Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2
Ekstra Part 4


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu Alan berada di Negeri Matahari Terbit. Semaksimal mungkin Alan memanfaatkan waktu, untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia ingin segera pulang ke rumah. Tempat dimana ia bisa memenangkan pikiran dan beristirahat dengan tenang. Ia juga sangat merindukan istri dan si jagoan Ichal.


Alan terlihat sibuk mengemas barang-barangnya. Malam ini ia berniat untuk langsung pulang. Alan sangat terkejut saat mendengar suara ketukan pintu. Sepertinya seseorang ingin bertemu dengannya. Ia langsung bergegas untuk membuka pintu. Melihat siapa yang menganggu waktunya.


"Ada apa?" tanya Alan saat melihat seorang wanita berdiri di depannya. Seorang wanita berambut kuning, berkulit putih khas bule. Ia mengenakan blus berwarna putih.


"Em, apa aku perlu membawa sesuatu untuk istrimu? Aku bingung harus bawa apa? Pasti dia akan sangat terkejut melihatku," ujar wanita itu menatap Alan lekat.


"Tidak perlu jika itu merepotkanmu. Jangan lupa penerbangan kita pukul 8 nanti. Aku tidak ingin kau terlambat," ujar Alan. Wanita itu tersenyum.


"Baiklah, aku tidak akan membuatmu kecewa," ucap wanita itu.


"Ya sudah, jika tidak ada hal lain. Aku masuk dulu," pamit Alan.


"Tunggu! Aku ingin keluar, apa kamu ingin menitip sesuatu?" tanya wanita itu menahan tangan Alan.


"Tidak perlu," ucap Alan melepaskan tangannya. Lalu ia langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Wanita itu hanya bisa menarik napas panjang.


Dasar! Tidak pernah berubah.


Wanita itu langsung bergegas pergi. Ia telihat begitu menikmati liburannya di Negeri Matahari Terbit yang sudah menjadi impiannya sejak lama.


Tepat pukul tiga dini hari. Alan sudah tiba di Indonesia. Ia langsung bergegas untuk pulang. Rasa rindu sudah membuncah didadanya.


"Ya tuhan, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ara. Semoga kejutan kita berhasil. Apa kau yakin dia mengenaliku?" ujar wanita cantik yang duduk di sebelah Alan.


"Kau dengannya hanya tidak bertemu satu tahun kurang, dia tidak pernah melupakan teman menyebalakan sepertimu. Kau tahu, sepertinya dia sudah salah paham padaku. Aku yakin ia curiga aku memiliki simpanan," timpal Alan. Wanita itu tertawa lepas mendengar ucapan Alan.


"Sepertinya kejutan ini akan semakin seru," ucap wanita itu terus tertawa. Alan hanya berdecak kesal melihatnya.


"Kau membuatku sulit, jujur aku merasa terbebani saat kau terus mangekoriku dari Indonesia hingga kembali ke Indonesia. Semua orang pasti mengira kau simpananku," jelas Alan.


"Aku tidak keberatan jadi simpananmu," goda wanita itu. Alan terlihat semakin kesal. Sedangkan wanita itu semakin puas sudah berhasil mengerjai Alan. Alan memilih tidur dari pada meladeni temannya itu.


***

__ADS_1


Ara terbangun dari tidurnya saat mendengar suara bel rumah terus berbunyi. Ia melihat Ichal masih tertidur pulas. Semalaman Ichal sangat rewel. Ara menyibak selimutnya. Bergegas mengambil kerudung dan keluar dari kamar.


"Sebentar," teriak Ara karena suara bel rumahnya tidak kunjung berhenti. Dengan terburu-buru ia membuka pintu. Ara sangat terkejut saat melihat wajah suaminya. Alan memang tidak memberi tahu jika akan pulang hari ini.


"Hubby, kenapa tidak bilang mau pulang?" tanya Ara histeris. Ia langsung memeluk Alan.


"Suprise," ucap Alan mengecup pucuk kepala Ara. Ara terlihat bahagia. Ia melepaskan pelukannya. Menatap Alan lekat. Hingga tidak sengaja mata Ara tertuju pada sosok yang berdiri di belakang Alan.


"Jane? Kau kah itu?" tanya Ara tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Wanita itu hanya tersenyum sambil melipat kedua tangannya.


"Ya ampun, kenapa tidak memberitahu Ara sih, Bi?" ucap Ara langsung menghampiri Jane. Ya, wanita yang selama ini terus mengekori Alan adalah Jane. Teman seperjuangan Alan saat kuliah di luar negeri.


"Apa kabar, sayang?" tanya Jane memberikan pelukan hangat pada Ara.


"Baik, aku sangat merindukanmu. Kau sangat sombong Jane, tidak pernah sekalipun menghubungiku," ujar Ara melerai pelukannya.


"Jangan salahkan aku, ini semua salah Alex. Dia pecemburu yang kuat, bahkan semua alat elektronikku disita olehnya. Menyedihkan bukan?" ujar Jane.


"Alex? Kalian...,"


"Barangmu aku letakkan di kamarmu," ucap Alan saat melihat Ara membawa Jane ke ruang keluarga.


"Thank you," ucap Jane.


"Aku ingin sekali melihat putra kalian," ucap Jane duduk di sofa.


"Dia masih terlelap, tadi malam ia terus menangis. Jadi dia akan sedikit terlambat bangun," ujar Ara. Jane mengangguk. Ia mengerti maksud Ara.


"Sekarang ceritkan," pinta Ara. Ia sudah tidak sabar mendengar kisah cerita Jane.


"Aku sudah menikah dengan Alex, beberapa bulan yang lalu." Ara sangat terkejut saat mendengarnya.


"Kalian menikah? Tapi tidak mengabari kami?" Ara mengerucutkan bibirnya. Ia sangat kesal dengan Jane karena tidak memberikan kabar apapun.


"Maaf, kami cuma menikah secara agama. Kami akan menggelar pesta pernikahan di Bali beberapa hari lagi. Alex sengaja meninggalkan aku bersama Alan. Dia takut aku menganggu tugasnya di Indonesia. Kejam bukan?" jelas Jane. Ara yang mendengar itu telihat bingung.

__ADS_1


"Tunggu! Jangan bilang, wanita yang adikku maksud itu kamu?" tanya Ara menatap Jane lekat. Mendengar pertanyaan Ara, Jane pun langsung tertawa.


"Jadi apa yang Alan pikirkan benar? Kau anggap aku selingkuhanya? Ya tuhan, kalian suami istri begitu lucu." Jane tertawa lepas.


"Jane, maafkan aku. Aku sudah berburuk sangka padamu dan juga Alan. Aku tidak mencari tahu dulu siapa wanita itu," ucap Ara begitu penuh penyesalan.


"Tidak jadi masalah, aku seorang wanita. Jadi aku mengerti perasaanmu. Semua ini memang salahku, aku meminta Alan untuk tidak memberi tahu padamu. Aku berencana untuk memberikan kejutan padamu sejak dulu, tapi aku terlalu semangat untuk berlibur ke Jepang. Hingga aku memutuskan untuk menunda kejutan untukmu. Aku tidak menyangka jika kejutanku membuatmu curiga, jika aku seorang simpanan."


"Maafkan aku," ucap Ara menggenggam tangan Jane.


"It's ok, honey. Yang penting kau harus hadir di pesta pernikahanku. Aku menunggumu," ucap Jane memeluk Ara kembali. Ara mengangguk.


"Aku sangat lelah, bolehkah aku menumpang istirahat?" tanya Jane malerai pelelukkannya. Ara sangat terkejut. Bagaimana bisa ia melupakan jika Jane baru saja tiba dari perjalanan panjang. Sudah pasti ia sangat lelah.


"Ya ampun, aku lupa. Ayo, aku antar kamu ke kamar," ajak Ara. Ia membawa Jane ke kamar tamu.


"Istirahatlah, jika memerlukan sesuatu, panggil saja aku atau Alan." Jane mengangguk. Ara pun langsung meninggalkan Jane.


Ara membuka pintu kamarnya perlahan. Ia melihat Alan sedang berganti baju. Sepertinya Alan baru selesai mandi. Terlihat dari rambutnya yang masih basah. Ara tersenyum, menghampiri Alan yang belum menyadari kedatangannya. Ara memeluk Alan dari belakang. Alan sempat terkejut. Ara tertawa renyah melihatnya.


"Wangi," ucap Ara menghirup aroma lavender dari tubuh Alan. Alan membalikan tubuhnya. Menatap netra indah milik Ara.


"Hubby, Ara minta maaf. Ara sudah berburuk sangka pada hubby. Maafkan Ara ya, Bi?" ucap Ara semakin mengeratkan pelukannya. Alan tersenyum mendengarnya. Ia mencium kening Ara begitu mesra.


"Ada hukumannya," ucap Alan menoel hidung Ara. Ara menatap Alan bingung. Alan mendekatkan wajahnya. Ara mengerjapkan matanya beberapa kali. Hingga ia mendapat kecup bibir dari Alan beberapa kali. Lalu mengangkat tubuh ramping Ara dalam gendonganya. Ara memekik kaget.


"Kamu harus menerima hukuman yang setimpal, kamu kira hubby mudah berpaling dengan orang lain? Bahkan istri sendiri jauh lebih cantik dari mereka?".


Ara yang mendengar itu merasa malu. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Alan. Lebih leluasa menghirup aroma wangi di tubuh Alan.


"Bi, mau ngapain? Ichal masih tidur," ucap Ara saat Alan menurunkannya diatas pembaringan. Ara langsung melihat ke tempat dimana Ichal tertidur. Namun, ia sangat terkejut saat tidak lagi melihat keberadaan Ichal.


"Sudah hubby pindahkan di tempat seharusnya, sekarang tidak ada lagi alasan," ucap Alan mengecup pipi Ara yang merona. Ara semakin tegang.


"Bi, sebentar lagi subuh," alibinya. Alan tersenyum devil.

__ADS_1


"Masih ada satu jam lagi," bisik Alan. Ara menyerah. Ia memang tidak akan bisa menang dari suaminya. Mereka pun mulai menyatukan diri. Mengobati rasa rindu yang mendalam. Menyambut terbitnya fajar dengan penuh cinta.


__ADS_2