
Biarkan rasa ini terus berkecamuk di hati. Biar lah waktu yang perlahan menguapkan perasan ini. Biarkan mata ini mengeluarkan semua isi hati yang sudah tak bisa tertahan.
~Ketulusan Hati 2~
Entah mengapa malam ini aku tidak bisa tidur. Aku juga merasa sangat haus. Huh, ternyata air dikamar sudah habis. Aku langsung bangun dari tempat tidur dan beranjak keluar.
Saat aku kembali dari dapur. Tak sengaja aku mendengar suara orang mengobrol. Aku mencoba mendengar lebih jelas. Itu kan suara bunda dan papa. Kenapa mereka belum tidur? Ah, mungkin mereka sedang ada masalah, aku tidak perlu tahu.
"Papah tidak akan pernah mengizinkan putri kita dengan anak haram itu bun." mendengar hal itu, aku langsung menghentikan langkah kakiku. Jadi papah masih membahas masalah tadi sore. Kenapa papah mengatakan kata-kata kasar?
"Papah, jangan bicara seperti itu. Bunda tahu apa yang papah rasakan. Itu hanya masa lalu pah, jangan terlalu dipikirkan. Semuanya juga sudah teratasi. Sudah, ayok kita tidur. Jangan sampai anak-anak terbangun."
Aku mengerti sekarang. Jadi ibu pria itu adalah masa lalu papah. Maka dari itu papah langsung menolak lamarannya. Ya allah, apa begitu dalam luka yang ibu itu lakukan pada papah. Sampai-sampai papah masih menyimpan luka itu sampai sekarang.
Huh, sudah cukup Ara. Ini bukan urusan kamu, itu maslah orang tua. Kamu tidak berhak untuk ikut campur. Aku pun kembali ke kamarku.
"Ah, kenapa malam ini aku sama sekali tidak bisa tidur? Padahal besok aku harus bangun pagi." ucapku sambil terus berusaha memejamkan mata. Beberapa ayat pendek sudah aku baca, tapi mataku seakan enggan untuk terpejam.
Aku terus mencoba memejamkan mataku. Alan. Kenapa wajahnya hadir di dalam bayanganku. Dia sangat tampan. Lihat, dia tersenyum padaku. Astagfirullah, kenapa aku jadi memikirkan Alan. Aku menggelengkan kepalaku dengan kasar. Berharap wajahnya segera hilang.
"Ck, sana pergi Alan, jangan ganggu aku. Aku mau tidur." ucapku sambil memukul-mukul udara.
"Hmmm...Tapi, kenapa hari ini Alan sangat aneh ya? Tidak seperti biasanya. Tadi di pesta dia juga terus menatapku dan dia sangat marah saat ada teman pria yang menyapa ku. Apa jangan-jangan....
Akhhh,,,,, tidak mungkin Ara. Alan gak akan menyukaiku. Itu tidak mungkin, dia sudah punya Jihan."
Hoammm...mataku sudah mulai berat. Perlahan kupejamkan mataku hingga aku tak sadar lagi.
***
"Bunda... Ara telat... " teriakku berlari menuruni anak tangga yang entah sejak kapan menjadi sangat panjang.
"Pelan-pelan Ara, nanti jatuh." ucap bunda yang baru keluar dari kamar. Aku langsung menyambar tangan bunda dan menciumnya dengan lembut.
"Bun, bilang sama papah Ara sudah terlambat. Cium tangannya siang aja. Assalamualaikum bunda." ucapku mengecup pipi bunda. Aku langsung berlari sekuat tenaga.
Semoga tidak terlambat. Ini adalah kali pertama aku terlambat. Mungkin akan menjadi sejarah untukku jika benar-benar terlambat masuk kelas. Ini semua gara-gara Alan, cobak saja dia tidak hadir dalam bayanganku. Aku pasti tidak akan terlambat. Akhhh... Kenapa aku kembali mengingat nya. Lupakan dia Ara.
Sesampainya dikampus, aku langsung berlari menuju kelas. Aku tidak perduli semua orang menatap ku heran.
"Assalamualaikum, maaf pak saya terlambat." ucapku membuka pintu kelas. Namun bukan jawaban salam yang aku dengar. Melainkan tawaan semua teman sekelasku. Ya ampun, malunya aku. Ternyata pak dosen belum masuk. Dengan manahan rasa malu aku duduk di kursi paling depan. Semua masih tertawa dan menatapku.
__ADS_1
"Ara Ara.... Pasti gak lihat hp kan? Cek dulu deh." ucap teman di sebelahku. Aku langsung mengeluarkan ponselku dan mengecek grup. Hah, jadi hari ini tidak masuk? Ya ampun, aku udah lari sekenceng angin topan. Tapi ternyata dosennya gak masuk. Sakit banget guys, sakitnya tuh di ulu hati.
"Akhhh... Capek tahu gak." ucapku menjatuhkan kepalaku di meja. Semua orang kembali tertawa. Aku mengerucutkan bibirku.
"Pasti kalian sengaja kan mau ngerjain aku?" ucapku lemes.
"Enak aja, kamu aja tuh yang jarang lihat grup. Pas ada maunya aja baru nongol." ucap salah seorang teman ku. Aku berdecak kesal. Memang iya sih, aku jarang banget aktif di grup. Bagaimana aku tidak malas, jika aku sudah masuk grup semua orang hanya akan menanyakan Alan lah, minta dibuatkan tugas lah. Kan malas jadinya.
"Maaf deh." ucapku semakin malas. Aku memejamkan mataku yang masih terasa berat. Mana hari ini jadwalku Full lagi. Huaaaaaaa... Mau tidur.
"Ra, kantin yuk. Lapar nih." ajak salah satu temanku. Aku menggeleng tanpan membuka mataku.
"Kenapa sih Ra, kamu begadang tadi malam? Tumben kamu begadang?"
"Aku tuh gak begadang, tapi cuma kurang tidur aja." ucapku dengan malas.
"Sama aja kali Ra. Ya udah deh, aku kantin dulu. By Ara."
"By.. " ucapku menaikkan sebelah tanganku. Ahh, jadi seperti ini ya rasanya bergadang? Lemes banget.
Hari mulai terik. Aku melihat keluar jendela dan matahari mulai tersenyum lebar. Aku menghela nafas berat. Rasanya malas sekali untuk beranjak dari kelas. Aku lihat semua teman-teman ku sudah mulai bubar dari kelas. Ya kelas kedua sudah selesai beberapa menit yang lalu.
Lalu tak lama ponselku bergetar. Ku lihat ternyata bunda mengirimkan sebuah pesan.
Perutku sudah mulai berontak. Maklum, dari pagi aku belum sarapan. Jadi cacing di perutku sudah pada demo. Ku sambar tas milikku dan langsung beranjak pergi. Aku sudah tidak sabar ingin menghabiskan masakan bunda.
***
Eh, mobil siapa ini? Kok gak pernah lihat sih? Apa mungkin tamu papah?
Aku langsung masuk kedalam rumah karena sangat penasaran.
"Assalamualaikum bunda." ucapku berjalan menuju dapur. Namun langkahku langsung terhenti saat melihat dua orang yang tengah duduk di meja makan.
Om Arnold, tante Nissa? Kenapa mereka ada disini?
"Hey sayang, kamu sudah pulang?" aku sangat terkejut saat tiba-tiba seseorang berbisik di telingaku.
"Alan? Kamu juga di sini?" aku menatapnya bingung. Aku juga masih sangat terkejut.
"Eh, anak bunda sudah pulang. Ayok makan, semua sudah nunggu kamu." ucap bunda menghampiri kami. Lalu aku lihat Alan berjalan menuju meja makan.
__ADS_1
"Kok malah bengong, ayok kita makan." ucap bunda kembali membuatku terkejut.
"Ah iya bunda, maaf." ucapku berjalan menuju meja makan. Semua orang menatapku sambil tersenyum. Ada apa ini?
Aku menghampiri orang tua Alan dan mencium tangan keduanya bergantian.
"Sini cium tangan suami kamu." ucap Alan mengulurkan tanganya padaku. Langsung saja aku berikan tatapan membunuh padanya.
"Siapa juga yang mau punya suami kayak kamu." ucapku ketus sambil menarik kursi disebelah Alan.
Aku sudah tidak perduli. Saat ini aku sangat lapar. Aku menuang nasi ke dalam piring dan mengambil lauk kesukaanku.
"Bismillahirrahmanirrahim." ucapku sambil menyuapkan sesendok nasi. Ah, enak sekali. Selamat makan cacing-cacing di perut.
"Makan yang banyak, biar cepat besar." ucap Alan mencoba memancingku. Aku sudah tahu sifatnya. Jadi aku tidak akan terpancing. Aku mendengus kesal dan kembali melajutkan makan.
"Ara sayang, besok tidak perlu ke kampus. Izin satu hari untuk fitting baju dengan Alan." ucap tante Nissa yang berhasil menghentikan tanganku untuk mengambil tempe goreng.
"Memang nya buat apa fitting baju tan, kok harus dengan Alan?" tanyaku sambil melanjutkan niatku untuk mengambil tempe goreng yang sempat terhenti.
"Kamu ini gimana sih, ya buat pernikahan kalian lah. Masak iya buat ulang tahun." ucap tante Nissa. APAA? pernikahan? Pernikahan siapa?
"Siapa yang mau nikah? Alan mau nikah?" tanyaku kaget. Ya ampun, kenapa aku melupakan lamaran Alan pada Jihan. Sudah pasti lah fitting baju buat pernikahan Alan dengan Jihan. Tapi kenapa aku juga harus pergi? Tidak tahu apa perasaanku. Aku memakan tempe dengan sangat kesal.
"Iya, kamu setuju kan?" tanya tante Nissa yang sudah pasti di tujukan untukku. Ya allah, sakitnya hati ini. Kenapa harus nanya sama aku sih. Yang mau nikah aku atau Jihan?
"Setuju dong tan, apa pun yang Alan pilih dan Alan lakukan pasti Ara setuju. Iya kan Alan?" ucapku menatap Alan dengan senyuman semanis mungkin. Ingin sekali aku berlari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Nafsu makanku pun sudah hilang.
"Alhamdulillah, kalau begitu besok kita akan sangat sibuk. Dara, besok kita sudah bisa menjahit baju keluarga." ucap tante Nissa begitu semangat. Aku juga bisa melihat bunda sangat antusias. Kenapa bunda saat ini tidak mengerti perasaan aku sih? Apa bunda lupa aku juga sangat menyukai Alan.
Ya allah, tolong Ara. Kuatkan hati ini ya Allah.
"Ara sudah selesai, Ara pamit kekamar dulu. Tadi malam Ara kurang tidur. Ara mau tidur sebentar, bunda jam 2 bangunin Ara ya?" ucapku menatap bunda.
"Salat dulu sayang, baru tidur." ucap bunda yang langsung aku jawab dengan anggukan.
"Mimpi indah sayang." ucap Alan.
"Apaan sih." ucapku kesal. Sempat juga dia gombal. Tidak tahu apa hati ini sudah seperti remahan peyek. Aku berjalan dengan malas menuju kamar.
Aku menatap wajahku di cermin. Ku tarik kedua ujung bibirku. Kenapa sangat sulit, tadi di meja makan begitu mudah untuk tersenyum. Ck, jangan cengeng Ara. Air mata, tolong jangan keluar. Ara mohon.
__ADS_1
Bunda... Ara, tidak bisa menahannya lagi. Air mataku benar-benar tumpah. Kenapa aku sangat cengeng. Kenapa sakit sekali ya Allah.