
Benar saja, menurut rekan bisnis Alvin, foto yang di kirimkan kepada istrinya itu foto editan. Dia juga sudah melacak nomor si pengirim foto. Alvin juga sudah memberitahukan istrinya menyangkut hal ini.
Saat ini Alvin dan istrinya sedang di dalam perjalanan menuju ke titik lokasi pemilik nomor ponsel misterius itu.
Alvin menghentikan mobilnya di depan rumah orang tua Cantika. Karena titik lokasi ada disana.
''Mas, itu rumah siapa?'' Nirmala bertanya sambil memperhatikan rumah mewah yang ada di depan.
''Itu rumah orang tua Cantika. Titik lokasi berhenti disini. Apa selama ini Cantika yang telah mengirimkan kamu foto? Sepertinya dia mengintai keluarga kita,'' ucap Alvin.
''Masa sih? Mala tidak menyangka loh. Selama ini Cantika tidak terlihat mengganggu keluarga kita.''
''Tapi itu dugaanku,'' ucap Alvin.
Alvin mengemudikan mobilnya memasuki gerbang rumah Cantika. Mereka berdua turun dari mobil lalu mendekati rumah itu. Baru juga akan mengetuk pintu namun pintu rumah itu sudah terbuka duluan. Terlihat Cantika yang membukakan pintu. Cantika sedikit heran melihat kedatangan Alvin dan Nirmala.
''Cari siapa?'' Cantika bertanya sambil menatap mereka.
''Cari kamu,'' ucap Alvin.
Sebenarnya Cantika malas untuk bertemu dengan mereka, terutama Nirmala. Dia tak suka kepada Nirmala.
''Memangnya ada keperluan apa mencariku?''
Alvin mengambil ponsel milik istrinya. Dia memperlihatkan isi pesan dari nomor asing yang di duga itu nomor Cantika.
''Ini nomor kamu kan? Mengaku saja! Kenapa pakai edit foto saya dan mengirimkannya ke istri saya? Kamu berniat mengganggu rumah tangga kami?'' Alvin menatap Cantika dengan tatapan serius.
Cantika kaget karena Alvin mengetahui jika nomor ponsel yang selama ini sering mengirim pesan misterius kepada Nirmala itu nomornya. Namun dia berusaha untuk mengelak.
''Bukan, jangan asal tuduh deh. Mau saya laporkan ke polisi karena sudah menuduh saya tidak jelas,'' ucap Cantika.
__ADS_1
''Oke silakan! Nanti saya laporkan balik, karena saya sudah melacak nomormu. Untuk itu sekarang kami berada disini, dan tahu jika lokasi si pengirim pesan itu ada di rumah ini,'' kata Alvin.
Cantika diam membisu, kali ini dia tak bisa berkutik. Karena bukti yang Alvin punya cukup kuat.
''Kenapa diam? Jadi lapor ke polisi tidak?'' tanya Alvin.
''Tidak, awas saja kalau kamu juga lapor ke polisi.''
''Itu tergantung, kalau kamu kembali mengganggu kami, pasti kami juga akan melaporkan semua ini ke jalur hukum. Tapi kalau kamu tak lagi berulah, maka kami akan diam'' ucap Alvin.
Cantika tak bisa melakukan hal lain selain menuruti perkataan Alvin. Mungkin dia berhenti saja mencari celah untuk mengganggu rumah tangga mereka. Lagian sudah dua kali misinya tidak berhasil.
''Baiklah, saya tidak akan mengganggu kalian lagi. Sekarang pergilah! Saya malas melihat kalian berada disini,'' bukannya meminta maaf, namun Cantika malah mengusir mereka.
''Dengan senang hati kami akan pergi,'' Alvin menggandeng tangan istrinya lalu mereka pergi dari sana.
Cantika hanya tersenyum kecut menatap kepergian mereka.
......
......
Semakin hari hubungan Alvin dan Nirmala semakin baik. Mereka selalu terlihat mesra dimana pun. Walaupun sudah memiliki anak, namun mereka masih sering menyempatkan diri untuk meluangkan waktu berdua.
Terlihat Nirmala yang baru keluar dari kamar anaknya. Dia habis menidurkan anaknya. Sekarang tinggal beristirahat bersama suaminya. Tadi dia juga sudah meminta Sela untuk menemani anaknya tidur.
Alvin menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Dia tersenyum melihat istrinya yang sudah datang.
''Sayang, kamu sudah kembali?''
''Iya, Mas. Tadi habis menidurkan Arga.''
__ADS_1
''Enak banget Arga tiap hari minum ASI,'' ucap Alvin.
''Namanya juga masih bayi, jadi wajar saja kalau minum ASI.''
''Sisakan untuk suami kamu dong,'' pintanya.
''Kenapa pakai bilang segala? Biasanya juga langsung nyosor.''
Ucapan Nirmala tentu menjadi kode keras untuk Alvin. Dia segera mendekatinya dan langsung memeluknya. Mereka terlihat romantis di posisi seperti itu. Alvin memeluk pinggang istrinya, wajah mereka saling tatap. Alvin menempelkan keningnya dengan kening istrinya.
''Sayang, entah kenapa rasa cintaku ke kamu semakin bertambah. Kamu semakin menggoda. Rasanya aku ingin terus mengurungmu di rumah. Tidak rela jika kecantikan istriku ini di lihat oleh lelaki lain,'' ucap Alvin.
''Jangan lebay deh, masa Mala tidak boleh keluar rumah sih,'' Nirmala menjauhkan wajahnya dari suaminya, sehingga tidak sedekat tadi.
''Mas gemas sekali sama kamu,'' Alvin mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya.
''Ih geli, Mas.'' Nirmala menjauhkan wajahnya dari suaminya.
''Habisnya Mas gemas sekali sama kamu,'' Alvin menggendong istrinya, lalu merebahkan istrinya ke atas kasur.
''Mas, jika setiap hari kita berolahraga, bisa-bisa Mala hamil lagi,'' ucap Nirmala sambil menatap suaminya yang merangkak naik ke atas kasur.
''Itu bagus dong, sayang. Nanti rumah kita tambah ramai. Kalau kamu sudah hamil anak ke dua, nanti kita tinggal pikirkan anak ke tiga.''
Nirmala mengernyitkan keningnya mendengar suaminya berkata seperti itu.
''Memangnya Mala mesin pencetak anak. Mas Alvin tahunya enaknya doang, nih Mala yang melahirkan butuh perjuangan.''
''Cup cup kasihan sekali istriku ini. Mas akan memberikan apa pun untuk kamu, sayang. Karena kamu sudah memberikan suami kamu kebahagiaan yang tiada tara,'' Alvin memeluk istrinya dengan erat. Bahkan satu tangannya di taruh di atas kaki istrinya.
''Mas, jangan terlalu erat memeluknya. Mala sesak loh,'' Nirmala mencoba untuk melonggarkan pelukan suaminya.
__ADS_1
''Habisnya Mas gemas sekali sama kamu, sayang.'' Alvin menaruh kepalanya di ceruk leher istrinya. Tentu itu membuat Nirmala merasa geli.
Lama-kelamaan Alvin memancing hasrat istrinya dengan sentuhan. Akhirnya mereka sama-sama menyalurkan hasratnya. Alvin semakin menyukai istrinya yang terlihat lihai. Bahkan Nirmala yang memimpin permainan mereka.