
Bak rembulan yang menyinari alam semesta. Kau adalah rembulanku, yang selalu menerangi kehidupanku.
~Ketulusan Hati 2~
Ku tatap istriku yang sedang berdiri di hadapanku. Dia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun yang aku berikan. Gaun berwarna pink dengan kerudung yang berwarna senada pun menambah kecantikan pada dirinya. Wajah yang selalu merona dan mata indah yang selalu membuatku teduh.
"Alan, kok bengong sih?" Aku sangat terkejut saat ia sudah berada di panggkuanku. Bibirnya maju beberapa senti. Aku tersenyum dan mengecup pipinya yang merona. Ingin sekali aku menggigitnya.
"Ada apa?" tanyaku sambil terus menikmati pemandangan yang tak akan pernah bisa telihat dengan jelas oleh organ lain. Semburat merah di pipinya yang putih membuat jantungku selalu bedebar.
"Alan, kita mau liburan kemana sih? Kok Ara gak dikasih tahu?" ucapnya mengalungkan kedua tangannya di leherku.
"Nanti juga akan tahu, sabar sayang. Kalau aku kasih tahu nanti bukan kejutan lagi dong. Sa... bar... " ucapku mencubit kedua pipinya.
" Ih, jangan cubit. Sakit tahu." rengeknya sambil memukul bahuku. Aku tertawa melihat wajahnya yang semakin merona.
"Kamu sangat cantik." ucapku menatap wajahnya yang masih memasang ekspresi kesal.
"Jangan gombal. Kalau sering di cubit, nanti Ara cepat tua tahu!" ucapnya sambil menekan hidungku. Pipinya menggembung seperti ikan buntal.
"Siapa yang bilang?" tanyaku. Dia menatapku dan tersenyum.
"Ara yang bilang, Hehe." ucapnya sambil tersenyum malu. Aku ikut tersenyum, ku tangkup pipinya dan ku tatap matanya dalam-dalam.
"Dengar, mau seperti apapun kamu. Aku akan tetap mencintai kamu. Mau jelek, tua, aku tidak perduli. Yang aku tahu, kamu adalah Ara ku yang paling cantik dan begitu manis. Kalau dibaratkan kamu itu seperti sang rembulan. Bak rembulan yang menyinari alam semesta. Kau adalah rembulanku, yang selalu menerangi kehidupanku." ucapku mengecup bibirnya. Ara telihat mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Alan gombal ya? Ihhh, belajar dari siapa? Udah berapa orang yang kamu gombalin. Jihan juga kamu gombalin?" ucapnya yang berhasil membuat mood ku berubah. Aku paling tidak suka jika membawa nama orang lain. Dalam benakku sedikitpun tak pernah memikirkan wanita manapun.
"Alan, Ara minta maaf. Ara cuma bercanda." ucapnya membuyarkan lamunanku. Aku bisa melihat air matanya sudah tertahan dipelupuk matanya. Sudah cukup malam kemarin aku melihatnya menangis semalaman.
"Ck, jangan menangis. Aku hanya tidak suka kamu membawa orang lain saat kita berdua. Jangan pernah mengulanginya Ok?" ucapku mengecup kedua matanya. Ara tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah, kita harus segera berangkat matahari sudah mulai muncul." ucapku merapikan kerudungnya.
"Hmm... Tapi makan dulu ya, Ara lapar." ucapnya. Aku mengangguk. Dia terlihat sangat senang. Memang tidak sulit membuatnya bahagia. Hal sederhana pun akan membuatnya begitu bahagia. Itu lah istriku. Tak akan ada orang lain yang sama seperti dirinya.
Apalagi di zaman yang serba modern seperti saat ini. Banyak wanita yang sudah salah jalan karena mengikuti perkembangan zaman. Boleh saja mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, asalkan harus tetap mengutamakan moral dan akhlak.
Banyak yang mengatakan wanita itu lemah karena sedikit-sedikit menangis. Namun bagiku tidak, wanita bukan lemah. Namun dia memiliki hati yang begitu lembut dan sangat rapuh. Ibaratkan seperti gelembung sabun. Sendikit kita sentuh, maka akan langsung pecah. Begitu pun hati wanita. Wanita adalah permata yang sangat berharga dan harus dijaga dengan ketat.
"Alan, berapa hari kita disana?" tanyanya saat kami mulai menuruni anak tangga.
"Mungkin satu minggu." ucapku mengeratkan genggaman tanganku. Ara tersenyum lebar.
__ADS_1
"Yeah, kalau begitu Ara akan melupakan sejenak masalah skripsi. Huh, senangnya." ucapnya begitu semangat. Aku tersenyum senang saat melihat wajahnya begitu penuh kebahagiaan.
"Tin tin, awas-awas kereta mau lewat. Kalau mau mesra-mesraan jangan ditengah jalan." ujar seseorang yang berhasil membuat kami terkejut. Siapa lagi kalau bukan Arin. Dia memang sangat jahil dan tak bisa melihat kebahagiaanku. Dengan sengaja ia melepaskan pautan tangan kami.
"Arin!!" ucapku kesal. Dia menatapku sambil tertawa.
"Makanya kalau liburan tuh ngajak-ngajak. Ini belum seberapa, setelah kalian pulang, aku bakal ganggu kalian terus. Woeee... " ujarnya sambil menjulurkan lidah. Dia pun langsung melesat pergi.
Ck, anak itu selalu saja begitu. Sudah aku katakan, dia selalu mengacaukan kebahagiaanku. Sangat menyebalkan.
"Hihi.. Dia sangat lucu. Kalau kita punya anak, Ara mau dia selucu itu."
"Ck, jangan ngaco. Aku mah ogah punya anak kayak dia. Ngeselin." ucapku kembali menggenggam tangannya.
"Ih, tapi Ara mau yang kayak Arin. Lucu dan menggemaskan." ucapnya dengan mata berbinar. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Bisa aku bayangkan seperti apa jika anakku nanti seperti Arin. Mungkin aku akan tua sebelum waktunya.
Huh, kenapa jadi membahas anak? Memikirkannya saja aku bisa tersenyum sendiri. Membayangkan anak, apa dia akan selucu Ara atau setampan aku ya? Hahaha...kita lihat saja nanti. Ikut papanya yang super tampan atau semanja ibunya. Aku melirik Ara yang sedari tadi terus tersenyum. Apa dia juga sedang memikirkan hal yang sama? Hah, biarkan saja dia bermain dengan pikirannya sendiri.
***
"Alan! Kenapa tidak bilang kalau mau ke aceh sih? Disana kan ada paman. Kita beli oleh-oleh kek." rengeknya saat kami sudah berada di dalam pesawat. Aku tersenyum dan mencubit hidungnya.
"Siapa bilang mau kerumah paman. Kita tidak akan kesana." ucapku pura-pura tidur.
"Jangan dipikirin, semuanya aman terkendali." ucapku mengusap kepalanya. Ara menatapku sekilas, lalu ia kembali memalingkan wajahnya.
"Nikah muda ya dek?" tanya seseorang yang duduk di sebelahku. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Hmmm, keliatan istrinya masih sangat manja." ucapnya.
"Kami tidak ingin berlama-lama dengan dosa pak, pacaran setelah menikah lebih baik." ucapku sambil tersenyum. Orang yang duduk di sampingku adalah bapak-bapak, mungkin seumuran papa. Hanya saja dia sedikit berjanggut.
"Betul itu, saya setuju dengan masnya. Oh iya, perkenalkan nama saya Aji." ucapnya mengulurkan tangan.
"Alan." ucapku membalas uluran tangannya.
"Dari mana? Masih kuliah atau gimana?" tanyanya lagi.
"Jakarta pak, saya dan istri masih kuliah. Ini mau liburan ke Aceh. Sesekali, kebetulan istri juga masih berdarah Aceh." ucapku. Lalu kurasakan kepala Ara bersandar di pundakku. Sepertinya dia tertidur.
"Wah, memang sudah libur ya anak kuliah? Anak saya belum libur." ucapnya. Aku tersenyum.
"Kami mahasiswa akhir, jadi mau refreshing sejenak." ucapku bingung mau menjawab apa. Sebenarnya ini liburan buatan sendiri.
__ADS_1
"Oh iya-iya, saya faham. Saya salut dengan kamu, masih muda sudah berani mengambil keputusan. Mahasiswa akhir ya? Memang masa-masa sulit, berapa umur?"
"19 pak, jalan 20." ucapku. Aku bisa melihat keterkejutan dimatanya.
"Wah, saya tekejut mendengarnya. Masih 19 tahun sudah menikah dan mahasiswa akhir. Akselerasi?" ucapnya yang aku jawab dengan anggukan.
"Istri juga?"
"Ya, kami seperjuagan. Sejak kecil." ucapku dengan jujur.
"Haha...cinta sejati ceritanya ya? Bagus-bagus, ini baru namanya hidup cerdas. Semua dilakukan dengan express." ujar pak Aji sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa.
"Saya punya anak perempuan, seumuran dengan kalian. Dia baru semester 4. Kuliah di Aceh. Ini saya mau kesana, jenguk anak saya. Sudah hampir satu tahun tidak pulang. Jadi saya yang harus kesana." ujarnya.
"Sendirian? Istri bapak tidak ikut?" tanyaku. Namun seperti aku membuat kesalahan. Pak Aji terlihat diam dan menatap lurus kedepan.
"Istri saya sudah meninggal, saat melahirkan anak saya. 19 tahun saya hanya menghabiskan waktu berdua dengan anak saya. Itu sudah cukup membuat kami bahagia." ucapnya dengan wajah sedikit murung.
"Maaf pak, saya tidak ada maksud...
"Tidak apa-apa. Kebetulan saya juga tidak punya teman curhat. Seperti kamu orang yang asik, tidak keberatan kan saya sedikit bercerita." ujarnya.
"Tantu, saya akan mendengarkan apapun itu. Asalkan bapak senang." ucapku. Pak Aji tertawa. Ada rasa senang saat melihat wajah bahagianya.
"Dulu saya juga menikah muda, tapi yang tepatnya istri saya yang lebih muda. Saat itu umur saya 22 tahun dan istri saya 17 tahu. Dia baru selesai SMA dan saya masih kuliah semester akhir."
"Saya memutuskan untuk langsung menikahinya karena takut dia diambil orang. Hahaha...masa muda yang sangat indah. Hanya bermodal seperangkat alat solat saya melamar istri saya saat itu. Tapi alhamdulillah kedua orang tuanya setuju, walaupun sedikit berat melepaskan putrinya. Pada akhirnya kami pun menikah.
Masa itu benar-benar masa sulit, makan saja susah. Saya bukan orang yang suka meminta uang pada orang tua. Saya kuliah pun hasil jerih payah sendiri. Walaupun tekadang mama sesekali mengirim uang untuk makan. Tapi saya tidak pernah mengeluh, karena istri saya selalu mendukung apapun itu. Dia memang masih terlihat kekanak-kanakan dan sangat manja. Tapi dia juga memiliki sisi lain, dibalik sifatnya itu. Dia sangat bijak dan dewasa.
Setahun setelah pernikahan itu. Kami diberikan titipan yang begitu berharga dari Allah. Istri saya hamil. Saya sangat senang. Belum juga reda kebahagian itu, saya kembali mendapat kabar jika saya diterima Kerja di sebuah perusahaan besar. Saya langsung sujud syukur, nikmat tuhan yang tak bisa di balas dengan apapun.
Kehidupan kami pun mulai berubah. Yang dulunya susah, kini semuanya sesuai apa yang diinginkan. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Istri saya mengalami pendarahan saat melahirkan. Nyawanya tak tertolong. Saya sempat prustasi dan melampiaskan semuanya pada anak itu. Tapi lama kelamaan saya sadar. Semua ini adalah takdir dari sang maha kuasa. Saya membesarkan anak itu sendiri. Dengan penuh kasih sayang. Dan kebagian itu kembali, walaupun tanpa kehadirannya. Semuanya akan terlewati dengan mudah, asalkan kita ikhlas."
Tanpa sadar air mataku menetes. Dengan cepat aku menghapusnya. Ku lihat pak Aji juga menangis. Aku tahu, luka lama itu pasti kembali terbuka. Aku melirik istriku yang masih tertidur pulas. Ku kecup tangannya. Aku berharap kami bisa memiliki waktu lebih lama.
"Nak, jangan karena mendengar cerita ini kamu takut semua yang terjadi pada saya akan terjadi sama kamu. Tidak perlu takut, setiap orang memiliki jalan masing-masing. Jalani semuanya seperti biasa. Sebagai suami, kamu harus banyak bersabar. Semoga kalian cepat diberikan momongan." ujar pak Aji menyentuh pundakku. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Ambil hikmahnya, jangan ambil hal negatifnya. Apa yang kamu lakukan itu sudah benar, bahagiakan dia." imbuhnya. Apa yang pak Aji katakan memang benar. Setiap manusia sudah memiliki garis takdir masing-masing. Aku akan terus berusaha membahagiakan istriku.
"Terimakasih pak, sudah memberikan wejangan hangat untuk saya. Semua yang bapak katakan memang benar, saya akan mengingat semunya dengan baik." ucapku.
"Saya yang seharusnya berterimakasih, kamu sudah mau mendengar ocehan saya."
__ADS_1
"Ocehan yang begitu penuh makna." ucapku yang di sambut tawa oleh pak Aji. Aku pun ikut tertawa. Kemudian kami kembali mengobrol untuk menghilangkan rasa bosan. Tiga jam bukanlah waktu sebentar, cukup membosankan jika pak Aji tidak ada.