
Hari demi hari berlalu. Waktuku hanya tersisa empat minggu lagi berada di perusahaan ini. Ada perasaan takut karena hampir setiap hari dia menghampiriku. Walaupun niatnya baik hanya untuk mengajakku berteman. Namun aku masih sadar, saat ini aku adalah seorang istri. Aku harus menjaga jarak dengan pria manapun. Aku berusaha untuk menolak dekat denganya.
Aku juga sangat sedih, sudah hampir satu minggu Alan tidak memberi kabar. Ini yang sangat aku takutkan. Dia mulai sibuk dan melupakan aku. Huh, aku sangat merindukanmu Alan.
"Ra! Ya tuhan, sudah sepuluh kali aku memanggilmu. Kamu kenapa sih?" seru Clara yang berhasil membuat lamumanku buyar.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing." jawabku. Aku kembali pokus pada pekerjaanku. Huh, pinggangku sakit sekali. Sudah tiga jam aku hanya duduk di depan komputer. Sudah beberapa hari aku juga sering kram perut. Mungkin aku terlalu lelah bekerja.
"Kamu udah makan?" tanya Clara. Aku menggeleng pelan. Aku tidak selera makan, tak ada yang makanan yang bisa masuk kedalam perutku. Setiap kali aku makan, aku akan mual dan memuntahkan semuanya. Sepertinya asam lambungku naik.
"Ck, kamu harus makan Ra. Aku lihat kamu kurusan deh. Aku tahu rindu itu berat, tapi kamu juga harus jaga diri kamu dong. Makan ya? Aku bawa bekal nih." ujar Clara menyodorkan bekal miliknya.
"Tidak perlu Cla, aku tidak lapar." ucapku. Aku sama sekali tidak selera apapun. Aku hanya ingin Alan. Aku benar-benar merindukannya. Kamu kemana bi, Ara rindu. Apa sesibuk itu sampai lupa padaku? Hah, mungkin aku harus menghubunginya saat pulang nanti.
"Dillara, kamu di panggil keruangan bos."
Aku sangat terkejut saat namaku di sebut. Ruangan bos? Buat apa aku kesana?
"Baik lah, saya akan langsung kesana." ucapku. Ada sedikit rasa takut di hatiku.
"Ra, kamu kok dipanggil ke ruangan bos? Kamu buat kesalahan ya?" tanya Gina menatapku heran.
"Aku tidak tahu, aku juga merasa tidak pernah membuat masalah. Sudah lah, aku harus pergi." ujar ku sambil mematikan komputer. Aku menyambar buku catatanku dan langsung beranjak menuju ruangan bos. Kenapa dia terus menggangguku? Apa sebenarnya maunya?
"Permisi." ucapku mengetuk pintu. Aku bisa mendengar suara dari dalam agar aku langsung masuk. Aku membuka pintu dengan rasa takut.
"Maaf pak, ada perlu apa bapak memanggil saya?" tanyaku sambil menunduk. Aku tidak pernah berani untuk melihat wajahnya.
"Duduk Ara." titahnya. Aku mengantuk dan langsung duduk disana.
"Siang ini temani saya menemui klien dari luar negeri. Saya hanya ingin membantu kamu untuk mendapatkan data. Jadi bersiap lah, satu jam lagi kita akan berangkat." ujarnya yang berhasil membuatku sangat terkejut. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa aku akan pergi hanya dengannya?
"Apa hanya kita berdua pak?" tanyaku gugup.
"Tidak, Anita juga akan ikut. Jadi jangan khawatir." jawabnya yang berhasil membuat napasku sedikit lega.
"Baiklah, apa masih ada yang ingin bapak sampaikan?" tanyaku.
"Tidak ada, kamu bisa kembali bekerja." ucapnya. Aku mengangguk.
"Terimakasih pak, saya pamit dulu. Assalamualaikum." ucapku langsung beranjak pergi. Huh, ruangan itu membuat jantungku seperti mau copot.
Aku menjatuhkan tubuhku di kursi. Rasanya sangat melelahkan. Akhir-akhir ini aku sangat mudah lelah. Aku juga sering mengantuk. Ada apa denganku sebenarnya? Apa karena aku terlalu banyak pikiran? Hah, aku sangat pusing.
"Bagaimana Ra?" Aku sangat terkejut saat Clara dan yang lain tiba-tiba nongol.
"Bos cuma mau aku ikut pertemuan dengan klien." jawabku dengan malas.
"Ck, enak banget sih. Mau ikut dong." rengek Disa.
"Kamu minta sana sama bos, jangan merengek sama aku." ucapku.
"Becanda deh. Eh Ra, aku mencium bau-bau yang aneh deh. Kayakanya si bos naksir kamu deh."
"Uhuk Uhuk... " Aku teesedak saat mendengar ucapan Disa.
"Eh, jangan asal bicara kamu. Aku sudah punya suami." ucapku.
__ADS_1
"Ye, siapa tahu kan beneran? Habis yang di perhatiin kamu terus sih. Padahal kan kita juga butuh perhatian. Udah aku bilang, LDR itu berat. Gimana nasib Alan di sana ya? Pasti banyak banget yang naksir dia. Secara kan dia ganteng, pinter...
"Hushhh,,,, ngomong apa sih kamu Sa. Jangan nodai pikiran Ara deh. Ra, gak usah dengerin tu anak. Gak beres dia mah." ujar Clara menepuk pundakku. Tapi ucapan Disa ada benarnya juga. Bagaimana dengan Alan disana? Astagfirullah Ara, apa yang kamu pikirkan. Alan tidak mungkin melakukan itu, kamu harus meminta maaf padanya. Jangan berburuk sangka.
Akhhh... Kenapa perutku sakit. Apa tamu bulananku datang? Ssst, sakit sekali.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Clara. Aku menggeleng pelan. Rasa sakitnya sedikit menghilang. Sepertinya tamu bulananku akan segera datang.
"Ra, kalau kamu sakit bilang. Jangan di paksa kerja gini. Kamu sering banget pucat,"
"Aku tidak apa-apa, sepertinya aku datang bulan. Jangan khawatir." ucapku. Aku bisa melihat wajah cemas mereka. Aku tersenyum.
"Sudah sana kerja lagi, nanti ketahuan ngobrol bisa kena marah." ucapku. Mendengar perkataanku, mereka pun langsung berhambur ketempat masing-masing. Bagaimana tidak, pembimbing kami sangat galak. Jadi sedikit saja membuat kesalahan pasti akan kena semprot. Yang selalu menjadi sasaran adalah nilai. Lucu sekali memang.
***
Saat ini aku sudah berada di dalam mobil bersama dengan pak Dio dan buk Anita. Rasanya sangat canggung. Dari tadi tak ada pembicaraan diantara kami. Aku hanya bisa diam dan menatap jalanan lurus di depan. Ya, saat ini aku memang duduk di depan. Aku tidak mungkin duduk bersama mereka.
"Ara, coba pelajari proposal ini," Buk Anita memberikan sebuah map padaku. Aku menerimanya. Aku membuka proposal itu dan membacanya dengan teliti.
"Bagaimana, kamu paham?" tanya pak Dio. Aku mengangguk.
"Bagus, aku mau kamu yang mempresentasikannya. Jangan ada kesalahan, ini proyek besar."
Deg! Jantungku seakan berhenti seketika. Bagaimana mungkin aku yang akan melakukannya? Aku hanya anak magang dan belum terbiasa dengan hal ini. Bagaimana jika aku salah bicara?
"Saya percaya kamu bisa."
"Insha allah akan saya coba pak." Aku menarik napas panjang. Semoga semuanya diberikan kelancaran. Aku sangat gugup.
"Tidak, anda sangat tepat waktu." ucap pria paruh baya dengan bahasa Indonesia yang lumayan baik.
"Bahasa Indonesia anda sangat baik tuan," ucap pak Dio duduk di sebelahku. Aku sangat terkejut, kenapa dia memilih duduk di sebelahku.
"Istriku asli Indonesia, jadi aku belajar banyak darinya."
Aku benar-benar sangat gugup, posisiku saat ini benar-benar dekat dengan pak Dio. Aku melihat kearah buk Anita yang sedang berbicara dengan wanita di sebelahnya. Ya allah, Ara harap semuanya berjalan dengan cepat.
"Dillara, panggil saja Ara. Dia mahasiswa magang, kebetulan dia memiliki kecerdasan yang cukup tinggi. Jadi saya membawanya kemari." ujar pak Dio memperkenalkan diriku pada klien. Tapi kenapa dia memujiku terlalu berlebihan.
"Owh, saya sangat senang dengan wanita yang cerdas. Sepertinya saya tidak salah orang,"
Aku hanya bisa tersenyum. Bagaimana ini? Aku sangat gugup.
"Ara, aku mempercayaimu. Lakukan dengan benar, aku yakin kau bisa." bisik pak Dio. Aku menelan air ludahku karena tenggorokanku sangat kering. Bukan presentasi yang membuatku gugup. Melainkan posisiku saat ini, pak Dio begitu dekat denganku.
Aku mulai menjelaskan isi Proposal yang kerja sama.
"Produk baru yang akan kami luncurkan kali ini bukan sekedar produk biasa. Keunggulan dari produk ini yaitu menggunakan bahan organik. Tanpa ada sentuhan pengawet. Kita tetap mengikuti perkembangan zaman, namun mengutamakan kesehatan konsumen. Kemasan akan di buat sebaik mungkin dan ramah lingkungan..."
Aku menjelaskan semuanya dengan rinci, tak ada sedikit pun yang aku lewati. Aku melihat kepuasan di wajah Mr. Albert. Aku bersyukur karena aku tidak terlalu gugup.
"Amazing! Aku menyukai cara bicara gadis ini. Dia begitu hati-hati dalam memilih kata. Kau benar tuan Andio, dia wanita cerdas. Aku sangat tertarik dengan kerja sama ini, aku harap kita bisa bekerjasama dengan baik." ujar Mr. Albert. Aku bernapas lega mendengarnya.
Akhhh... Perutku sakit lagi, seperti memang datang bulan. Ya allah, sakit sekali.
"Are you Ok?" tanya Mr. Albert menatapku. Aku mengangguk pelan. Buk Anita menyetuh pundakku.
__ADS_1
"Saya baik-baik saja, hanya kram biasa." ucapku menatap buk Anita.
"Minumlah dulu," ucap buk Anita membukakan air mineral untukku.
"Kenapa tidak bilang jika kamu sakit?" tanya pak Dio.
"Saya tidak apa-apa pak, kita lanjutkan saja." ucapku mulai merasa tak enak dengan klien. Jika seperti ini aku bisa merusak suasana.
"Mr. Andio, sebaiknya kita cukupkan pertemuan ini sampai disini. Ara harus dibawa kerumah sakit, dia terlihat sangat pucat. Kita bisa melanjutkan ini nanti, kesehatan lebih penting dari apapun." ujar Mr. Albert. Aku benar-benar merasa tak enak.
"Pak saya...
"Mr. Albert benar. Kau sangat pucat, kita harus segera pulang. Anita bantu dia ke mobil." ujar pak Dio. Ya allah, aku sudah mengacaukan semuanya.
"Ayok." ajak buk Anita. Aku mengangguk pelan. Aku melihat pak Dio berpamitan dan meminta maaf atas diriku.
"Jangan di pikirkan, dia tidak akan marah dan memutuskan kerja sama. Aku bisa melihat klien kita cukup puas dengan kamu Ara. Sebaiknya saat ini pikirkan kondisi kamu. Waktu magang kamu masih cukup lama." ujar buk Anita. Dia benar. Tapi aku baik-baik saja, hanya kram biasa. Lambung ku juga pasti kambuh karena aku sering telat makan.
"Pak, kerumah sakit." ucap pak Dio yang berhasil membuatku terkejut.
"Tidak perlu pak, saya tidak sakit. Saya cuman keram perut, ini sudah biasa terjadi. Nanti juga akan sembuh sendiri." tangkasku. Aku tidak mau kerumah sakit, aku hanya ingin pulang. Rasanya aku sangat lelah dan ingin istirahat.
"Pak, bolehkah saya pulang?" tanyaku dengan ragu. Tapi aku benar-benar sangat lelah. Aku melihat pak Dio sedikit berfikir.
"Antar dia pulang." ujar pak Dio. Aku tersenyum senang.
"Terimakasih pak." ucapku. Aku melihat kearah buk Anita. Ada apa dengan buk Anita? Kenapa raut wajahnya berubah. Apa jangan-jangan..
"Diamana alamat kamu?" tanya pak Dio.
"Kompleks Timur," jawabku. Aku menarik napas dan membuang pikiran burukku. Aku menyandarkan tubuhku di kursi. Aku kembali mengingat Alan, sedang apa dia disana? Apa dia sudah makan? Apa dia sehat? Bi, Ara rindu. Aku melihat layar ponselku, berharap Alan mengirim aku pesan. Tapi itu semua hanya hayalanku, tak ada pesan apapun darinya.
"Seharusnya dia tak meninggalkan kamu Ara, jika aku menjadi dia. Aku tak akan pernah meninggalkanmu." lamunanku buyar seketika saat mendengar ucapan pak Dio. Apa maksudnya?
"Maaf pak, bagaimana bapak bisa tahu kalau... "
"Kau tidak perlu bertanya, aku tahu kau sudah faham dengan perasaanku padamu. Aku tidak menyukai laki-laki yang tak bertanggung jawab." ujarnya yang membuat hatiku sakit. Alan bukan orang seperti itu.
"Maaf pak, bapak salah. Suami saya orang yang sangat bertanggung jawab. Bapak tidak akan mengerti itu, saya tidak perlu perhatian bapak. Terimakasih." jawabku. Aku tak terima dia menghina Alan. Bagaimanapun Alan sudah banyak berkorban dalam hidupnya. Aku tahu posisi suamiku saat ini.
"Terimakasih sudah mengizinkan saya untuk pulang dan mengantar saya. Assalamualaikum." Aku langsung turun dari mobil. Aku benar-benar sangat kecewa dengan ucapannya. Dia tidak tahu apa-apa tantang aku dan Alan. Aku tidak pernah perduli dengan perasaannya.
"Assalamualaikum." ucapku membuka pintu rumah dengan malas. Tubuhku mendadak lemas. Aku sangat lelah memikirkan semuanya.
"Wa'alaikumusalam, kamu sudah pulang sayang?" tanya mama. Aku mengangguk dan langsung beranjak menaiki tangga. Aku ingin istirahat, tubuhku benar-benar lemas.
Sesampainya dikamar, aku langsung menjatuhkan tubuhku diranjang.
"Kamu sangat bodoh, tak seharusnya aku magang di perusahaan itu. Tapi semuanya sudah terlambat Ara, bodoh bodoh. Hubby, Ara rindu. Kenapa Hubby tidak memberi kabar sih? Hiks, hubby jahat. Katanya akan selalu memberi Ara kabar? Tapi mana buktinya? Jahat!" Air mataku lolos begitu saja. Aku menangis sambil menatap langit-langit kamar. Aku membenci situasi seperti ini.
Akhhh... Perutku sakit lagi. Aku bangun dan menekan perutku yang semakin melilit. Kenapa sakitnya aneh, aku tidak pernah seperti ini saat haid. Aku berlari menuju kamar mandi untuk melihat apakah aku benar-benar datang bulan.
"Ya ampun, kenapa darahnya sangat banyak?" Ada sedikit rasa takut di dalam hatiku. Aku mengigit bibirku saat perutku seperti di remas. Aku duduk diatas closet. Ku tarik napas dalam-dalam. Sakit sekali. Aku berusaha untuk bangun dan menggapai pintu. Aku membuka pintu perlahan, rasa sakit itu semakin menjadi. Aku merasakan sesuatu mengalir dengan deras di bawah sana. Aku sangat terkejut saat melihat darah segar sudah mengalir di kakiku. Apa jangan-jangan...
"Maaa... " teriakku. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Perasaaku berkecamuk. Bagaimana jika yang aku pikirkan benar-benar terjadi? Aku tidak mau...
"Maa.. Arin..." panggil ku lagi. Tubuhku sangat lemas. Ya allah, kenapa ini? Sakit sekali. Ara tidak tahan, ini sangat sakit. Hiks... Mama, Arin... Siapapun, tolong Ara. Aku melihat pintu yang sedikit kabur. Kepalaku juga berdenyut hebat. Aku harap ini hanya mimpi dan saat aku membuka mata semuanya akan baik-baik saja. Ini hanya mimpi Ara, hanya mimpi.
__ADS_1