Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 71. Bingung (Ara)


__ADS_3

Hari ini aku sudah bisa kembali ke rumah. Rasanya begitu senang. Seminggu berada di rumah sakit membuatku benar-benar bosan.


Aku menggandong putra kecilku yang masih terlelap. Ia terlihat tampan, pipinya semakin cubby. Membuatku begitu gemas.


"Hari ini kita pulang," ucapku sambil mencium pipinya.


"Ara, bunda harus ke butik tante kamu sebentar. Sebaiknya kamu langsung pulang, supir pribadi keluarga Digantara sudah ada di depan," ujar bunda. Aku mengangguk. Sudah hampir tiga bulan tante Syila membuka sebuah butik di Jakarta Selatan, sejak saat itu. Bunda selalu sibuk membantu tante Syila.


"Ah iya, bunda juga sudah menyiapkan makanan. Jangan lupa makan, bunda tidak akan lama."


"Iya, Bun," ucapku.


"Ya sudah, ayo berangkat. Kasian cucu bunda kelamaan di rumah sakit," ajak bunda. Aku pun mengangguk. Kami mulai meninggalkan rumah sakit. Semua urusan administrasi sudah di selesaikan oleh mama Nissa. Bahkan aku tidak tahu apa-apa tentang semua itu. Aku sangat bersyukur. Mereka begitu peduli.


"Bunda, jangan terlalu lama. Ara takut sendirian di rumah," ucapku sebelum masuk ke dalam mobil.


"Iya, bunda cuma sebentar kok. Sampai di rumah, langsung istirahat. Jangan bandel," ujar bunda mengecup keningku.


"Bunda hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut," ucapku. Bunda tersenyum sambil mengangguk.


"Sudah, cepat masuk. Kasian si mamang nunggu," ucap bunda. Aku mengangguk dan langsung bergegas masuk ke dalam mobil.


"Dadah nenek, Assalamualaikum," ucapku menirukan suara anak kecil.


"Wa'alaikumusalam." Bunda tersenyum padaku. Lalu mobil yang kunaiki pun mulai melaju.


Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa melihat kendaraan yang begitu padat. Memenuhi penjuru jalan. Ibu kota masih belum berubah. Masih tetap sama seperti beberapa tahun yang lalu.


Aku kembali mengingat masa-masa sekolahku dulu bersama Alan. Saat pertama masuk sekolah menengah atas. Alan selalu menjemputku menggunakan motor. Aku tersenyum saat mengingat masa itu. Dimana aku selalu mengeluh padanya, jika aku kepanasan setiap kali menunggu lampu merah berubah hijau. Beberapa hari kemudian, Alan menjemputku dengan mobil papanya. Aku kembali memarahinya. Karena dia belum cukup umur untuk mengendarai mobil. Alan tidak pernah marah. Ia selalu menuruti semua perkataanku. Bagaimana aku tidak mencintainya, dia selalu baik padaku. Juga mengerti apa yang aku inginkan.


Aku sangat terkejut saat Junior bergerak. Matanya sudah terbuka. Aku tersenyum.


"Umi rindu abi kamu sayang," ucapku. Aku tersadar, ternyata air mataku sudah membasahi pakaian Junior.


"Maaf," ucapku mengecup keningnya. Aku memeluknya dengan erat. Bagiku, Junior adalah harta yang paling berharga satu-satunya yang aku miliki saat ini.


"Non, mamang masih sangat ingat dulu pas non sama den Alan masih kecil. Mamang yang antar kalian ke sekolah. Eh, sekarang sudah ada den Alan Junior. Waktu berputar begitu cepat," ujar mang Jajang. Aku tersenyum mendengarnya.


"Seperti itulah mang, roda bumi terus berputar semakin cepat. Semuanya dapat dengan mudah berubah," balasku.


"Sabar, Non. Gusti nu Agung mah tahu apa yang terbaik untuk hambanya, semua kesedihan pasti akan bersemi jadi kebahagiaan," ujar mang Jajang. Aku tertawa renyah.


"Mang Jajang bisa bersyair juga ternyata?"


"Ah, si non mah bisa aja. Tidak berubah dari dulu, masih saja lucu," ujar mang Jajang.


"Saya tidak akan pernah berubah mang, akan tetap menjadi Ara yang dulu," ujarku. Mang Jajang tertawa renyah.


"Non, kita ambil jalan tikus aja ya? Macet banget jalanya, kasian si den kecil."


"Terserah mamang aja, gimana baiknya," balasku. Mang Jajang pun mengambil jalan pintas.


Aku terkejut saat tiba-tiba Junior menangis.


"Shhht.., kenapa sayang? Sudah haus lagi? Tadi kan baru minum," tanyaku. Bukanya diam. Junior malah semakin menangis kencang.


"Sayang, jangan nangis. Umi disini," ucapku mengusap kepalanya dengan lembut. Junior mulai tenang. Aku menghela napas lega. Namun lagi-lagi aku terkejut. Mang Jajang tiba-tiba menghentikan mobil.


"Ada apa mang?" tanyaku penasaran.


"Itu, tiba-tiba ada mobil menghalangi jalan kita di di depan," balasnya. Aku melihat ke depan. Benar saja, sebuah mobil sudah berdiri menghalangi jalan. Aku menatap mobil yang tidak di kenal itu.


"Siapa mereka mang?" tanyaku saat melihat dua orang pria keluar dari dalam mobil. Mereka terus berjalan menghampiri kami.


"Non, tunggu di sini ya? Biar saya yang urus," ujar mang Jajang.


"Tidak usah turun mang, takut bahaya," ucapku.


"Insha Allah aman non, tunggu sebentar ya?" ucap mang Jajang keluar dari mobil. Aku menatap kedua pria itu. Mereka saat ini sedang berbincang dengan mang Jajang.


Ada apa ini? Kenapa mereka melihat ke sini? Ada apa sebenarnya?

__ADS_1


Aku sangat terkejut sesaat salah satu dari mereka membuka pintu mobil. Pria itu menatapku. Lalu kembali menutup pintu. Jantungku berpacu hebat. Aku sangat takut.


Mang Jajang? Kenapa malah masuk ke mobil mereka? Lalu siapa yang membawa mobil ini? Ya Allah, ada apa lagi ini.


Kedua pria berpakaian hitam itu masuk ke dalam mobil yang aku naiki. Aku semakin ketakutan.


"Kalian siapa? Kenapa masuk ke sini? Panggilkan mang Jajang!" pintaku dengan panik. Salah satu dari mereka menatapku. Nyaliku menciut saat melihat tatapannya. Ku peluk Junior. Perasaanku tidak enak.


Mereka mulai melajukan mobil. Jantungku berdetak semakin tak karuan. Aku terus berdoa agar kami selalu dalam lindungan Allah. Aku memeluk Junior semakin erat. Ketakutanku semakin menjadi saat mereka membawaku ke jalan yang berlawanan arah. Ini bukan jalan pulang.


"Tolong jangan bawa saya pergi, saya tidak tahu kalian siapa. Jadi saya mohon, tolong lepaskan saya," pintaku mulai menangis. Aku benar-benar sangat takut. Aku hanya takut mereka menyakiti aku dan anakku. Mereka masih bergeming, tidak memperdulikan aku yang semakin ketakutan.


Kepalaku mendadak pusing. Mataku juga tetasa begitu berat. Kenapa ini? Tidak, aku tidak boleh tertidur. Bagaimana dengan Junior jika aku benar-benar tertidur. Ku buka mataku lebar-lebar. Namun aku tidak bisa menahan kantuk yang semakin menjadi. Kepalaku juga semakin berdenyut hebat.


Kesadaranku sedikit menghilang. Aku merasakan pria itu mengambil Junior dari tanganku. Tidak, aku tidak mau kehilangan anakku. Namun aku tidak bisa menahan mataku lagi. Mataku perlahan terpejam.


***


Sayup-sayup aku mendengar suara orang berbicara. Mataku sangat sulit untuk terbuka. Aku berusaha untuk membuka mataku. Sedikit demi sedikit aku membuka mataku.


Dimana ini? Bagaimana bisa aku sudah berada di kamar seseorang?


Aku sangat terkejut saat mataku menangkap seorang wanita tengah berdiri di depan jendela.


"Kamu siapa?" tanyaku sambil memegang kepalaku yang masih sakit. Wanita itu berbalik.


Wajah itu, kenapa begitu familiar. Apa aku pernah bertemu dengannya?


"Apa kabar?" tanyanya sambil berjalan ke arahku.


"Siapa kamu?" tanyaku lagi. Aku tidak perduli dengan pertanyaannya.


"Kamu lupa, kita pernah bertemu di sebuah mall. Toko perlengkapan bayi?" ujarnya. Aku menatapnya bingung. Apa benar aku pernah bertemu dengannya? Ah, aku ingat. Dia kan wanita yang saat itu bersama...


"Dimana Alan?" tanyaku sambil menatapnya lekat. Wanita itu hanya tersenyum.


"Tolong katakan, dimana Alan?" tanyaku sedikit memohon. Aku sangat yakin, pria itu memang Alan. Lalu, siapa wanita ini? Aku melihat ke arah perut wanita itu. Perutnya sedikit membesar. Apa itu benar-benar anak Alan? Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin.


Wanita itu duduk di sebelahku. Menatapku lekat.


"Tidak, Alan tidak mungkin melakukan hal bodoh itu. Aku tahu Alan seperti apa, ini tidak mungkin."


"Kamu masih belum percaya? Setelah semua yang kamu lihat? Bahkan kamu tahu, Alan lebih memilihku."


Aku menggeleng. Alan tidak melakukan itu? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Bagaimana dengan Junior. Junior? Ya Allah, dimana dia? Kenapa aku baru mengingatnya. Aku langsung bangun dan berjalan menuju pintu.


"Dimana putraku?" Aku membuka pintu, syukurlah tidak terkunci. Aku tercengang. Saat ini di depanku sudah berdiri sosok yang sangat aku rindukan. Junior begitu tenang dalam gendonganya. Aku menatap wajah itu lamat-lamat. Benar, itu memang Alan, suamiku.


"Hubby," ucapku. Air mataku lolos begitu saja. Aku langsung memeluknya. Ya Allah, ini bukan mimpi kan? Ini benar-benar nyata.


"Kenapa hubby meninggalkan Ara? Kemana saja selama ini, huh? Ara sangat merindukan hubby. Hubby sangat jahat, membuat Ara seperti orang gila. Hubby jahat," ujarku sembari memukul lengannya. Aku merasakan kembali kecupan hangat di keningku. Aku sangat merindukan itu.


"Dasar cerewet," ucapnya sambil mengusap kepalaku. Aku menatap wajahnya.


"Kenapa hubby melakukan semua ini? Apa hubby tidak memikirkan Ara dan Junior? Kenapa hubby menyiksa Ara begitu lama?" tanyaku lagi. Aku menginginkan jawaban yang pasti.


"Kamu akan mengerti nanti, maafkan aku," balasnya. Alan memelukku begitu mesra. Ku pejamkan mataku, menikmati kehangatan yang sudah lama tidak aku rasakan. Aku melihat Junior sudah membuka matanya.


"Sayang, lihat ini. Abi sudah kembali," ucapku mengusap pipinya dengan lembut.


"Kenapa belum memberikan nama untuknya?" tanya Alan. Ku angkat kepalaku. Memberikan tatapan tajam padanya.


"Ara masih ingat janji hubby, jika anak ini laki-laki, hubby yang akan memberikan nama padanya. Ara tahu, hubby masih hidup. Jadi Ara tidak memberikan nama padanya, Ara hanya memanggilnya Junior," ujarku. Alan tersenyum. Ia kembali menggecup keningku.


"Raichal Abisatya Diganatra, bagaimana?"


Aku mengangguk. Ku kecup kening putraku dengan lembut.


"Mulai sekarang, umi akan panggil kamu Ichal," ucapku.


"Sayang, kamu sudah kembali?" panggil seseorang. Aku melihat sumber suara itu. Wanita itu lagi. Aku menatap Alan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan?" tanya Alan padanya.


"Aku hanya mengatakan kebenaran, apa itu salah?"


"Sayang, tunggu di kamar sebentar. Ada yang harus hubby bicarakan padanya," ujar Alan memberikan Ichal padaku. Aku mengangguk. Lalu Alan menarik wanita itu menjauh dariku. Jadi wanita itu benar-benar mengandung anak Alan? Kenapa Alan menyembunyikan semua ini? Apa ini alasan Alan meninggalkan aku. Lalu kenapa sekarang dia membawaku kesini?


Lamunanku buyar saat anakku menangis. Aku menatapnya lekat. Mencium keningnya dengan lembut.


"Ichal haus? Ayo kita minum," ucapku kembali masuk ke kamar.


Aku terus menatap wajah putraku yang sedang tertidur. Pikiranku kembali menerawang jauh. Apa aku akan rela berbagi dengan orang lain? Membayangkannya saja, hatiku sangat hancur. Tapi bagaimana dengan wanita dan anak dalam kandungannya itu? Apa benar itu anak Alan? Lalu apa hubungan Alan dengannya? Benarkan mereka sudah menikah? Kenapa Alan tidak mengatakan apapun padaku?


Begitu banyak pertanyaan yang melintas di kepalaku. Membuat suasana hatiku menjadi buruk.


Dor!


Aku sangat terkejut saat mendengar suara tembakan. Ada apa ini? Dari mana suara itu berasal?


Karena terkejut, Ichal terbangun dan menangis. Aku langsung menggandongnya.


"Hubby," panggilku hendak membuka pintu. Namun aku mendengar suara pintu di kunci dari luar. Aku semakin khawatir. Jantungku berdetak tak karuan.


"Hubby!" teriakku sambil menggedor pintu. Suara tembakan semakin jelas di telingaku. Aku berlari untuk mencari tempat persembunyian. Ichal semakin kencang menangis. Aku semakin ketakutan.


"Sayang, jangan menangis. Umi disini, umi akan melindungi kamu," ujarku memeluknya dengan erat.


Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Alan?


Aku kembali terkejut saat mendengar seseorang ingin membuka paksa pintu. Kakiku bergetar hebat.


"Sayang, tenang. Umi disini," ucapku mengelus punggung Ichal yang tidak mau berhenti menangis.


Brak!


Sepertinya orang itu berhasil mendobrak pintu. Ya Allah, tolong lindungi kami. Apa yang sebenarnya terjadi?


Aku memeluk Ichal dengan erat. Ku pejamkan mataku. Aku sangat takut. Alan, tolong datanglah.


"Ara!" Ku angkat kepalaku saat mendengar suara itu.


"Pak Dio?" ucapku tak percaya. Aku sangat terkejut saat melihat bercak darah di bajunya. Di tangannya juga terdapat sebuah pistol. Apa jangan-jangan...


"Dimana Alan?" teriakku. Aku harap apa yang aku pikirkan itu salah. Pak Dio tidak mungkin mencelakai Alan.


"Ikut denganku!" ucapnya menarik tanganku. Dengan cepat aku menepisnya.


"Dimana Alan? Apa selama ini bapak yang ingin mencelakai Alan?" tanyaku sengit. Pak Dio menatapku aneh.


"Dimana Alan, Pak? Tolong katakan, kenapa bapak memegang benda itu?" tanyaku lagi.


"Kamu terlalu banyak bicara, ikut denganku sekarang!" Pak Dio kembali menarik tanganku. Kali ini ia begitu erat mencekal lenganku.


"Cepat masuk!"


Aku langsung masuk ke dalam mobil. Nyaliku benar-benar menciut saat pak Dio menatapku tajam. Pak Dio melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Aku melihat ke belakang. Berharap Alan mengejarku. Membawaku untuk menjauh dari pria ini. Aku mulai takut dengan Pak Dio. Sekarang ia terlihat seperti seorang penjahat. Tetapi, semua itu hanya hayalanku. Tidak ada siapapun yang mengejarku. Apa Alan baik-baik saja? Kemana dia? Lalu wanita itu bagaimana?


"Kemana bapak akan membawa saya? Kenapa bapak melakukan ini?" tanyaku sambil terus memeluk Ichal.


"Jangan banyak bicara," balasnya datar. Aku terdiam. Percuma saja aku bicara. Pak Dio pasti tidak akan mau menjawab.


Brak!


Aku sangat tekejut saat seseorang dengan sengaja menabrak mobil yang aku naiki dari belakang.


"Pak Dio, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa mereka? Kenapa mereka ingin mencelakai kita?" tanyaku sambil melihat ke belakang.


"Menunduk!" serunya. Dengan refleks aku menunduk. Baku tembak kembali terjadi. Aku bingung. Bagaimana bisa mereka memiliki benda berbahaya itu? Aku merasa sedang berada di dalam sebuah adegan film. Semua ini tidak masuk akal. Ini bukan negara bebas seperti di luar sana. Aku semakin bingung dengan semua yang terjadi.


"Awas!" teriakku saat melihat sebuah mobil melaju kencang ke arah kami. Aku memeluk erat putraku. Jika aku harus mati. Aku rela. Asalkan putraku selamat.


Aku kembali di kejutkan oleh Pak Dio. Ia memelukku begitu erat. Aku tidak bisa melihat apapun. Semuanya berputar begitu cepat. Aku merasakan sesuatu mengalir di keningku. Suara tangisan Ichal tidak bisa aku dengar dengan jelas.

__ADS_1


"Ara.... Bertahan...lah...," suara itu terdengar begitu jauh dan menggema. Mataku tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi aku bisa merasakan kehadiran Alan.


"Bi, Ara mencintai hubby," hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Hingga aku tak mengingat apapun lagi.


__ADS_2