
Aku tersenyum saat menatap wajahku di cermin. Balutan gaun pengantin dan paduan hijab sederhana yang aku kenakan membuatku merasa seperti seorang putri. Aku sangat bahagia. Beberapa menit lagi aku akan sah menjadi istri Alan. Pria yang selama ini aku impikan menjadi imamku. Hari ini harapan itu akan terkabul. Aku sangat gugup.
Ceklek! Aku langsung menoleh saat pintu kamarku terbuka. Ternyata bunda. Bunda tersenyum padaku dan duduk disebelahku. Aku menatap bunda lekat.
"Wah anak bunda sangat cantik." ucap bunda membuatku merasa malu. Aku tersenyum dan sedikit menunduk.
"Bagaimana sudah siap?" tanya bunda menarik daguku. Aku menggeleng.
"Ara gugup bunda." ucapku dengan tangan bergetar. Aku benar-benar sangat gugup. Apa memang seperti ini jika menjadi seorang pengantin?
"Semua orang juga pasti gugup sayang." ucap bunda mengelus tanganku. Aku menatap bunda lekat.
"Apa bunda juga dulu gugup seperti Ara?" tanyaku. Aku ingin tahu apa bunda juga merasakan hal yang sama saat menikah dengan papah.
"Setiap orang punya cerita masing-masing sayang." ucap bunda. Aku menghela nafas dalam-dalam. Jantungku seakan mau copot.
"Mau dengar cerita bunda?" tanya bunda. Aku menatap bunda bingung.
"Cerita tentang bunda dan papah?" tanyaku. Bunda pun mengangguk. Aku tersenyum.
"Pasti dulu bunda dan papah sangat romantis kan?" tanyaku lagi. Sudah pasti dulu juga bunda begitu romantis dengan papah. Buktinya saat ini mereka juga masih sangat romantis. Aku harap rumah tangga aku dan Alan pun bisa seromantis bunda dan papah.
"Kamu salah sayang... Dulu... " mengalir lah cerita bunda saat pertama bertemu dengan papah hingga mereka menikah dan memiliki anak. Ya, itu adalah aku.
Aku sangat terkejut ternyata perjalanan cinta bunda begitu sulit. Perjuangan bunda untuk mendapatkan hati papah. Aku sangat terharu. Ternyata kesabaran bunda membuahkan hasil yang sangat manis. Aku juga ingin menjadi seperti bunda, memiliki jiwa penyabar dan begitu kuat dalam menghadapi masalah apapun.
"Dengar sayang, dalam rumah tangga itu harus mengutamakan kepercayaan dan kesabaran. Tidak ada rumah tangga yang berjalan mulus seperti jalan tol. Pasti ada kerikil-kerikil yang harus kalian lewati. Bunda harap, kamu bisa belajar dari cerita bunda tadi. Tetap utamakan suami kamu dan dengarkan apa pun yang dia katakan. Bunda tahu, Alan pasti akan menjaga anak bunda dengan baik." ujar bunda. Aku mengangguk dan langsung memeluk bunda.
"Doakan Ara selalu bun, agar Ara bisa menjadi sekuat bunda." ucapku mulai menangis. Aku tidak bisa menahan air mataku lagi.
"Doa bunda selalu ada untuk kamu. Sudah, jangan menangis. Nanti bedaknya luntur." ucap bunda melerai pelukanku dan menghapus air mata yang membasahi pipiku. Aku tersenyum.
Mungkin mulai detik ini aku memang harus berjuang untuk menjadi istri yang baik. Berjuang untuk mendapatkan hati suamiku sepenuhnya. Sampai saat ini, aku masih bingung dengan perasaan yang Alan miliki. Alan juga tidak pernah menjelaskan bagaimana hubungan dia dengan Jihan. Alan juga tidak pernah terus terang tentang perasaannya padaku. Tapi aku akan bersabar. Hingga waktu itu pun datang padaku dengan sendirinya.
"Bunda tidak menyangka jika putri kecil bunda saat ini sudah mau menikah." ucap bunda mengelus pipiku dengan lembut. Aku menyetuh tangan yang selalu memberikan kehangatan itu dengan lembut.
"Ara minta maaf jika selama ini selalu menyusahkan bunda. Ara selalu membuat bunda khawatir. Ara minta maaf." ucapku mencium tangan bunda.
__ADS_1
"Tidak ada anak yang menyusahkan ibunya sayang. Kamu adalah buah hati yang selalu membuat bunda dan papah bangga." Bunda memberikan kecupan hangat dikeningku. Terimakasih ya allah engkau telah mengizinkan hamba terlahir dari rahim suci milik bunda.
"Bunda, apa masih lama. Ara semakin gugup. Kalau Alan salah sebut nama Ara gimana?" ucapku menggenggam tangan bunda. Bunda tertawa renyah saat mendengar perkataanku tadi. Aku memang sangat gugup. Bagaimana jika Alan salah sebut nama atau lupa nama panjangku. Papah sih kasih nama panjang banget, kan kasian Alan.
"Sabar sayang, jika sudah selesai. Suami kamu pasti akan masuk kesini. Sabar. Alan sudah kenal kamu dari kecil, dia tidak mungkin salah sebut nama." ucap bunda menyetuh pipiku. Semoga saja yang bunda katakan itu benar. Tapi aku masih sangat gugup. Aku genggam erat tangan bunda untuk menghilangkan sedikit rasa gugupku.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan sesekali melihat kearah pintu kamar.
"Tangan kamu sangat dingin sayang." ucap bunda kembali tertawa.
"Bunda, Ara gugup. Ara mau pipis." ucapku yang tiba-tiba saja kebelet. Ya, ini adalah kebiasaanku. Jika sudah gugup atau pun tegang, pasti langsung kebelet pipis. Ck, sangat memalukan. Untung saja aku meminta untuk diam di kamar.
"Ya ampun anak bunda yang satu ini. Ya sudah sana, jangan lama-lama. Hati-hati, bajunya panjang. Apa perlu bunda temani?" ujar bunda. Aku langsung menggeleng. Ara sudah besar bunda.
Aku pun langsung beranjak ke kamar mandi dengan susah payah. Ck, kenapa gaun ini mendadak besar dan panjang sih. Susah tahu mau jalan.
Ah, lega juga akhirnya. Aku merapikan gaun dan hijabku di depan cermin. Lalu aku langsung keluar.
Deg!
Apa? Kenapa Alan dan yang lain sudah ada disini. Ya Allah, ini sangat memalukan. Apa ada pengantin sepertiku di dunia ini? Hiks, ingin sekali rasanya tenggelam di lautan terdalam. Aku menundukkan kepalaku karena merasa sangat malu.
"Ayok." ucap bunda. Aku pun mulai berjalan mendekati Alan. Apa benar saat ini dia sudah sah menjadi suamiku? Aku masih tidak percaya. Semuanya seperti mimpi.
"Masyaallah cantik sekali manantu mama." ucap tante, eh maksudnya mama Nissa. Aku tersenyum malu dan kembali menunduk.
"Cium tangan suami kamu sayang." bisik bunda. Aku menatap bunda, lalu bergantian menatap Alan yang terus menatapku dari tadi.
Aku menggerakkan tanganku untuk menggapai tangan suamiku. Aku menariknya dan mengecupnya sekilas. Suara tawa orang-orang pun berhasil membuatku bingung.
"Bukan seperti itu sayang, jangan terlalu cepat. Cium tangan suami kamu dengan lembut." ucap bunda merangkul pundakku. Aku menatap Alan yang sedang tersenyum geli melihatku. Aku mengerucutkan bibirku.
"Bunda, Ara tidak mau mencium tangan Alan. Lihat, dia mengejek Ara." ucapku dengan kesal. Ck, kenapa malah pada ketawa sih. Aku kan jadi kesal.
"Eh, jangan begitu. Ayok cium tangannya dengan benar. Sekarang Alan sudah sah menjadi suami kamu." ucap bunda. Aku menatap Alan kesal. Ku tarik kembali tangannya dan ku cium dengan lembut. Harum. Tadi kok gak kecium apa-apa ya? Alan pake perfume apa sih? Wangi banget. Ara suka.
Setelah puas ku hirup wangi di tanganya. Aku hendak mengangkat kepalaku. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menyetuh kepalaku.
__ADS_1
Cup! Benda kenyal dan hangat kini menempel di keningku. Darahku berdesir hebat dan kehangatan mulai menyelimuti tubuhku yang sedari tadi dingin karena gugup. Alan mencium keningku cukup lama. Aduh, pegel tahu. Alan mah gak peka banget sih.
Alan melepaskan ciumanya di keningku. Ia menatapku begitu dalam. Ya allah, jantung Ara serasa mau copot. Alan juga sangat tampan dengan jas putih yang ia kenakan. Ara juga mau puas-puasin lihat ketampanan suami Ara deh. Kan sekarang udah sah, jadi gak dosa lagi.
"Ekhmm... Sudah pandang-pandangannya nanti malam aja." ucap tante, eh salah lagi kan. Maksudnya mama Nissa. Mama Nissa menarik kedua tanganku. Dia tersenyum lebar dan menatapku begitu dalam.
"Selamat sayang, sekarang sudah resmi jadi keluarga Digantara." ucap mama Nissa memelukku dengan erat.
"Iya ma, terimakasih sudah mau menerima Ara jadi menantu mama." ucapku. Mataku juga kembali memanas. Mama Nissa melepaskan pelukkanya dan mengecup keningku begitu lembut.
"Mama sangat beruntung bisa memiliki menantu cantik seperti kamu sayang." ucap mama tersenyum manis. Aku pun ikut tersenyum dibarengi dengan air mata yang mengalir di pipiku.
Aku pun mengalihkan pandanganku pada bunda. Bunda tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Aku pun langsung berhambur kepelukkan bunda.
"Selamat sayang. Akhirnya putri bunda benar-benar sudah menjadi istri orang. Sudah bisa dihilangkan sifat cengeng dan manjanya yah?" ucap bunda. Aku mengangkat kepalaku untuk menatap wajah bunda. Ku hapus air mata bunda dengan lembut. Aku mengangguk dan mencium kedua pipi bunda.
"Papah." ucapku menatap papah yang masih setia menatapku. Aku memeluknya dengan erat. Masih sama, kehangatan yang tak pernah berubah sejak dulu. Papah akan tetap menjadi papah yang terbaik untukku.
"Jangan suka menangis lagi ya? Sekarang kamu sudah punya suami. Patuh pada suami kamu dan jangan pernah membantah. Belajar dari apa yang kamu lihat selama ini di rumah." ucap papah. Aku mengangguk dan mengeratkan pelukanku.
"Sudahi sesi menangis nya, sekarang kalain tukar cincin. Ayok." ucap mama Nissa begitu semangat. Aku melepaskan pelukan papah. Papah mengecup keningku seperti biasa. Tetap lembut, hangat dan begitu penuh kasih sayang.
"Tanggung jawab papah sudah papah serahkan sama kamu Alan. Jaga anak papah dengan baik." ucap papah menepuk pundak Alan. Aku tersenyum bahagia. Alan mengangguk, lalu ia menatapku.
Aku sangat terkejut saat tangannya melingkar di pinggangku.
"Kamu sangat cantik." bisik Alan ditelingaku. Aku tersenyum malu.
"Ck, kalian ini. Sudah tidak sabar ya mau mesra-mesraan? Ini cincinnya di pakein." Mama Nissa memberikan kotak beludru berwarna merah itu pada Alan. Alan membukanya. Ia menatapku sambil tersenyum. Dia mengamit tanganku dan menyematkan cincin indah itu di jari manisku.
"Ara, pasangkan cincin satunya ditangan Alan."
Aku pun mengambil cincin itu dan memasangkannya di tangan Alan. Suara tepuk tangan pun terdengar.
"Ya sudah, turun dulu. Kalian belum tanda tangan surat nikah. Ayok. Sekalian foto-foto."
Aku tersenyum melihat mama Nissa yang begitu semangat. Alan kembali melingkarkan tangannya di pinggangku.
__ADS_1
"Ayok istriku." bisik Alan yang berhasil membuat darahku kembali berdesir. Aku menunduk malu, ingin sekali rasanya aku berlari dan berteriak untung melepaskan semua kebahagiaan ini.
Terimakasih ya allah, Ara sangat bahagia. Ternyata benar, rencana yang Allah buat itu sangat indah. Ara berharap kebahagiaan ini akan terus bertahan hingga kami menutup mata.