
Aku merasa aneh, perlahan aku membuka mataku. Bagaimana aku bisa berada diatas kasur? Terakhir kali aku ingat, aku menangis diatas sofa. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Apa Alan sudah pulang? Tapi, dimana dia saat ini? Apa ia masih marah padaku? Hiks, aku sama sekali tak bermaksud untuk menyembunyikan semuanya. Aku kira semua ini tak akan menjadi masalah. Tapi aku salah, sudah seharusnya aku selalu berterus terang padanya. Ini memang salahku.
Aku menyeka air mataku yang terus mengalir dengan deras. Sakit rasanya saat mendengar Alan membentakku, dengan wajah yang penuh dengan amarah.
"Maafkan Ara bi, Ara cuma cinta dengan hubby. Seharusnya hubby percaya itu."
Hoek... Aku menutup mulutku saat perutku terasa mual. Aku berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutku. Mulutku seketika terasa begitu pahit, kepalaku sangat pusing. Aku melihat seisi kamar mandi, semuanya seperti berputar. Aku berpegangan di dinding, menahan agar tubuhku tidak jatuh. Perutku masih sangat mual, kakiku juga sangat lemas. Hoek... Aku kembali memuntahkan cairan yang keluar dari perutku. Kakiku semakin lemas.
Setelah tak terasa mual. Aku duduk diatas kloset, aku tidak sanggup lagi berdiri. Kepalaku terasa berputar, juga berdenyut hebat. Aku berusaha untuk bangun. Hingga tiba-tiba aku merasakan seseorang memegang tanganku.
"Hubby," ucapku saat melihat Alan kini tengah menatapku.
"Are you ok?" tanyanya menyentuh pipiku. Aku terus memandang wajahnya. Berharap ia benar-benar tak marah lagi padaku.
"Maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Air mataku kembali meluncur dengan deras. Aku sangat takut jika Alan akan pergi lagi.
"Sudah jangan menangis, lupakan itu," ucapnya menyeka air mataku.
"Kamu sangat pucat sayang, apa perlu kita kerumah sakit?" lanjutnya. Aku hanya membalas dengan gelengan. Saat ini aku hanya ingin memeluknya. Ku peluk dirinya dengan erat, tangisanku kembali pecah.
"Jangan marah lagi, Ara takut bi."
"Maaf sayang, sebaiknya kita langsung ambil air wudhu. Setelah salat, kamu kembali istirahat. Aku tahu kamu lelah, jangan menangis lagi."
Aku menatapnya begitu dalam. Apa benar dia tidak marah lagi padaku? Ku sentuh tangannya yang digunakan untuk menghapus air mataku.
"Hubby tidak marah lagi kan?" tanyaku menatapnya dalam. Aku harap Alan benar-benar memaafkan aku.
"Tidak, maafkan aku. Aku terlalu terbawa perasaan, tidak seharusnya aku membentakmu tadi." Aku tersenyum saat Alan mencium keningku. Aku bahagia, Alan tidak marah lagi.
"Dengar sayang, mulai sekarang. Apapun yang terjadi, tolong katakan pada hubby ok? Hubby lebih menyukai kejujuran kamu, hal ini jangan terulang kembali," kata Alan. Aku mengangguk.
"Sorry," lanjutnya menarikku ke dalam pelukannya. Ku pejamkan mataku, darahku berdesir hebat. Merasakan kebahagiaan yang teramat.
__ADS_1
"Ayok ambil wudu," ajaknya, aku pun mengangguk.
Setelah melaksanakan salat, aku kembali naik ke atas ranjang. Kepalaku sangat sakit, mungkin efek menangis tadi.
"Apa masih sakit?" tanya Alan duduk di sebelahku. Aku mengangguk pelan.
"Hubby minta maaf sayang, ini semua kesalahan hubby. Jika saja hubby tidak terbawa perasaan, kamu tidak akan seperti ini."
Alan mengusap wajahku dengan lembut. Aku juga bisa melihat penyesalan yang begitu dalam di matanya.
"Jangan membahas itu lagi bi, Ara faham perasaan hubby. Ara juga minta maaf," ucapku mencium punggung tangannya. Aku pejamkan mata saat Alan mengecup keningku.
"Istirahatlah," ucapnya seraya membenarkan selimutku. Aku tersenyum, membaringkan tubuhku yang terasa pegal. Aku mencari posisi nyaman, sulit sekali mencari posisi yang nyaman. Biasanya aku tertidur di pelukan Alan.
"Bi, Ara mau di peluk," pintaku menatapnya lekat. Alan ikut menatapku, lalu ia membaringkan tubuhnya di sampingku.
"Masih saja manja, bagaimana jika nanti anak kita lahir huh?" ujarnya. Aku hanya tersenyum dan langsung memeluknya.
"Ara sayang hubby, I love you bi."
***
"Sayang, masih lama?" teriak Alan dari arah luar. Dengan cepat aku merapikan kerudungku. Aku mengambil tas milikku dan bergegas keluar. Hari ini adalah oral defense nya. Aku akan menemaninya sidang yang akan di langsungkan sekitar 2 jam lagi.
"Sudah," ucapku. Aku melihat penampilan Alan yang begitu menawan. Alan terlihat begitu rapi, rambut yang tadinya sedikit panjang kini sudah tertata rapi. Jas yang ia kenakan juga begitu pas di tubuh kekarnya.
"Ada apa? Jelek ya?" tanyanya.
"Hmmm...jelek banget. Tapi bohong," ucapku menggodanya.
"Jangan menggodaku, ini bukan waktu yang tepat."
Alan mengecup kening dan perutku bergantian. Lalu kami pun langsung berangkat. Semoga semuanya di berikan kelancaran.
__ADS_1
Sesampainya di ruang sidang. Aku duduk di bangku paling depan. Disana sudah terlihat Alex, Michael dan Jane. Menatapku sambil tersenyum. Seluruh dosen yang bersangkutan sudah hadir. Termasuk Prof. Luis, ia sudah duduk rapi di tempatnya.
"Doakan hubby sayang," ucap Alan. Aku mengangguk. Alan menyentuh perutku dan mengecupnya begitu mesra. Aku tersenyum.
"Abi berjuang dulu sayang," lanjut Alan.
"Iya abi, jangan lupa baca doa bi," ucapku menirukan suara anak kecil, aku merapikan dasinya. Alan tersenyum, mengecup keningku. Tidak lama, dosen pun memanggil namanya. Itu artinya sidang akan segera di mulai.
Aku tersenyum, menggenggam tangannya untuk memberikan semangat. Alan melepaskan genggamanku dan bergegas menuju podium tempat dimana ia akan melakukan presentasi.
"Semangat bi, Ara selalu mendoakan yang terbaik untuk hubby. Insha Allah semuanya berjalan lancar,"
"Dia pasti bisa," ujar Jane menyentuh lenganku. Aku tersenyum dan mengangguk.
Aku duduk manis sambil menyaksikan kehebatan suamiku. Dia benar-benar sangat tampan saat bicara di depan sana. Aku bisa melihat, tak ada sedikitpun kegugupan dalam dirinya. Ia terlihat tenang dan begitu menguasi materi. Pertanyaan-pertanyaan dari beberapa dosen pun mendapat respon yang baik dari Alan.
Waktu begitu cepat. 45 menit berlalu, sidang Alan akhirnya usai. Beberapa kali aku mengucapkan hamdallah, mengirimkan sejumput syukur telah mempermudah lisan dan urusan suamiku hari ini. Semua yang ada di ruangan sidang di minta untuk keluar karena para penguji akan berdiskusi untuk menentukan apakah Alan lulus atau tidak.
Ku genggam erat tangannya. Aku tersenyum sambil menatap netra indahnya.
"Insha Allah lulus, hubby sudah menunjukkan kemampuan hebat hubby. Well done, hubby!" Aku memeluknya untuk memberikan semangat. Alan tersenyum sambil mengusap kepalaku. Jane, Alex dan Michael pun tersenyum.
"Pasti lulus, kau sangat hebat. Persentasimu sangat keren, tanpa terbata. Kau juga menangkis seluruh pertanyaan gila para Profesor." Alex menepuk pundak Alan.
"Ya, aku setuju. Besok giliranku, doakan agar aku bisa sepertimu." giliran Michael yang angkat bicara. Mereka saling menyemangati satu sama lain. Aku tersenyum melihatnya.
Setelah 10 menit berlalu, kami di panggil kembali oleh tim penguji untuk masuk ke ruangan. Alan kembali naik ke podium. Jantungku ikut berdegup kencang. Aku menatap para penguji, termasuk Prof. Luis. Mereka tersenyum pada Alan. Aku juga bisa melihat jika kali ini Alan mulai gugup. Bisa di lihat dari raut wajahnya yang sedikit berkerut.
"Baik, kami sudah memutuskan hasil sidangmu hari ini, Arlan." Prof. Luis membuka pembicaraan. Kami semakin tegang, menunggu jawaban dari keputusan para Professor.
"Kamu lulus hari ini."
Aku tertawa renyah saat mendengarnya. Semua orang yang ada di ruangan memberikan tepuk tangan untuk Alan. Aku kembali mengucapkan hamdallah, bersyukur atas nikmat yang begitu luar biasa.
__ADS_1
Aku sangat terharu saat melihat butiran bening terjatuh di pipinya. Aku ikut menangis. Alan berjalan untuk menyalami para Professor. Ku hapus air mataku yang terus mengalir. Air mata kebahagiaan. Semoga kedepannya kebahagiaan terus mengelilingi kami. Dengan hadirnya malaikat kecil dalam hidup kami.