
Siang itu matahari terlihat bersembunyi di balik awan. Di dalam sebuah gedung tinggi. Seorang pria tampan masih sibuk dengan laptop di hadapannya. Ya, ia adalah Arlan Digantara.Matanya sudah terlihat merah. Beberapa hari yang lalu. Ada sebuah sistem ilegal yang menyabotase keuangan perusahaan. Sehingga menyebabkan penurunan saham. Banyak kontraktor yang memutuskan kontrak mereka. Menyebabkan perusahaan miring.
Alan terlihat menekan tombol telepon.
"Rehan, masuk ke ruangan saya sebentar," ucapnya. Lalu ia mengambil beberapa berkas yang tertumpuk diatas meja. Tidak lama, seorang pria berperawakan tinggi pun masuk.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya pria yang bernama Rehan. Ia adalah asisten sekaligus sekretaris Alan.
"Tolong antarakan berkas ini pada direktur tetua, kita membutuhkan beberapa bantuannya. Pastikan tidak ada yang tahu mengenai sebotase ini, aku percayakan ini padamu," ujar Alan memberikan beberapa dokumen penting.
"Baik, Pak. Semuanya di jamin aman, apa ada yang lain?"
"Tidak," balas Alan.
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Permisi, Pak." Rehan hendak pergi. Namun Alan langsung menahannya.
"Ah, tunggu sebentar. Hari ini saya harus pulang cepat, tolong handel semua jadwal rapat. Geserkan saja besok pagi," lanjut Alan. Rehan terlihat sedang berpikir.
"Baiklah, akan saya urus. Tidak ada lagi, Pak?" tanya Rehan menatap Alan. Alan menggeleng.
"Kalau begitu saya izin keluar," ucap Rehan yang di jawab anggukan oleh Alan.
Setelah kepergian Rehan. Alan kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Satu jam berlalu, Alan melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga. Ia bergegas untuk menjemput sang istri. Langkah kaki Alan terhenti saat melihat seorang pria sedang berdiri di dekat mobil miliknya. Pria itu sedikit aneh. Alan berjalan perlahan untuk melihat pria itu lebih dekat. Namun sayang, pria itu menyadari kehadiran Alan. Ia langsung berlari. Alan sempat mengejarnya. Namun pria itu menghilang tanpa jejak.
Alan tersadar, ia sudah terlambat untuk menjemput Ara. Jarak dari Jakarta ke Bogor lumayan jauh. Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tidak ingin membuat istrinya menunggu lama.
Hanya tinggal beberapa kilometer lagi Alan sampai di tempat tujuan. Jalanan itu terlihat sangat sepi. Tanpa Alan sadari, sebuah truk sudah berada di belakangnya. Ia sangat terkejut saat mobil itu menabrak punggung mobil yang Alan naiki. Alan mulai panik, ia hendak menghentikan mobilnya. Namun truk itu lagi-lagi menabraknya.
"Ada yang tidak beres," ujarnya. Alan mengambil ponselnya. Ia menelepon seseorang.
"Halo, aku dengar kamu sedang di Bogor? Tolong jemput Ara sekarang...
Brak!
__ADS_1
Ponsel Alan terjatuh, mobil yang ia naiki tergelincir ke dalam jurang. Alan berusaha untuk keluar dari dalam mobilnya. Namun sayang, mobil itu sudah terlebih dahulu terguling hingga membentur sebuah batu besar.
"Akhh... " Alan meringis kesakitan saat kepalanya terbentur kuat, hingga kemudian ia tak sadarkan diri.
***
Alan mencoba membuka matanya, kepalanya terasa begitu sakit. Semua sendinya juga terasa sakit. Alan bangun dari tempat tidur. Ia meringis saat merasakan bagian kakinya begitu sakit. Alan kembali duduk. Ia meneliti setiap inci kamar yang terlihat sangat asing.
Dimana ini? Bagaimana bisa aku disini? Siapa yang menolongku?
Alan terus berusaha untuk bangun. Ia kembali meringis saat kakinya menyentuh lantai. Ia tetap memaksakan diri untuk keluar dari kamar itu.
Ceklek!
Alan sangat terkejut saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. Menampakkan seorang wanita paruh baya membawa nampan berisi makanan. Alan menatap wanita itu lekat. Wanita itu ikut terkejut saat melihat Alan sudah berdiri.
"Kenapa kamu bangun dari tempat tidur?" Wanita itu terlihat cemas. Dengan cepat ia meletakkan nampan diatas meja, lalu membantu Alan duduk. Alan terus menatap wajah wanita itu. Ia merasakan sebuah perasaan yang aneh.
"Kaki kamu terluka, jangan terlalu banyak bergerak."
Alan tidak bicara. Mulutnya seakan terkunci.
"Siapa Anda?" tanya Alan. Wanita itu menatap Alan lekat. Seakan enggan untuk menjawab.
"Makanlah, jangan lupa minum obat." Wanita itu langsung beranjak pergi dengan langkah yang cepat.
"Tunggu! Siapa yang membawa saya kesini?" tanya Alan berhasil menghentikan langkah sang wanita. Wanita itu tetap diam. Lalu ia langsung beranjak pergi.
Tidak lama, pintu kembali terbuka. Alan menatap lekat pria yang saat ini berdiri di ambang pintu. Pria itu berjalan perlahan menghampiri Alan.
"Papa, ada apa sebenarnya?" tanya Alan dengan mata memicing. Arnold duduk di sebelah Alan, ia menatap Alan lekat.
"Alan mau pulang," lanjut Alan hendak bangun. Namun, dengan cepat Arnold menahannya. Alan kembali menatap Arnold.
"Jika kau ingin istri dan anakmu selamat, dengarkan perkataan papa," ujar Arnold tanpa ekspresi. Alan menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Apa maksud papa?" tanya Alan bingung.
"Seseorang sedang berusaha untuk menghancurkan keluarga kita, terutama keturunan Digantara. Kau harus bersabar, jauhi istrimu untuk beberapa waktu. Hingga masalah ini benar-benar tuntas," ujar Arnold. Alan sangat terkejut. Ia langsung menggeleng. Alan tidak percaya dengan ucapan papanya.
"Tidak pa, bagaimana bisa Alan menjauhi Ara? Saat ini ia sedang membutuhkan Alan, itu tidak mungkin!"
"Lalu? Apa kau ingin mereka mati di hadapanmu?" bentak Arnold membuat Alan tekejut. Arnold menatap Alan, ia terlihat membuang napas berat. Ia bangun dan berjalan ke arah jendela. Matanya menatap lurus keluar.
"Semua orang sudah menganggapmu mati, beberapa jam yang lalu mayatmu sudah di kembumikan."
"Apa? Ini tidak masuk akal pa, Alan masih hidup!" seru Alan dengan mata memerah.
"Ikuti permainan ini jika kau ingin istri dan anakmu selamat, saat ini kau adalah target utama mereka. Tinggal disini beberapa saat," ujar Arnold menatap Alan penuh arti. Lalu ia langsung beranjak pergi. Alan yang hendak bicara mengurungkan niatnya sambil menatap Arnold yang menghilang di balik pintu. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi.
Selang beberapa saat, seorang wanita cantik dengan pakaian formal masuk. Di tangannya sudah ada map berwarna merah. Alan melihat wanita itu dengan tatapan bingung.
"Tuan menyuruh saya untuk memberikan ini pada anda," ucap wanita itu memberikan map pada Alan. Alan sama sekali tak bergerak.
"Siapa kamu?" tanya Alan.
"Grace," jawab wanita itu singkat sambil kembali menyodorkan map pada Alan. Alan mengambil map itu dengan ragu. Ia membuka isinya. Matanya terbuka lebar saat melihat isi map di tanganya.
"Apa ini?" tanya Alan sengit. Grace tersenyum simpul. Lalu ia langsung melenggang pergi. Alan terlihat sangat kesal. Ia melempar map tadi dengan kasar. Beberapa foto dan beberapa lembar kertas berserakan di lantai.
"Brengsek!" umpatnya sambil memukul ranjang. Ia mengusap wajahnya dengan kesal.
"Maafkan aku Ara, maaf." Alan menunduk lesu. Kedua tangannya meremas selimut dengan kuat.
Goresan pena yang tertera di sana menuntut Alan untuk melepaskan semua apa yang ia miliki. Termasuk Ara, ia tidak bisa menyentuh atau bahkan sekedar menemui istrinya. Bukan hanya itu, semua bekas di sana juga menunjukkan jika wanita yang menjadi istrinya bukanlah Ara. Melainkan orang lain yang sama sekali tidak Alan kenal.
Alan menatap foto yang ada di lantai. Ia mengambil foto itu dan menatapnya lekat. Segerombolan orang tengah mengelilingi sebuah pusaran, bahkan disana terlihat Ara sedang menangis sambil memeluk sang Bunda.
"Aku disini sayang, aku masih hidup. Percayalah padaku," gumamnya. Air matanya lolos begitu saja.
Apa sebenarnya rencana papa? Kenapa papa begitu ingin aku terpisah dengan Ara? Apa alasan papa melakukan ini? Jika karena serangan di perusahaan, tidak seharusnya aku menjauhi istriku sendiri.
__ADS_1
Alan berteriak kencang. Ia benar-benar kesal dengan apa yang terjadi. Saat ini istrinya sedang membutuhkan kehadirannya. Namun dirinya tidak bisa berdiri di sampingnya lagi. Bahkan ia juga tidak mengetahui alasan lebih jelas dari masalah yang terjadi.
Alan berharap, semua ini tak akan berlangsung lama. Ia tidak akan bisa hidup tanpa kehadiran sang istri. Siapa sebenarnya dibalik semua ini? Semua ini seperti misteri.