Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Bab 75. Flash Back 2


__ADS_3

"Siapa kamu sebenarnya? Apa tujuan kamu saat ini?" Alan menarik tangan Mala dengan kasar. Milan sangat terkejut dengan sikap Alan.


"Alan, apa yang kamu lakukan? Dia adik kamu!"


"Jawab! Apa motif kamu sebenarnya?" bentak Alan penuh emosi. Mala yang mendengar itu langsung menepis tangan Alan.


"Jadi pria tua itu sudah memberi tahu kakak, baiklah aku akan menjawab semuanya. Aku memang memiliki tujuan untuk membunuh keluarga Digantara. Tapi itu sebelum aku tahu jika kakak dibesarkan di sana, dan sebelum aku jatuh cinta pada Rudi. Si penghianat yang sudah mencuri hatiku. Saat ini aku juga seorang penghianat, aku menghianti ayah yang sudah membesarkanku. Aku memilih untuk hidup bahagia bersama keluarga yang sebenarnya," jelas Mala. Ia menangis tersedu.


"Aku tahu Rudi sudah tidak ada, ayah tidak akan pernah membiarkan seorang penghianat hidup dengan damai. Dia seorang penjahat yang tidak tahu kata maaf," lanjut Mala. Alan tertegun mendengar semua itu.


"Siapa ayah yang kamu maksud?" tanya Alan. Mala menggeleng.


"Aku tidak tahu apa hubungan ayah dengan keluarga Digantara. Ayah seperti memiliki dendam yang begitu besar," jawab Mala dengan jujur.


"Dia masih keluarga Digantara, adik papa kamu. Alexander Digantara." Milan pun kini ikut bicara. Alan kembali terkejut. Ia menatap Milan seakan tidak percaya.


"Adik? Lalu kenapa ia ingin menghancurkan keluarganya sendiri?" tanya Alan penasaran.


"Papa kamu yang dulu bukanlah orang baik seperti saat ini. Ia memiliki masa lalu yang buruk. Dia itu seorang mafia, tidak segan untuk membunuh orang. Alex, dia melakukan kesalahan. Yaitu mencintai mama kamu, Nissa. Yang saat itu sudah menjadi istri papa kamu. Papa kamu mengetahui semua itu, ia menyiksa Alex hingga nyawanya hampir hilang. Beruntung Alex bisa kabur, Mama menemukan ia tergeletak di depan rumah. Mama merawatnya hingga sembuh. Mama tidak pernah menyangka ia memiliki dendam yang begitu besar." Milan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Lalu, kenapa paman ingin membunuhku?" tanya Alan bingung.


"Karena saat ini kamu memegang saham terbesar di keluarga Digantara. Alex tahu kamu bukan darah dari keluarga Digantara, oleh karena itu dia ingin menyingkirkan kamu."


"Jadi dia ingin menguasai perusahaan papa? Kenapa dia tidak datang dan mengatakan semuanya, papa akan memberikan itu dengan senang hati. Selama ini papa selalu mencari keberadaan paman, sepertinya paman tidak tahu itu." Alan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ayah tidak akan mendengarkan perkataan siapa pun, hatinya sudah di penuhi rasa benci," ujar Mala. Alan menarik napas panjang. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.


"Saat ini kita sudah berada di zona aman. Ayah tidak memiliki anak buah di Kota karena ini kawasan tuan Arnold, tapi kita harus tetap hati-hati. Kapan saja ayah bisa datang kesini," lanjut Mala. Ia berjalan ke arah jendela. Saat ini mereka memang sudah berada di Jakarta.


"Wanita yang tuan Arnold sewa sudah mati, jadi ayah mengira istri kakak sudah tidak ada. Berhati-hatilah saat menemuinya, mereka memiliki penciuaman dan penglihatan yang tajam," ujar Mala mencoba mengingatkan Alan. Air matanya kembali mengalir. Ia mengusap perutnya yang sedikit membuncit. Semua itu tak luput dari pandangan Alan.

__ADS_1


"Aku tidak tahu anak ini bisa lahir atau tidak," lanjut Mala. Alan sangat terkejut mendengarnya. Ia belum tahu jika adiknya sedang hamil.


"Kamu sedang hamil?" tanya Alan. Mala pun mengangguk lesu.


"Aku akan menjaga kalian," ucap Alan begitu yakin. Mala tersenyum getir saat mendengarnya.


"Aku harap seperti itu," ucap Mala sambil menatap ke luar jendela. Ia sudah pasrah dengan takdir hidupnya. Ia sudah kehilangan setengah jiwanya.


Alan menatap punggung sang adik begitu dalam. Ia seperti merasakan apa yang sedang Mala rasakan. Tanpa sadar, air mata Alan mengalir begitu saja.


"Biarkan dia seperti itu," ucap Milan pelan. Alan mengangguk. Lalu mereka pun meninggalkan Mala sendiri.


Alan membuka ponselnya, ia menatap foto Ara yang sedang tertidur. Setiap malam Alan selalu mengambil gambar istrinya yang tengah terlelap.


"Maaf, untuk saat ini aku tidak bisa menemuimu lagi. Aku hanya bisa memantaumu dari jauh, Ara." Alan meletakkan ponselnya di dada. Ia memejamkan matanya perlahan. Ia sangat merindukan Ara. Wanita yang selalu membuat suasana hatinya membaik.


Keesokan harinya Alan sudah terlihat rapi.


"Mau kemana?" tanya Mala melipat kedua tangannya sambil menatap Alan curiga.


"Aku ingin ke Mall," ucap Mala yang berhasil menghentikan langkah Alan. Alan berbalik sambil tersenyum.


"Apa Mall akan berpindah kemari jika kamu terus berdiri di situ?"


Mala yang mendengar itu tersenyum. Ia sedikit berlari menghampiri sang kakak.


"Ayo, hari ini aku akan menghabiskan semua uang kakak," ujar Mala menggandeng tangan Alan.


"Coba saja kalau bisa," ucap Alan sambil mengacak rambut adiknya itu.


Alan membawa adiknya berkeliling Mall. Sesekali mereka tertawa dan bercanda bersama. Hingga tidak sengaja Mala melihat seseorang di dalam sebuah toko perlengkapan bayi.

__ADS_1


"Em, boleh aku memilih pakaian bayi?" tanya Mala menatap Alan. Alan tersenyum sambil mengangguk.


"Kamu masuk duluan, aku ingin membeli sesuatu," ucap Alan. Mala mengangguk antusias. Ia pun langsung masuk ke toko itu.


Mala terus mencari keberadaan seseorang yang barusan ia lihat. Ia hanya ingin membuktikan jika apa yang ia lihat itu tidak salah.


Seluas senyuman terlihat di bibir Mala. Ia menghampiri seorang wanita yang tengah menatap pakaian bayi perempuan.


"Kamu laki-laki apa perempuan ya?"


Mala tersenyum saat mendengarnya gumaman wanita itu. Wanita itu pun tampak mengelus perutnya yang sudah besar.


"Maaf mbak, apa mbak jadi ambil yang itu?" tanya Mala. Wanita itu terlihat kaget dan menoleh ke arah Mala.


"Ah, tidak mbak. Saya cuma lihat-lihat," balas wanita itu sedikit mundur.


"Ok, saya ambil ya?" tanya Mala mengambil pakai bayi perempuan yang begitu lucu . Wanita itu pun mengangguk.


"Sudah dapat?" suara itu berhasil mengejutkan Mala. Saat ini Alan sudah berdiri di belakang wanita itu. Mala bisa melihat wanita yang saat ini ada di hadapannya langsung terdiam. Ya, wanita itu adalah Ara.


"Sudah, ayo kita ke kasir." Mala langsung melewati Ara, ia menarik Alan dengan cepat. Ia tidak ingin Alan melihat keberadaan Ara. Mala mengerutuki dirinya sendiri.


"Hubby," panggilan itu berhasil menghentikan langkah Alan. Ia sangat mengenal suara itu. Mala pun menoleh dan melihat Ara berjalan pelan menghampiri Alan.


"Ayo pergi," ajak Alan menarik Mala dengan langkah cepat. Mala meletakkan kembali pakai bayi itu sembarangan. Mala sempat kewalahan untuk mengejar langkah besar Alan.


"Hey, apa kau ingin membunuh anakku?" ucap Mala kesal. Alan menghentikan langkahnya. Ia menatap Mala tajam.


"Apa kamu sengaja?" tanya Alan ketus.


"Ya, aku ingin melihat dengan jelas seperti apa kakak ipar. Lumayan cantik juga, pantas saja kakak tidak bisa tidur," balas Mala dengan santai. Ia berjalan mendahului Alan.

__ADS_1


"Tadi dia panggil apa, hubby? Huaahaha... Kalian terlalu bucin," ujar Mala tertawa riang. Ia sedikit geli mendengar panggilan Ara pada Alan. Alan terlihat kesal.


"Dasar adik durhaka," gumam Alan. Lalu pikiran Alan kembali tertuju untuk Ara. Suara itu terus mengiang di kepalanya. Panggilan sayang yang sudah lama tidak ia dengar. Alan sangat senang, Ara masih mengenali dirinya. Walaupun ia harus terus bersembunyi.


__ADS_2