Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 42. Mengikhlaskan Apa yang Telah Terjadi


__ADS_3

Dua jam sudah berlalu...


Ara duduk di tepi kolam sambil menikmati hembusan angin malam. Ia menatap ikan-ikan dengan tatapan kosong.


"Ikan, apa kalian tidak bosan di sana terus? Pasti bosan kan? Tapi disini kalian lebih aman daripada di luar." ucap Ara memainkan air dengan tangan lentiknya.


"Kamu tahu? suamiku sudah pergi lagi. Kami akan kembali saling merindu." ucap Ara tersenyum.


"Cieh yang rindu... Baru juga beberapa jam yang lalu ketemu." ucap Arin yang entah sejak kapan sudah duduk disana.


"Bikin kaget tahu gak?" ucap Ara kesal. Arin tertawa dan langsung memeluk Ara.


"Kak, Arin lagi senang." ucap Arin dengan begitu semangat.


"Senang? Senang kenapa?" tanya Ara sambil terus memainkan air. Arin melepaskan pelukannya. Ia menarik rambutnya kebelakang karena terkena angin.


"Tadi saat di bandara, Arin gak sengaja ketemu seorang pria tampan kak. Dia so handsome and hot." Ujar Arin sambil tersenyum sendiri. Ara yang mendengar itu langsung menepuk lengan Arin.


"Hey, jangan terlalu mudah tertarik dengan pria. Bagaimana jika dia sudah punya istri atau pacar?" Ara mencubit kedua pipi Arin dengan gemas. Pemiliknya hanya bisa meringis dan memajukan bibirnya.


"Aku yakin dia masih single kak. Arin lihat gak ada cincin di tangannya dan...


Arin menggantung ucapannya dan mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.


"Arin dapat sapu tangan dia." ucap Arin begitu semangat. Mulut Ara terbuka karena tak percaya dengan adik iparnya.


"Bagaimana bisa?" tanya Ara bingung.


"Bisa dong kak. Tadi Arin gak sengaja nabrak dia, terus tangan Arin kena tumpahan kopi yang dia minum. Jadi deh sapu tangan ini ada di Arin." ujar Arin memeluk sapu tangannya dengan erat.


"Ck, kamu masih kecil Arin. Sekolah yang benar, jangan dulu mengenal cinta." ucap Ara menatap Arin begitu lekat.


"Arin sudah dewasa kak, Arin sudah SMA. Kakak tenang aja, Arin bisa jaga diri kok." ucapnya sambil terus menatap sapu tangan yang ia pegang.


"Arin, kakak tahu...


"Kak, biarkan Arin merasakan seperti apa cinta. Kakak yang bilang bukan? Jika cinta itu tak membutuhkan sebuah balasan. Biarkan Arin jatuh cinta, Arin ingin tahu seperti apa cinta yang sebenarnya." ujar Arin menatap Ara lekat.


"Kakak tahu, tapi Arin...


"Cukup kak, Arin bisa menjaga diri Arin sendiri. Arin sudah dewasa, jadi tahu mana yang salah dan mana yang benar." Arin bangun dari duduknya dan langsung beranjak pergi. Ara hanya bisa menghela napas berat.


"Ternyata dia benar-benar sudah dewasa, dasar keras kepala." ucap Ara menatap langit. Ia menarik napas dalam-dalam.

__ADS_1


"Tolong lindungi Arin ya Allah, jangan biarkan dia terjerumus dalam lingkungan yang salah." Ara memeluk dirinya sendiri saat hawa dingin mulai menembus kulitnya. Matanya terpejam untuk menikmati hembusan angin malam yang begitu sejuk. Malam semakin larut, Ara masuk kedalam rumah untuk istirahat.


***


"Sayang, makan dulu yuk. Mama perhatian kamu asik melamun aja? Ada apa huh?" tanya mama Nissa duduk di sebelah Ara.


"Ara belum lapar ma, Ara cuma bosan dirumah terus." jawab Ara. Sudah seminggu lebih Ara hanya duduk dirumah karena Alan sama sekali tak memberinya izin keluar.


"Hmmm... Kamu harus sabar sayang. Kamu belum pulih dan harus istirahat, setelah kamu baikan kita jalan-jalan." ujar mama Nissa mengelus kepala Ara. Ara tersenyum dan mengangguk.


"Mama pernah diposisi kamu, mama kehilangan anak mama. Mama sangat terpukul, tapi mama sadar itu semua sudah jalan dari Allah. Mama ikhlas dan akhirnya mama kembali hamil Arin." ujar Nissa menggenggam tangan Ara. Ara menghadap kearah Nissa dan tersenyum.


"Ara sudah ikhlas ma, Ara cuma bosan aja dirumah terus. Mama jangan khawatir, Ara baik-baik aja kok." ucap Ara. Nissa tersenyum dan memeluk Ara dengan lembut.


"Oh iya sayang, kamu sudah urus magang kamu? Bagaimana, bisa kalau diundur?"


"Bisa ma, pak Dio bilang Ara bisa lanjut magang setelah sembuh." jawab Ara.


"Alhamdulillah kalau begitu. Ya sudah, ayok makan. Sejak pagi kamu belum makan. Mama tidak mau Alan terus meneror mama, karena tidak merawat kamu dengan baik." ujar Nissa menarik Ara menuju ruang makan.


"Ara tidak lapar ma," ucap Ara duduk di kursi dengan bibir manyunya.


"Jangan menolak, makan yang banyak." ucap Nissa menatap Ara lekat. Ara menghela napas panjang dan menuruti perkataan sang mama.


"Bosan juga setiap hari hanya duduk di rumah," ucap Ara mengelus perutnya yang masih sedikit ngilu. Ia menatap foto pernikahannya. Seulas senyuman terukir di wajahnya.


"Hey Ara, kamu sangat cantik. Lihat pangeran di sebelah kamu juga begitu tampan. Kamu sangat beruntung, bisa memilikinya." ujar Ara bicara sendiri.


"Hubby, Ara rindu. Hari ini hubby belum memberi kabar, semoga hubby baik-baik aja disana." Ara mengambil ponselnya dan menatap foto Alan yang memenuhi layar ponselnya.


"Bi, jika waktu bisa diputar lebih cepat. Ara akan memutarnya agar kita bisa kembali bersama. Maaf bi, padahal baru 10 hari hubby pergi. Tapi Ara sudah merindukan hubby."


Mata Ara mulai terpejam saat kantuknya mulai menyerang. Mungkin karena efek obat yang Ara minum.


Suara dering ponsel Ara berhasil membuatnya terbangun. Ara mencari ponselnya yang entah dimana. Ara membuka matanya sedikit dan melihat nama seseorang di layar.


"Ara ngantuk." ucapnya saat panggilan video tersambung. Ya, Alan lah yang memanggil. Ara kembali memejamkan matanya sambil memegang ponselnya.


"Sayang, tidak rindu dengan hubby?" tanya Alan tersenyum saat melihat Ara kembali tertidur.


"Rindu bi, tapi nanti aja rindunya. Ara benar-benar ngantuk." oceh Ara. Ia menarik selimutnya.


"Ya sudah, kalau begitu hubby matikan ya?" Mendengar hal itu Ara langsung membuka matanya.

__ADS_1


"Hubby, temani Ara tidur." rengek Ara. Alan tertawa renyah saat melihat raut wajah Ara. Ara bangun dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang.


"Tidak jadi tidur?" tanya Alan yang terlihat sedang minum sesuatu.


"Nanti hubby matikan. Hubby minum apa? Emang lagi dimana?" tanya Ara meneliti sekeliling dimana Alan berada.


"Di kamar, hubby lapar. Jadi pesan makanan." jawab Alan.


"Maaf ya bi, seharusnya Ara menyiapkan semua keperluan hubby. Pasti hubby repot sendiri disana." ucap Ara merasa bersalah.


"Tidak apa-apa sayang, ini semua bukan keinginan kita. Hubby harus belajar mandiri."


"Ya, Ara harap waktu berjalan dengan cepat. Ara gak sabar mau ketemu hubby. Oh iya bi, boleh gak besok Ara keluar sebentar?"


"Mau kemana? Jika tidak terlalu penting lebih baik jangan. Kamu belum sehat sayang, hubby tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. Kalau mau beli sesuatu titip aja pada Arin." ujar Alan. Ara mengerucutkan bibirnya.


"Ara bosan bi dirumah setiap hari. Makan, minum, tidur, gitu aja terus. Ara kan mau lihat dunia luar juga." oceh Ara dengan raut wajah kesal. Alan tertawa mendengar ocehan sang istri.


"Pokoknya tetap dirumah sampai kamu sembuh. Setelah itu baru bisa keluar, jangan membantah Ok?" ujar Alan sambil tersenyum penuh arti. Ara menghela napas berat.


"Baiklah suamiku, apapun yang anda katakan akan saya dengar." ucap Ara.


"Bagus. Itu baru namanya istriku." ucap Alan. Ara menatap wajah Alan begitu intens.


"Hubby kurang tidur ya? Kan sudah Ara bilang hubby tidak boleh bergadang. Kalau hubby sakit gimana? Siapa yang jaga hubby nanti? Ara kan cemas bi," ujar Ara panjang lebar. Alan tersenyum senang mendapat perhatian lebih dari Ara.


"Maaf sayang, akhir-akhir ini hubby banyak tugas. Siang hubby harus mengurus kantor dan kuliah. Jadi hubby cuma punya waktu malam."


"Bi, sesibuk apapun itu. Hubby harus tetap memikirkan kesehatan hubby. Jangan lupa makan, dan minum vitamin. Ara sayang hubby, tolong jaga kesehatan. Ara janji, secepat mungkin Ara akan menyusul hubby. Hubby harus tetap semangat." ujar Ara tersenyum manis. Hal itu berhasil membuat rasa lelah dan sakit di tubuh Alan sirna.


"Iya sayang, apapun itu. Hubby akan melakukan yang terbaik untuk kamu." ucap Alan. Ara tersenyum dan kembali merebahkan tubuhnya.


"I love you my husband, I miss you my best friend forever." ucap Ara memberikan kecupan jarak jauh. Alan memejamkan matanya seakan kecupan itu sampai padanya.


"I love you to my wife and I miss you so much my little princess." ucap Alan yang berhasil membuat pipi Ara merona.


"So sweet." ucap Ara mengedipkan matanya.


"Jika dekat, aku sudah mengigitmu honey." ucap Alan mengusap layar ponselnya. Ara tertawa renyah mendengar ucapan Alan.


"Untung saja Ara jauh, jadi hubby tidak bisa berbuat macam-macam."


"Tunggu saja nanti, aku tidak akan melepaskan kamu sayang."

__ADS_1


"Ok! Siapa takut?" ucap Ara yang di sambut tawa oleh Alan. Ara ikut tertawa. Ia benar-benar sangat senang. Walaupun mereka terpisah jarak yang cukup jauh. Namun keromantisan masih tercipta seperti biasa. Saling percaya dan menghargai satu sama lain adalah kunci agar hubungan tetap baik, walaupun jarak dan waktu memisahkan.


__ADS_2