
Setelah melaksanakan salat magrib. Aku keluar dari kamar karena merasakan haus. Tidak terasa aku tertidur hingga langit berubah hitam. Aku juga belum melihat keberadaan Arin. Apa dia belum kembali?
Ku tuangkan perlahan air ke dalam gelas. Menatap meja makan yang sudah tersedia beberapa makanan. Aku menarik kursi dan duduk di sana. Menatap makanan, membuat air liurku menetes. Kemana bunda dengan yang lain, apa masih di kamar?
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapku mulai meneguk air. Rasanya begitu menyegarkan.
"Ara, bunda kira siapa?" sapa bunda yang baru saja muncul. Aku tersenyum.
"Ara haus bun," balasku. Bunda tersenyum sambil duduk di depanku.
"Kenapa tidak makan?" tanya bunda menatapku.
"Ara tunggu bunda, tidak enak makan sendiri."
"Azka sepertinya tidak pulang," ujar bunda. Aku menatap bunda lekat.
"Masalah kantor?" tanyaku penasaran.
"Bunda tidak tahu, mungkin iya. Sekarang Azka sering sibuk," balas bunda. Aku hanya mengangguk. Aku tahu saat ini Azka masih mencari Alan. Walaupun sangat sulit mencari keberadaannya. Tapi aku sangat yakin, jika Alan memang masih hidup. Alan tidak pernah hadir dalam mimpiku.
"Bunda, Ara sangat lapar. Boleh Ara makan?" tanyaku menatap ikan asam manis yang membuat air liurku banjir.
"Ya ampun sayang, tidak ada yang larang kamu untuk makan. Makanlah, papah sebentar lagi juga sampai," ujar bunda. Aku tersenyum kikuk. Entahlah, saat ini aku benar-benar sangat lapar. Mungkin karena beberapa hari aku jarang makan.
Kuambil nasi dan beberapa lauk. Sudah tidak sabar aku ingin menyantap masakan bunda.
"Wah, banyak juga anak papah makan?"
Aku mengangkat kepala, melihat papah yang kini sudah duduk di samping bunda.
"Lapar pah," balasku sambil tersenyum.
"Wajar, saat ini kamu tidak sendiri. Ada cucu papah di sana," ujar papah. Aku mengangguk.
"Ya sudah, ayo lanjut makannya. Papah juga sangat lapar. Masakan bunda kamu selalu membuat papah jatuh cinta," ujar papah. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya.
Aku menatap kemesraan bunda dengan papah. Hatiku menciut. Aku kembali mengingat Alan. Jika saat ini, Alan bersamaku. Mungkin aku masih merasakan sikap manisnya. Aku benar-benar merindukannya. Sangat merindukan perhatian suamiku. Hah, mataku sangat panas. Tetapi, aku sudah lelah terus menangis.
"Sayang, kenapa diam?"
Aku sangat terkejut. Kutatap bunda lamat-lamat.
"Ara merindukan Alan, bun. Ara...," aku tidak bisa melanjutkan ucapanku. Dadaku terasa sakit. Aku melihat bunda bangun dari duduknya. Berjalan menghampiriku.
"Sudah, bunda paham." Bunda memelukku dengan erat. Tangisanku kembali pecah. Aku tidak bisa menahan semuanya. Sangat menyakitkan. Bunda membiarkan aku terus menangis.
"Makanlah, katanya lapar. Kasian anak kamu," lanjut bunda saat aku menghentikan tangisanku.
"Bunda yang suap ya?" pintaku.
"Iya sayang," ucap bunda mencium keningku. Lalu bunda duduk di sebelahku. Mulai menyuapiku perlahan.
Setelah selesai makan, aku memilih untuk duduk di ruang keluarga. Aku ingin sedikit melupakan kesedihan. Ku hidupkan serial anak-anak.
Ting tong...
Aku terhenyak saat mendengar suara bel berbunyi. Sepertinya itu Arin. Aku bangkit dan bergegas untuk membuka pintu.
"Kenapa...," ucapanku terpotong. Aku terkejut saat melihat sosok yang tengah berdiri di hadapanku.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucapnya.
"Wa... Wa'alaikumusalam," balasku gugup.
"Pak Dio, Mama, Papa," ucapku menyapa mereka.
"Apa kabar sayang?" tanya Papa Bayu.
"Baik, Pa," balasku. Aku menatap mereka penuh tanda tanya.
"Ah, silahkan masuk." Aku sedikit mundur, membiarkan mereka untuk masuk. Hampir saja aku lupa menyuruh mereka untuk masuk.
"Duduk, saya panggilkan papah dengan bunda dulu," ujarku. Mereka mengangguk. Aku langsung bergegas menuju kamar bunda.
"Bunda," panggilku sambil mengetuk pintu. Tidak lama, bunda pun muncul di balik pintu.
"Ada tamu di depan, pak Dio dengan kedua orang tuanya."
"Ada apa?" tanya bunda. Aku menggeleng sebagai jawaban.
"Ya sudah, tunggu sebentar. Tolong buatkan minum ya, sayang?"
Aku mengangguk. Bunda pun kembali masuk. Aku bergegas menuju dapur.
Lima menit berlalu, aku beranjak ke depan. Membawa sebuah nampan di tanganku.
"Maaf merepotkan," ucap mama Hilda. Aku meletakkan nampan berisi tiga gelas jus dan sepiring kue di atas meja.
"Enggak kok ma," balasku. Aku duduk di sebelah bunda.
"Maaf, menggagu waktu istirahat kalian semua. Kami datang hanya ingin mengutarakan maksud baik."
Apa lagi ini?
Aku menatap pak Dio yang ternyata juga sedang menatapku.
"Ada apa ini?" tanya papah. Aku genggam erat tangan bunda.
"Begini om, saya tahu ini terlalu cepat. Tapi, saya tidak ingin menunda lagi. Saya berniat untuk menikahi Ara, setelah Ara melahirkan. Saya akan menjaga dan melindungi mereka dengan baik," ujar pak Dio. Aku menatap papah lekat. Begitu pun sebaliknya.
"Maaf nak Dio, ini terlalu mendadak." Bunda kini angkat bicara.
"Maaf tante, saya cuma ingin menjaga Ara dan anak dalam kandunganya. Bagaimana pun, Alan juga adik saya. Sudah kewajiban saya untuk menjaga mereka. Saya menikahi Ara, supaya saya bisa melindungi mereka dengan leluasa."
Aku menatap pak Dio lekat. Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran pria ini? Berapa kali aku menolaknya. Kenapa dia masih bersikeras untuk menikahiku. Aku membuang napas perlahan. Mencoba untuk lebih tenang.
"Pak Dio, untuk yang sekian kali saya menolak niat baik anda. Saya tahu, tujuan anda itu ingin menjaga saya. Tapi, sekali lagi saya mohon maaf. Saya tidak bisa menerima anda," balasku sebisa mungkin.
"Ara, tolong berikan kesempatan untuk saya. Izinkan saya untuk mengambil hati kamu. Jujur, saya tidak bisa melupakan kamu. Saya masih sangat mencintai kamu, Ara."
Bruk!
Aku sangat terkejut saat mendengar sesuatu terjatuh. Aku langsung bangun dan menoleh ke belakang. Mataku terbuka sempurna. Aku melihat Arin berdiri di sana. Tas yang ia bawa sudah terjatuh di lantai. Aku juga bisa melihat matanya yang berlinang.
"Arin...," panggilku sambil berjalan mendekatinya. Arin melangkah mundur. Aku tahu perasaannya saat ini. Aku harap ia tidak salah paham padaku.
"Arin, dengarkan kakak," ucapku hendak menghampirinya. Namun Arin terlebih dahulu pergi, berlari meninggalkan rumah.
"Arin... Dengarkan kakak. Tunggu!" Aku terus berteriak. Mengejarnya sebisaku. Tetapi, semuanya sia-sia. Arin sudah pergi dengan mobilnya. Perasaanku tidak enak. Tidak baik ia menyetir dalam keadaan seperti ini. Aku memegang perutku yang terasa sedikit sakit. Mungkin karena aku berlari mengejar Arin.
__ADS_1
Tidak lama, aku melihat mobil Azka memasuki pekarangan rumah. Aku menghampirinya.
"Dek, tolong kejar Arin." pintaku pada Azka. Azka menatapku bingung.
"Sayang, mana Arin?" tanya bunda merangkulku. Aku menatap bunda. Memeluknya dengan erat.
"Sepertinya Arin salah paham bun," ucapku. Bunda mengelus kepalaku dengan lembut. Aku melerai pelukanku dengan bunda.
"Ada apa kak? Dia, kenapa ada disini?" tanya Azka. Aku menatap Azka lekat. Lalu mengikuti arah pandangan Alan. Pak Dio, ternyata sudah berdiri di belakangku.
"Sial!" umpat Azka. Ia kembali masuk ke dalam mobil. Aku menatap mobil Azka yang melaju cepat.
"Bunda," ucapku kembali memeluk bunda. Perasaanku benar-benar tidak enak. Aku takut, takut jika Arin akan membenciku.
"Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja."
"Bagaimana jika Arin tidak mau lagi bertemu Ara, Bun?"
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Bunda yakin, Arin tidak akan melakukan itu," ucap bunda terus mengelus kepalaku. Lalu pandanganku tertuju pada Pak Dio. Ku lerai pelukkan bunda. Berjalan menghampiri pria keras kepala itu.
Aku menangkupkan kedua tanganku. Menatapnya lekat.
"Saya mohon, jangan ganggu hidup saya lagi. Bapak seharusnya sudah tahu, cinta saya hanya untuk Alan. Hanya dia yang akan menjadi suami saya, sampai akhir azal menjemput. Saya hanya mencintai suami saya, hanya suami saya, Pak. Meskipun kami terpisah hingga ke ujung dunia, tetapi cinta kami tidak akan pernah pudar."
"Seluruh hati saya, sudah saya serahkan pada suami saya. Bagaimana pun orang lain ingin memisahkan kami, cinta itu tidak akan pernah terpisah. Saya mencintai Alan dengan tulus. Jadi, saya mohon sekali lagi. Jangan pernah mengaggu kehidupan saya lagi," jelasku panjang lebar. Aku ingin dia mengerti. Cinta tidak bisa di paksakan. Kuhapus air mataku dengan kasar. Bergegas meninggalkannya yang masih terdiam.
Kuhentikan langkahku. Aku berbalik.
"Jika bapak memang benar mencintai saya, tolong lepaskan saya. Lihatlah, di sekeliling bapak begitu banyak cinta. Hargai cinta itu, sebelum bapak menyesalinya. Ketulusan hati dalam mencintai seseorang, adalah kunci kebahagiaan. Saya rasa, perasaan bapak terhadap saya bukanlah cinta. Melainkan obsesi. Jika bapak mencintai saya dengan tulus, maka bapak akan mengikhlaskan saya bahagia."
Setelah mengatakan itu. Aku langsung bergegas masuk. Aku tidak ingin menambah berbagai masalah. Masalahku sudah cukup berat.
Kututup pintu kamar perlahan. Kakiku terasa begitu lemas. Rasanya, aku ingin berlari sekencang mungkin. Tetapi, semuanya sudah tidak mungkin.
Ya Allah, kenapa semuanya jadi seperti ini? Dimana suami hamba? Jika benar ia masih hidup, tolong. Tolong kembalikan dia padaku, ya Allah. Hamba mohon.
Ku jatuhkan diriku diatas kasur. Ku tatap foto pernikahanku yang tertempel di dinding. Air mataku terus mengalir.
Aku mencengram selimut dengan erat. Melampiaskan rasa sakit di hatiku. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu. Aku ingin Alan kembali.
"Sayang, jangan menangis."
Alan. Itu suara Alan. Aku bangun untuk mencari suara itu. Tapi di mana dia?
"Hubby?" panggilku. Aku membuka pintu balkon. Namun semuanya tampak kosong. Dari mana suara itu berasal? Apa hanya halusinsiku? Hiks... Aku sangat merindukanya. Hatiku terus memberontak.
Aku kembali menutup pintu balkon. Beranjak menuju kamar mandi. Baru ingat, jika aku belum salat Isya.
Selesai salat, aku merebahkan tubuhku diatas kasur. Seluruh sendiku terasa begitu sakit. Aku ingin istirahat. Aku harap, esok merupakan hari yang lebih baik dari sebelumnya. Aku memejamkan mataku. Berharap kantuk segera menjemputku.
Aku merasaakan sesuatu bergerak di perutku. Aku ingin membuka mataku, namun semuanya terasa begitu sulit.
"Selamat malam, sayang..."
Kecupan itu, kenapa begitu nyata. Apa aku sedang bermimpi? Kenapa suara itu begitu jelas. Alan. Apa dia sudah kembali?
Aku membuka mataku perlahan. Ku lihat sekeliling kamar. Namun, aku tidak melihat siapa pun. Semua pintu masih tertutup rapat. Jadi aku kembali berhalusinasi?
"Bi, Ara berharap hubby benar-benar ada disini. Ara sangat merindukan hubby. Ara rindu pelukan hubby." Ku tarik selimut hingga menutupi setengah tubuhku. Aku kembali memejamkan mataku. Ku biarkan air mataku terus mengalir. Hanya tangisan yang bisa membuat hatiku lebih baik. Walaupun sebenarnya aku mulai lelah. Lelah dengan semua keadaan.
__ADS_1