan-kapan kalau kamu ada waktu, kita bisa bermain bersama kembali," ujar Papi Danu dengan menepuk bahu Kenzo.
Papi Danu dan Kenzo kini berjalan beriringan, namun tiba-tiba kaki Papi Danu terperosok ke dalam lubang, sehingga menyebabkan kakinya cidera.
__ADS_1